
Guntur terlihat senyum-senyum sendiri di dalam mobil setelah meninggalkan restoran tempat bertemu dengan klien barunya. Entah kenapa dia bahagia bertemu dengan klien barunya yang tak lain adalah ayah dari gadis yang disukainya itu. Namun senyumnya mendadak surut saat teringat dirinya sudah bertunangan.
Raka yang melirik di kaca spion menggeleng heran menatap bosnya itu. Sebentar-sebentar tersenyum seperti orang gila, sebentar-sebentar cemberut seperti hendak menangis. Dari pertemuan yang ditangkap tadi, pria tadi adalah ayah dari mantan muridnya dulu di SMU, apa jangan-jangan gadis yang sering diigaukan bosnya itu adalah putri dari konglomerat tadi? Batin Raka bertanya-tanya dalam benaknya.
"Stop!" Suara perintah bosnya yang mendadak membuat Raka spontan langsung minggir dan menghentikan mobil yang disopirinya.
Raka mengumpat kesal saat bosnya itu dengan rasa tidak bersalah keluar dari mobil dengan tergesa.
Guntur setengah berlari mengejar seseorang yang dilihatnya tadi. Seorang gadis yang dikenalinya baru keluar dari toko buku. Namun terlambat, gadis yang dilihatnya itu sudah keburu masuk ke dalam mobil mewah dengan sopir itu.
"Sial." Umpat Guntur kesal.
Dia terlambat, kalau saja dia lebih cepat mungkin bisa mengobati rasa rindunya. Guntur kembali ke dalam mobilnya dengan langkah gontai. Raka yang sudah hendak mengumpati bosnya yang juga sudah seperti sahabatnya itu mengurungkan niatnya karena melihat wajah tak bersemangatnya.
***
"Nara, kenapa?" Tanya Anin saat dia baru datang ke kelas melihat Nara murung.
"Hua...Hua....aaa..." Nara malah menangis lebay begitu Anin duduk di kursinya.
Meski terdengar lebay, air mata Nara benar-benar keluar penuh dramatisasi.
"Ada apa?" Tanya Anin lembut sambil mengelus punggung Nara yang memeluknya.
"Aku diputusin Nindi... huahua.. kak Dimas minta putus... hiks...hiks..." Anin sudah mengira hal ini akan terjadi, sudah sejak seminggu yang lalu dia berbincang sebentar dengan seniornya itu.
Dan dia benar-benar menepati omongannya. Begitu lebih baik daripada sahabatnya itu diselingkuhi di belakangnya. Nara pasti akan mampu melewati masa-masa sulitnya beberapa hari ke depan setelah putus dari kekasihnya.
"Cowok banyak Nara, kamu cantik juga. Kamu tinggal cari lagi." Hibur Anin membuat Nara sontak melepas pelukannya.
"Tapi dia cinta matiku Nindi, sudah sangat lama aku memperjuangkannya hingga kami jadian. Kamu tahu juga bagaimana perjuanganku." Ucap Nara penuh dramatisasi.
"Iya...iya... aku ngerti kok. Memang apa alasannya hingga senior memutuskan hubungan kalian?" Tanya Anin penasaran, apa alasannya sama dengan yang dikatakan padanya waktu itu.
"Dia udah gak cinta lagi sama aku, udah gak sayang lagi sama aku, padahal... padahal... aku kan sangat mencintainya Nindi... huhuhu..." Nara lagi-lagi memeluk tubuh Anin.
Anin hanya mampu menghela nafas berat, seniornya benar-benar jujur.
"Mau bagaimana lagi kalau memang dia udah gak suka sama kamu. Daripada nyakitin kamu." Hibur Anin masih setia menepuk-nepuk punggung Nara pelan.
**
"Udah sedihnya?" Tanya Anin setelah kelasnya selesai, dia mendatangi Nara yang tadi pagi izin tidak ikut kelas karena sakit... sakit hati tepatnya.
__ADS_1
"Aku akan cari pacar baru." Tekad Nara membuat Anin tersenyum lucu melihat sahabatnya yang sudah kembali ceria.
"Ya udah minggu nanti jalan-jalan ke mall... entar aku yang traktir." Ucap Anin.
"Beneran? Janji ya?" Jawab Nara antusias. Anin hanya mengangguk mengiyakan.
"Udah, ayo pulang!" Ajak Anin keluar dari klinik kesehatan kampus diikuti Nara dari belakang.
Anin merasa pergelangan tangannya ditarik ke belakang, Anin segera menoleh ke arah tangannya yang ditarik Nara. Dan Anin kembali mengalihkan pandangannya ke arah Nara menatap hingga tatapannya terkunci di depan matanya. Anin juga ikut tersentak melihat apa yang dilihat Nara.
Kak Dimas seniornya yang tepatnya mantan kekasih sahabatnya yang baru tadi pagi sedang bercumbu mesra dengan salah seorang gadis di kampusnya. Tidak hanya cantik namun juga seksi terlihat dari pakaiannya yang ketat membentuk lekuk tubuhnya. Anin tertawa miris melihat pemandangan yang sudah terasa tidak asing untuknya itu. Dan tidak hanya sekali, sudah dua kali ini Anin memergoki seniornya itu bercumbu di depannya.
