
Pagi itu, Ken sudah bersiap sarapan di meja makan rumahnya. Setelah semalam pulang larut dari pekerjaannya. Dia bahkan tak bertemu siapapun karena kemungkinan sudah tidur semua. Sudah menunggu lebih dari setengah jam, baru istrinya dan Vanya yang turun di meja makan.
Sedang putri kecilnya sedang diurus babysitter. Ya, anak Ken yang baru lahir dari istrinya yang sekarang adalah perempuan juga Namun Anin belum juga muncul di meja makan. Ken mendadak merasa cemas dan panik.
"Anin mana ma?" Tanya Ken pada istrinya yang sedang menyiapkan sarapan untuknya.
"Anin? Entahlah, aku tak melihatnya beberapa hari ini. Kukira mas sudah tahu, mungkin dia berlibur di rumah maminya." Jawab Indira masa bodoh.
"Tak ada? Maksudmu apa ma? Dia tak mengabariku?" Tanya Ken semakin cemas.
Tidak biasanya Anin pergi tanpa pamit. Apalagi jika ingin berkunjung ke rumah mantan istrinya.
"Aku juga baru pulang kemarin mas, kok mas ngomongnya gitu sih. Seolah aku gak perhatian sama anak mas." Jawab Indira sebal. Dia duduk di kursi makannya.
"Kau tahu sesuatu Vanya?" Tanya Ken ganti menatap Vanya yang serius sarapan.
"Gak tuh pa." Jawab Vanya singkat.
Ken menghela nafas, terlihat keluarganya memang cuek urusan anggota keluarganya. Saat bibi mengantar sesuatu yang diminta Indira, Ken menanyakan padanya.
"Bibi tau dimana Anin?" Tanya Ken menatap bibi lekat.
"Lho bukannya non Anin sudah pamit tuan?" Jawab bibi balik bertanya.
"Pamit saya?" Jawab Ken yang diangguki bibi.
"Dia bilang gitu sama bibi?" Tanya Ken lagi.
"Iya tuan, katanya tuan dihubungi gak diangkat ponselnya tiga hari lalu. Dan non Anin bilang akan coba lagi nanti." Jelas bibi membuat Ken melihat ponselnya, memang ada beberapa panggilan tak terjawab di ponselnya beberapa hari lalu.
Saat Ken berusaha mengangkatnya sinyal di sana sangat buruk. Apalagi dia berkunjung di sebuah perkebunan di pedalaman desa. Berkali-kali dia mencoba mencari sinyal namun tetap sulit dan saat digunakan pasti jaringan di luar servis area. Saat Ken mencoba menghubungi besoknya, Anin tak mengangkatnya karena dia menghubungi sudah larut malam dan kemungkinan dia sudah tidur.
__ADS_1
Ken pun mengurungkan niatnya untuk menghubungi putrinya itu malam itu. Dan besoknya dia sungguh benar-benar lupa ingin menghubunginya lagi karena sudah dijemput oleh sopir kantor mereka. Dan mau tak mau Ken segera berangkat ke perkebunan dan melupakannya.
"Ah, sial." Umpat Ken lirih melihat keteledorannya pada putrinya itu.
Anin pasti sangat kecewa padaku. Kuharap dia baik-baik saja. Batin Ken mengusap wajahnya.
"Lalu dia pamit bibi gak?" Tanya Ken lagi setelah lama terdiam, bahkan bibi sudah kembali ke dapur lagi. Bibi yang samar-samar dipanggil langsung berlari ke meja makan.
"Bagaimana tuan?"
"Dia pamit bibi?" Tanya Ken.
"Iya tuan, katanya dia pindah ke rumah sewanya karena ada kegiatan PKL di sekolahnya begitu Lo kira-kira ngomongnya tuan. Saya juga Ndak jelas." Jelas bibi.
"Huff... ya udah bi, nanti saya hubungi Anin saja." Putus Ken akhirnya mulai makan sarapannya.
"Lagian Anin juga sudah besar mas, dia pasti bisa jaga diri dan baik-baik saja." Hibur Indira, membuat Ken berdecak.
