Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 99


__ADS_3

SAH!!


Suara para saksi dan tamu yang menyaksikan ijab qobul acara pernikahan itu sontak berseru Hamdalah bersamaan karena lancarnya proses ijab qobul tersebut.


Anin mencium punggung tangan pria yang sudah sah menjadi suaminya itu. Status pernikahan masih siri karena mempelai pria yang masih mengurus perceraian yang belum ketuk palu itu. Zian membalas kecupan di kening Anin dengan takzim. Ya, Zian lah yang sekarang duduk bersisian mengucapkan ijab qobul untuk gadis yang selama ini hanya bisa dikagumi dalam hati saja itu. Meski hatinya sedang berbunga-bunga bahagia karena ketidak sengajaan tersebut.


Lantas tak membuat Zian terus menerus mengembangkan senyumannya. Sedang tuan putrinya yang sekarang sudah sah secara agama menjadi istrinya itu menampakkan raut wajah yang begitu tertekan kesakitan meski senyum penuh kepalsuan masih menghiasi bibir mungilnya.


Banyak para tamu undangan saling berpandangan tak berani mengungkapkan isi hatinya mengenai pernikahan yang bukan dengan mempelai pria yang tertera pada undangan. Mereka hanya berani menutup mulutnya karena tak mau berurusan dengan pihak ayah tiri pengantin wanita itu.


Karena bagaimanapun juga kebanyakan tamu undangan adalah rekan bisnis karena mengenal Jonathan Alensio sang pebisnis nomer satu di negara ini. Jika berani sedikit saja mengeluarkan kata yang secara tidak langsung menggosipkan tentang salah satu anak mereka atau salah satu anggota keluarga mereka. Bersiaplah untuk bangkrut dalam beberapa menit.


Karena Jonathan bukan pria yang penuh belas kasihan jika itu menyangkut keluarga besarnya. Alhasil semua orang hanya mampu mengunci rapat-rapat bibir mereka.


Resepsi pernikahan tak dilanjutkan karena mempelai wanita tiba-tiba pingsan saat setelah ijab qobul selesai. Zian langsung membopong tubuh mantan putri majikannya itu penuh dengan kecemasan yang kentara. Karina panik melihat putrinya pingsan, tak ketinggalan Jo segera menghubungi dokter pribadi keluarganya untuk segera datang memeriksa putrinya.


Ken yang menjadi wali pernikahan putri kandungnya juga tampak cemas dan panik mengikuti langkah Karina dan Jo menuju kamar yang dituju Zian. Meski istri Ken sudah mencegahnya, Ken nekat, nalurinya sebagai seorang ayah yang melihat putrinya sakit membuatnya seketika merasa bersalah karena sejak kecil tak pernah memperhatikan putrinya tersebut.


"Bagaimana keadaannya putri saya dok?" Tanya Jo dan Ken bersamaan, keduanya saling pandang karena mengajukan pertanyaan yang sama.


Dokter kebingungan menatap keduanya bergantian. Dia sudah tahu semua hal tentang keluarga besar Alensio. Karena dia sudah mengabdi pada keluarga itu hampir separuh umurnya yang sekarang sudah mencapai kepala enam.


"Dia hanya shock dan stres. Lebih baik biarkan dia istirahat. Dia hanya perlu dukungan dan semangat dari orang terdekatnya." Jelas dokter itu memilih menatap Jo karena dialah yang menggajinya.


"Terima kasih dok." Jo dan Ken terdiam termenung.


Dokter pun pamit tanpa mendapat jawaban dari kedua ayah itu. Namun dia menyadari keadaan cemas mereka.


'Apakah aku salah mengambil keputusan ini? Anin pasti sangat tertekan karena merasa harus menyelamatkan nama baik keluarga.' Batin Jo menghela nafas panjang dan berat. Saat Zian keluar kamar menemui Jo dan Ken, Jo langsung berbalik menatap Zian.

__ADS_1


"Saya yang akan menjaga nona tuan. Tuan bisa pulang dan beristirahat. Nyonya sepertinya sangat kelelahan." Ucap Zian menatap Jo masih dengan wajah datar dan tegas.


"Aku percaya padamu Zian." Jo menepuk-nepuk bahu Zian dan menghampiri istrinya untuk pulang ke mansion.


Tak ada artinya juga mereka tetap disana. Bagaimana pun juga suaminya lebih berhak atas diri Anin sekarang.


"Baby, kita pulang!" Ajak Jo mendekap tubuh istrinya yang sejak tadi hanya termenung menatap Anin yang pingsan, bukan! Lebih mirip tidur terlelap.


"Mas, putriku?" Bisik Karina lemah mulai menangis lagi.


"Ssstt .. tenang baby. Kita percayakan pada Zian. Dia sekarang suaminya, suaminya lebih berhak dengan putri kita sekarang." Karina semakin tersedu mendengar ucapan benar suaminya.


Putrinya sudah sah menjadi istri Zian, meski secara siri untuk menutupi rasa malu keluarga besarnya.


"Apa keputusan kita salah?" Bisik Karina menatap Jo penuh rasa bersalah.


