
Jo mengikuti mobil Karina yang melaju dengan kecepatan sedang. Entah apa yang membawa Jonathan untuk mengikuti Karina. Mobil itu mulai memasuki perumahan minimalis dengan lantai dua yang terlihat asri. Dengan banyaknya pohon dan pot bunga dengan berbagai macam tanaman bunga yang sepertinya sengaja ditanam oleh pemiliknya.
Karina turun dari mobil setelah memarkirkan mobilnya di halaman parkir yang bisa digunakan untuk dua mobil. Jo berhenti tak jauh dari rumah yang halamannya di parkiri karina yang diyakini Jonathan sebagai rumah miliknya beserta keluarga kecilnya. Karina masuk rumah disambut oleh seorang gadis kecil mungkin sekitar umur tujuh tahunan.
Jonathan masih mengawasi Karina dari belakang kemudi. Sudah menunggu setengah jam Jonathan mengawasi rumah Karina namun tak ada tanda-tanda Karina akan keluar dari rumah atau seseorang datang. Suaminya mungkin, bukankah ini jam pulang kerja, batin Jonathan masih belum beranjak dari tempatnya.
Tak selang sepuluh menit kemudian, mobil yang lumayan mewah memasuki halaman rumah dan diparkir tepat di samping mobil Karina tadi diparkir. Jonathan menatap mobil itu tanpa berusaha mengalihkan pandangannya dari mobil yang ditebaknya suami Karina. Benar juga pria muda yang tampan dengan balutan jas warna biru keluar dari mobil.
Penampilan yang elegan dan dewasa bisa dikatakan umurnya mungkin sekitar tiga tujuh sampai tiga sembilanan, entahlah. Jonathan mengepalkan tangannya erat, entah kenapa dia sangat marah melihat ada pria yang mendekati Karina meski dia tahu dia adalah suami Karina. Dan Jonathan benci mengakui kalau dirinya mulai tertarik dengan Karina.
Dia menarik kembali pernyataan yang pernah dengan kejamnya menyebut wanita itu ja*lang yang hanya menginginkan uang. Nayatanya suaminya sepertinya mampu memberikan apapun yang akan diminta Karina. Jonathan menghela nafas lelah. Kau harus ingat kalau wanita itu sudah bersuami Jo, kau harus melupakannya.
"Oh shit." Umpat Jonathan kesal.
Baru kali ini dia merasakan perasaan seperti ini. Baru kali ini dia merasakan kemarahan yang seperti ini. Entah sejak kapan dirinya mengklaim Karina sebagai miliknya. Ah, sejak malam itu, saat mereka tidur bersama. Mendesah bersama-sama, menikmati malam bersama.
"Oh shit, memikirkan kejadian malam itu membuat adikku bangun. Ah, tidak memikirkan dirinya saja adikku langsung bangun dan berdiri tegak." Guman Jonathan.
Diapun meninggalkan tempatnya mengawasi rumah Karina. Setelah melihat kemesraan pasangan itu membuat Jonathan mengumpat kesal lagi.
***
"Mama..." Sapa Anin melihat Karina muncul di ambang pintu.
"Halo sayang, bagaimana kabarmu hari ini? Bagaimana dengan menginap di rumah temanmu semalam? Menyenangkan?" Tanya Karina antusias.
"Saaaangat.... Menyenangkan. Setelah belajar kami melakukan pesta piama mama." Cerita Anin tersenyum bahagia.
"Oh ya? Lain kali ajak teman-temanmu kembali berpesta piama di rumah." Saran Karina masuk ke dalam rumah diikuti putrinya setelah menutup pintu rumah.
"Bolehkah ma?"
"Tentu saja sayang..."
"Hore... Mama baik deh." Ucap Anin sambil mengecup pipi Karina lagi.
__ADS_1
Karina hanya terkekeh. Diapun masuk ke kamar membersihkan tubuhnya dan menyiapkan makan malam untuk mereka.
"Bi Ani sudah pulang?" Tanya Karina sambil menyiapkan bahan-bahan memasak.
"Ah, cucunya sakit. Jadi bi Ani pulang satu jam sebelum mama pulang." Jelas Anin.
"Ah benarkah, bagaimana keadaannya?" Anin hanya mengedikkan kedua bahunya.
Ting tong ting tong
Bel berbunyi di depan rumah. Karina merasa tak punya janji dengan siapapun. Karina meninggalkan pekerjaannya sementara Anin mulai kembali mengerjakan tugas sekolahnya di kamarnya.
"Sebentar!" Sahut Karina karena bel berbunyi lagi.
Cklek
Pintu terbuka menampilkan sosok pria yang tak pernah pulang setelah mengatakan akan menikah lagi dengan wanita yang pernah menjadi kekasihnya dulu saat masih kuliah.
