Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 22


__ADS_3

"Apa maksudmu?" Tanya Karina saat membantu Anin membereskan pakaiannya dalam koper.


Karina menatap Anin lekat, berusaha menolak dengan apa yang didengarnya barusan adalah salah dengar. Anin menatap wajah mommy nya ragu.


"Aku ingin pulang bersama papa setelah tiba di sana." Ucapan Anin membuat Karina pias.


"Tunggu! Itu bukan papamu yang paksa kan?" Tanya Karina mencoba bertanya baik-baik.


Dia bukannya suudzon dengan mantan suaminya itu. Namun mungkin salah satu pendorong bisa saja karena kunjungan mantan suaminya itu.


"Bukan mom, q yang ingin bersama papa." Jawab Anin sambil tetap melanjutkan mengemasi barang-barangnya.


"Apa mommy mengecewakanmu? Apa mommy berbuat salah padamu? Atau Daddy atau mungkin adik-adikmu berbuat sesuatu yang membuatmu harus meninggalkan kami?" Tanya Karina tak sabaran sambil meraih bahu putrinya agar menatap padanya.


Dadanya bergemuruh kencang karena menahan emosi dan sakit hati. Kesalahan apa yang kulakukan hingga putriku memilih pulang bersama papanya? batin Karina membuat nafasnya tercekat.


"No mommy, bukan seperti itu. Anin ingin tinggal bersama papa. Anin ingin juga dekat dengan papa. Anin ingin bersama kakek dan nenek juga." Jawab Anin membuat tubuh Karina hampir limbung, namun dia segera berpegangan dengan sesuatu.


"Apa kasih sayang Daddy tak cukup untukmu?" Tanya Karina lirih sambil menundukkan wajahnya.


Dia terlalu terluka dengan ucapan putrinya. Putri yang dibesarkan sendirian sejak kecil begitu mudahnya beralih ingin meninggalkan dirinya. Apa dirinya sudah gagal membesarkan putrinya, apa dia sudah salah dalam mendidiknya sehingga putrinya memilih tinggal dengan papanya yang sejak kecil jelas-jelas menelantarkannya. Karina tak habis pikir dengan jalan pikiran putrinya itu.


"Bukan karena itu mom, Anin hanya ingin merasakan bagaimana tinggal dengan papa." Jawab Anin menatap mommy nya yang tetap menunduk.


Anin tak merasa kurang dengan kasih sayang kedua orang tuanya yang sekarang, meski Daddy nya hanyalah Daddy sambungnya. Daddy Jo sangat menyayanginya sama juga seperti adik-adiknya yang lain. Namun Anin ingin tahu seberapa besar kasih sayang sang papa pada dirinya.


Jujur bersama dengan kedua orang tua kandungnya adalah impian setiap anak. Termasuk Anin pun juga ingin bersama dengan kedua orang tua kandungnya juga. Namun Anin sadar kalau hak itu tak mungkin akan terjadi. Jadi dia hanya ingin merasakan apakah papanya mencintainya dengan tulus seperti yang dikatakan selama ini. Meski sejak kecil dia tak pernah merasakan langsung dari papa kandungnya.


"Kau mengecewakan mommy, Anin. Mommy tak mengira kau tega meninggalkan mama yang telah membesarkanmu dari kecil. Dan ...dan sekarang... kau.." Karina menutup mulutnya dengan linangan air mata kekecewaan.


Dia berusaha menerima dan menghargai keinginan putrinya namun dirinya tak mengira kalau mimpi buruknya akan terjadi secepat ini. Bukan kecewa karena Anin yang memilih, dia sedih. Perjuangannya selama ini membesarkan Anin agar mendapatkan kasih sayang sebagai mana mestinya dengan orang tua lengkap meski bukan ayah kandung membuat putrinya masih saja kurang.


Karina kecewa pada dirinya. Kesedihan saat tak ada Anin di sisinya membuatnya tampak kosong. Anin adalah putrinya hanya putrinya. Putri yang selalu bersamanya di setiap hari terberatnya dulu. Mulai kini dia harus merelakannya pergi bersama dengan papa kandungnya yang membuatnya harus mengalami hari berat mereka. Anin yang didiamkan oleh mommynya merasa bersalah dan terluka.


