
Sebulan sudah pasca kejadian, para pelaku sudah mendapatkan hukuman yang setimpal. Para karyawan perusahaan Wijaya yang melihat kejadian mendapatkan sanksi karena membiarkan hal itu terjadi.
Kini Anin memutuskan untuk masuk ke sekolah lagi, tentu saja itu juga Ats bujukan sang mommy. Dan izin dokter psikolog Anin menundukkan dia sudah hampir sembuh meski harus minum beberapa obat lagi Itu pun jika gemetarnya kambuh, kalau tidak dokter menyarankan untuk tidak minum obat.
Apalagi ujian kelulusan tinggal bulan depan. Itu artinya tinggal dua sampai tiga bulan lagi Anin akan lulus sekolah.
"Anin..." Panggil seseorang dari dalam kelasnya.
Dia masuk ke kelasnya dengan sedikit gugup. Anin menoleh menatap ke arah suara, tampaklah Jessi sepupunya tersenyum ke arahnya melambai padanya untuk mendekatinya.
Anin tersenyum mendekati karena ada seseorang yang dikenalnya meski dia juga mengenal satu kelas tapi tidak terlalu diperhatikan Anin. Jessi yang karena sepupunya dia mengingatnya karena sering bertemu dulu di mansion kakek.
"Jessi..." Panggil Anin lirih mendekati meja Jessi.
"Kau sudah tak apa?" Tanya Jessi meski dia sudah tahu kabar Anin dari ibunya, dia ingin memastikan sendiri.
Apalagi teman-temannya yang lain ikut menguping pasti karena ingin tahu tentang kabar Anin.
"Kau pindah kelas?" Anin malah balik bertanya seolah mengelak untuk menjawab pertanyaan Jessi.
"Ah iya. Kau tahu siapa yang memindahkanku?" Tanya Jessi bercanda, Anin yang memang tak tahu apa-apa hanya mengedikkan kedua bahunya.
"Siapa lagi kalau bukan uncle Jo, dia kan bisa melakukan apa saja?" Jawab Jessi tersenyum senang.
Anin menatap sekeliling ruangan, tak dilihatnya semua teman PKL-nya membuatnya bertanya-tanya namun dia tak berani bertanya, semua dipendamnya dalam hati.
"Selamat pagi semua..." Sapaan guru kelas yang ternyata wali kelas Anin.
Guntur masuk kelas menuju mejanya yang berada di depan paling ujung kelas. Menatap sekeliling ruang kelas dan berhenti di meja Anin yang terlihat menghindari tatapannya. Anin terus saja menunduk berpura-pura menyiapkan alat tulisnya. Guntur menghela nafas, melanjutkan untuk mengajar.
Anin sendiri entah kenapa dia menghindari tatapan gurunya yang begitu mengintimidasinya. Dia sudah tahu dan sudah ingat saat dirinya dibopong oleh guru wali kelasnya saat kejadian waktu itu. Sontak wajahnya langsung memerah setiap mengingatnya apalagi saat berpapasan langsung.
Itulah sebabnya dia menolak menemui gurunya itu padahal dia sudah lebih baik. Dia bisa saja menemui gurunya dengan didampingi mommynya namun perasaan malu membuatnya menolak dengan alasan belum nyaman menemui orang asing.
Hingga kelas pun berakhir, Anin segera berlari keluar kelas setelah pamit pada Jessi. Karena pak Maman sopir daddynya sudah menjemputnya. Guntur yang melihat hal itu hendak menyapa Anin mengurungkan niatnya.
Sepertinya Anin memaksakan diri untuk masuk sekolah karena bagaimanapun juga dia akan ujian kelulusan. Dia masih belum nyamankah bertemu dengan orang asing? Batin Guntur menatap kepergian mobil yang menjemput Anin.
__ADS_1
***
Hingga lebih dari dua minggu Anin sudah masuk ke sekolah dengan perasaan senang. Tak ditemukannya murid-murid yang pernah membullynya di tempat PKL saat itu.
Menurut kabar yang didengarnya ada yang dikeluarkan ada juga yang pindah dengan sendirinya termasuk Teddy. Entah kenapa dia mengingat Teddy yang hanya menatapnya jijik saat itu. Entah tanpa sadar tangannya mengepal mengingat hal itu.
"Anindita.." Anin tiba-tiba tubuhnya menegang saat seseorang memanggilnya dengan nada suara lembut.
