Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Keanu dan Magdalena 2


__ADS_3

Seharusnya Ken tahu, sejak awal mereka berkenalan di cafe saat itu. Feri terlihat berbeda dengan teman-teman istrinya. Ken harusnya sadar, mata Feri saat menatap istrinya berbeda dengan teman-teman Lena lainnya. Namun Ken tak mau berprasangka buruk sebelum melihat sendiri kejadian semalam.


Ken menghela nafas lelah, dia sudah bersiap untuk berangkat kerja. Dia hanya pamit pada putrinya, tanpa mau melihat istrinya yang masih tertidur pulas di kamar utama mereka. Ken tak bisa membayangkan saat dirinya tak di rumah, istrinya mungkin melakukan sesuatu yang fatal di ranjang pernikahan mereka. Sakit, sungguh sakit dada Ken.


Kini dia tahu bagaimana sakitnya hati Karina saat dia khianati dulu. Bahkan sampai dua kali. Maaf Karin, maaf...batin Ken sambil mengecup kening putri kecilnya sebelum berangkat kerja.


"Titip Vanya bi!" pinta Ken.


"Iya tuan." jawab bibi pengasuh putrinya itu.


***


Lena membuka matanya perlahan menatap sekeliling kamar yang terasa familiar untuknya. Rumah? Lena langsung tersentak dan bangun dari tidurnya, dia melirik jam dinding menunjukkan pukul sembilan pagi. Ah, aku terlambat berangkat kerja? batin Lena. Oh ya, aku kan cuti selama suamiku ke luar kota. batin Lena tersenyum bahagia setelah mengingat semalam dia menghabiskan waktu bersama dengan kekasihnya.


Ya, kekasihnya Feri. Lena sudah menjalin hubungan dengan Feri saat mulai masuk kerja. Dan hubungan mereka tak hanya seperti kekasih pada umumnya. Namun sudah batas sampai berhubungan intim tak cukup hanya sekali. Dan Lena merasakan berbeda daripada saat bersama suaminya Ken, bahkan juga berbeda saat dengan mantan suaminya Indra.


Dia menatap sekeliling kamar lagi, tak tampak tanda-tanda suaminya sudah pulang dari luar kota. Dan entah ingatan apa yang terlintas dalam benaknya. Dia sepertinya semalam melihat suaminya Ken saat dia bersama.... Oh my, semoga ingatanku salah. batin Lena.


Tok tok tok


Lena melirik pintu kamarnya dan membuyarkan lamunannya. Belum sempat dirinya mengganti pakaiannya masih berbalut bath robe mandi. Lena membuka pintu kamarnya.


"Ya bi?"


"Ada yang mencari nyonya di depan." ucap bibi ART nya.


"Siapa bi?" tanya Lena menatap bibi mengernyit.


"Katanya pengacara yang disuruh tuan." jawab bibi. Lena semakin mengernyit.


"Sebentar lagi ya bi." jawab Lena menutup pintu kamar dan mengganti pakaiannya agar lebih santai.

__ADS_1


***


"Apa kabar nyonya?" sapa pengacara yang dikirim Ken yang terlihat sudah begitu mengenal Lena.


"Pak Arman?" pengacara yang dipanggil Arman tersenyum ramah.


Pria paruh baya itu pun duduk setelah nyonya rumah memintanya untuk duduk.


"Ada apa ya pak?" tanya Lena. Pak Arman mengeluarkan sebuah berkas dari tas kerjanya dan menyodorkan pada Lena yang masih terlihat kebingungan.


"Saya diminta oleh tuan Ken untuk mengantarkan berkas ini pada nyonya." ucap p. Arman.


Lena mengambil berkas itu dan membaca dengan teliti. Seketika wajahnya berubah pias saat ditunjukkan foto dirinya dengan Feri saat bercanda bersama dengan begitu mesra.


"Tidak.. tidak mungkin..." Lena menggeleng tak percaya dengan pernyataan berkas perceraian dari suaminya itu.


