
"Ada apa Ken?" tanya mama Ken saat melihat putranya gelisah setelah menerima panggilan telpon.
Ken menatap sang mama yang menatapnya khawatir.
"Putriku sakit ma, aku harus pulang." jawab Ken.
"Anin sakit?" seru mama Ken mengernyit, seingatnya tadi dia melihat Anin baik-baik saja bermain dengan si kembar di ruang tv.
Oh ya, meski orang tuanya sudah tahu Ken menikah lagi, namun Ken belum sempat cerita pada orang tuanya mengenai putrinya dengan istri keduanya ini yang ditelantarkan ibunya.
"Ah, maaf ma, aku belum sempat cerita, aku punya putri lain dari pernikahan keduaku." jawab Ken takut-takut.
"Ya ampun Ken, lalu dimana dia? Bukannya kau sudah bercerai dengan istri keduamu ini?" tanya mama Ken berteriak membuat semua orang yang mendengarnya menoleh menatap mereka.
"Aku meninggalkannya di rumah bersama pengasuhnya. Dia... maksudku mantan istriku tidak membawa putrinya."
"Masya Allah." teriak mama Ken sambil menutup mulutnya tak percaya.
Ken semakin menunduk tak berani menatap wajah mamanya.
"Sekarang kau lihat kan, bagaimana watak wanita pilihanmu sendiri. Dia bahkan tak menyayangi putrinya sendiri. Bagaimana dia bisa mencintaimu. Kau sungguh bodoh Ken, benar kata papamu, kau bukan hanya pria breng*sek dari sekedar pria breng*sek." mama Ken menghela nafas lelah, meninggalkan Ken dengan kekecewaan yang semakin dalam.
Mama Ken tak pernah mengumpat seperti itu sebelumnya. Jika beliau sampai mengumpat itu artinya dia sudah tidak bisa mentolerir lagi kesalahan itu.
"Maaf ma, Ken salah... telah meninggalkan berlian demi sebuah batu." bisik Ken lirih. Dia pun bergegas mengambil ponsel dan kunci mobilnya.
"Bawa saja kesini, biar mama yang urus!" ucap mama Ken lirih sebelum Ken masuk ke dalam mobilnya.
"Terima kasih ma." ucap Ken tersenyum terharu, air matanya menetes.
Dia tahu mamanya tak sekejam itu menelantarkan cucunya.
***
"Baby, kenapa kita harus meninggalkan si kembar disana?" tanya Jo pada Karina yang sekarang sedang membersihkan kamar utama rumah sederhananya.
__ADS_1
Jo mengikutinya dari belakang karena masih tak terima si kembar putra kandungnya ditinggalkan di rumah besar di sebelah yang notabene mantan mertua Karina yang tak ada hubungan darah sama sekali dengan calon istrinya ini apalagi si kembar. Kalau Anin mungkin Jo bisa makhlum.
Setelah perbincangan semalam, orang tua Ken memaksa si kembar tidur di rumah mereka karena Karina memaksa untuk pulang ke rumah orang tuanya yang ada di sebelah mereka. Karina tak enak hati untuk menolak, Karina yakin mereka tak akan membedakan dalam mengurus si kembar dan Anin nanti.
Apalagi Maya juga menginap di rumah itu. Sebenarnya Karina bersedia menginap di rumah mantan mertuanya itu namun Jo melarang dengan keras untuk mengizinkan Karina menginap. Apalagi ada Ken juga yang menginap di rumah itu. Jo tak mau terjadi sesuatu di antara mereka lagi. Jo ingin membatasi semua hal yang mungkin saja terjadi di antara mereka.
Jo percaya pada Karina tapi dia tak percaya pada Ken. Katakanlah dia posesif. Bagaimana pun juga mereka adalah mantan suami istri, dan dia masih menunggu tiga hari ke depan untuk meresmikan hubungan mereka baik secara agama maupun secara hukum.
Jo tak mau kehilangan lagi, sungguh, cukup sekali dia ditinggalkan dan sekali bodoh dengan mudahnya menjatuhkan talak pada Karina. Kalau saja waktu itu dia bisa berpikir waras, dia pasti masih bersikeukeuh untuk tidak menjatuhkan talak pada Karina.
Dan malam ini saat mereka berdua saja di rumah sederhana Karina, dia tak perlu menahan diri untuk menyerang Karina. Namun semua terlanjur. Dia harus menunggu sampai mereka resmi agar dapat menghabiskan malam pertama mereka sebagai suami istri lagi.
"Apa yang kau cemaskan? Mereka akan baik-baik saja." jawab Karina masih sambil mondar-mandir di dapur untuk mulai membuat sarapan.
