Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Bertemu ayah mertua


__ADS_3

Setelah kejadian Anin dibawa Jo jalan-jalan, Karina meluangkan sedikit waktu untuk memperhatikan putrinya. Dan Jo mendapatkan ceramah kilat dari sang istri yang tiada habisnya pagi-pagi sekali. Jo hanya diam mendengarkan istrinya yang terlihat menggemaskan padahal istrinya itu sedang memarahinya.


Namun Jo malah senyum-senyum sendiri tanpa dosa membuat Karina semakin jengkel namun tak bisa marah pada suaminya itu karena berkat itu putrinya jadi lebih bisa mengungkapkan perasaannya padanya. Karina bersyukur akan hal itu.


Dan dari hari ke hari hubungan keduanya semakin lekat saja, dan sering menghabiskan waktu bertiga.


Dan empat hari sebelum pernikahan Jo. Jane semakin mendesak calon mertuanya karena Jo masih tetap dingin padanya. Hingga Alensio semakin geram saja dengan tingkah putra satu-satunya itu. Berkali-kali Alensio mengingatkan Jo namun Jo tampak tak peduli.


Hingga sore itu, seorang pria muda berdiri di tempat parkir mobil gedung kantor tempat Karina bekerja yang sengaja menunggu Karina atas perintah atasannya.


"Nona Karina..." panggil pria muda itu membungkuk memberi hormat pada Karina yang hanya terdiam kebingungan bahwa dirinyalah yang dipanggil pria itu.


"Saya?" tanya Karina keheranan sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Tuan besar ingin bertemu dengan anda." ucap pria muda itu.


"Tu..an.. besar?" tanya Karina lagi belum paham maksud pria muda itu yang dimaksud tuan besar.


Kebetulan saat itu Jo sedang melakukan perjalanan bisnis selama tiga hari untuk mengurus cabang perusahaannya di luar negeri. Entah benar-benar ada masalah atau hanya pura-pura ada masalah untuk menjauhkan Jo sementara tuan besar melakukan niatnya.


"Ah, maaf tuan besar Alensio." jelas pria muda itu.


Karina tampak berpikir siapa nama yang disebutkan itu. Matanya langsung membelalak, tersentak mengingat siapa nama yang disebut itu. Spontan menutup mulutnya. Pria muda itu mengangguk membenarkan keterkejutan Karina.


"Mari nona!" pria muda yang ternyata asisten pribadi sekaligus sopir pribadi Alensio itu membuka pintu penumpang agar Karina masuk ke dalam mobil tanpa banyak berpikir lagi.


Terlihat ragu Karina untuk masuk, seketika dia ingat suaminya pernah mengatakan sesuatu padanya.


'*Baby?' ucap Jo malam itu saat mereka selesai melakukan penyatuan untuk kesekian kalinya.


'Hmm' jawab Karina sambil memejamkan matanya, dia tampak kelelahan dan mengantuk karena suaminya benar-benar tak melepaskannya malam itu hingga waktu menunjukkan pukul tiga pagi. Untung saja akhir pekan, itu artinya Karina dapat beristirahat sesuka hatinya.


'Aku mencintaimu.' ucap Jo sambil membelai rambut istrinya lembut.

__ADS_1


Diselipkannya di belakang telinga istrinya yang masih setia memejamkan matanya.


'Ada apa?' tanya Karina yang tak menjawab pernyataan cinta suaminya karena ketakutan yang masih menghinggapinya jika dia terlalu mencintai suaminya ini.


Bagaimana pun juga suaminya ini masih berstatus resmi tunangan orang lain yang direstui orang tua keduanya. Lalu apalah artinya dirinya. Tampak raut wajah kecewa Jo namun segera ditepisnya karena dia yakin akan menaklukkan istrinya ini suatu saat.


'Apapun yang terjadi, percayalah padaku bahwa aku akan tetap mencintaimu dan memperjuangkanmu.' ucap Jo sambil mengecup rambut istrinya yang sejak tadi dipermainkannya.


'Kenapa?' Karina terpaksa membuka matanya menatap suaminya yang terdengar aneh pada ucapannya.


Jo yang masih ikut berbaring di sisi istrinya dengan satu tangan ditekuk dengan menahan sikunya menatap Karina lekat penuh cinta.


'Apapun yang terjadi percayalah padaku. Jangan tinggalkan aku!' pinta Jo memelas menatap istrinya sendu.


