
Anin keluar diam-diam dari kamar Guntur, setelah berhasil melepaskan diri dari dekapan dan tindihan Guntur. Sungguh hebat sekali Guntur sama sekali tak bergeming sedikitpun dalam tidurnya. Seolah kelelahan yang menggelayutinya beberapa waktu lalu membunuh kesadarannya.
Sehingga saat menemukan tempat yang nyaman untuk istirahat dia langsung tertidur pulas seolah baru mendapat kenyamanan tidur tidak seperti sebelum-sebelumnya. Tidurnya yang hanya cukup satu atau dua jam sehari karena terlalu banyak masalah dan pekerjaan yang menyita otak dan pikirannya tak mampu berpikir tenang.
Hanya Anin obat penenangnya yang mujarab. Tak banyak yang dilakukan mereka, Guntur langsung terlelap begitu memeluk tubuh Anin yang sungguh menjadi candu untuknya itu.
Anin membuka pintu perlahan sambil melirik ke kiri dan ke kanan di luar pintu. Kalau-kalau ada siapapun yang memergokinya pasti akan sangat memalukan.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya suara seseorang yang dikenali Anin, dan sontak dia berbalik menatap ke arah suara siapa itu.
"Lara?" Guman Anin terkejut dirinya dipergoki adik Guntur.
"Apa yang kau lakukan dari kamar kakakku?" Tanya Lara lagi dengan wajah menahan amarahnya.
Dia tak pernah marah pada Anin karena dia tahu apa efek yang akan ditanggungnya jika berani-berani macam-macam dengan Anin. Satu kampus tahu kalau Anin bukan orang sembarangan. Satu kampus tahu Anin adalah seorang tuan putri yang sangat dicintai kedua orang tuanya hingga banyak pengawal yang dulu sering mengikutinya.
Namun kali ini Lara tak dapat menahan dirinya saat memergoki Anin berani keluar dari kamar pribadi kakaknya yang bahkan kakaknya tak pernah mengizinkan siapapun masuk termasuk dirinya. Bahkan pembantu tak diizinkan membersihkan kamarnya. Dia akan membersihkan sendiri nanti.
Namun setelah tinggal di apartemen, hanya bibi pengasuh kakaknya yang diizinkan masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkannya. Bahkan dirinya tetap tak diizinkan masuk.
"Dia yang mengajakku masuk." Jawab Anin tenang.
Toh dia sudah kepergok sekarang, untuk apa pura-pura lagi.
"Aku tanya kenapa kau masuk ke kamarnya?" Seru Lara menatap Anin nyalang tak terima dengan jawaban Anin.
"Sudah kubilang kakakmu yang mengajakku masuk. Apa sih yang ingin kau tanyakan? Kau bisa bertanya pada kakakmu." Jawab Anin ikut emosi.
Plak
Satu tamparan melayang di pipi Anin dari Lara yang sedang terbakar emosi. Dia sungguh-sungguh kehilangan akal hingga berani melakukan perbuatan sekejam itu. Padahal image seorang gadis baik-baik dan pendiam sudah tertanam apik di kampus mereka.
Dan sekarang Lara menunjukkan wujud aslinya di hadapan Anin karena berhubungan dengan kakaknya.
Anin memegang pipinya yang perih, dia tak menyangka akan mendapat tamparan keras dari gadis yang terkenal lembut ini. Anin bahkan sampai tertoleh ke samping karena kerasnya tamparan itu.
"Aku yakin kau yang merayu kakakku. Bagaimana mungkin seorang pria yang sudah bertunangan berpacaran dengan orang lain. Kau mau menjadi pelakor?" Seru Lara menatap Anin tajam.
__ADS_1
Anin tersenyum getir, sungguh miris dirinya saat ini. Dihina, diejek dan ditampar. Lengkap sudah penghinaan yang didapat dari gadis yang terkenal lemah lembut di hadapannya ini. Anin tak menjawab, dia merasa tak perlu bicara apa-apa lagi. Biarkan dia tahu sendiri kenyataan yang sebenarnya.
Bukan dia yang harus menjelaskannya, tapi kakaknya yang harus memberi penjelasan pada adiknya ini.
Anin berjalan meninggalkan Lara tanpa mempedulikannya. Dia melewati tubuh Lara begitu saja.
"Kau belum menjawab pertanyaanku?" Seru Lara tak suka saat diacuhkan Anin.
Anin tak memperdulikannya langsung terus berjalan keluar dari mansion itu. Tak peduli pandangan para pelayan yang menatapnya heran. Sebagian dari mereka tahu siapa gadis itu. Namun mereka hanya berani berbisik tanpa mampu mengomentari dan bertanya pada Anin, toh siapa mereka hanya seorang pelayan yang dibayar di mansion itu.
