
Jo segera berlari menuju klinik perusahaan di lantai tiga, dia harus kembali turun lagi karena sekarang sudah di lantai lima. Meeting yang seharusnya dimulai sedikit tertunda karena ada sedikit kendala tadi. Pimpinan perusahaan berdecak kesal saat dirinya sibuk mengurus perihal kerjasama nya dengan salah seorang klien penting sedikit ditunda.
Apalagi kliennya memiliki saham terbesar di perusahaannya. Dia mau tak mau harus ikut menyelesaikan masalah ini secepat mungkin.
"Kau baik-baik saja Anin?" Anin masih terdiam sesenggukan di dekapan Guntur.
Pandangannya kosong, tubuhnya menggigil gemetaran. Antara sadar dan tidak sadar dia masih memeluk erat tubuh Guntur. Sang wali kelas hanya bisa menahan dirinya untuk tidak membuat bangun tubuhnya yang lain. Mulut Anin terus bergumam tak jelas membuat Guntur kesulitan untuk bertanya bagian mana yang membuatnya tak nyaman.
Dokter pria perusahaan yang ingin memeriksa keadaan anak tak bisa melakukannya karena Anin yang tak mau lepas dari dekapan guru wali kelasnya. Sehingga terpaksa dokter itu memeriksanya masih dalam posisi Anin duduk mendekap pinggang dipangkuan Guntur.
"Bagaimana keadaannya dok?" Tanya Guntur menatap Anin dengan tatapan kasihan.
"Sepertinya dia mengalami shock. Dan sepertinya dia memiliki sindrom trauma yang merasa tak nyaman jika berdekatan dengan orang asing melihat dirinya tersentak ketakutan saat saya pegang. Saya kira karena saya pria, namun saat suster membantu, gadis ini juga tersentak ketakutan. itu artinya dia punya riwayat trantrum entah karena apa." Jelas dokter itu membuat Guntur menghela nafas berat.
"Lalu bagaimana dok?" Tanya Guntur cemas.
"Sebaiknya pertemukan dia dengan dokter psikolog pribadinya. Beliau yang lebih mengenal gadis ini." Saran dokter itu.
"Daddy... please help me Daddy..." Guman Anin lebih jelas, namun racauan gumamannya tak terdengar jelas di telinga Guntur. Samar-samar terdengarnya.
"Hiks...hiks..." Anin tiba-tiba menangis sambil memeluk erat tubuh Guntur.
Oh my, jangan banyak bergerak Anin. Kau mulai membangunkannya. Batin Guntur menahan dirinya.
"Apa tak ada cara untuk dia melepaskan pelukannya?" Tanya Guntur meminta solusi pada dokter itu.
"Coba anda baringkan!" Guntur perlahan membaringkannya di ranjang klinik, bukannya terlepas tetapi Anin semakin erat dekapannya.
Guntur menggeleng menatap dokter itu.
"Sebaiknya anda ikut berbaring di sisinya dan peluk dia! Setelah dia terlelap anda bisa melepaskannya." Saran dokter tersebut. Namun lagi-lagi Anin tetap tak mau dilepaskan.
"Daddy... please don't leave me!" Anin berteriak membuat Guntur terdiam mendengar panggilannya.
Sret....
Bruak...
Jo tiba-tiba muncul meraih belakang tubuh Guntur dan mendorongnya ke lantai entah dimana. Jo memegang kedua pipi Anin.
"Princess... are you okay?" Tanya Jo penuh kecemasan dan kepanikan, apalagi keadaan Anin yang tidak baik-baik saja. Berantakan dan awut-awutan wajahnya.
"Hei, siapa anda?" Tanya Guntur setelah dia bangun kembali dengan dibantu dokter.
"Brengsek, kau apakan dia huh..?" Bentak Jo sambil meraih kerah leher Guntur.
Guntur dan dokter itu pun kebingungan, Guntur memegangi tangan Jo yang memegang kerahnya.
"Si... siapa anda?"
"Kau apakan dia? Bagaimana hal ini terjadi? Kau akan membayar semua itu." Lirih Jo tajam dengan nada yang menakutkan.
"Daddy...hiks...Daddy..." Suara lirih Anin dalam kesadarannya membuat Jo sontak menghempaskan Guntur dengan kasar.
"Princess, are you okay? Daddy here?" Ucap Jo lembut mengelus dan mengecupi punggung tangan Anin sambil berlutut di sisi ranjang.
"Tuan, siapa anda?" Tanya Guntur lagi tak merasa takut sama sekali karena kemarahan Jo.
Jo yang berusaha menenangkan Anin melirik tajam pada Guntur yang menyentuh bahunya.
"Daddy...hiks..." Rengek Anin sambil membuka matanya perlahan karena mengenali suara Jo.
