Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 5


__ADS_3

"Apa mereka sudah tiba?" tanya Jo saat dia sampai di hotel ibukota tempat pertemuannya dengan para kliennya dari Sing*pur*.


Mereka berjalan memasuki hotel milik keluarga Alensio yang sengaja digunakan untuk pertemuan dengan klien mereka.


"Sudah setengah jam yang lalu mereka sampai tuan. Mereka sedang beristirahat di kamarnya untuk membersihkan diri dan menikmati camilan selama menunggu anda tiba. Sudah lebih dari lima belas menit mereka berada di kamarnya. Mereka akan keluar kamar... sepuluh menit lagi." jelas Rian sambil melirik jam tangannya dan mulai memasuki lift untuk menuju kamar tuannya untuk membersihkan diri dan menyiapkan bahan meeting pertemuannya dengan para klien meski Rian sudah menyiapkan semuanya, dia hanya butuh mengeceknya untuk mempelajarinya.


"Baiklah. Aku akan mempersiapkan diri dulu. Siapkan tempat pertemuan seperti biasanya. Buat mereka senyaman mungkin agar tidak kecewa dengan pelayanan kita. Kita butuh meyakinkan mereka tentang kerjasama kedua ini." jawab Jo masuk ke dalam kamar hotel pribadinya jika dia sedang beristirahat dari meeting-meeting dengan para kliennya.


"Baik tuan." Rian undur diri meninggalkan kamar Jo untuk mempersiapkan segalanya setelah mendapat titah dari tuannya untuk memberi tahunya tentang meeting kali ini.


Jo masuk ke dalam kamar mandi hotelnya setelah melepas seluruh pakaiannya. Dia memilih untuk mandi di bawah shower air hangat karena dia harus bergegas menuju tempat meeting.


"Ah, sial. Aku sudah merindukannya. Seharusnya aku mengajaknya. Oh tidak, dokter melarangnya untuk bepergian secara tiba-tiba. Aku harus menahannya sampai pulang. Hah..." gumannya dalam mandinya.


Mandi berdiri di bawah guyuran shower, Jo mengingat saat kebersamaan percintaan panasnya dengan sang istri saat mereka mandi bersama. Dan respon tubuhnya sangat cepat membuatnya menginginkan tubuh candu istrinya untuk dicumbu saat ini juga.


Jo mencoba meredamnya dengan air dingin guyuran shower dan walaupun sedikit itu mampu mengurangi gairahnya, hanya sedikit. Semoga pertemuannya dengan kliennya mampu melupakan gairahnya.


Jo keluar kamar mandi langsung mengenakan pakaian formalnya yang telah disiapkan oleh asisten pribadinya Rian, sambil mendengarkan penjelasan yang dijelaskan dari laptop-nya yang sudah dipersiapkan juga oleh Rian. Jo mendengarkan dengan teliti dan seksama agar tak terjadi kesalahan saat pertemuannya nanti.


***


Pertemuan sudah mendekati waktu yang ditentukan. Jo sudah hampir sampai di tempat meeting dengan restoran kamar privat di lantai lima hotel tempat mereka janji.


"Selamat sore tuan.. maaf saya sedikit terlambat karena ada sedikit masalah pribadi." sapa Jo sambil menyalami pria bule paruh baya yang berdiri dari duduknya.


"Tidak masalah tuan. Saya sabar menunggu anda. Pelayanan disini sangat baik dan ramah. Saya jadi betah untuk tinggal disini. Hahaha..." pria bule paruh baya itu tertawa terbahak-bahak disela sapaan balasannya.


Jo tersenyum simpul menanggapi ucapan kliennya itu.


"Mari, silahkan duduk tuan!" ucap Jo mempersilahkan duduk kliennya.


"Mari.." keduanya pun duduk berhadapan di ruang privat restoran itu.


Dan berbasa-basi perbincangan hangat mereka.


"Maaf, tuan. Saya terlambat." suara seorang wanita bule muncul dari arah pintu membuat keduanya menoleh bersamaan ke arah suara. Wanita itu menundukkan kepalanya merasa bersalah.


"Kemarilah! Kau sudah membawakan apa yang aku inginkan?" tanya pria bule itu yang dipanggil Mr. Alex sambil melambai pada wanita bule yang baru datang itu.


"Sudah tuan." jawab wanita itu tegas. Jo hanya tersenyum.


Wanita itu mendekati keduanya sambil menyerahkan berkas laporan pada Mr. Alex atasannya itu.

__ADS_1


"Tak masalah Annie... Ayo duduklah! Kita makan dulu sebelum membahas kerjasama kita." ucap Mr. Alex yang langsung menatap pada Jo.


"Apa tak masalah jika kita makan dulu Mr. Jo?" tanya Mr. Alex menatap Jo.


"Tidak masalah, toh makanannya juga sudah datang." jawab Jo sambil melirik wanita yang duduk di samping Mr. Alex.


Dan tak disangkanya wanita itu juga menatap Jo dengan mengernyit. Keduanya pun saling menatap seolah merasa familiar dengan wajah mereka.


"Jonathan?" ucap wanita itu spontan langsung menutup mulutnya karena kelancangannya.


"Maaf tuan." Jo tampak mengingat wajah familiar itu.


"Annie? Annie Watson?" balas Jo memanggil wanita yang sepertinya dikenalnya itu.


"Yes, I'm." Annie tersenyum karena ternyata dirinya masih dikenali oleh pria di depannya ini. Most wanted kampusnya dulu.


"Apa kabarmu?" tanya Jo basa-basi meski dirinya tak berminat.


Dia harus menghormati kliennya juga Annie yang entahlah sebagai apanya Mr. Alex.


