
Jonathan menuju kantornya. Kalau saja pak Presdir tak datang, mungkin dia lebih memilih untuk absen ke kantor untuk menikmati malam pertamanya dengan istrinya. Namun ancaman pak Presdir membuatnya mau tak mau menuruti keinginan orang tua itu.
"Ada apa papa kemari?" tanya Jonathan begitu dia tiba di dalam ruangannya.
Dia langsung duduk di kursi kebesarannya tanpa menatap sang papa.
"Mana sopan santunmu, begitukah cara memberi salam pada orang yang lebih tua?" sarkas pria paruh baya yang diketahui Presdir dari perusahaan tempat Jonathan bekerja.
Jonathan hanya menghela nafas panjang, berdiri lagi dari tempatnya duduk menghampiri papanya yang duduk di sofa dengan elegannya. Jonathan menyalimi tangan papanya tak lupa mengecup punggung tangan orang tua itu.
"Duduk!" titah Alensio begitu Jonathan selesai menyaliminya hendak kembali ke kursinya.
Mau tak mau Jonathan mengurungkan niatnya untuk kembali ke kursinya dan duduk di sofa depan kursi Alensio berseberangan dengan meja.
"Ada apa pa?" tanya Jonathan masih duduk dengan elegan khas orang ningrat.
Srek...
"Apa ini?" seru Alensio melempar beberapa foto di meja, membuat Jonathan memicing menatap foto-foto yang bertebaran di meja.
Jonathan mengambil salah satu foto yang terlihat di dekatnya, menatap sebentar. Tak ada raut wajah terkejut ataupun tersentak yang ditunjukkan. Bahkan terlihat biasa dan datar. Hal itu semua juga tak luput dari tatapan Alensio.
Jonathan seolah tahu hal ini pasti akan secepatnya ketahuan karena dirinya yakin orang tua yang menyebalkan ini yang tak lain adalah papanya sendiri ini pasti sudah mengawasinya sejak lama. Jonathan berpikir sejenak dan meletakkan kembali foto itu di meja.
"Syukurlah papa tahu sendiri. Jadi aku tak perlu capek-capek memberi tahu." jawab Jonathan masih dengan sifat khas yang menunjukkan ketenangan tanpa raut wajah cemas.
Jonathan menatap sang papa yang juga menatapnya dengan wajah sangat emosi yang memerah menahan amarahnya.
"Apa-apaan itu? Kau baru saja bertunangan dengan Jane dan kau meninggalkannya di tengah-tengah acara pergi dengan wanita murahan itu!" bentak Alensio murka.
Namun Jonathan masih tetap tenang tak menunjukkan rasa takut ataupun tegang. Malah terlihat santai.
"Berhati-hatilah, wanita yang anda sebut murahan itu sekarang sudah menjadi istriku. Dan juga menantu Anda." jawab Jonathan masih dengan nada tenang namun sarat akan emosi juga karena menyebut wanita yang dicintainya murahan.
"Huh... menantu... murahan tetap saja murahan. Mana ada wanita bersuami yang mau menikahi pria lain saat masih berstatus suami orang. Dan kau mana harga dirimu sebagai seorang pria yang mau-maunya menikahi wanita bersuami." seru Alensio tak kalah sinis.
"Aku mencintainya. Tak peduli dia punya suami atau belum. Dan anda tak perlu repot-repot untuk memikirkan semua itu." tegas Jonathan.
__ADS_1
"Jangan lupa, kau sudah bertunangan dan sebulan lagi akan menikah. Jangan main-main!" seru Alensio lagi menatap Jonathan tajam.
"Saya tak akan lupa hal itu. Saya sudah menuruti keinginan anda semua meski saya tak memiliki perasaan apapun pada wanita itu. Toh menikah dengan wanita lebih dari satu tak masalah bagi kaum pria." jawab Jonathan sudah kembali tenang.
Hubungan Jonathan dan papanya memang sudah sejak dulu tak baik. Apalagi sejak papanya memaksakan perjodohan yang tak diinginkan tersebut. Maka dari itu dia masih menunjukkan sikap formalnya pada sang papa yang masih menjabat Presdir di perusahaan yang diberikan mandat padanya untuk mengurusnya.
"Baiklah. Kalau itu maumu. Asal kau tak menunjukkan wanita murahan itu dihadapan publik, terserah apa yang akan kau lakukan. Pernikahanmu akan diajukan dua minggu lagi." Alensio meninggalkan ruangan Jonathan tanpa menunggu jawaban Jonathan.
"Brengsek..." umpat Jonathan terlihat meninju sofa yang didudukinya untuk melampiaskan kemarahannya yang sudah ditahannya sejak tadi.
Kalau saja pria tadi bukan papanya, dia pasti sudah menghadiahkan bogem mentah pada pria itu.
"Wanita murahan? Huh... murahan mana dengan wanita yang dijodohkan dengannya. Wanita yang sering bergonta-ganti pria." umpat Jonathan lagi membuat emosinya kembali melambung tinggi.