Apalagi sekarang seniornya itu melakukan secara terang-terangan di depan umum. Seolah ingin menunjukkan pada dunia tentang kemes*umannya.
Dada Nara terasa diremas oleh tangan tak terlihat, hingga rasa sakit itu membuat air mata Nara tiba-tiba menetes tanpa diminta. Anin terkejut melihat sahabatnya menangis dan berinisiatif untuk pergi dan meninggalkan pemandangan mes*um itu.
"Hiks ... hiks ... kenapa dia setega itu Nin, padahal kami baru putus pagi tadi. Hiks...hiks..." Bisik Nara lirih sambil terisak di dalam mobil Anin.
Padahal tadi baru dari klinik kesehatan kampus, Nara dengan semangat menyuarakan akan mencari pengganti mantan kekasihnya.
"Sabar ya Nara, kalian sudah putus juga. Itu membuktikan kalau dia cowok gak bener. Bagus kalian sudah putus, bagaimana kalau dia melakukannya di belakangmu, pasti lebih sakit kan?" Hibur Anin mengelus pundak Nara.
"Aku... aku sudah sering melihatnya di belakangku Nin." Ucapan Anin membuat dirinya tersentak tak percaya mendengar ucapan Nara yang seolah bukan apa-apa.
"Gila kamu Ra." Umpat Anin menarik tangannya dan menyedekapkan di dadanya.
"Aku tak masalah jika melakukannya di belakangku asal kami tetap pacaran." Jawab Nara tersendat-sendat karena masih diiringi Isak tangisnya.
"Wah... kamu benar-benar gila ya..." Ucap Anin menatap Nara tak suka.
***
Hari minggu, sesuai janjinya Anin mengajak Nara jalan-jalan untuk mentraktirnya makan dan membeli sesuatu. Tentu saja Nara dengan semangat mengiyakan ajakan dan traktiran Anin. Sudah hampir lima hari pasca putusnya hubungan antara seniornya itu.
Hati Nara sudah lumayan baik, Anin selalu menemaninya di apartemennya sampai sudah waktunya malam Anin pulang, sayangnya orang tua Anin tak mengizinkan Anin untuk menginap di luar, atau para pengawal daddynya akan mengikuti Anin saat kemana pun Anin melangkah di dalam kampus.
Dan Anin tak mau itu, dia malu dan risih diikuti pengawal. Satu saja risih apalagi dua. Daddynya itu sangat menyayanginya hingga sangat posesif dan overprotektif.
"Kau sudah siap?" Tanya Anin yang saat itu memakai mobil dengan kap atas mobil terbuka.
"Wah... Daebak... bagus sekali mobilnya." Puji Nara berbinar-binar sambil masuk ke dalam mobil Anin.
"Aku pinjam Daddy untuk kita bersenang-senang." Jawab Anin tersenyum.
__ADS_1
"Makasih ya Nindi." Ucap Nara sambil memeluk tubuh Anin.
"Yuk!" Anin mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, mereka tertawa gembira sambil menikmati jalanan yang lumayan ramai itu menuju Mall.
***
"Ayolah mas, kita nge-Mall!" Ajak Alea menarik pergelangan tangan Guntur yang hari minggu itu malah sibuk dengan berkas-berkas kantornya yang sengaja dibawanya pulang.
Dia sudah sering direcoki Alea setiap minggu untuk meminta dirinya mengantar entah kemanapun itu. Ke Mall, ke salon atau ke batik langganannya. Atau hanya sekedar jalan-jalan membuat Guntur semakin kesal saja.
Kalau saja pertunangan itu dikehendaki, Guntur pasti akan dengan senang hati menuruti apapun keinginan wanita yang disukainya. Namun karena sama sekali tak diinginkannya, membuat Guntur malas dan kesal.
"Kau tahu kan, pekerjaanku banyak?" Jawab Guntur beralasan.
"Sebentar kok, lagian hari minggu juga waktunya libur." Bujuk Alea lagi.
"Meski hari libur bukan berarti aku gak ada pekerjaan." Jawab Guntur masih beralasan.
"Istirahatlah sebentar! Biar pikiran kita fresh."
"Buat apa fresh kalau pas pulang melihat pekerjaan menumpuk lagi. Bukannya fresh malah semakin stres." Guntur menghentakkan tangannya agar terlepas dari cekalan Alea.
Alea cemberut kesal terhadap penolakan tunangannya.
"Ya pa." Jawab Guntur yang tiba-tiba ponselnya ikut berdering membuyarkan konsentrasi bekerjanya.
Alea sudah keluar dari ruang kerjanya yang ada di apartemennya.
"..."
"Aku sibuk pa, banyak pekerjaan." Alasan Guntur.
"..."
"Okay.. okay... Tak adakah ancaman yang lainnya. Gak kreatif banget." Guntur langsung menutup ponselnya tanpa menunggu jawaban dari penelponnya yang siapa lagi kalau bukan papanya yang baru saja mungkin sudah mendapatkan aduan dari tunangannya.
Guntur mengumpat kesal, dia mencari-cari pakaian kasualnya untuk nge-Mall.
TBC
Maafkan typo
Beri like, rate dan vote nya makasih 🙏
__ADS_1