Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Masalah


__ADS_3

Jonathan hari ini tampak gelisah tak seperti hari biasanya. Apalagi meeting kali ini sungguh sangat berjalan alot. Jo ingin segera menyelesaikan masalah pekerjaannya disini dan pulang ke rumah, rumah yang terdapat istri dan anaknya meski hanya anak sambungnya.


Entah kenapa sejak menikah dengan Karina dirinya ingin sekali pulang ke rumah tepat waktu. Atau paling tidak ingin menyelesaikan pekerjaannya di rumah saja. Jo terlihat senyum-senyum sendiri jika mengingat hal-hal yang terjadi pada mereka berdua.


Bahkan meeting hari itu sama sekali tak masuk ke dalam otaknya. Hingga Rian membisikkannya membuatnya membuyarkan lamunannya.


"Hari ini cukup, kita lanjut besok." ucap Jo langsung meninggalkan ruang meeting itu.


Semua karyawan melongo, padahal baru beberapa jam mereka memulainya dan kini harus berakhir tanpa penyelesaian yang tak pasti. Rian hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah bosnya itu. Sejak pagi tadi bosnya itu belum bisa menghubungi istrinya dan entah kenapa hal itu membuat Jo tak bisa konsentrasi bekerja. Rian terpaksa mengikuti langkah bosnya menuju ruangannya.


"Kapan kita akan kembali pulang?" tanya Jo saat dirinya sudah duduk di kursi kebesaran seorang CEO.


"Setelah masalah disini selesai tuan?" jawab Rian.


"Ck..ck..ck.. kalau harus menunggu selama itu aku tak mau datang kesini." marah Jo membanting berkas yang ada di mejanya.

__ADS_1


Masalah yang terjadi di perusahaan kali ini lebih parah dari dugaan Jo. Banyak yang harus diselesaikan di sini karena masalah yang terjadi. Dan Jo tak mau lama-lama pergi meninggalkan istrinya di rumah. Bukan istrinya tak bisa sendiri, namun dirinya yang akan uring-uringan jika terlalu lama terpisah dengan sang istri.


Apalagi berdasarkan informasi dari orang kepercayaannya, status Karina sudah bercerai dengan mantan suami pertamanya. Itulah salah satu yang membuat Jo bahagia dan ingin segera pulang menemui sang istri. Namun sejak pagi tadi Jo tak bisa menghubungi istrinya sama sekali. Dan itu membuatnya sangat emosi.


"Tapi begitulah yang dikatakan tuan besar tuan." jawab Rian tenang.


"Tunggu! Apa maksudmu papa yang menyuruhku untuk menyelesaikan pekerjaan disini?" Jo sontak berdiri menatap Rian. Entah kejanggalan apa yang ditemukan dari ucapan Rian, asistennya ini.


Belum sempat Rian menjawab pertanyaan Jo, telepon ruangan itu berdering dan Rian mengangkatnya.


Rian :" Halo."


Seseorang :" Tuan, terjadi kecelakaan dalam pembangunan?"


Rian :"Apa maksutmu?" Rian tampak emosi.

__ADS_1


Seseorang :"Bangunan lantai lima runtuh dan menimpa para pekerja di bawah dan yang bekerja di atas juga banyak yang menjadi korban." seru di seberang, Jo yang melihat Rian tampak cemas merebut gagang telepon itu.


Jo :" Kapan kejadiannya?" tanya Jo dengan wajah penuh rasa cemas.


Seseorang :" Setengah jam yang lalu tuan, ini sedang berjalan proses evakuasi."


Tanpa menjawabnya, Jo langsung meraih jasnya dan berlari meninggalkan ruangannya diikuti Rian.


"Sial..." umpat Jo dalam perjalanannya menuju lantai bawah, namun seakan umpatannya tak akan berakhir karena lift terlalu lama turun.


"Bagaimana hal itu mungkin?" seru Jo yang tak mampu dijawab Rian.


Sebenarnya ria. sudah menemukan kejanggalan saat pertama kali tiba di perusahaan cabang ini, namun Rian belum punya cukup bukti untuk menuduhnya dan mengungkapkannya pada bosnya. Rian ingin mengatakan jika sudah ada cukup bukti.


"Sial .. kenapa lift ini lama sekali?" umpat Jonathan tanpa minta jawaban karena Rian sendiri sudah sangat merasa bersalah karena tak bisa menjawab apapun.

__ADS_1


TBC


__ADS_2