"Mas..." Lirih Karina, tumben-tumbenan suaminya pulang.
Karina langsung tersadar melihat suaminya hanya terdiam. Karina segera meraih tangan suaminya menyalaminya dan mengecup punggung tangannya. Sama seperti yang dilakukannya dulu saat hubungan mereka masih harmonis dulu.
"Oh begitu ya. Mau kusiapkan air hangat untuk mandi mas." Tawar Karina setelah menerima tas kerja suaminya dan untungnya suaminya tak menolak pelayanannya, dia hanya mengangguk.
Katakanlah Karina bodoh, itu tetap dilakukannya karena dia masih sangat mencintai pria yang masih berstatus suaminya itu. Cinta membuatnya luluh dan melupakan kesalahan pria yang sudah berani menduakannya ini. Bahkan tanpa mau menceraikannya dulu ini.
Namun Karina segera mengenyahkan perasaan buruknya itu. Asal mereka tidak tinggal bersama dengan mereka. Karina akan berusaha kuat. Toh dia juga tidak bersalah, dia melakukannya karena ingin menebus dosanya karena telah menodai pernikahannya.
Padahal suaminya memilih jujur tentang pernikahannya daripada dirinya, dia tak berani untuk jujur tentang pengkhianatannya yang telah berani tidur dengan pria yang tidak dikenalnya sebelumnya. Untungnya saat itu bukan masa suburnya sehingga benih pria itu tak berhasil menjadi bayi.
"Airnya sudah siap mas, aku mau memasak untuk makan malam nanti dengan ibu kalau dia datang." Ucap Karina yang hanya disahuti deheman.
Ting tong ting tong
Suara bel pintu berbunyi saat Karina sudah menyelesaikan memasaknya. Karina berjalan ke depan membukakan pintu. Yang mungkin itu adalah mertuanya yang berkunjung.
__ADS_1
"Halo sayang .." sapa ibu Keanu yang sudah datang.
"Ibu." Sapa Karina menyalami orang tua suaminya itu bergantian dan tak lupa mengecup punggung tangan keduanya.
Dan ibu memeluk Karina erat merindukan menantu kesayangannya itu. Karina hanya terkekeh geli melihat perlakuan sayang ibu mertuanya itu.
Mereka pun masuk ke dalam dan Karina membantu barang bawaan ibunya yang lumayan banyak itu. Ah, orang tua Karina sudah meninggal saat pernikahan mereka berumur satu tahun karena kecelakaan mobil yang membuat keduanya meninggal dan kedua orang tua keanu
"Kau tak mengunjungi ibu lagi, apa di kota sebegitu menarik hingga lupa mengunjungi kami?" Ucap ibu Keanu pura-pura sedih untuk mencari simpati menantunya. Karina merasa tak enak hati.
"Maaf ibu." jawab Karina menunduk sedih merasa bersalah.
"Jangan merasa bersalah begitu, ibu tahu kalian sama-sama sibuk." ucap ibu Keanu menepuk punggung menantunya.
"Dimana Anin?" tanya ibu Keanu sambil melihat sekeliling rumah.
"Anin di kamar ibu, dia sedang mengerjakan tugasnya." jawab Karina tersenyum sambil mengusap air matanya yang hampir menetes.
"Ayah mau minum sesuatu?" tawar Karina pada ayah mertuanya yang sejak tadi hanya menyimak sambil duduk di kursi ruang tamu.
"Boleh, seperti biasanya saja." jawab ayah Keanu. Sedang ibu Keanu menuju kamar Anin. Karina beranjak ke dapur.
"Dimana Ken?" tanya ayah Keanu sambil membaca koran di meja.
"Masih mandi ayah mungkin sebentar lagi turun." jawab Karina sambil membawa nampan berisi kopi untuk ayah mertuanya.
"Kau pasti sangat rajin di sekolah jam segini sudah mengerjakan tugas." ucap ibu Keanu sambil keluar kamar bergandengan tangan.
"Sesuatu kalau segera dikerjakan itu akan lebih baik kan nek?" ucap Anin tersenyum senang.
"Cucu nenek memang pintar ya..." ucap ibu Keanu tersenyum menatap Anin.
"Papa..." seru Anin menghambur memeluk Keanu yang baru turun dari kamarnya. Keanu yang belum siap terkejut dan langsung menerima pelukan putrinya.
"Wah, Anin seperti tidak pernah bertemu dengan papa lama ya?" komentar ibu Keanu membuat tubuh Keanu dan Karina menjadi tegang.
__ADS_1
"Kau masih sering dinas ke luar kota Ken?" tanya ayah Keanu memecah ketegangan.
TBC