
Suara dering ponsel Jo berbunyi di dalam saku celananya. Karena deringan berkali-kali berbunyi, Jo terpaksa melepas ciumannya. Perlahan cekalan tangannya mengendur dan Karina segera menghentak kasar tangan Jo. Dia segera meninggalkan toilet setelah menghapus jejak air matanya. Jo mengangkat ponselnya yang ternyata Rian yang menghubunginya.
Dalam percakapan ponsel :
Jo : "Hmm..."
Rian : "Tuan, meeting akan diadakan lima belas menit lagi. Dimana anda? Para klien sudah sebagian yang datang."
Jo : "Sepuluh menit aku sampai."
Jo menutup ponselnya, pergi meninggalkan tempat itu setelah membenahi pakaiannya yang agak kusut. Disentuhnya bibirnya perlahan, manis, Jo tersenyum senang.
***
Sesampainya di kantor, Karina langsung menuju mejanya mengerjakan pekerjaannya yang sempat tertunda setelah ke toilet kantor tadi. Indra keluar ruangan sesaat setelah Karina duduk.
"Karina?" Panggil Indra membuat Karina sontak menjawab.
"Ya pak." Karina berdiri dari tempatnya.
"Ikut saya meeting!" Karina mengernyit. Vita melirik Karina dan Indra bergantian.
"Maaf pak, bukannya seharusnya Vita ya?" Indra menatap Karina berganti menatap Vita dan kembali menatap Karina.
"Aku lebih nyaman denganmu." Jawab Indra ganti menatap Vita " Tak apa kan Vit, aku mengajak Karina meeting?" Tanya Indra pada Vita tersenyum manis membuat Vita otomatis mengangguk mengiyakan.
"Iya pak." Karina tampak menghela nafas lelah.
Sebenarnya dia berharap Vita ikut Indra meeting namun Karina tahu kamu tak bisa membantah ucapan Indra sebagai atasan di divisinya. Sedang yang lainnya termasuk Bella dan Theo menatap mereka bertiga tanpa ikut berkomentar seolah sudah paham kejadian itu akan terjadi. Yang lain pura-pura serius mengerjakan tugasnya.
**
Di ruang meeting, Karina duduk di sebelah Indra bertugas mencatat semua yang perlu dicatat yang sedang dibahas dalam meeting itu. Namun meeting sepertinya belum bisa dimulai karena CEO mereka belum hadir.
Inilah yang tidak diinginkan Karina saat ikut meeting, mau tak mau dia akan bertemu dengan atasan yang selalu mengusiknya itu setelah one night stand mereka. Karina tampak menghela nafas berat.
"Kau tak apa?" Tanya Indra melihat kegelisahan Karina.
__ADS_1
"Tak apa, aku baik-baik saja." Jawab Karina tersenyum kecut.
Pintu ruang meeting terbuka, muncul sosok dingin memasuki ruangan. Aura dingin, tajam dan mengintimidasi membuat semua yang ada di ruangan itu menundukkan kepalanya memberi hormat tak terkecuali Karina namun dia tampak enggan menatap wajah pria itu.
Karina hanya menunduk sambil menyiapkan catatan selama meeting berlangsung. Jo, tatapannya berhenti pada sosok wanita yang selalu menunduk yang tepat berada di depannya meski terhalang meja panjang. Tangannya kembali mengepal tak suka melihat keakraban Indra dan Karina saat membahas meeting kali ini.
Sampai akhir meeting, Karina tetap menghindari tatapan mata Ji yang menyorot tajam padanya. Karina tak peduli, dia terlalu sakit hati dengan ucapan pria itu.
**
Brak...
Jo membanting pintu ruang kerjanya membuat Rian tersentak kaget melihat tuannya yang bertindak kasar. Rian tak tahu apa yang membuat tuannya ini marah. Jo duduk di kursi kebesarannya dengan mengendurkan dasinya. Menghela nafas sejenak mengendalikan emosinya.
Entah kenapa dia sangat marah melihat Karina yang cuek padanya. Apakah aku sudah tergila-gila pada wanita itu? "Shit..." umpat Jo membuat Rian kembali terkejut tuannya mengumpat saat dirinya hanya diam saja sambil mengutak-atik tabletnya mempelajari kembali meeting tadi. Rian memilih dia tak berkomentar daripada dia terkena imbas kemarahan tuannya.
"Rian...."
Deg, dada Rian berdebar saat mendengar panggilan tuannya tak seperti biasanya, apalagi tadi tuannya baru saja membanting pintu dengan kondisi kesal.
"Ya tuan." Rian terpaksa menjawab meski dengan takut-takut.
