
Jo memasuki halaman rumah Karina, untung saja kunci rumah itu masih disimpan olehnya. Dan masih berada di tempat yang sama setelah lama dia tertidur. Halaman rumah terlihat bersih dan terawat, Jo tahu siapa yang membersihkannya pasti bi Ani tetangga Karina yang diberikan kunci rumah saat itu.
Jo masuk ke dalam rumah itu dengan kuncinya, mengamati sekeliling ruangan masih tetap sama saat ditinggalkannya. Debu menumpuk pada kain yang digunakan untuk menutupi perabotan rumah itu. Untung saja saat ditinggalkannya dulu, dia masih menyuruh seseorang untuk menutupi perabotan rumah itu agar suatu saat jika Karina pulang atau dirinya pulang, perabotan rumah itu masih terawat dan debu tak banyak menempel.
Jo masuk ke dalam kamar mereka dulu mengamati kamar itu. Kenangan saat mereka tinggal bersama dulu kembali berputar-putar di benaknya bagai kaset rusak. Kadang Jo tersenyum dan kemudian kembali murung mengingat kenangan bahagia mereka dulu. Seolah-olah kamar itu dipenuhi bayang-bayang Karina dimana-mana.
Tanpa sadar air mata Jo menetes di pipi. Begitu dia merindukan istrinya, istri sirinya, istri satu-satunya yang akan dicintainya sampai maut memisahkan mereka.
Hingga suara bel pintu rumah itu berbunyi, Jo bergegas menuju pintu depan.
Cklek
"Maaf pak, saya diminta kesini sebagai jasa kebersihan, apa benar ini dengan pak Jonathan Alensio?" sapa pria itu sopan sambil membaca secarik kertas yang diberikan atasannya tadi.
"Masuklah! Aku yang menghubungi kantor kalian." jawab Jo membuka pintu lebar.
"Terima kasih pak." kelima pria dari jasa kebersihan yang disewa Jo masuk.
"Bersihkan seluruh ruangan sampai bersih! Jangan sampai ada yang tertinggal!" tegas Jo.
"Baik pak." jawab kelima pria itu serentak.
"Oh ya, satu orang ikut sama membersihkan kamar utama!" titah Jo, salah satu dari mereka mengikuti Jo ke kamar utama.
"Baik pak."
"Aku mau hari ini selesai!" titah Jo lagi.
"Baik pak."
***
Jo duduk di sofa balkon kamar lantai dua kamar utama sambil mengutak-atik ponselnya. Dia mencoba mencari media sosial Karina yang sebenarnya sudah lama dinonaktifkan. Namun Jo tetap tak menyerah, dia ingin mencoba meski hasilnya satu persen saja.
__ADS_1
"Disini sudah selesai pak." ucap seorang pekerja kebersihan yang ditugaskan untuk membersihkan kamarnya.
"Oh begitukah?" Jo mengamati sekeliling kamar yang tampak bersih mengkilap dan harum wangi ruangan.
"Baiklah, kau bantu temanmu yang lain agar cepat selesai." ucap Jo tersenyum puas.
"Baik pak."
Jo menghela nafas berat, hasilnya benar-benar nihil. Tak ada media sosial yang menunjukkan milik Karina atau keberadaan Karina. Namun sebuah foto yang menampilkan dua bayi mungil kembar membuat Jo mengentikan scroll annya, dia menatap bayi laki-laki kembar itu.
"Sangat tampan..." bisik Jo lirih. Dia membaca unggahan status itu baru beberapa minggu, dua minggu tepatnya.
"Kalau aku punya anak dengan Karina, apa akan setampan mereka? Kalau perempuan pasti cantik seperti Karina, seperti Anin yang sangat mirip Karina." guman Jo tersenyum bahagia, seketika senyuman itu luntur saat dia mengingat percakapan mereka dulu.
Flashback on
"Baby.." bisik Jo saat mereka terbaring di ranjang kamar mereka.
"Hmm..." dalam keadaan terpejam Karina masih menjawab panggilan suaminya yang mendekapnya.
"Bagaimana kalau kita punya anak?" tanya Jo hati-hati.
Karina terdiam, matanya terbuka lebar meski masih dalam dekapan dada bidang suaminya.
"Bukannya aku tak mau hamil anakmu." jawab Karina lembut, dia tak mau menyinggung perasaan Jo.
"Lalu?"
"Hubungan kita masih abu-abu. Kita hanya menikah siri. Aku tak mau membebani anak kita nanti jika kita belum resmi menikah secara hukum. Aku takut... jika suatu saat Ken tahu hubungan kita sebelum aku bercerai dengannya, dia akan meminta anak kita. Aku tahu Ken sangat nekat jika dia tahu aku menikah denganmu meski secara siri. Dia pasti tak terima karena aku menikah lagi, padahal kami belum resmi bercerai." jelas Karina, Jo terdiam tak bicara lagi.
Entah kenapa dia kecewa, bukan kecewa pada Karina. Tapi kecewa dengan dirinya sendiri, tak bisa berbuat apapun untuk memberi status yang pasti padanya. Jo membenarkan pendapat karina. Karina mendongak menatap Jo yang terdiam dengan tatapan mata kosong. Karina membelai pipi Jo lembut.
"Setidaknya, biarkan kami resmi bercerai secara sah, meski kita belum resmi secara hukum." ucap Karina menenangkan hati Jo. Jo menatap Karina penuh cinta.
__ADS_1
"Aku mencintaimu... sangat..." ucap Jo mengecup bibir istrinya sekilas, berulang-ulang.
Tak hanya bibir, pipi, rahang, hidung, mata, kening, seluruh wajah Karina dikecupi Jo secara merata, dia sungguh sangat gemas menatap wajah Karina yang imut, baby face. Karina terkekeh geli dikecupi seperti itu.
Akhirnya percintaan berikutnya pun terjadi. Karina yang semula mengantuk matanya terbuka lebar membalas perlakuan manis suaminya.
Flashback off
"Tuan...Tuan..." seru ketua tim kebersihan itu.
Dia sudah lebih dari sepuluh kali memanggil-manggil Jo namun tak merespon, hanya senyum-senyum sendiri seperti orang gila. Kelima pria itu bergidik ngeri melihat Jo seperti itu.
"TUAN." serunya lagi membuat Jo tersentak kaget menatap ketua kebersihan itu tajam.
"Ada apa?" Jo balas membentak masih belum paham siapa orang itu. Pria itu langsung menciut nyalinya, menunduk ketakutan.
"Kami mau pamit karena pekerjaan semua sudah selesai." jawab pria itu takut-takut.
Jo langsung mengusap wajahnya kasar. Dia baru ingat kalau tadi memperkerjakan orang-orang dari jasa kebersihan.
"Maaf, aku... sungguh lupa. Aku akan melihat pekerjaan kalian." jawab Jo.
"Baik pak." jawab pria itu menghela nafas lega.
Mereka pun turun ke bawah melihat satu persatu hasil pekerjaan tim keberhasilan itu.
"Bagus." puji Jo tersenyum puas.
TBC
Makasih sudah membaca 🙏🙏
Terima kasih atas dukungannya 🙏🙏
__ADS_1
Beri like, rate dan vote nya