Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 80


__ADS_3

Kampus yang setiap pagi tenang mendadak heboh. Banyak mahasiswa dan mahasiswi yang berkumpul di papan pengumuman di tengah lorong kampus. Anin yang baru saja datang dengan Zian yang selalu berada disisinya menatap Zian. Zian hanya menggeleng pertanda tak tahu dengan apa yang terjadi di keramaian tersebut.


"Nindi." Panggil Nara dari belakang, karena Nara ternyata baru saja tiba juga setelah memarkir mobilnya.


"Kau tahu ada apa?" Tanya Anin menunjuk tempat keramaian mahasiswa dan mahasiswi yang sedang menjejali papan pengumuman.


"Kita lihat saja!" Jawab Nara sambil mengedikkan kedua bahunya tak tahu.


"Nona.. awas!" Zian langsung mendekap tubuh Anin saat sebuah ember air kotor dilempar pada Anin.


Anin terlindungi, jaket yang selalu dikenakan Zian basah kuyup kotor dengan air bekas pel menyiram hingga rambutnya. Anin menatap wajah Zian dengan deg-degan, bukannya kaget karena guyuran air kotor itu tapi deg-degan karena jarak keduanya yang hampir tak berbatas itu. Suara nafas Zian yang menyapu kulit wajahnya sontak membuat pipi Anin memerah.


Dadanya tiba-tiba berdetak kencang karena kedekatan tersebut. Zian menoleh saat dirasakan tak ada lagi air yang mengguyur tuan putrinya. Keduanya pun saling menatap bertemu pandangan mereka. Seketika waktu seolah berhenti berputar. Bibir mereka tinggal lima centi lagi pasti bersentuhan kalau saja salah satu dari keduanya memajukan wajahnya.


"Nindi, kau baik-baik saja." Tanya Nara spontan tadi dia ikut menghindar saat ada seseorang berlari sambil membawa ember di kejauhan.


Keduanya sontak saling melepaskan diri. Zian melepas jaketnya yang basah.


"Kau brengsek, apa yang kau lakukan? Aku tahu ini pasti perbuatanmu kan?" Teriak orang yang membawa ember kotor itu marah-marah menuding-nuding wajah Anin yang berdiri di belakang tubuh Zian.


Zian menatap tajam pada orang di depannya ini yang dikenalnya itu.


"Lara." Bisik Anin tak percaya kalau dialah pelaku yang berani mengguyur air kotor bekas pel padanya tadi.


"Aku tak akan memaafkanmu, aku akan membalasmu. Dasar ******* murahan." Lara mengamuk, tangannya berusaha meraih Anin tapi tubuh Zian menghalangi, semua mahasiswa dan mahasiswi teralihkan dan melihat aksi Lara yang brutal itu.

__ADS_1


Kini semua orang tahu, Lara yang biasanya pendiam dan lemah lembut ternyata tak seperti yang mereka lihat. Lara menunjukkan kulit aslinya di depan para penghuni kampus yang terkejut dengan aksi brutal Lara ditambah skandal foto mes*umnya yang entah siapa yang menyebarkannya menunjukkan Lara adalah gadis panggilan pengusaha kaya. Foto bug*ilnya yang dipajang di papan pengumuman seketika membuat Lara malu.


Rektor kampus yang menjabat sebagai ketua pimpinan yayasan pengurus kampus melayangkan surat panggilan pada orang tua Lara untuk datang ke kampus mempertanggung jawabkan perbuatan anak gadis mereka.


Dosen yang ikut terlibat dalam skandal sek*s yang dialami Lara bungkam seketika. Karena mereka juga ikut merasakan bagaimana tubuh anak didiknya tersebut.


***


Plak


Satu tamparan melayang di pipi Lara. Setelah Wicaksana dipermalukan di hadapan rektor dan dosen kampus dalam sidang keputusan terhadap kasus Lara, putrinya. Lara hanya terdiam menerima tamparan dan segala cacian dan umpatan dari ayahnya.


Matanya menatap Wicaksana tajam, kalau saja, kalau saja ayahnya itu lebih memperhatikan dirinya, mendengarkan segala keluh kesahnya. Lara tidak akan salah jalan seperti sekarang.