Arman sang pengacara hanya terdiam, semalam dia dihubungi oleh kliennya itu untuk mengurus perceraiannya dengan istrinya dengan alasan tidak ada kecocokan. Tapi dia harus berusaha agar istri kliennya itu mau menandatangani berkas itu secepatnya.


"Bisakah aku memikirkan lagi hal ini pak?" pinta Lena dengan wajah pucat merasa bersalah dengan penuh permohonan pada pengacara itu. P. Arman menghela nafasnya sejenak.


"Baiklah, nyonya. Saya permisi dulu." pamit p. Arman meninggalkan rumah itu.


***


Brak..


Lena membuka pintu ruangan Ken yang masih terdapat dua orang stafnya yang masih berbincang dengannya dengan kasar. Tampak wajah Lena yang tidak sabaran menahan amarahnya menatap Ken tak suka. Ken yang sudah mengira hal itu terjadi langsung menyuruh dua stafnya untuk meninggalkan ruangannya meski pembahasan mereka belum selesai.


Srek....


Berkas itu dilempar Lena di meja kerja Ken. Ken hanya menatapnya sekilas sudah bisa menebak berkas apa itu. Dia beralih menatap Lena yang juga menatapnya dengan tatapan penuh pertanyaan.

__ADS_1


"Apa maksudmu mas?" tanya Lena masih dengan nada rendah.


"Kurasa kau bukan tidak tahu itu apa?" Ken malah balik bertanya tak menjawab pertanyaan Lena.


"Aku tak akan menandatanganinya." tegas Lena. Ken menghela nafas panjang.


"Jangan membuatku berteriak untuk mengasarimu." jawab Ken.


"Aku tetap tak akan menandatangani berkas itu." ucap Lena mempertegasnya.


"Apa aku harus mengatakan sebenarnya kalau kita bercerai karena perselingkuhanmu? Aku sudah berbaik hati mengganti alasan kita bercerai karena tak mau semua orang tahu tentang hubungan kita. Bagaimana pun ada anak diantara kita. Aku tak mau suatu saat nanti dia mengetahui dan kecewa dengan sikap buruk ibu kandungnya." jelas Ken panjang lebar. Membuat Lena terdiam kehilangan ketegasannya tadi.


"Kapan? Kapan mas mengetahuinya?" tanya Lena lemah mengalihkan pandangannya ke arah lain tak mampu menatap wajah suaminya.


"Tak perlu tahu kapan aku mengetahuinya. Yang jelas Feri sudah mengakui hubungan kalian, juga seberapa sering kalian berhubungan intim." jelas Ken masih sibuk menatap laptopnya untuk mengurus pekerjaannya.


Wajah pias Lena semakin pias saja mendengar begitu gamblangnya pernyataan suaminya.


"I..itu..."


"Dia juga bilang, sangat menyukai hubungan ranjang kalian, daripada dengan suaminya dan mantan suaminya dulu. Hahaha... Maaf... jika aku kurang memuaskanmu di ranjang." ucap Ken tertawa getir dan miris mengetahui hal itu semua.


"Pergilah dan tanda tangani berkas itu tanpa banyak berpikir! Aku ikhlas melepaskanmu. Mungkin ini karma untukku telah meninggalkan mantan istriku hanya demi dirimu. Dan ya..." Ken menjeda ucapannya.


"Aku tak akan menuntutmu atas uang nafkah yang seharusnya untuk putri dari mantan istriku. Yang tak kau kirimkan setiap bulan itu." ucapan terakhir Ken membuat Lena semakin pias lagi.


"Maaf mas...maaf... maafkan aku..." Lena berlutut sambil menangis di ruang kerja Ken.


Ken memalingkan wajah dan tubuhnya menatap jendela kaca yang ada di ruangannya menatap keluar jendela. Dengan kedua tangan yang mengepal dan dimasukkan ke dalam saku celananya. dan entah sejak kapan air matanya menetes di pipinya.


Maafkan typo

__ADS_1


Beri like, rate dan vote nya makasih 🙏


__ADS_2