
Pagi itu Bram bersiap untuk pergi ke rumah Karina, dia berdiri di depan cermin kamarnya mematut dirinya bahwa tidak ada yang kurang pada dirinya. Dan semoga Karina menerima lamarannya. Berdasarkan info yang diterima dari Maya, Karina bercerita ingin mempertimbangkan lamarannya.
Entah kenapa hal itu membuat Bram sangat bahagia. Beda saat dengan istrinya dulu tak seantusias sekarang mungkin karena dulu mereka dijodohkan.
Tak lupa Bram mampir ke toko bunga membeli bunga mawar merah untuk menunjukkan keseriusannya dalam melamar Karina.
Disinilah sekarang, berdiri di depan rumah Karina dengan gugup dan dada berdegup kencang.
Setiap hari dia datang ke rumah ini namun dia tak apa-apa, dan sekarang dia sangat gugup. Seperti orang yang pertama kali jatuh cinta saja. Bram berdehem menetralkan degup jantungnya.
"Assalamualaikum..." seru Bram mengetuk pintu rumah Karina, matanya tak fokus ada yang janggal dari pintu itu.
Bram terus berteriak memberi salam dan mengetuk pintu lebih kencang. Mengintip dari jendela rumah tersebut namun tak terlihat karena tirai ditutup.
"Tunggu! Tak mungkin kan mereka masih tidur? Bahkan tirainya masih ditutup." guman Bram.
"Ada mencari siapa tuan?" tanya seorang wanita yang melintas di depan rumah Karina melihat Bram menggedor-gedor pintu rumah Karina. Bram otomatis berbalik mengikuti arah suara.
"Karina?" jawab Bram sambil menunjuk rumah Karina.
"Ah, Mrs. Karina di rumah sakit. Semalam dia diantar Mr. Find. Sepertinya dia akan melahirkan." Bram shock mendengar kabar yang mustahil itu.
*Bu*kankah perkiraan masih dua minggu lagi?Apa terjadi sesuatu yang tidak diketahuinya? Namun Bram mengalihkan pendapatnya dulu, mendatanginya itu lebih penting.
"Kau tahu mereka ke rumah sakit mana?" tanya Bram cemas.
***
Bram memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi, berdasarkan yang dikatakan tadi. Darah banyak keluar dari paha Karina. Bukankah wanita melahirkan harusnya air ketuban? Kalau darah yang keluar apa itu tidak berbahaya? Jangan...jangan... tidak, kumohon tidak...
Bram berlarian di lorong rumah sakit kota menuju ruang UGD untuk menemui seseorang yang mungkin bisa dimintai penjelasan. Maya mungkin?
Dari kejauhan Bram bisa melihat wajah Maya yang pucat dan cemas sedang bolak-balik di depan pintu ruang operasi, sendiri. Lalu dimana Anin? batin Bram bertanya-tanya.
"Maya.." panggil Bram, Maya langsung menoleh menatap Bram.
__ADS_1
Kecemasan di wajahnya perlahan sedikit hilang setelah melihat Bram. Setidaknya ada seseorang untuk berbagi tentang apa yang harus dia lakukan. Dia belum berpengalaman tentang semua ini.
"Mas Bram." jawab Maya balas menyapa.
"Apa yang terjadi? Dimana Karin? Bagaimana keadaannya?" tanya Bram penuh nada kecemasan.
"Aku tak tahu apa yang terjadi semalam. Saat aku pulang semalam, aku mendengar rintihan dari dalam kamarnya dan kupaksa membuka pintu. Dan ternyata... ternyata... darah, banyak darah keluar dari bawah...hiks...hiks..." Maya sudah tak mampu bicara, dia sangat cemas dan merasa bersalah entah karena apa.
Bram memapahnya untuk duduk di kursi tunggu depan ruang operasi, Bram ikut duduk di samping Maya masih menunggu kelanjutan ceritanya. Meski dirinya penasaran dia tak akan memaksanya untuk bicara sebelum tenang.