"Lah, kok mas malah marah sama aku?" Jawab Indira tak terima.
"Siapa yang marah sama mama?" Jawab Ken meski belum merendahkan nada suaranya.
"La itu, suara tinggi seperti bentak-bentak." Jawab Indira juga ikut menaikkan nada suaranya.
"Ah, sudahlah. Aku berangkat dulu." Ken berdiri sambil menyodorkan tangannya untuk disalami dan dikecup punggung tangannya oleh Indira bergantian dengan Vanya.
***
Ken terduduk di kursi ruang kerjanya. Dia menatap ponselnya lama. Sudah lebih dari tiga kali dia menghubungi ponsel Anin namun tidak diangkat meski ponselnya aktif. Ken menghela nafas panjang, merasa terjadi sesuatu dengan putrinya tersebut. Beberapa waktu sebelum dia berangkat ke luar kota.
Anin pernah bilang kalau akan mencari tempat PKL di instansi pemerintah. Dan Ken saat itu sibuk dan tidak begitu memperhatikan pembicaraan mereka keburu ponsel Ken berbunyi, rekan bisnisnya menghubunginya. Dan pembicaraan pun tidak sempat dilanjutkan karena besoknya Ken berangkat ke luar kota mengurus pekerjaannya.
__ADS_1
Lagi-lagi Ken menghela nafasnya panjang, dia sungguh merasa bersalah sudah menelantarkan putrinya itu karena saking diamnya putrinya tersebut. Anin bahkan tak pernah mengeluh atau curhat tentang apapun padanya. Malah terkesan tertutup dan pendiam. Namun memang benar-benar tak ada yang benar-benar mengganggunya.
Lagi, Ken menghubungi ponsel Anin sebelum dia beranjak untuk meeting pagi itu. Namun lagi-lagi tak diangkat oleh Anin. Semoga dia tak marah atau kecewa padaku, maafkan papa nak. Batin Ken menghela nafas berat.
***
Saat istirahat makan siang, Anin melihat layar ponselnya. Terdapat banyak sekali panggilan tak terjawab dari papanya. Hingga tujuh kali panggilan tak terjawab, waktu menunjukkan pukul sembilan pagi.
Itu saat Anin sedang menyelesaikan pekerjaannya yang tidak bisa ditinggal. Apalagi larangan membawa ponsel saat jam kerja. Hingga akhirnya semua ponsel diletakkan di dalam loker masing-masing.
'Kamu dimana nak?' Pesan yang dikirim Ken pagi tadi, Anin membacanya dengan melihat waktu pagi tadi bersamaan dengan panggilan tak terjawab itu.
Hingga Anin memutuskan untuk menghubungi balik ponsel papanya. Namun hingga panggilan lebih dari tiga kali tak juga diangkat. Anin mendesah kecewa, lagi-lagi papanya sibuk kerja. Anin mengurungkan niatnya untuk menghubungi lagi nanti dan mengirim pesan saja.
'Maaf pa, tadi ada tugas yang tak bisa ditinggal.' Ditambah emot memohon.
"Kau mau makan siang apa?" Tanya Teddy yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya setelah dia selesai mengirim pesan. Teddy terlihat terengah-engah.
"Aku..."
"Ayo ke kantin bersama!" Teddy menarik pergelangan tangan Anin memaksa, Anin mau protes tapi Teddy tak membiarkan hal itu.
Namun entah kenapa Anin tak membenci perlakuan itu dan dirinya merasa nyaman dengan sentuhan Teddy.
"Beb, tunggu!" Teriakkan Ana di kejauhan tak digubris oleh Teddy, dia segera menutup liftnya agar tak terkejar oleh Ana.
Ya, Teddy terengah-engah karena menghindari Ana yang menempel terus padanya. Hingga dengan sengaja Teddy mengunci pintu toilet saat tahu Ana ke toilet.
Anin yang mendengar teriakkan Ana di kejauhan sontak langsung menarik tangannya yang digenggam Teddy tadi. Teddy tertawa menatap Anin karena merasa berhasil menghindari Ana.
TBC
__ADS_1