Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 55


__ADS_3

Karina membaringkan tubuhnya di sebelah ranjang tempat Anin berbaring. Tangannya erat mendekap tubuh putrinya itu. Berharap dapat melindungi dari apapun yang mengancam keadaan putrinya. Karina bertekad untuk kali ini dia tidak akan melepaskan putrinya lagi meski bersama dengan ayah kandungnya.


Berada di sisinya itu adalah keputusan yang diambil Karina untuk melindungi putrinya. Tinggal bersama ayah kandungnya tidak jaminan putrinya akan bahagia atau tercukupi segala kebutuhannya. Mungkin dalam hal materi Anin tak akan kekurangan karena materi yang diberikan sudah lebih dari cukup untuk memenuhi segala kebutuhan putrinya.


Terbukti putrinya bisa membeli flat sederhana dengan uang jajan yang ditabungnya selama ini. Begitulah yang diceritakan suaminya tadi tentang putri kecilnya itu yang kini sudah tumbuh besar menjadi remaja yang cantik. Karina sedikit bangga melihat putrinya bisa mandiri, namun hatinya lemah. Kalau saja kejadian buruk di pulau B dulu, mungkin putrinya akan menjadi gadis yang kuat dan ceria. Bisa bergaul bebas dengan semua orang tanpa melewati batasnya.


"Maafkan mommy..." Bisik Karina lagi menggenggam jemari tangan putrinya dengan erat.


"No mom, Anin yang minta maaf karena meninggalkan mommy." Karina tersenyum mendengar ucapan putrinya.


"Sekarang, apa kau masih ingin meninggalkan mommy?" Canda Karina tersenyum lembut.


"No mom... Anin ingin selalu bersama mommy." Anin menggeleng kuat.


Karina tersenyum membelai lembut rambut putrinya yang tampak berantakan namun masih lembut saat dibelainya.


"Kau merawat diri dengan baik ya?" Obrolan basa-basi Karina untuk menghilangkan sedikit ketegangan pasca tangis haru keduanya tadi.


"Aku selalu mengingat ucapan dan nasihat mommy, bagaimana kita merawat diri dengan baik agar tetap sehat dan segar." Jawab Anin membuat Karina tersenyum bangga.


"Kau putri mommy yang tercantik." Puji Karina lagi.


"Bohong." Jawab Anin bercanda. Karina melotot bercanda mendengar sangkalan putrinya.


"Kau putri mommy, putri tercantik mommy, kau tak percaya?" Ucap Karina lagi.


"Bagaimana dengan adik-adik? Mereka juga cantik semua, tidak hanya aku yang tercantik." Karina tertawa setelah tahu maksud Anin.


"Adik-adik Anin juga cantik, sangat cantik malahan. Tapi mereka masih kecil, banyak yang harus dilakukan dan dilalui. Dan Anin... adalah putri cantik mommy yang juga memiliki hati yang cantik juga. Itulah kenapa mommy menyebutmu putri tercantik mommy. Cantik tidak harus parasnya, tapi disini... hati ini juga..." Ucap Karina sambil menunjuk dada putrinya dengan bijak.


Anin tersenyum bahagia, inilah momen yang selalu dinantinya saat tidak tinggal lagi dengan sang mommy. Namun tak dia dapatkan saat dirinya tinggal di rumah papanya.


"Thanks mommy." Ucap Anin menatap Karina senang.


Karina bergantian membelai pipi dan rambut putri yang dirindukannya.

__ADS_1


"I Miss you princess.." Bisik Karina lembut membuat Anin semakin tersenyum bahagia.


"Anin juga mom sangat... Miss you too so much." Jawab Anin dengan mata berbinar bahagia.


"Katakan apapun yang ingin Anin katakan jika nanti ada yang membuat Anin bimbang. Mommy akan membantu Anin sebisa mommy." Saran Karina membuat senyum Anin semakin lebar saja.


Dia pun mengangguk antusias dan memeluk kembali tubuh Karina terharu. Air matanya menetes kembali, namun air mata bahagia.