"Kata dokter, mbak Karin mengalami kontraksi karena stres dan pikirannya. Dan harus segera dioperasi agar tidak membahayakan kedua bayinya. Dan dokter memutuskan operasi cesar." jelas Maya terbata-bata.
"Kau benar. Semoga operasinya lancar dan mereka semua selamat." Maya hanya mengangguk-angguk dan terus menangis.
***
Di lain tempat, seorang pria yang terbaring dengan berbagai peralatan medis yang menunjang kehidupannya membuka matanya terbelalak. Nafasnya memburu, seolah dia sedang mimpi buruk. Dan seseorang seperti memanggilnya.
Pria muda itu langsung terduduk lemas, melepas infus dan oksigen yang tersambung di hidung, bibir dan tangannya. Dia sudah bisa bernafas dengan lancar.
"Dokter...dokter... di...dia.. sadar." seru wanita itu yang membuat perawat di dekatnya langsung menghampirinya.
"Kami akan memeriksanya. Tolong tunggu di luar sebentar!" pintu dokter yang merawat pria muda itu.
***
Tangisan nyaring dua bayi laki-laki di dalam ruang operasi itu bersahutan tak mau kalah. Bram dan Maya bernafas lega dan mengucap syukur atas keberhasilan operasi cesar bayi-bayi itu.
"Syukurlah!" ucap Maya tersenyum lega mendekat ruang operasi.
"Suster bagaimana keadaannya?" tanya Bram melihat seorang suster keluar dari ruang operasi.
"Maaf, tunggu sebentar!" jawab suster itu terlihat panik berlari entah karena apa.
Hal itu membuat pikiran Bram menjadi cemas karena belum mendengar kabar tentang Karina pasca operasi.
__ADS_1
"Mbak Karin gak papa kan mas?" tanya Maya pada Bram dengan tatapan horor penuh kecemasan.
"Karina baik-baik saja. Yakinlah akan hal itu!" jawab Bram tegas meski sebenarnya dia juga sangat mencemaskannya.
Dia takut, dia juga trauma. Dia berharap semoga tak terjadi hal yang tak diinginkan.
Dokter keluar dari ruang operasi menghampiri Bram.
"Keluarga pasien?" seru dokter itu.
"Ya dik?"
"Anda siapanya?" tanya dokter itu.
"Saya calon suaminya." jawab Bram tegas tanpa banyak berpikir. Dokter tampak menghela nafas sejenak, dia bingung ingin bicara dari mana.
"Sebaiknya bicara di ruangan saya." ajak dokter itu diangguki oleh Bram dan mengikuti langkah dokter itu.
***
"Anda harus menyiapkan kemungkinan hal terburuk yang mungkin terjadi pada ibu bayi." ucap dokter setelah lama diam.
"Tidak... tidak... dokter, katakan kalau itu bohong. Kau akan berusaha menyelamatkannya kan dok?" jawab Bram menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya dengan vonis dokter.
"Pasien mengalami shock berat yang membuatnya pingsan. Apalagi bayinya kembar. Dan stres yang berlarut-larut semakin membuat keadaannya menurun. Kita hanya bisa berdoa semoga ada keajaiban dari Tuhan." hibur dokter itu membuat Bram shock dan terdiam.
Pikirannya sudah dipenuhi hal-hal buruk yang mungkin terjadi pada Karina.
Bram sudah keluar dari ruangan dokter dan Maya menghampirinya bertanya tentang apa saja yang dikatakan dokter tentang Karina.
Sementara Karina ditempatkan di ruang ICU dengan alat-alat medis yang terpasang di seluruh tubuhnya untuk menunjang kehidupannya. Dan belum boleh dijenguk ke dalam. Hanya bisa menatap dari kaca jendela ruang ICU.
TBC
Sabar ya pembaca, minta pendapat dong. Enaknya gimana ya dengan Jo, saya tunggu di kolom komentar ya, makasih 🙏🙏😉😉
__ADS_1