Matanya mulai berkaca-kaca sedih saat Karina mendiamkannya. Karina berdiri dari duduknya dan menyelesaikan membereskan barang-barang Anin tanpa memberikan jawaban yang pasti pada putrinya.


"Mom..." Panggil Anin yang tak digubris karina yang masih pura-pura sibuk.


"Mommy..." Seru Anin tetap tak membuat Karina menoleh.


"Mommy, please!" Seru Anin lagi menarik lengan Karina.


"Cukup Anin!" Teriak Karina tanpa sadar membentak putri sulungnya.


Karina langsung terdiam, dia menyesal telah membentak putrinya.

__ADS_1


"Baby, hurry up!" Suara teriakan panggilan Jo membuat Karina sontak menoleh ke arah suara.


"Yes, honey. Wait a minute!" Jawab Karina meski dengan nada serak.


Dia sudah berusaha mengendalikan suara serak tangisannya agar tak membuat cemas suaminya dan sepertinya itu tak bisa. Karina menebak suaminya pasti sebentar lagi akan menghampiri mereka. Karina segera menghapus air matanya meski sembab pada matanya tak bisa sepenuhnya hilang.


"What's happen baby?" Tanya Jo yang tiba-tiba muncul di kamar Anin.


Karina sudah menduganya sebentar lagi suaminya pasti akan menghampirinya. Meski sudah menebaknya, Karina tetap saja kaget dan sontak menatap suaminya. Jo terlihat keheranan melihat keduanya.


***


Kini pesawat sudah take off. Jo dan keluarganya telah duduk di kursi VIP masing-masing di dalam pesawat pribadi mereka. Karina duduk tenang hanya terdiam menatap keluar jendela dengan pandangan kosong.


Begitu juga Anin, dia juga memilih untuk diam di tempat duduknya meski adik-adiknya terlihat bercanda satu sama lain setelah pesawat terbang dengan kecepatan stabil.


"Baby, tak apa?" Tanya Jo merasa didiamkan istrinya.


Dia pun mendekat sambil mengelus perut buncit istrinya. Karina yang sejak tadi melamun buyar seketika merasakan elusan lembut suaminya di atas perutnya. Karina menoleh menatap suaminya dan beralih menatap tangan suaminya yang mengelus perutnya berulang-ulang. Sungguh perasaan buruk Karina hilang seketika.


Rasa kram yang sempat dirasakan tadi akibat sedikit cek cok dengan putrinya tadi langsung menghilang karena elusan lembut suaminya. Kini Karina ganti menatap wajah suaminya yang juga menatapnya lembut.


"Maaf. Maafkan aku." Bisik Karina sambil menyerukkan wajahnya ke dalam dada bidang suaminya.


"No problem baby. It's okay." Bisik Jo sambil mengecupi pucuk kepala istrinya sambil berganti mengelus punggung istrinya memberi penghiburan.


Hal itu tak luput dari pandangan anak-anak mereka termasuk Anin. Anin tampak meremas jemari tangannya merasa bersalah dengan perdebatan tadi. Dia sempat melupakan kalau mommy nya sedang hamil adiknya.


***


"Anin ingin tinggal dengan papanya?" Bisik Karina saat suaminya sudah membaringkannya di ranjang kamar di dalam pesawat itu.


Karina menatap suaminya lekat sambil mengalungkan lengannya di leher suaminya. Jo menatap wajah sedih istrinya. Inikah yang diributkan mereka tadi? batin Jo menatap lekat istrinya.


"Dia akan meninggalkan kita, memilih untuk mencoba tinggal dengan papanya." Ucap Karina lagi yang masih belum mendapat jawaban dari suaminya.


"Kau ingin aku melakukan apa untukmu? Aku akan lakukan apa yang kau inginkan dan apa yang kau putuskan. Aku tak mau melihat istriku bersedih. Apapun akan kulakukan jika itu bisa menghapus kesedihan di mata istriku." Jawab Jo tegas menatap wajah istrinya yang malah menangis sambil menarik leher suaminya masuk ke dalam pelukannya.