__ADS_1
"Princess... what's happen? Siapa yang melakukan hal ini?" Tanya Jo lembut dengan wajah sedih dan cemas.
"Tuan... aku..." Jo sekali lagi murka dan meraih kerah leher Guntur hingga mendorongnya ke dinding klinik dengan wajah yang penuh amarah.
"Brengsek kau... kalau sampai terjadi sesuatu padanya, nyawamu pun tak akan selamat." Ancam Jo menatap tajam manik mata Guntur yang kebingungan dan disalah pahami.
"Tuan, bukan dia ....". Dokter mencoba melerai keduanya.
"Diam kau!" Umpat Jo kasar menatap sekilas dokter itu.
"Tuan." Rian melerainya, dan membuat Jo sedikit tenang dan melepas cekalan kerahnya segera menghampiri Anin yang terus merintih sejak tadi.
Jo membuat jas Guntur yang menutupi tubuh Anin tadi, menggantikan jas miliknya dan membopongnya.
"Tuan Jo, anda....?" Suara pimpinan perusahaan yaitu tuan Wijaya tiba di klinik perusahaan dengan sekretarisnya terkejut karena Jo juga ada di sana.
Tuan Wijaya bertanya-tanya dalam benaknya, apa hubungan Jo dengan gadi SMA PKL itu.
"Rian, urus semua. Tuntut semua yang berhubungan dengan masalah ini. Aku tidak akan melepaskan masalah ini begitu semua. Buat semua orang yang terlibat membayar setiap kesalahan sekecil apapun." Ucap Jo murka dengan mata memerah marah.
Jo keluar dari klinik itu tanpa menjawab pertanyaan tuan Wijaya yang mengernyit keheranan.
"Baik tuan." Jawab Rian sambil menundukkan kepalanya memberi hormat.
"Tuan Jo... tunggu! Tuan..." Jo tak menggubris panggilan Wijaya langsung pergi meninggalkan ruangan itu sambil masih membopong tubuh ringkih putrinya yang terus-terusan sesenggukan dengan tubuh gemetar dan ketakutan.
Gumanan memanggil dirinya terus menerus didengarnya. Jo menatap sedih keadaan putrinya, hatinya bagai teriris mendengar racauan tak jelasnya yang menyayat hati.
***
Sopir mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi namun masih hati-hati. Kalau saja majikannya tak memburunya untuk segera ke rumah sakit pasti tak akan secepat itu dirinya menyetir mobil.
"Princess... are you okay?" Bisik Jo lirih masih mendudukkan Anin di pangkuannya karena sejak tadi Anin tak melepaskan pelukannya.
"Kita ke rumah sakit, kita lihat keadaanmu. Okay?" Ucap Jo lembut. Anin menggeleng kuat, menolaknya.
"No Daddy... bawa aku pulang... ke ... tempatku ... Daddy..." Jawab Anin terbata-bata yang masih sesenggukan.
"No princess, kau harus diperiksa dokter?" Bujuk Jo.
"No Daddy. Aku mau pulang? Please..." Pinta Anin penuh harap dalam setengah kesadarannya.
"Princess..."
"Please ... Daddy... hiks .." Anin mengharap dengan wajah sedihnya.
"Okay. Kita pulang ke mansion." Jawab Jo membuat Anin lagi-lagi menggelengkan kepalanya kuat dan berulang kali.
"No dad, aku... tak mau... membuat mommy cemas... please..." Pinta Anin memelas lagi masih diiringi sesenggukannya.
"Tapi princess?"
"Dad..." Tatapan mata Anin terus memohon. Jo sungguh tak tega dan tak sanggup melihatnya.
"Okay... kita ke apartemen Daddy. Tak ada bantahan." Tegas Jo membuat Anin terdiam dan menurut.
"Kita ke apartemen pak!" Titah Jo pada sopirnya dan langsung mengendarai mobilnya agak lambat, karena akan mencari jalan memutar untuk ke apartemen majikannya yang berada di arah sebaliknya.
***
Sementara di perusahaan tempat Anin PKL dan Rian yang tertahan di tempat itu karena mengurus kejadian itu. Kini dia sudah duduk di sebuah ruang yang biasanya untuk meeting. Disana sudah ada Rian, tuan Wijaya dan sekretarisnya, Guntur, pengawas anak PKL.
__ADS_1
"Tuan Rian, sebaiknya..." Wijaya memulai pembicaraan yang sejak tadi sudah hening lima belas menit yang lalu.
"Kita tunggu pengacara tuan Jonathan." Rian memotong ucapan Wijaya dengan tegasnya.
"Pengacara? Kenapa pengacara? Maksud saya, kita selesaikan dengan kekeluargaan, kita hukum..." Ucap Wijaya lagi panik dengan keputusan sekretaris orang penting di perusahaan ini.