"Oh ayolah, mereka anak-anakku, tidak ada hubungan dengan orang tua itu..."
"Jo, mereka sudah kuanggap sebagai orang tua kandungku sejak kecil. Kumohon lebih sopanlah menyebut mereka." sela Karina tak suka dengan penyebutan Jo pada orang tua Ken.
"Baiklah... baiklah... maafkan aku baby, tapi..." Jo masih bersikukuh.
Karina menyentuh kedua pipi Jo lembut. Seketika Jo luluh dengan tatapan penuh cinta yang ditujukan padanya itu.
"Aku takut kehilanganmu." bisik Jo lirih.
Dia mencemaskan putranya tapi tak mau kehilangan Karina, mungkin dengan menggunakan si kembar yang membuat Karina agar tetap bertahan di sisinya.
"Kau tak akan kehilanganku. Aku masih ada di sisimu. Tak ada alasan yang membuatku untuk pergi darimu lagi. Apalagi ada si kembar di antara kita. Mereka anak-anak kita." jelas Karina dengan nada lembut yang lagi-lagi membuat Jo kembali luluh dan leleh dengan pesona Karina.
"Aku hanya punya anak-anak untuk membuatmu terus bertahan di sisiku. Dan cinta... aku takut cintamu perlahan menghilang dan..."
Cup
Kecupan sekilas di bibir Jo dari Karina membuat Jo terdiam. Karina melepaskan ciuman itu, namun Jo malah menarik tengkuk Karina untuk memperdalam ciumannya dengan menggebu-gebu. Dia melu*mat, menghisap dan bermain dengan lidahnya dan lidah Karina kala bibir Karina terbuka sedikit. Sudah lebih dari sebulan dia menahan diri untuk tidak menyerang Karina.
Entah sejak kapan kedua lengan Karina sudah melingkari leher Jo yang membalas ciuman itu dengan menggebu-gebu juga. Jo semakin tak bisa mengendalikan dirinya, tangannya sudah mulai menjelajahi seluruh tubuh Karina hingga sudah masuk ke dalam kaos panjang Karina. Lenguhan dari bibir Karina semakin membuat Jo kehilangan kendali.
__ADS_1
Jo membuka hijab instan Karina dan melepaskannya, kini ciumannya turun ke rahang, dagu dan leher Karina, mencecap bibirnya disana hingga meninggalkan jejak kemerahan yang tak sedikit. Karina menikmati setiap perlakuan, sentuhan dan kecupan itu. Hingga...
"Mama... Papi..." panggil Anin dari arah pintu depan rumah membuat Karina langsung melepaskan diri dari tubuh Jo dan meraih hijabnya yang dilempar di meja makan.
Jo menggeram karena kesenangannya terganggu, namun begitu melihat juga ada si kembar, Maya dan mama Ken, Jo berdehem menetralkan nafsunya yang sudah diujung tanduk.
Setelah membungkuk sopan pada mama Ken, Jo berlari ke kamar mandi yang ada di sebelah dapur. Dan Karina berusaha menyembunyikan wajah merahnya dengan menyalami mama Ken sopan.
"Ada apa ma?" tanya Karina basa-basi.
"Kami mau mengajak jalan anak-anak ke perkebunan. Kami mau minta izin padamu." jawab mama Ken tersenyum.
"Tentu saja boleh ma, kenapa mama harus izin Karin dulu." jawab Karina tak enak hati.
"Kami takut kamu akan mencarinya nanti."
"Kami percaya sama mama akan memperlakukan si kembar sama dengan Anin."
"Terima kasih Karin..." mama Ken mengusap jemari tangan Karina yang ada dalam genggamannya. "Maafkan Ken, yang telah menyia-nyiakan kamu, nak." Karina menatap mama Ken lekat.
"Sudahlah ma, mungkin kami memang tak berjodoh. Toh kita masih berhubungan baik karena Anin." jawab Karina lembut tersenyum manis menatap mama Ken yang terharu dengan ucapan mantan menantunya yang sudah dianggapnya sebagai putri kandungnya itu.
"Semoga papa si kembar bisa membahagiakanmu dunia akhirat nak."
"Aamiin... makasih ma." Karina tersenyum. Jo awalnya ingin bergabung dengan mereka setelah dari dalam kamar mandi.
Saat membicarakan Ken, Jo tampak kesal. Namun kekesalannya berganti dengan dadanya yang menghangat karena mendapat doa dari mama mantan mertua calon istrinya.
TBC
Happy reading
Maafkan typo
Tetap selalu beri like, rate dan vote nya
__ADS_1
Makasih 🙏🙏