Karina meredam tangisannya di cerukan leher suaminya. Jo hanya terdiam, membiarkan istrinya meluapkan tangisannya.


"Aku yang bersamanya sejak kecil. Aku yang merawatnya dari bayi. Aku yang bersamanya sejak kami melalui hari berat kami. Kenapa? Kenapa dia dengan mudahnya memilih untuk meninggalkan kita." Bisikan, isakan terdengar dari suara menyayat hati Karina.


Membuat Jo nelangsa dan ikut bersedih. Kelemahan terbesarnya adalah melihat istrinya menangis sedih. Jo sungguh tak menginginkan kesedihan menghampiri istrinya.


"Sstt...sstt.. tenang baby, tenangkan dirimu. Kasihan baby yang ada di dalam perutmu. Di pasti juga sedih melihatmu bersedih." Hibur Jo sambil masih dalam pelukan istrinya.

__ADS_1


Karina langsung menghentikan tangisannya. Dia pun tak mau mengorbankan anaknya hanya demi anaknya yang lain. Dia harus mengendalikan perasaannya.


"Apa yang harus kulakukan honey?" Tanya Karina setelah tangisannya sedikit reda.


"Apapun yang akan kau lakukan, aku akan mendukungmu." Jawab Jo mengusap air mata istrinya.


"Beri aku pendapatmu!" Tanya Karina lagi menatap wajah suaminya.


Jo menyingkirkan rambut istrinya yang menutupi wajahnya. Meski keadaannya berantakan dan rambutnya kacau. Wajah cantik istrinya masih terlihat jelas, Jo menyukai semua yang ada pada istrinya itu.


"Apa Anin yang menginginkannya sendiri?" Tanya Jo.


Karina mengangguk sambil sesenggukan karena tangisannya belum sepenuhnya reda.


"Bagaimana kalau kita mengizinkannya?" Tanya Jo hati-hati menatap wajah istrinya sambil tersenyum manis agar istrinya tak salah paham.


"Apa maksudmu? Membiarkannya untuk tinggal dengan papanya? Dan meninggalkan kita? Kau sudah tak menyayanginya lagi? Kau tak menginginkan anakku lagi?" Cecar Karina emosi menatap suaminya kesal.


Hingga membuang pandangannya ke arah lain tak menatap suaminya lagi.


"Baby, baby...sstt... Listen me, hei...baby..." Sela Jo sambil memegangi kedua pipi istrinya agar menatapnya lagi.


Karina masih marah, dia tetap tak mau menatap suaminya. Dia kesal.


"Bukan itu maksudku baby. Aku menyayangi Anin, aku masih menginginkannya. Aku pun juga ingin dia tetap bersama kita. Tapi, kau harus ingat. Dia adalah papanya, papa kandungnya. Bagaimana pun juga itu tak bisa kita elakkan. Dia juga berhak pada Anin. Tidak ada yang namanya mantan anak." Jelas Jo yang masih diacuhkan istrinya.


Karina mencoba mencerna ucapan suaminya. Apa yang dikatakan suaminya adalah benar. Bagaimana pun juga Anin adalah putri kandung mantan suaminya. Dia tak bisa menyangkal untuk fakta tersebut. Bagaimana pun Anin berhak untuk ikut dengan papa kandungnya.


Di tak bisa egois. Toh, usia Anin sudah lewat tujuh belas tahun, dia sudah berhak memilih untuk tinggal dan ikut dengan pilihannya. Karina menoleh menatap suaminya yang masih menatapnya.


"Aku akan bicara dengannya nanti." Ucap Karina membuat Jo tersenyum senang.


"Istriku tahu apa yang terbaik." Ucap Jo membuat Karina tersipu malu dengan pujian suaminya.


"Terima kasih honey."


"You're welcome baby."


Mereka pun berciuman mesra, melupakan sebentar masalah mereka.


TBC


Akhirnya bisa up sebentar


Beri dukungannya

__ADS_1


Beri like, rate dan vote nya makasih 🙏


__ADS_2