Jonathan beranjak dari kursi kebesarannya, hendak pulang ke rumah istrinya. Dia sudah tak mood untuk mengerjakan pekerjaannya.
Cklek
"Tuan... tuan..." suara Rian yang memasuki ruang kerja Jonathan tanpa permisi membuatnya panik.
Jonathan melotot melihat asisten pribadinya begitu terburu-buru tanpa sabaran membuka pintu ruang kerjanya saat Jonathan hendak membuka hendel pintu juga.
"Ada masalah gawat tuan?" ucap Rian setelah ingat dengan kepanikannya.
"Apa?" teriak Jonathan yang masih emosi.
"Ada masalah darurat di hotel kita di luar kota yang baru dibuka." jawab Rian, membuat Jonathan semakin melotot marah.
"Sedarurat apa sampai kau tak sabaran begitu?" teriak Jonathan makin melotot.
"Salah satu hotel meledak dan mengakibatkan kebakaran di lantai tersebut, dan membuat panik para tamu yang lain. Belum diketahui asal ledakan tersebut. Sekarang masih diselidiki pihak keamanan. Kita harus segera kesana untuk mengurus segala sesuatu yang mungkin tidak bisa diwakilkan. Karena hotel itu baru berdiri beberapa bulan." jelas Rian panik.
"Siapkan segalanya. Kita berangkat sekarang!" titah Jonathan pergi meninggalkan ruang kerjanya langsung menuju bandara tempat jet pribadinya.
**
"Mama." panggil Anin saat masuk rumah mendapati Karina yang membuka pintu rumah.
__ADS_1
Diikuti oleh seorang perempuan muda, mungkin seseorang yang dikirim Jonathan untuk menemani putrinya, itulah yang kini ada di pikiran Karina.
"Hai sayang..." sapa balik Karina merunduk menyamakan tingginya dengan putrinya.
Mereka saling berpelukan seperti tak bertemu beberapa hari padahal cuman dua hari dua malam.
"Mama kemana saja? Kok baru pulang?" tanya Anin sambil melepas pelukannya.
"Maaf sayang, mama ada sedikit urusan penting. Maaf..." sesal Karina menatap putrinya merasa bersalah sambil membelai rambut panjang putrinya.
"Tak apa, Anin senang mama sudah pulang." jawab Anin tersenyum manis.
Karina berdiri menatap wanita muda yang berdiri di belakang putrinya.
"Saya Maya nyonya, saya pelayan yang diperintahkan untuk menemani Putri anda selama anda sedang sibuk." jawab wanita muda itu yang merasa ditatap penuh curiga.
"Baiklah. Terima kasih. Kau boleh pulang!" perintah Karina menggandeng putrinya masuk ke dalam rumah.
"Maaf nyonya, tuan menyuruh saya untuk tinggal di rumah ini sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan." jawab Maya menundukkan kepalanya.
Karina langsung menoleh kembali menatap Maya yang menunduk sopan namun terlihat tenang.
"Anin sayang, sekarang ganti baju dulu ya!" pinta Karina menunduk menatap putrinya tersenyum manis. Anin hanya mengangguk dan berjalan ke kamarnya.
"Maaf Maya bukannya aku tak mau kau tinggal bersama kami. Aku hanya tak nyaman tinggal dengan orang asing di rumahku sendiri. Aku lebih suka menyewa seorang ART hanya sampai sore. Itupun tidak setiap hari hanya sampai aku pulang kerja." jelas Karina menatap Maya lekat.
"Maaf nyonya, saya hanya mengikuti perintah tuan." jawab Maya menundukkan kepalanya tanpa beranjak dari tempatnya.
Karina menatap kecewa pada Maya, diraihnya ponselnya menghubungi seseorang yang mungkin dapat memecahkan masalahnya kini. Namun panggilan lebih dari tiga kali selalu tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Karina menghela nafas.
Seseorang yang dihubungi tak menjawab panggilannya yang dipastikan ponselnya sengaja dimatikan. Tak mungkin orang penting sepertinya mematikan ponselnya karena baterai habis, pasti dia di suatu tempat yang memungkinkan untuk dilarang menyalakan ponselnya. batin Karina, menoleh menatap Maya kembali.
"Untuk malam ini kau boleh menginap, aku akan memutuskan setelah berhasil menghubungi tuanmu." ucap Karina ketus.
"Terima kasih nyonya." jawab Maya tersenyum senang karena tak memaksanya untuk pergi dari rumah itu.
Tuan pasti akan memecat saya jika nyonya mengusir saya dari rumah ini. batin Maya menghela nafas lelah. Dia pun berlalu ke kamar yang tadi sempat di tempati meski tanpa izin sang nyonya rumah. Namun tuannya sudah mengizinkan untuk menempati salah satu kamar pembantu.
__ADS_1
Karina masuk ke dalam kamarnya membersihkan tubuhnya bersiap untuk makan malam dengan putrinya.
TBC