Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Memaksa


__ADS_3

Bram terduduk lemas saat mendengar pernyataan dokter bahwa istri dan anaknya tidak dapat diselamatkan. Bayi laki-laki yang harusnya menjadi putranya kini telah ikut pergi meninggalkannya bersama istrinya.


Bram menjerit histeris di depan ruang UGD. Keluarga besarnya melihat Bram dengan tatapan kasihan. Tak ada yang bisa membuat Bram diam, entah pada siapa dia menyalahkan semuanya.


Hingga di pemakaman pun Bram terdiam di depan pusara sang istri yang telah dikebumikan di sisi putranya. Bram bahkan tak bersemangat. Dia serasa ingin menyusul anak dan istrinya saja. Dia juga merasa bersalah, andai saja hari itu dia tetap di rumah.


Andai saja hari itu dia tak meninggalkan rumah seperti janjinya. Andai saja dia mendengarkan rengekan istrinya untuk ditemani di rumah. Padahal istrinya selama menjadi berumah tangga dengannya tak pernah merengek sekalipun. Bodohnya dirinya saat itu.


Jika dia tahu rengekan itu menjadi hal terakhir dirinya ditinggal istrinya untuk selama-lamanya, Bram pasti akan menurutinya.


Hingga beberapa minggu berikutnya, Bram masih terpuruk sampai beberapa bulan ke depan. Hingga akhirnya sang bibi menyarankan untuk berlibur dan mencari suasana baru.


Dan setelah tiga bulan setelah kematian sang istri dan anaknya, Bram pergi ke negara asal istrinya, Kanada. Sambil mengurus bisnis almarhum orang tuanya yang selama ini diurus oleh orang kepercayaan papanya.


Flashback off


"Selamat pagi." sapa Bram tepat di depan rumah mungil Karina.


Karina yang baru saja keluar rumah dan hendak bersiap berangkat terkejut.


"Apa yang anda lakukan disini?" tanya Karina sarkas sambil berjalan meninggalkan Bram yang sudah berdiri di depan rumahnya.


"Aku menjemputmu." Karina menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Bram sambil mengernyitkan dahinya heran.


"Terima kasih, tapi aku tak butuh jemputan." jawab Karina pergi begitu saja.


"Oh ayolah! Kau butuh tumpangan." ucap Bram.

__ADS_1


"Terima kasih." masih melanjutkan jalannya.


"Karin, mengertilah!" seru Bram menarik pergelangan tangan Karina yang membuat Karina terhuyung hendak jatuh dan segera ditangkap Bram.


Kini keduanya terdiam dan Karina terbenam di dada bidang Bram yang hangat. Karina tersentak langsung mendorong tubuh Bram menjauhinya.


"Terima kasih." wajah Karina merona karena malu. Mau marah sudah ditolongnya.


"Ayo kuantar!" Bram menarik Karina dengan paksa ke dalam mobilnya.


"Apa yang anda lakukan? Lepaskan!" seru Karina yang tak digubris Bram.


"Diam atau aku akan menggendongmu!" seru Bram membuat nyali Karina menciut dan terpaksa menuruti Bram daripada diperhatikan tetangganya yang sejak tadi diam-diam memperhatikannya sejak Bram datang.


**


"Terima kasih." ucap Karina turun dari mobil Bram tanpa menatapnya.


"Tidak, terima kasih." jawab Karina tanpa menatapnya.


"Aku memaksa." Bram tersenyum meski Karina menatapnya kesal.


Bram segera meninggalkan gedung kantor itu sebelum Karina mengumpatnya kesal. Bram hanya senyum-senyum di dalam mobil dalam perjalanannya. Dia sungguh senang sekali menggoda Karina. Juniornya di kampus dulu.


"Sungguh bodoh kau Ken, meninggalkan berlian dari pada emas." ucap Bram dalam mobil tersenyum senang.


Bram seketika menghentikan senyumnya heran.

__ADS_1


"Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku memperlakukan Karina seperti ini? Pasti karena dia sedang hamil tua dan aku teringat istriku. Dan aku tak mau terjadi sesuatu padanya. Bagaimana pun aku mengenalnya. Apalagi dia mengalami masa kehamilan tanpa seorang suami dan pasti itu sangat sulit." ucap Bram.


Ya, setelah menguntit Karina selama seminggu, dia mencoba menyelidiki dengan siapa dia tinggal. Hanya dengan putrinya dan seorang gadis. Tak ada laki-laki apalagi suami yang mendampinginya.


Apa itu artinya Karina dicampakkan oleh seorang pria yang sudah menghamilinya dan tak mau bertanggung jawab? batin Bram karena tak dapat melacak masa lalu Karina sebelum tinggal di negara ini.


Tapi kenapa dia pindah kesini? Apa mantan suaminya yang melakukan, melihat secemburu apa Lena, itu mungkin saja. batin Bram menyimpulkan hasil pencariannya.


***


"Hai.." sapa Bram yang sudah memarkirkan mobilnya di depan gedung di tempat yang mencolok agar Karina segera menemukan begitu keluar gedung.


Bisik-bisik karyawan yang pernah melihat Bram di gedung kantor membuat semua orang histeris senang melihat tampilan Bram yang kasual tanpa jas dan kemejanya.


Di kejauhan Karina cemberut kesal melihat Bram yang benar-benar menjemputnya.


"Ayo!" Bram sudah membukakan pintu mobil untuk penumpang.


Namun langsung ditolak mentah-mentah oleh Karina langsung menyelonong pergi tanpa menjawab ucapan Bram.


"Kau tahu aku tidak suka dibantah." seru Bram mulai emosi.


"Sebenarnya apa masalahmu?" seru Karina.


"Aku hanya menjagamu agar tidak terjadi apapun sampai melahirkan." jawab Bram yang disenyumi sinis oleh Karina masih di tempatnya.


"Terima kasih sudah mencemaskanku. Tapi aku tetap menolak." Karina mulai berbalik lagi. Bram langsung mendekati Karina tanpa ba bi bu lagi.

__ADS_1


Bram langsung mengangkat tubuh Karina masuk ke dalam mobilnya sedikit memaksa. Tentu saja Karina memberontak memukul dada bidang Bram yang tak dirasakan apapun oleh Bram, karena wanita selalu seperti itu.


TBC


__ADS_2