"Ah, yang mana ya tuan?" tanya Rian seperti orang bodoh, dia masih belum bisa mencerna ucapan tuannya dengan benar.
Jo tampak melotot tajam menatap Rian yang gelisah masih berpikir apa yang diinginkan tuannya.
"Ah, sudah tuan." Rian tampak mengutak-atik tablet itu lagi." ini tuan." Rian menyerahkan tablet itu setelah mencari sesuatu yang ingin diketahui oleh tuannya.
Jo menerima dan langsung membacanya dengan seksama. Seketika wajahnya menegang, kembali ke atas menatap laporan di tablet itu dengan hati-hati.
"Kau yakin semua ini benar?" tanya Jo tak percaya.
"Iya tuan. Itulah yang saya dapatkan." jawab Rian yakin.
Jo memang tak meragukan kemampuan Rian, meski Rian terlihat serampangan namun untuk tugas mencari informasi tentang seseorang dia bisa dipercaya keakuratannya. Itulah sebabnya Jo sangat mempercayai segalanya pada Rian.
"Kirimkan pada ponselku semuanya. Sekarang!" titah Jo menyodorkan tablet itu pada Rian.
__ADS_1
"Baik tuan." jawab Rian menerima tabletnya kembali.
Kemudian Rian meninggalkan ruangan Jo sesuai titah tuannya itu setelah mengirimkan file informasi yang dimaksud tuannya tadi.
Jo tampak termenung di kursi kebesarannya tak bisa berkata-kata. Dia tampak shock dengan berita yang dicari tahu Rian.
"Hahahaha......" tawa menggelegar di ruangan Jo membuat orang yang mendengarnya akan ketakutan.
Tawa devil dari Jo membuat siapapun merinding. Namun ruangan Jo yang kedap suara mampu meredam tawanya yang tak mungkin terdengar dari luar ruangannya.
'Jadi dia wanita bersuami dengan satu orang putri?' batin Jo miris. Entah kenapa hatinya tak terima, keperjakaannya diambil oleh istri orang.
'*Itulah sebabnya dia marah saat kukatai ja*lang?' tawa getir mengukir bibir Jo yang masih shock dengan kenyataan itu.
'Shit... tapi terlalu nikmat untuk seorang wanita bersuami apalagi dengan putrinya berumur tujuh tahun yang artinya dia sudah hampir delapan, sembilan tahun menikah bisa juga lebih dari itu. Dan aku bercinta dengan istri orang, Oh shit*..." umpat Jo lagi mendesah perlahan. Dia sungguh kecewa, marah , sedih entah apa lagi yang dirasakannya.
'Kata-kataku sungguh kejam dan sungguh sangat merendahkannya. Apa aku harus minta maaf? Tidak, Jo kau tidak salah, wanita itu yang memulai merayumu. Tapi...Ah sial..." Jo tampak mengacak-acak rambutnya kasar.
Jo meletakkan tangannya di dadanya yang entah kenapa berdebar-debar seperti orang jatuh cinta.
'Oh tidak, itu mustahil. Aku tidak jatuh cinta padanya. Dia seumuran kakakku, mana mungkin aku menyukainya. Lagipula dia sudah bersuami dan mempunyai seorang putri berumur tujuh tahun.' batin Jo menepis perasaan berdebarnya.
'*Lupakan Jo, benar apa kata wanita itu. Anggap hal itu suatu kesalahan.' batin Jo lagi.
'Tapi dia masih terlihat muda dan cantik meski sudah berumur. Dan kurasa suaminya sangat mencintainya melihat dia pandai merawat diri dan tubuhnya.' ucap hati baik Jo.
'Tapi tetap saja wanita bersuami. Banyak wanita muda yang masih perawan yang menarik hatimu.' ucap hati jahat Jo*.
Jo mengusak rambutnya kasar.
"Shit..." umpat Jo.
Dia meninggalkan ruangannya. Karena jam sudah menunjukkan jam lima sore jam pulang kantor. Jo perlahan keluar dari lift setibanya di lobby. Para karyawan terlihat berbondong-bondong pulang ke rumah masing-masing. Mata Jo tampak melihat seorang wanita yang sudah masuk ke dalam mobilnya yang entah kebetulan macam apa, mobil Karina terpakir bersebelahan dengan mobil Jo.
Namun tatapan mata elang Jo terus mengawasi gerak-gerik Karina hingga mobilnya melaju. Jo langsung berlari menuju mobilnya menolak sopirnya membukakan pintu kursi belakang.
"Aku menyetir sendiri." ucap Jo tanpa menunggu jawaban sopir pribadinya.
__ADS_1
TBC