Untung saja orang tua Guntur sudah masuk ke dalam kamar untuk beristirahat sehingga tak tahu kejadian tersebut.
Anin terus melangkah menuju jalan raya dan tentu saja hanya tinggal mobilnya dan mobil pemilik rumah. Entah naik apa tadi Nara, pasti sekarang dia sedang mengumpati Anin karena hilang entah kemana.
***
Benar juga, bel pintu apartemen Nara berbunyi. Nara sudah bisa menebaknya siapa yang menekan bel pintu apartemennya dengan penuh semangat itu.
Cklek...
"Oh, kau masih ingat sahabatmu?" Teriak Nara bercanda menatap Anin yang menatapnya sendu.
"Siapa?" Tanya Nara menatap Anin tajam.
Dengan tangannya memegang dagu Anin melihat dengan lekat bekas tamparan di pipinya.
"Sudahlah!" Anin menepis tangan Nara dan menyelonong masuk ke dalam apartemen Nara tanpa diminta oleh pemiliknya.
Begitulah Anin dan Nara sudah biasa masuk dan keluar di apartemen Nara memperlakukan seperti miliknya sendiri.
Anin mengambil minuman dingin di dapur, meneguknya sebentar dan membawanya ke meja bar dapur. Nara hanya ikut Anin duduk di depannya. Menunggu sahabatnya itu menceritakan sendiri apa yang terjadi padanya.
Anin sibuk mengetik pesan yang dikirimkan pada mommynya minta izin untuk menginap di apartemen Nara. Setelah mendapatkan izin, Anin meneguk kembali air dinginnya.
"Kau tahu kakak Lara tadi?" Tanya Anin memulai pembicaraan setelah lama saling terdiam.
Nara mencoba mengingat-ingat siapa yang dimaksud Anin, tentu mungkin tentang pesta tadi.
__ADS_1
"Ah, pria yang bertunangan tadi?" Jawab Nara mengingat seseorang yang dimaksud Anin.
"Dia kekasihku." Nara terdiam, mencerna lagi ucapan terakhir Anin.
"Apa?" Teriak Nara membuat Anin menutup kedua telinganya.
Dia sudah menduga reaksi Nara.
"Kau gila, apa kau mau menjadi pelakor?" Teriak Nara menunjuk pada Anin yang malah tersenyum getir.
"Mungkin?" Anin menatap ke arah botol kosong bekas minumnya tadi.
"Nindi, aku akan perkenalkan dengan seseorang yang lebih tampan dan kaya dari dia. Kau lupakan dia... okay?" Ucap Nara menatap Anin lekat.
"Dia pria masa laluku." Ucapan Anin yang terakhir membuat Nara terdiam.
Dia sudah pernah mendengar tentang pria masa lalu Anin. Yang ternyata adalah guru SMA nya. Dia bahkan tak sempat mengikuti perpisahan bersama karena pria itu keburu pergi dari sekolah tanpa pamit pada para siswa dan guru karena ada masalah penting yang harus dilakukannya.
"Pak Guntur?" Anin mengangguk mengiyakan pertanyaan sahabatnya.
"Lalu tamparan itu?" Tanya Nara lagi penasaran, siapa yang berani menyakiti sahabatnya.
"Lara."
"What? Bukannya gadis itu sangat pendiam dan lemah lembut? Bagaimana bisa jadi gadis bar-bar seperti itu?" Teriak Nara tak suka. Jemari tangannya sudah mengepal erat ingin membalas perbuatannya.
"Dia cemburu melihatku keluar dari kamar kakaknya."
"Apa? Keluar dari kamarnya? Kamar seorang pria? Nindi, kau tidak melakukan hal-hal yang...?" Tanya Nara sambil mengangkat kedua jarinya dan tangannya ke atas kepala memberi kode pada Anin.
"Aku tidak sehina itu." Jawab Anin membuat Nara tersenyum lega.
Keduanya berjanji untuk tak melakukan pergaulan bebas macam teman-teman yang lain yang begitu gampangnya melakukan sek* bebas.
Hingga akhirnya mengalirlah cerita yang terjadi saat dirinya melihat Guntur yang ada di sisi Alea dan Lara serta kedua orang tuanya yang mengumumkan juga pertunangan keduanya di hadapan para tamu undangan.
Hingga terakhir Anin melarikan diri dari kamar Guntur dan kepergok Lara dan sempat berdebat dan dihadiahi tamparan yang lumayan keras di pipinya. Nara yang mendengarkannya tampak geram, wajahnya berubah-ubah antara senang, marah dan kesal.
__ADS_1
TBC