Sofia, ibu Lara hanya menangis duduk di sofa mendengar bentakan suaminya. Biasanya dia berusaha melindungi putrinya jika melakukan kesalahan, tapi sekarang, kesalahan putrinya sungguh diluar batas. Bahkan sebelumnya dia sering membela putrinya karena mengira putrinya tak bersalah ternyata kesalahannya sebesar ini.


Lara hanya diam, dia malah menatap Wicaksana tajam tanpa rasa takut sama sekali. Dia juga tak terlihat merasa bersalah karena perbuatannya. Tangannya terlihat mengepal erat karena marah, marah yang ditujukan pada Anin, gadis yang dibencinya. Gadis yang merebut perhatian orang-orang yang disukainya.


"Aku akan mengirimu ke asrama, dan lanjutkan kuliahmu disana. Kau membuat keluarga malu saja. Dasar anak tak tahu diuntung, inilah karena ibumu memanjakanmu. Mempermalukan keluarga saja." Teriak Wicaksana meninggalkan ruang kerjanya.


***


"Apa?" Teriak Guntur langsung menoleh menatap Raka saat mendengar kabar tentang adiknya.


Raka terlihat kecewa, dia mengira gadis yang disukainya seputih embun pagi. Tapi ternyata adalah bekas orang banyak. Miris sekali hidup Raka menyukai orang yang tidak baik padahal selama ini gadis itu terlihat santun dan pendiam.

__ADS_1


"Videonya sempat viral sebelum dihentikan tuan besar." Raka menyerahkan ponselnya untuk ditunjukkan video yang sempat viral dan langsung mendapatkan like yang mencapai satu juta viewer namun sudah dihapus oleh keluarga Wicaksana.


Guntur berdecak, dia sudah mengira hal ini akan terjadi suatu saat nanti. Namun dia tak bisa berbuat apa-apa. Dia yang memulainya, dia pula yang menuainya.


"Anin? Kenapa dia marah-marah pada Anin?" Tanya Guntur tak suka menunjukkan video itu pada Raka.


Meski wajah Anin diblur, Guntur tahu betul siapa gadis yang divideo itu. Dan yang semakin membuat Guntur marah, posisi Anin saat dipeluk pria yang selalu membututinya itu, tak lain adalah pengawal pribadi Anin.


Guntur mencoba mengendalikan dirinya untuk tidak marah. Sudah seminggu sejak pertemuan terakhir mereka. Guntur masih merasa kalau dirinya masih menjadi kekasih Anin.


"Sepertinya itu karena faktor kecemburuan dari non Lara." Jelas Raka. Guntur menghela nafas panjang.


Suara dering ponsel Guntur dan Raka berdering bersamaan, keduanya saling menatap satu sama lain. Dan mengangkat panggilan tersebut yang dikenali sebagai rekan kerja mereka. Keduanya pun sama-sama menyingkir untuk menerima panggilan yang juga pesawat telepon kantor juga ikut berdering. Guntur mengabaikannya.


Bahkan sekretarisnya masuk tanpa permisi ke ruangan Guntur dengan panik karena mendapat amukan kemarahan dari para pemegang saham perusahaan ayahnya. Guntur hanya bisa bermulut manis dan membujuk mereka, begitu juga Raka tak bisa memutuskan apapun saat ini.


"Semuanya protes ingin menarik saham mereka masing-masing karena video viral tersebut tuan." Ucap Raka memberi tahu Guntur yang hanya terdiam sambil mengutak-atik laptopnya melihat pasar saham saat ini.


Saham perusahaan turun drastis seketika. Panggilan telepon dari Wicaksana diabaikannya. Dia sudah bisa menebak apa yang akan dikatakannya.


Namun deringan ponsel beralih pada ponsel Raka yang membuat Raka menatap Guntur meminta pendapat.


"Kau angkat saja dan jawab saja seperti yang kau ketahui." Guntur masih sibuk dengan laptopnya, sambil bicara pada Raka seolah tahu maksud tatapan Raka padanya tentang deringan ponselnya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2