"Daddy jadi dilupakan ya?" Sela Jo sambil berdiri di pintu masuk kamar itu.


Keduanya pun menoleh menatap Jo dan tertawa tergelak bersama-sama. Jo merengut tak terima ditertawakan kedua perempuan beda usia itu. Dia pun mendekat duduk di sisi Anin.


"Kami berani ya menertawakan Daddy... rasakan ini... rasakan..."


Gelak tawa Anin memenuhi kamar itu yang kegelian karena Jo menggelitiknya. Karina tersenyum bahagia melihat kedua orang itu tampak begitu akrab tanpa memandang status mereka yang tanpa hubungan darah. Karina sungguh semakin mencintai suaminya karena mencintai putrinya dengan tulus.


"Stop Daddy... geli..." Seru Anin masih dengan gelak tawa dan Jo pun melepas gelitikannya saat melihat istrinya terdiam dengan senyum menghiasi wajahnya.


"Oh ya Anin, kau ingat saat kita bertemu di cafe?" Anin berhenti tertawa karena pertanyaan Jo.


"Mommy mu marah karena mengira kau orang lain."


"Mas..." Seru Karina malu-malu karena kecemburuannya pada putrinya.


Siapa yang tak cemburu jika pakaian suami kita bau parfum seorang wanita. Kalau suaminya mengatakan bertemu dengan putrinya saat itu, dia tak perlu marah-marah hingga menangis tak jelas.


Kini wajah Karina terlihat tersipu malu dengan wajah memerah apalagi suaminya dan putrinya mengejeknya. Namun bukan sakit hati yang didapat Karina melainkan kebahagiaan bisa berkumpul kembali seperti dulu.


***


"Dia akan datang?" Tanya Karina setelah mereka makan siang, tanpa sadar hari sudah beranjak siang.


Karina memutuskan untuk memasak makan siang sederhana bahan yang ada di kulkas apartemen suaminya.


"Iya." Jawab Jo singkat sambil menyeruput jus jeruknya setelah makan siang.

__ADS_1


Anin makan seperti biasanya. Dia kini sudah beristirahat di kamar berdasarkan saran kedua orang tuanya. Dan Karina kini sedang mencuci piring yang dipakai makan tadi. Oh ya, saat Karina berbincang dengan Anin tadi, Jo 'mengusir' kedua dokter tadi.


"Mas mengizinkannya?" Tanya Karina sambil mencuci piring membelakangi suaminya yang duduk di kursi makan tak jauh dari dapur merangkap cucian piring.


"Apa aku harus menolaknya?" Jawab Jo malah balik bertanya.


"Bukan begitu mas. Keadaan Anin masih belum stabil. Kita harus bertanya dulu padanya, apa dia bersedia bertemu papanya." Jawab Karina. Jo terlihat manggut-manggut.


"Aku akan menanyakannya nanti. Aku sudah bilang padanya kalau sekarang Anin sedang istirahat, jadi dia bisa mengerti dan akan datang jika Anin sudah bangun." Jelas Jo mulai mendekati istrinya dari belakang.


"Itu lebih baik." Jawab Karina yang tiba-tiba tubuhnya tegang karena kecupan mesra dari suaminya yang mengagetkannya namun dia menyukainya.


"Aku merindukanmu." Bisik Jo masih mengecupi tengkuk istrinya.


"Mas..." Bisik Karina lirih menahan hasratnya.


Cup


Cup


Cup


Kecupan terdengar intens di dapur itu. Jo membalik tubuh istrinya menghadap padanya. Mencium bibir istrinya yang bagai candu untuknya itu. Karina membalas ciuman itu tak kalah mesra, kedua tangannya sudah melingkar di leher suaminya. Hatinya entah kenapa tenang sekali hari ini seolah beban-bebannya terlepas.


TBC


Tambah lagi nih..


Jangan lupa tinggalkan jejak


Beri rate, like dan vote nya


Makasih 🙏🙏


Maafkan typo

__ADS_1


__ADS_2