
Hari ini Karina mengambil cuti kerjanya yang telah lama tak diambilnya. Dia ingin menghabiskan waktunya untuk jalan-jalan dengan putri kecilnya. Apalagi putrinya sedang libur sekolah kenaikan kelas dengan mendapatkan nilai yang memuaskan, dan Karina ingin bersenang-senang dengan putri kecilnya.
Sayangnya Jo menyayangkan karena tak bisa menemaninya karena tiba-tiba ada masalah dengan perusahaannya di luar negeri. Dan Jo harus pergi pagi-pagi sekali setelah sekretarisnya memberinya kabar. Entah disengaja atau tidak, seolah Karina memang sudah diberikan jalan mulus untuk segera pergi meninggalkan negara ini.
Karina hanya menghela nafas berat, dia tetap akan bersenang-senang dengan putrinya meski hanya berdua saja. Ah, tentu saja dengan Maya yang sudah kembali dari desa dengan kabar menyedihkan, ibunya akhirnya meninggal dan kini dia sebatang kara. Itupun Maya diharuskan mengikuti Karina atas perintah Jo untuk membantunya menjaga Anin.
Hari itu Karina mengajak putrinya jalan-jalan di mall terbesar di kota itu. Mengelilingi mall dengan antusias dan bermain-main di wahana mainan anak-anak untuk usia putrinya.
"Maya, aku ke toilet sebentar, tolong kau jaga putriku!" pamit Karina yang diangguki oleh Maya.
Setelah beberapa waktu Maya tinggal di rumahnya, Karina mulai mempercayai Maya sedikit demi sedikit. Apalagi setelah mendengar kabar kematian ibu Maya, Karina semakin kasihan karena merasa senasib dengan Maya. Itupun sekarang dia punya seorang putri dia tidak sebatang kara lagi. Sedangkan Maya, tak ada yang bisa dijadikan pijakan setelah ibunya meninggal.
"Baik nyonya." jawab Maya.
Karina mencari toilet di lantai itu dan kebetulan toiletnya sedang diperbaiki, dia harus turun ke bawah mencari toilet karena mereka ada di lantai paling atas.
Bruk
"Aduh..." seorang wanita paruh baya tak sengaja ditabrak oleh rombongan orang-orang yang keluar dari lift hingga belanjaan wanita yang lumayan banyak itu jatuh berhamburan. Karina dengan sigap membantu memungutinya.
"Anda tidak apa-apa nyonya?" tanya Karina setelah selesai membantu memungutinya, membantu wanita itu berdiri dengan sedikit kesusahan.
__ADS_1
"Terima kasih nak." jawab wanita itu menerima uluran tangan Karina membantunya berdiri.
Mereka pun duduk di bangku dekat tempat jatuh tadi dengan Karina membantu memapahnya karena sepertinya wanita paruh baya itu mengeluhkan kakinya yang keluar darah di sekitar betisnya.
"Kaki anda berdarah nyonya?" seru Karina langsung berlutut di depan wanita itu yang langsung terkejut melihat reaksi Karina yang dengan wajah cemas dan khawatir seolah-olah adalah ibunya sendiri yang terluka dan tidak keberatan memegang kakinya tanpa risih atau jijik.
Karina mengambil sesuatu dari tasnya sebungkus tisu, mengelap luka gores itu dengan telaten. Setelah bersih, Karina merogoh-rogoh tasnya mencari sesuatu yang diyakini ada di dalam tasnya. Wanita itu hanya menatap terharu dan tersenyum mendapat perlakuan cemas di wajah wanita muda.
Bahkan kedua putrinya tak pernah melakukan hal itu padanya. Putrinya lebih memilih menyuruh pelayan untuk membantunya dari pada mengobati sendiri meski itu luka kecil sekalipun. Dan melihat perlakuan Karina yang begitu tulus membuat wanita itu terkesan dan terpesona. Meneliti wajah Karina dengan seksama seperti mengenalnya pernah bertemu tapi dia lupa.
"Sudah selesai nyonya, semoga cepat sembuh. Saya hanya bisa memberikan pertolongan pertama. Mungkin nyonya harus memeriksakan ke rumah sakit. Maaf saya tidak bisa mengantar anda, putri saya sedang bermain di wahana permainan saya tidak bisa meninggalkannya. Saya bisa meminta bantuan pada seseorang mungkin..." suara tawa yang anggun terdengar dari mulut wanita paruh baya itu.
"Terima kasih atas pertolonganmu. Dari sekian banyak orang tak ada yang mau menolongku. Hanya kamu yang bersedia membantuku." jawab wanita itu tersenyum senang menatap Karina yang begitu mencemaskannya.
"Kemari duduklah!" ajak wanita itu menepuk bangku di sebelahnya.
Karina menurut tanpa banyak bicara, dia pun kini duduk bersisian dengan wanita itu.
"Oh ya, siapa namamu?" tanya wanita itu.
"Nama saya Karina." jawab Karina tersenyum ramah.
__ADS_1
"Nama yang cantik seperti wajahnya, juga sikapnya..." puji wanita itu yang seketika keningnya berkerut seperti pernah mendengar nama itu.
"Apa ada yang sakit nyonya?" cemas Karina saat melihat kening wanita itu berkerut.
"Ah, tidak. Jangan panggil nyonya, panggil saja aku ibu. Memangnya dimana ibumu?" tanya wanita itu membuyarkan lamunannya.
"Ah, ibu saya sudah meninggal lima tahun lalu." Karina tersenyum getir.
"Ah, maaf."
"Tidak apa. Mereka sudah tenang disana."
"Kau wanita yang baik nak. Pasti orang tuamu bangga padamu." hibur wanita itu.
"Terima kasih."
"Nyonya..."
"Nyonya..." suara orang-orang yang diyakini Karina adalah pelayan yang mengikuti wanita itu berhamburan mendekati wanita itu dengan wajah cemas dan panik.
"Aku sudah bilang jangan mengikutiku. Aku ingin jalan-jalan sendiri." ucap wanita itu yang membuat Karina tersenyum simpul.
__ADS_1
Melihat wanita itu yang dicemaskan dengan banyak orang membuatnya perlahan tersingkir dan meninggalkannya tanpa pamit karena dirinya teringat putrinya yang sudah lama ditinggalkan.
TBC