
Ken berangkat ke kantor setelah memastikan istrinya di kantornya juga. Istrinya bekerja di perusahaan cabang yang berbeda meski masih milik bos yang sama.
Ken memaksa Lena akan mengantarkan kerja dan menjemputnya saat pulang. Awalnya Lena membantah, namun ancaman akan mengadu pada orang tuanya membuat Lena menurutinya.
Saat dalam perjalanan menuju kantornya sendiri. Dering ponsel Ken membuat Ken meminggirkan mobilnya sebentar. Melirik siapa yang menghubunginya. Tertera mama di layar ponselnya. Dia sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan mamanya hingga menghubungi kembali.
Pasti menanyakan kebenaran tentang ucapan yang dikatakan Lena di rumah tadi. Namun waktu masuk kantor sudah membuatnya untuk mengurungkan niatnya untuk menjawab penggilan mamanya. Dia memilih membiarkan ponselnya berdering tanpa mau mengangkatnya.
"Pak Ken..." panggil resepsionis kantor tempatnya bekerja. Ken mendekat merasa dipanggil.
"Ya?" jawab Ken dengan wajah datar.
"Pak Indra menunggu anda di ruangannya." jawab resepsionis itu. Ken mengernyit.
"Baiklah. Aku akan menemuinya nanti." jawab Ken hendak pergi.
"Beliau ingin anda menemuinya setelah melihat anda datang." seru resepsionis itu lagi menunduk takut melihat reaksi Ken yang terlihat kesal.
"Hmm." Ken langsung pergi meninggalkan meja resepsionis beranjak masuk ke dalam lift khusus executive untuk langsung menemui CEO nya.
**
__ADS_1
"Langsung masuk saja pak, sudah ditunggu." ucap sekretaris Indra saat melihat Ken sudah muncul dari dalam lift yang hendak mendekatinya. Ken hanya mengangguk dan mengetuk pintu ruang CEO.
"Masuk!" seru Indra yang sudah ada di dalam. Ken masuk mendekati meja Indra dan tak lupa dirinya memberi hormat layaknya pada atasannya.
"Anda mencari saya pak?" tanya Ken meski sedikit kesal dengan wajah sombong mantan suami istrinya ini.
"Proyek di kota A membutuhkan perhatian lebih, karena ada sedikit masalah disana." ucap Indra, membuat Ken mengernyit karena kota yang disebut adalah tempat dimana orang tuanya tinggal.
Indra masih menatap Ken dengan senyum seringai yang melihat reaksi Ken yang terlihat enggan ingin menolak membuat Indra semakin puas.
"Ya pak, saya sudah mendengarnya." jawab Ken.
"Maksud anda pak?"
"Oh ya jangan kembali sebelum masalah disana selesai." ucap Indra mengintimidasi.
Kini Ken paham dengan titah atasannya ini, entah kenapa perjalanan bisnis ini membuat Ken merasa tersingkir jauh dari anak dan istrinya. Dan Ken mengerti arti seringaian licik yang dilihatnya tadi pada bibir Indra. Dan pria ini sengaja melakukan padanya, mungkin karena dendam pribadi? Dengan alasan bisnis.
"Baik pak." dengan berat hati Ken mengiyakannya, dia hanyalah bawahan dan tak mungkin membantah demi kariernya.
"Kalau bisa siang ini sudah kesana!" titah Indra lagi membuat Ken yang hendak meraih gagang pintu mengeratkan pegangannya menahan kesal.
__ADS_1
"Baik pak." jawab Ken tegas.
Dia harus tetap profesional demi pekerjaannya. Memang tugas itu menjadi tugasnya. Namun berdasarkan informasi dari orang kepercayaannya disana. Hal itu bisa diselesaikan tanpa dirinya datang kesana. Dan sepertinya Indra memaksakan kehendaknya untuk keinginan pribadinya.
"Shit..." umpat Ken kesal saat masuk ke dalam lift hendak menuju ruangannya.
Salam dari sekretaris Indra bahkan tak digubrisnya saking kesalnya dirinya. Dia langsung menyelonong meninggalkan tempat itu agar emosinya tidak melampiaskannya pada orang di sekitarnya.
TBC
Salam pembaca...
Terima kasih sudah membaca karyaku dan mendukungnya...
Hanya dukungan dan like, rate serta vote kalian jadi penyemangat penulis seperti kami..
Terima kasih sekali lagi 🙏🙏
jangan lupa tinggalkan jejak
Beri like, rate dan vote nya
__ADS_1