"Apa anda ingin tuan Jonathan langsung mengambil keputusannya? Mungkin perusahaan anda akan langsung gulung tikar!" Ancam Rian untuk membungkam mulut Wijaya.
"Apa? Ah, baiklah." Wijaya pun terdiam.
"Bukannya pria tadi yang ada di foto?" Sela Guntur sambil menunjukkan sebuah foto yang menjadi biang masalah tadi.
Rian tak melihat, hanya meliriknya sekilas. Dia juga sudah tahu perihal foto-foto itu. Sebelum mengikuti tuannya ke klinik tadi. Dia sudah menemui orang yang dibayarnya untuk mengawasi putri majikannya. Saat itu Rian tersentak kaget dan juga marah. Apalagi sumber masalah itu karena putri majikannya itu difoto bersama majikannya.
Rian pun juga ingin mengamuk saat itu juga. Namun sikap elegan lebih ditunjukkan karena tak mau mempermalukan majikannya. Lebih baik menyerang dan membalasnya dengan lembut tapi menghancurkan daripada menyerang kasar malah akan memperbesar masalah.
Dia bisa melihat tadi kemarahan tuannya yang hampir saja tidak bisa dikendalikannya namun karena melihat putrinya merintih, majikannya mencoba meredam amarahnya yang sudah memuncak.
"Bisa anda jelaskan, siapa pria yang ada di foto?" Tanya Guntur lagi dengan tatapan intimidasi karena pertanyaannya tak kunjung dijawab oleh Rian yang terkesan mengacuhkannya.
"Kita tunggu sampai pengacara kami sampai." Jawab Rian lagi-lagi.
Rian tak meminta kronologi kejadian itu bisa terjadi. Karena sedikit banyak sudah tahu dari orang yang dibayarnya tadi. Orang itu pun juga akan mendapatkan hukumannya karena terlambat menolong putri majikannya hingga sampai seperti itu.
Rian mendesah kesal membayangkan kejadian buruk itu. Apalagi putri majikannya baru saja berangsur sembuh dari traumanya pada kejadian buruk beberapa waktu silam.
Cklek
Suara pintu ruangan itu terbuka, Bram dengan seorang asistennya datang tampak terburu-buru menghampiri kursi Rian dan duduk di kursi sebelah Rian dengan wajah cemas. Rian tadi sudah menghubunginya dan menjelaskan garis besar masalah yang menimpa pada mantan anak tirinya mungkin.
Bram yang sudah menganggap Anin seperti putri kandungnya sendiri juga ikut emosi dan murka dengan kejadian itu. Pasti kejadian ini akan berakibat buruk pada Anin karena trauma sebelumnya saja belum benar-benar sembuh seperti yang diceritakan Rian juga.
Semua orang disitu yang melihat kedatangan Bram yang terlihat akrab dengan Rian dan tentu saja langsung bisa mengenali siapa Bram. Bram adalah pengacara terkenal dan handal juga terdengar jujur dalam menangani setiap masalah. Dia terkenal akan mengusut tuntas kasus sampai ke akar-akarnya.
"Maaf membuatmu kalian menunggu." Suara Bram memulai pembicaraan. Rian berdiri dari duduknya.
"Aku serahkan semua padamu tuan, ada hal lainnya yang mau kuurus." Pamit Rian juga menunduk sebentar memberi hormat pada semua orang yang ada disitu.
"Tuan Rian, anda mau kemana?" Tanya Wijaya cemas.
"Silahkan diurus dengan pengacara tuan Jonathan!" Jawab Rian enteng langsung meninggalkan ruangan itu dengan santai.
"Apa-apaan ini?" Seru Wijaya.
"Jaga sikap anda tuan Wijaya!" Wijaya menatap Bram yang tampak marah karena merasa diremehkan. "Saya tak akan segan meski anda adalah pimpinan perusahaan." Tegas Bram menatap penuh intimidasi.
Wijaya pun duduk kembali. Dia tahu betul pengacara seperti apa Bram. Guntur merasa kesal karena dia merasa tak diperhatikan. Sedang pengawas anak PKL sejak tadi meremas tangannya di bawah meja dengan keringat dingin dan ketakutan terus membayangi benaknya.
Sejak dirinya ditunjuk menjadi pengawas entah kenapa dia merasakan perasaan tak enak karena sesuatu akan terjadi. Namun dia hanya karyawan rendahan yang menuruti perintah atasannya.
Tolong aku Tuhan. Setidaknya, jangan sampai aku dipecat. Batin pengawas anak PKL itu.
TBC
Hai para pembacaku
Penasaran kan penasaran kan
Jangan lupa tinggalkan jejak ya, ntar aku up lagi...
Beri selalu dukungannya..
__ADS_1
Jangan lupa klik rate, like dan vote nya.
Makasih 🙏🙏