
Karina kembali ke meja kerjanya, makan siang dilewatkannya karena rasa laparnya benar-benar sudah hilang. Melanjutkan kembali pekerjaannya meski belum banyak rekan kerja di divisinya kembali. Karena jam makan siang masih sekitar lima belas menit lagi.
Karina meyakinkan hatinya untuk tidak terlalu larut dalam pikirannya tentang dirinya yang memergoki suami keduanya yang tengah bercumbu dengan tunangan sahnya. Menyibukkan dalam pekerjaannya yang memang tidak terlalu banyak hingga tak ada lagi pekerjaan yang harus dikerjakannya.
Karina menelungkupkan kepalanya di meja kerjanya di atas tangannya yang dilipat di atas meja kerjanya. Dari arah pintu tak kan terlihat jika ada seseorang yang sudah duduk di meja kerjanya. Mencoba memejamkan matanya agar tidak mengingat kejadian tadi. Namun, semakin dipejamkan matanya bayangan cumbuan kedua manusia tadi malah semakin terlintas nyata di pikirannya.
Ada apa denganku? Tidak seharusnya aku seperti ini? Toh, aku tak mencintainya kan? batin Karina menguatkan hatinya.
Tapi kenapa rasanya sakit? Aku tak mungkin mencintainya? Aku... aku... masih mencintai ayah Anin? batin Karina berkecamuk.
Rasa sakit ini lebih sakit saat mendengar suami pertamanya menyatakan akan menikah lagi.
Kenapa denganku ya Tuhan? Kuatkan hamba? Seharusnya aku sadar dan tahu kalau siapa suamiku ini. Tapi kenapa sesakit ini? Karina mengusap dadanya yang terasa berdenyut sakit, tanpa sadar air matanya menetes di pipi. Bahkan dirinya tak menyadari rasa sakit dan air mata yang menetes ini.
Suara rombongan rekan kerjanya yang sudah kembali ke ruangan itu membuat Karina segera mengendalikan dirinya dan mengusap air matanya. Dia tak mau dijadikan bahan pertanyaan mengenai keadaannya.
"Loh, mbak Karin udah balik duluan? Udah makan siang?" tanya Bella yang mendapati Karina sudah memulai pekerjaannya padahal itu hanya pura-pura untuk mengalihkan perhatiannya.
"Ah, iya, janji makan siang ku batal karena tiba-tiba ada urusan." jawab Karina tersenyum getir.
"Yah, kok gak nyusul kita sih mbak? Lalu mbak Karin udah makan siang?" tanya Bella cemas.
"Udah tadi aku beli roti." bohong Karina namun bersamaan dengan itu suara perutnya berbunyi karena dirinya memang merasa lapar.
__ADS_1
"Ah..." wajah Karina memerah karena malu, ucapannya tak sejalan dengan suara perutnya.
"Ini mbak tadi aku beli roti untuk camilan di mejaku. Untuk mbak aja deh." tawar Theo yang sejak tadi menyimak percakapanku dengan Bella. Bella tersenyum senang melihat kekasihnya yang begitu pengertian.
"Makasih ya." Karina terpaksa menerima karena sudah ketahuan bohongnya. Meski sebenarnya dia tak berselera.
**
Pukul lima sore, jam kantor berakhir. Para karyawan mulai meninggalkan ruangan untuk kembali ke rumah masing-masing. Begitu juga Karina, dia pun membereskan meja kerjanya untuk bersiap pulang. Saat hendak turun dengan lift bersama yang lain.
Ponselnya berdering nyaring membuat semua orang yang berada di dalam lift menoleh menatap Karina. Karina yang merasa tak enak hati langsung mencari-cari di dalam tasnya dan langsung menolak panggilan itu. Karina tersenyum pada orang-orang yang menatapnya karena ponselnya yang berdering.
Namun ponsel itu kembali berdering membuat semua orang lagi-lagi menatap Karina lekat. Untung saja lift sudah sampai di lantai bawah. Satu persatu meninggalkan lift begitu juga dirinya, segera menyingkir untuk menerima panggilan itu.
Karina :" Halo." tanpa melihat siapa yang menghubunginya Karina langsung mengangkatnya.
Keanu :" Halo." Karina spontan menutup mulutnya terkejut mendengar suara yang sangat dikenalnya dan menatap lagi nama yang tertera pada layar ponselnya.
Karina :" I... iya mas?"jawab Karina gelagapan.
Keanu :" Bisa kita bertemu sekarang?"
Karina :" Ah, tentu. Apa kita akan bertemu di rumah?" suara Karina sudah tidak segugup tadi, dia berusaha mengendalikan dirinya yang membuncah bahagia karena ayah dari putrinya menghubunginya meski mungkin hanya menanyakan kabar putrinya.
__ADS_1
Keanu :" Tidak. Sekarang aku sudah di depan kantormu." Karina spontan menatap ke depan gedung kantor tempatnya bekerja.
Mencari-cari seseorang yang sedang menghubunginya. Dan tepat di tempat parkir depan gedung, Keanu berdiri di samping mobilnya menghadap ke arah gedung kantornya.
Karina :" Aku... segera keluar." Karina menutup ponselnya setelah lama tak ada sahutan dari Keanu dan bergegas menuju keluar gedung.
"Mas..." sapa Karina melambaikan tangannya tertawa bahagia dan Keanu melihat itu namun tatapannya tetap datar tak membalas lambaian tangan Karina.
Karina langsung menurunkan tangannya dengan wajah sedikit kecewa karena tak ada balasan dari Keanu. Wajah cerianya kini kembali mendung namun dia segera tersenyum kembali meski sedikit dipaksakan, bagaimanapun juga kini semua orang yang mungkin kenal dengannya melihat interaksinya yang diyakini Keanu adalah suaminya.
"Masuklah! Kita bicara di tempat lain." perintah Keanu langsung masuk ke dalam kursi kemudi setelah Karina mendekatinya tanpa banyak basa-basi. Karina hanya menurut masuk ke dalam mobil Keanu.
Di kejauhan, tampak Jonathan mengepalkan tangannya erat. Rahangnya mengeras, tatapannya tajam dan dingin. Dia tak menyukai pemandangan itu. Maksud hati ingin segera pulang bersama dengan istrinya sambil menjelaskan perkara makan siang tadi.
Setelah tadi pintu lift terbuka, ponselnya berdering mengabarkan kalau rekan bisnisnya yang datang dari luar negeri yang harusnya tiba sore ini mempercepat kedatangan sekalian ada perlu di negara itu sehingga dia memajukan penerbangannya.
Mau tak mau Jonathan meminta asisten pribadinya Rian untuk segera menyiapkan mobil menjemput kliennya itu di bandara sekaligus meeting tentang kerja sama.
Untungnya semua meetingnya berjalan lancar dan kerja sama pun terjalin tanpa suatu masalah yang berarti. Dan Jane tentu saja mencak-mencak meninggalkan ruangan Jonathan setelah dicampakkan begitu saja oleh Jonathan.
Namun Jonathan tak mampu melakukan apapun karena pria yang bersama istrinya adalah suami sahnya. Dan dirinya hanyalah suami kedua, suami cadangan.
"Shit... sialan..." umpat Jonathan semakin mengeratkan kepalannya tanpa mampu melampiaskannya.
__ADS_1
TBC