"Mr. Jo mengenal Annie?" tanya Mr. Alex yang sejak tadi hanya menyimak interaksi keduanya yang terlihat canggung untuk Jo dan terlihat malu-malu untuk Annie.


"Ah, kami dulu satu kampus di Oxford university Mr." jawab Annie membuat Jo mengangguk-angguk mengiyakan.


"Yah..." jawab Jo enggan.


"Wah, kebetulan sekali. Dia Annie Watson, putri dari adikku. Dia sekretarisku yang bisa kuandalkan saat ini." jelas Mr. Alex yang ternyata keakraban mereka adalah sebagai keponakan dan pamannya.


"Ah, itu sungguh sangat kebetulan." jawab Jo.


"Paman berjanji akan memperlakukanku sebagai pegawai paman, bukan sebagai keponakan bukan?" ucap Annie manja sambil bergelayut manja pada Mr. Alex.


Dan semua itu tak luput dari pandangan mata Jo yang menatap mereka tak biasa. Jo merasa aneh pada keduanya.


***


Pertemuan mereka pun berjalan lancar dan Mr. Alex memutuskan untuk tidak segera pulang. Dia memutuskan untuk sehari lagi di ibukota karena ingin melihat proyek mereka. Dan itu membuat Jo mengumpat kesal. Pasalnya dia ingin segera kembali ke pulau B tempat anak dan istrinya berada.


Dia sudah merindukan istrinya dan sekarang dia tak bisa secepatnya kembali karena kliennya Mr. Alex memutuskan untuk tinggal sehari lagi. Dan Jo tak mungkin meninggalkannya hanya dengan Rian.


Dan tentu saja hal itu pasti akan membuat Mr. Alex yang bisa saja membatalkan kerjasama mereka. Meski kerjasamanya dengan Mr. Alex tidak seberapa, tapi Jo ingin bersikap profesional.


Jo ingin segera kembali ke kamarnya, dia ingin menghubungi istrinya yang belum sempat dihubunginya tadi. Dia pasti cemas belum mendengar kabar kedatangannya di ibukota.

__ADS_1


"Hai Jo." sapa seseorang saat Jo memasuki lift menuju kamarnya.


Jo menoleh menatap ke arah suara. Annie teman kuliahnya dulu tiba-tiba muncul di lift bersamaan dengan dirinya masuk ke dalam lift itu.


"Ada apa?" ketus Jo kembali membelakangi Annie.


"Kenapa kau dingin sekali padaku? Sudah lama kita tidak bertemu?" ucap Annie membuat Jo memutar matanya jengah.


"Apa yang kau inginkan?" tanya Jo menatap Annie dengan tatapan mata tajam dan dingin.


"Kau tadi tidak seperti ini. Kenapa sekarang kau berubah?" ucap Annie lagi tersenyum menggoda melihat Jo yang semakin acuh padanya.


"Apa aku harus ramah padamu?" sarkas Jo menatap Annie kesal.


"Oh, ayolah! Apa kau masih marah padaku? Itu kejadian sudah lama. Dan itu hanyalah sebuah hal yang tak benar." ucap Annie santai.


"Bagimu itu sudah lama. Tapi bagiku, itu terjadi baru kemarin. Dan kau tahu, itu semua karena kamu." jawab Jo dingin menunjuk pada Annie.


"Hei, apa memang semua pria harus dendam seperti ini. Jika itu tidak benar, harusnya kau menyangkal, kenapa kau tak mencoba menjelaskan pada mereka." jelas Annie semakin membuat Jo kesal saja.


Itu sungguh merupakan aibnya di masa lalu. Dia sungguh dibuat jengkel dan kesal pada wanita itu. Hanya karena Jo menolaknya diajak bercinta, dia jadi menyebarkan rumor yang tidak berarti. Dan itu sangat mempengaruhi situasi Jo saat itu.


"Sudahlah! Aku malas bicara denganmu." Jo keluar dari dalam lift bersamaan dirinya mengakhiri ucapannya.


"Oh, ayolah! Jangan bilang kalau berita itu benar!" ucap Annie memprovokasi Jo yang tak digubris Jo, Annie semakin berani mengikuti langkah Jo saat tiba di depan pintu kamarnya.


"Pergilah! Jangan mengikutiku! Sejak dulu kau selalu terlihat murahan sekali." tuding Jo membuat Annie geram meski dia tak membela diri.


Annie mendorong tubuh Jo dan mencuri ciuman kilat bibir Jo yang langsung didorong dengan kasar oleh Jo membuat Annie terjengkang ke belakang.


"Auw .." rintih Annie menatap Jo tak percaya. Jo tetap saja kasar padanya meski puluhan tahun berlalu.


"Aku bisa lebih kasar dari ini. Kau dengar!" ancam Jo menatap tajam pada Annie yang terduduk di lantai.


"Sekarang aku bisa membuatmu bergairah ya?" ucap Annie tanpa rasa takut atau bersalah sambil menatap ke arah celana Jo yang tadi sempat disenggolnya saat jatuh dan sesuatu di bawah sana sedang bergerak sesak minta dibebaskan.


Jo mengikuti arah pandang Annie di celananya yang memang sudah bergairah saat mandi tadi karena mengingat istrinya. Namun dirinya sangat merutuki dirinya karena hanya ciuman paksa dari wanita ular itu membuat Jo semakin bergairah menginginkan istrinya, ingat menginginkan istrinya bukan yang lainnya.


"Meski aku bergairah, tapi aku menginginkan istriku. Bukan yang lainnya. Apalagi wanita murahan sepertimu." sarkas Jo masuk kedalam kamar hotelnya membantingnya kasar.


Annie langsung tersentak dan mengumpat kesal.


"Brengsek. Kali ini aku harus mendapatkanmu." guman Annie kesal dan dia pun berdiri meninggalkan pintu kamar itu kembali ke kamarnya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2