"No baby. Anin yang sudah memutuskan semuanya. Kita juga tidak memaksanya. Dia tahu mana yang baik dan mana yang benar. Kita tetap akan mendampinginya saat ini. Kita percayakan dulu sekarang dengan suaminya." Hibur Jo menatap istrinya merasa bersalah.


"Ssstt please baby. Tenanglah! Dokter mengatakan kalau dia harus banyak istirahat. Biarkan dia istirahat, kita juga harus pulang dan istirahat. Anak-anak menunggu kita di mansion." Hibur Jo mendekap tubuh istrinya erat memberi penghiburan.


***


Zian berdiri di samping ranjang tempat Anin berbaring. Dia menatap lekat gadis yang beberapa lalu masih menjadi tanggung jawabnya sebagai seorang pengawal. Dan baru beberapa waktu lalu kini status mereka berubah menjadi sepasang suami istri yang meski masih secara siri karena Zian masih terikat pernikahan dengan istrinya yang sedang dipersiapkan perceraiannya.


"Bangunlah nona! Anda belum makan sejak pagi. Setidaknya anda tidak boleh lemah." Ucap Zian yang sesaat kemudian mata Anin terbuka perlahan menatap langit-langit kamar pengantinnya yang seharusnya menjadi malam pertama dengan kekasihnya, Guntur.


Yang bahkan sekarang tak ada kabarnya sama sekali.


"Kamu selalu tahu aku ya? Tak salah aku memilihmu menjadi pengantin pengganti." Jawab Anin tersenyum getir dan merasa sesak di dadanya.

__ADS_1


"Makanlah nona!" Zian duduk di kursi dekat ranjang sambil membuka penutup mangkuk bubur untuk nonanya.


Anin menoleh menatap Zian yang masih saja memperlakukan dirinya sebagai gadis yang harus dilindunginya.


"Aku tak berselera Zian, aku... aku... " Anin terdiam dengan air mata yang terus mengalir namun tak ada isakan atau sesenggukan yang terdengar.


Tatapan matanya kosong ke depan entah apa yang dipikirkannya. Zian terdiam menatap Anin yang entah sedang memikirkan apa. Dia merasa bersalah karena mengiyakan titah tuan besarnya tanpa mempertimbangkan perasaan nonanya. Meski hati kecilnya bahagia karena bisa menikah dengan orang yang dicintainya namun dia juga tak bahagia melihat keputus asaan di mata gadisnya itu.


Zian sudah terbiasa menjawab iya dan siap setiap apapun yang dititahkan oleh tua. besarnya siapapun itu. Seolah kata iya dan siap sudah terpatri di benaknya tanpa memikirkannya dulu. Bahkan dia menyesali jawabannya saat melihat reaksi terkejut dari keiyaannya pada gadis yang dikawalnya beberapa waktu lalu.


Tak ada sorot bahagia ataupun senang. Yang ada hanya sorot mata kekecewaan dan sedih bahkan kemarahan juga ikut serta dalam sorot mata yang mengarah tajam padanya itu.


Apalagi sang nona pasti kecewa karena dirinya pun masih berstatus suami orang yang dikiranya mungkin akan menjadi istri kedua.


Zian menyodorkan satu suapan sedikit memaksa pada sang nona. Namun Anin tetap tak bergeming sedikitpun, hanya menatap suapan sendok itu.


"Kumohon nona!" Ucap Zian lirih penuh permohonan membuat Anin menatap lekat Zian yang terlihat memelas seolah dia lah yang akan mendapat hukuman jika dia tak menuruti.


Anin menatap kembali sendok yang berisi makanan itu dan akhirnya memilih membuka mulutnya meski terasa kelu di lidahnya saat hendak menelan makanannya.


Suapan demi suapan masuk ke dalam mulutnya hingga entah sudah berapa suapan masuk. Namun beberapa saat kemudian, Anin langsung beranjak dari ranjang dan berlari ke kamar mandi sambil menutup mulutnya.


"Hoek ... Hoek..." Anin memuntahkan semua makanan yang tak bisa ditelannya dengan benar itu.


Zian langsung sigap berlari mengikuti sang nona dan mengurut tengkuk demi meredakan muntahan sang nona dengan wajah cemas dan panik.


"Nona tak apa? Nona baik-baik saja? Apa makanannya beracun atau tidak sesuai selera nona?" Tanya Zian bertubi-tubi setelah Anin selesai memuntahkan semua makanan yang baru saja disuapi Zian tadi.


Anin pun luruh terduduk di dekat wastafel kamar mandi dengan tangisan sesenggukan yang terdengar menyayat hati. Zian terdiam tergugu menatap sang nona dengan kesedihan terpancar jelas di wajah istri keduanya itu.

__ADS_1


Hingga dirinya membenci dirinya yang dengan tega secara tidak langsung telah menyakiti hati istri keduanya itu karena menerima titah tuan besar untuk menikah dengan sang nona meski itu hanya sementara agar tidak malu pada publik karena batalnya pernikahan yang rencananya digelar dengan sangat mewah tersebut.


TBC


__ADS_2