Dia ingat betul suara siapa itu. Dia ingin lari tapi kakinya terasa kaku. Alhasil dia hanya diam tak bergerak. Aroma parfum maskulin menusuk hidung Anin saat pria yang memanggilnya itu mendekatinya dari belakang. Anin menghembuskan nafas mencoba mengendalikan perasaannya. Entah kenapa dadanya berdetak kencang.
"Selamat pagi pak.." Sapa balik Anin memberanikan diri membalikkan tubuhnya dan mundur dua langkah ke belakang menjauhi guru wali kelasnya yang begitu dihindarinya itu.
"Selamat pagi." Jawab Guntur tersenyum, dia bisa melihat kegugupan di mata Anin yang berusaha menguatkan hatinya bahwa dia akan baik-baik saja.
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Guntur karena keduanya saling diam.
"Saya baik pak." Jawab Anin tersenyum paksa.
"Syukurlah... maafkan bapak atas apa yang menimpamu, saya sebagai wali...."
Guntur yang melihat hal itu entah kenapa menjadi tersenyum namun tak diperlihatkannya.
Lucu dan menggemaskan.. Batin Guntur menahan untuk tidak tersenyum.
"Tapi kau tak mau bertemu denganku. Kukira karena bapak salah karena..."
"Enggah kok pak, bukan begitu. Maksutku... aku...eh..saya... maafkan saya..." Anin berlari begitu saja menuju kelasnya meninggalkan Guntur yang menatapnya lucu.
Senyum Guntur melebar membuatnya hampir tertawa terbahak-bahak jika saja tidak di halaman sekolah yang kebetulan ada para siswa yang menyapanya. Guntur langsung berdehem dan masuk ke dalam ruang guru dengan masih bibir yang berkedut menahan senyum.
***
"Kau kenapa Anin?" Tanya Jessi cemas, pasalnya Anin berlarian dengan nafas yang terengah-engah apalagi wajahnya memerah merona.
"Gak... gak papa kok." Jawab Anin menggeleng kuat tak mau perasaan berdebarnya diketahui siapapun apalagi Jessi.
Jessi sepupunya, putri dari kakak daddynya mulutnya sangat ember. Apapun akan diceritakan saat makan malam keluarga besar daddynya nanti. Anin tak mau hal itu terjadi.
__ADS_1
***
"Bisa bertemu Anin Tante?" Pinta Teddy yang saat itu menekatkan dirinya datang ke mansion Jo.
Karina yang dipanggil asisten rumah tangganya yang mengatakan ada yang mencari Anin membuat Karina langsung menuju ruang tamu.
"Kamu... siapa ya?" Tanya Karina dengan tatapan intimidasi.
Putrinya memang ansos dan introvert, setelah teman-teman sekelasnya berkunjung dua hari lalu, kini ada seorang pemuda yang sebaya dengan putrinya ingin bertemu.
"Saya Teddy Tante, saya teman sekelas Anin. Saya putra pak Wijaya." Jelas Teddy penuh harap.
Sebelum ke bandara untuk pindah sekolah dan kehidupannya, dia ingin bertemu dengan Anin untuk terakhir kalinya, untuk minta maaf mungkin?
"Oh..." Karina menatap Teddy dengan tatapan meneliti.
"Ada keperluan apa ya?" Tanya Karina lagi masih ragu dengan maksud kedatangan Teddy.
"Saya akan pindah ke luar negeri Tante, nanti sore. Sebelum saya pergi biarkan saya bertemu dengannya untuk minta maaf." Jelas Teddy memelas.
Karina memang sudah mendengar cerita sedikit banyak tentang Teddy dari suaminya. Memang benar apa kata suaminya, Teddy sangat menyukai putrinya. Terlihat dari pancaran matanya yang putus asa karena harus terpaksa menjauhi Anin atas perintah suaminya.
"Apa yang ingin kau katakan padanya?" Teddy terdiam, dia juga tak tahu apa yang harus dikatakan pada Anin agar tak marah padanya.
"Saya ingin minta maaf tante, saya tak mau pikiran saya mengganjal karena merasa bersalah pada Anin. Tolong katakan pada Anin, saya tak akan mengganggunya lagi setelah ini, sekarang saya hanya ingin pergi dengan tenang tanpa rasa bersalah dengan meminta maaf padanya." Jelas Teddy panjang lebar dengan berbelit berharap Karina luluh dan mengizinkan untuk bertemu Anin.
"Saya akan coba bicara padanya, tapi Tante tidak janji." Jawab Karina membuat bibir Teddy tersenyum meski belum mendengar Anin menyetujuinya untuk bertemu dengannya.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak
Beri like, rate dan vote nya
Makasih 🙏
Maafkan typo
__ADS_1