Senyum Karina sedikit memudar, jemarinya membelai lembut pipi Jo yang membuat mata Jo terpejam menikmati belaian lembut istrinya. Karina terdiam tampak memikirkan sesuatu, apakah ini tentang pertunangannya? batin Karina tersenyum lembut kembali tak mau mengecewakan suaminya.


'Serahkan saja pada takdir. Jika kita berjodoh pasti tak akan kemana.' jawab Karina bijak tersenyum manis dan mengecup bibir Jo sekilas.


"Mari nona." suara pria muda itu membuyarkan lamunan Karina.


Inikah akhirnya? batin Karina tersenyum getir. Karina hanya mengangguk dan masuk ke dalam mobil.


Tak sampai setengah jam, mobil terparkir di sebuah restoran mewah. Karina menatap restoran mewah itu. Restoran yang terkenal akan makanan seafoodnya.


"Silahkan nona!" ucap pria muda itu membukakan pintu mobil untuk Karina.


"Terima kasih." jawab Karina setelah turun dari mobil.


"Mari ikuti saya, tuan besar sudah menunggu!" titah pria muda itu berjalan yang diikuti Karina. Restoran itu tampak ramai pengunjung.


Namun pria muda yang diikuti Karina masih terus masuk hingga ke lantai dua restoran itu, lantai yang sepertinya tempat privasi untuk pelanggan. Pria muda itu tampak mengetuk pintu ruangan privasi yang terletak di ujung lantai itu.


Suara interupsi dari dalam ruangan membuat pria muda tadi membuka handel pintu.

__ADS_1


"Tuan, dia sudah tiba."


"Hmm" pria muda itu mempersilakan Karina masuk dengan sopan, Karina menatap ruangan yang tampak sangat tertutup itu.


Keraguan kembali menghampirinya, namun dia tak mungkin mengabaikan tuan besar yang notabene adalah ayah mertuanya dari suami keduanya. Dia menebak-nebak hal-hal yang mungkin terjadi di dalam membuatnya semakin tegang. Karina menghela nafas dan masuk ke dalam.


Seorang pria paruh baya yang masih tampak gagah duduk dengan menyilangkan kakinya dengan sangat elegan. Sungguh paras yang sangat mirip dengan Jonathan suaminya. Jika dijajarkan mereka hanya beda usia saja.


Awalnya Karina terpana melihat wajah suaminya ada di ruangan itu namun kerutan keriput yang walau belum begitu tampak menunjukkan bahwa dirinya masih belum tua meski umurnya hampir kepala enam.


"Selamat sore, tuan." sapa Karina sopan sambil membungkukkan badannya memberi salam.


"Duduklah!" tunjuk Alensio ke sofa di depannya yang terhalang meja dengan dagunya tampak tak mau berbasa-basi.


Karina pun duduk di sofa dengan anggun, meski dirinya bukan putri seorang konglomerat namun ibunya mendidiknya dengan sangat baik dan mengenal tata krama bagaimana menghormati orang yang lebih tua. Alensio memencet tombol yang ada di meja itu tanda dirinya memanggil pelayan.


Sedang Karina tampak gugup meremas kedua jemari tangannya yang berada di bawah meja. Namun tatapan matanya menyorotkan kesan yang segan terhadap orang yang ada di hadapannya.


Tak sampai sepuluh menit, pelayan memasuki ruangan itu dengan membawa pesanan Alensio dan menatanya di atas meja. Begitu juga dengan Karina pun juga disiapkan segelas teh hangat.


"Kau pasti tahu siapa aku. Dan aku tak perlu memperkenalkan diri lagi." ucap Alensio penuh intimidasi menatap Karina tajam setelah pelayan keluar ruangan itu.


"Apa kabar tuan?" sapa Karina dengan tutur bahasa yang sopan.


Pantas saja Karina pernah melihat Jo saat pertama kali dia bertemu Jo, ternyata yang ditemuinya adalah ayah Jo.


"Kau pernah bertemu denganku sebelumnya?" tanya Alensio masih dengan tatapan tajam.


"Saya pernah bertemu anda saat pertama kali melamar pekerjaan di kantor saya sekarang." ucap Karina menjelaskan. Namun hal itu tetap tak membuat tatapan tajam Alensio melunak.


"Ah, kau wanita waktu itu, yang mengembalikan ponselku yang jatuh." ucap Alensio saat mengingat kejadian empat tahun lalu.


TBC

__ADS_1


__ADS_2