
Tak terasa sudah tujuh bulan kehamilan Karina, namun perutnya terlihat sudah berusia sembilan bulan. Karena janin yang dikandung Karina adalah bayi kembar. Karina tampak bersemangat dan bahagia bisa dikaruniai anak langsung dua dari cintanya bersama Jo.
Suami sirinya yang entah bagaimana kabarnya. Karina tak berniat untuk memberi tahunya karena tak mau merusak rumah tangga suaminya. Toh sekarang dia bahagia, bukankah seharusnya memang begitu. Karina masih melanjutkan aktivitas seperti biasanya. Banyak pria yang mendekatinya namun tak dihiraukannya.
Bahkan ada yang secara terang-terangan bersedia menjadi ayah dari bayi yang masih dalam kandungannya. Namun dengan baik-baik Karina menolaknya. Dia ingin membesarkan kedua buah cinta dengan orang yang dicintainya sendiri. Mencurahkan kasih sayang yang tak akan mendapatkan cinta dari ayahnya kelak.
Meski awal-awalnya sulit namun dengan penuh tekad Karina yakin mampu melakukannya. Apalagi sekarang Maya sudah bekerja. Meski dengan gajinya tak seberapa, dia rela berbagi karena sudah menganggap Karina sebagai kakak, satu-satunya keluarga yang dimiliki sekarang. Dan Anin sudah semakin dewasa untuk mengurus dirinya sendiri tanpa bantuan orang dewasa.
Hari itu Karina sedang belanja di supermarket dekat rumahnya yang kebetulan persediaan kebutuhannya sudah habis. Karina tampak keberatan dengan barang bawaannya yang lumayan tidak sedikit.
Bruk
"Maaf... maafkan saya tuan." ucap Karina menabrak seseorang hingga belanjaannya jatuh berserakan dan dia memungutinya.
"Aku yang seharusnya minta maaf. Biar aku bantu." tawar pria yang tak sengaja ditabrak Karina.
"Terima kasih tuan." ucap Karina lagi masih berusaha memunguti tanpa menatap pria asing yang ditabraknya itu.
"Sudah semuanya." ucap pria itu mengulurkan kantung belanjaan Karina.
"Terima... ka...sih..." Karina menatap wajah pria di depannya dengan tatapan tak percaya.
Dia segera meraih kantong belanjaannya dengan cepat hendak meninggalkan pria itu. Namun belum sampai Karina pergi jauh, pergelangan tangannya dicekal oleh pria itu hingga Karina mau tak mau harus berbalik menatap ke arah pria masa lalu yang dikenalnya itu.
*****
__ADS_1
Keanu menggendong bayi mungilnya yang sudah berumur tiga bulanan itu. Dia tersenyum menatap bayi cantik itu. Ya, istrinya sudah melahirkan tiga bulan lalu dengan cara cesar. Namun setelah melahirkan istrinya tak mau menyusui bayi itu karena tak mau badannya rusak.
Dan dia juga sudah bekerja kembali setelah masa cutinya habis. Apalagi kebutuhannya tidak bisa dipenuhi membuat Lena murka dan tiap hari hanya marah-marah pada suaminya. Keanu hanya bisa pasrah dan tak menjawab apapun setiap perkataan istrinya. Bagaimana pun dia masih mencintai istrinya itu.
Sesaat dirinya teringat bagaimana kesabaran Karina pada putri dan dirinya dulu saat baru melahirkan. Apalagi kata dokter ibu menyusui kadang mengalami mood yang berubah-ubah. Namun Karina dulu tetap sabar menghadapi segalanya yang terjadi dalam rumah tangga mereka. Namun berbeda dengan Lena, dia sangat egois tak pernah memperhatikan putrinya sama sekali.
"Yang sabar ya nak, ada papa yang menyayangimu." guman Keanu tersenyum sambil menggendong putrinya yang tersenyum manis.
"Biar saya yang gendong tuan, lebih baik tuan makan malam dulu. Sudah saya siapkan!" saran bi Inah wanita paruh baya yang menjadi pengasuh bayinya sekaligus asisten rumah tangga mereka.
"Sebentar bi, saya mau tunggu Lena dulu." jawab Keanu lembut dan kembali bermain-main dengan putrinya.
Tersenyum getir jika mengingat kehidupannya sekarang dan dulu sangatlah berbeda.
"Iya bi." kini Keanu kembali bermain dengan putri kecilnya yang tertawa lepas.
***
Kini keduanya sudah duduk di cafe dekat minimarket tempat Karina tadi belanja. Pria itu sebelumnya menatap Karina dengan penuh rasa terkejut. Dan beralih menatap perutnya yang terlihat membuncit.
"Apa kabar anda?" tanya Karina basa-basi setelah meletakkan kembali cangkirnya yang sudah diseruputnya sedikit.
"Baik. Ah, mungkin kurang baik." jawab pria itu sendu menundukkan wajahnya sambil mengangkat kopinya.
"Anda ada pekerjaan disini?" tanya Karina yang tak pernah mengetahui tentang pria yang pernah menjadi seniornya di kampus dulu.
__ADS_1
"Ah, tidak. Aku sedang cuti." jawabnya masih dengan wajah sendu yang ditutupi dengan senyum getirnya.
"Saya harus pulang." Karina beranjak pamit karena dirasa tak ada lagi yang mereka bicarakan.
Karena keduanya memang tidak ada sesuatu yang mesti dibicarakan. Mereka tak seakrab itu. Apalagi dulu Karina hanya menatap pria itu dari kejauhan. Mereka hanya pernah bertemu kembali karena mengurus surat perceraiannya dengan mantan suaminya.
"Sudah berapa bulan?" tanya pria itu membuat langkah Karina terhenti.
"Kurasa saya tidak harus menjawab anda tuan." jawab Karina dingin.
Dia tak mau keberadaannya diketahui keluarga Alensio yang mungkin saja akan mengambil bayi yang belum lahir jika mereka tahu sedang mengandung cucu keluarga besar itu.
"Semoga dilancarkan kelahirannya nanti. Dengan selamat dan sehat baik anak dan ibunya." jawaban pria itu yang terdengar bergetar membuat Karina menjadi heran dan mau tak mau berbalik menatap ke arah pria yang ternyata tak sengaja meneteskan air matanya. Dia langsung mengusapnya.
"Terima kasih atas doanya. Boleh saya minta satu hal?" Pria itu mendongak menatap Karina.
"Tolong rahasiakan anda bertemu dengan saya!" pinta Karina menatap pria itu penuh harap.
"Apa ada seseorang yang sebaiknya tidak mengetahui keberadaanmu? Ah, apa kau sedang melarikan diri dari seseorang."
"Tidak!" jawab Karina cepat. "Tidak ada seseorang yang harus membuat saya melarikan diri. Saya hanya minta tolong pada tuan Bram tolong jangan beritahu siapapun jika anda melihat saya disini." Karina menundukkan kepalanya memohon dan langsung pergi meninggalkan Bram yang terdiam tak mengerti.
Ya, pria masa lalu yang pernah mengurus perceraian Karina karena permintaan sahabatnya Lena, dia adalah Bram, pengacara terkenal di negeri mereka Bramantyo Saputra S.H.
TBC
__ADS_1