Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Restu Mertua


__ADS_3

Persiapan pernikahan sudah sembilan puluh persen selesai. Undangan juga sudah diambil dan disebarkan ke tamu undangan termasuk rekan kerja dan rekan bisnis Karina dan Jo.


Meski Jo belum sepenuhnya mengantongi restu dari orang tuanya. Tapi Jo tak peduli, dengan atau tanpa restu orang tuanya Jo tetap akan melaksanakan pernikahan yang sudah dirancang sedemikian rupa oleh Bram dan diselesaikan olehnya.


"Kau yakin kita harus menemui mereka?" tanya Jo sekali lagi dalam perjalanan di dalam mobilnya.


Dia memilih menyetir sendiri karena tak mau kebersamaannya dengan keluarga harus diganggu oleh orang lain meski itu hanya seorang sopir. Karina tersenyum lembut menatap Jo, sudah lebih dari sepuluh kali Jo menanyakan sejak berangkat dari rumahnya tadi.


Oh, ya. Setelah Bram merestui hubungan mereka, Karina memilih pulang ke rumahnya sendiri. Meski sebenarnya Bram tak mempermasalahkan Karina untuk tetap tinggal di apartemennya sampai pernikahan berlangsung. Namun Karina tahu diri tak mau berlama-lama tinggal di apartemen milik Bram.


Awalnya Karina memang tak setuju untuk tinggal di apartemen milik Bram setelah tiba di tanah air jika Bram tak memaksanya saat itu. Sekarang tak ada lagi alasan untuk Bram memaksa Karina untuk tinggal di apartemennya dan itu pun berkat protesnya Jo agar keluar dari apartemen Bram.


Selain tak enak hati, Jo masih merasa cemburu meski sedikit pada sepupunya itu. Oh ayolah, dia pria normal, dia juga bisa merasakan cemburu meski dengannya sepupunya yang notabene mantan calon suami calon istrinya, ah begitulah kira-kira. Hal itu jugalah alasan Bram untuk tak memaksa Karina, karena dia tahu siapa Jo sepupunya, pria cemburuan yang kekanak-kanakan.


"Kau mau bertanya berapa kali Jo? Setidaknya kita berusaha untuk meminta restu pada mereka. Siapa tahu mereka langsung merestui pernikahan kita saat melihat cucu-cucu tampan mereka." jawab Karina sambil mencubit gemas pipi kedua bayi gempilnya.


"Tapi?" Jo ragu untuk itu.


"Oh ayolah Jo..."


"Aku takut mereka akan memisahkan kita lagi." jawab Jo sedikit cemas, dia sungguh takut kehilangan istrinya lagi.


Dia sudah merasakan sudah kedua kalinya. Dan itu sangat... sungguh sangat menyakitkan. Dan dia tak mau mengalaminya untuk yang ketiga kalinya. Cukup rasa sakitnya untuk dua kali dia masih bisa bertahan, dan berikutnya entahlah... dia mungkin akan benar-benar mati.


"Hei, aku tak selemah dulu. Aku akan memperjuangkan cinta kita. Bersamamu...Ok?" ucap Karina lemah lembut membuat Jo kembali meleleh dengan pesona Karina lagi dan lagi.


"Kau tercipta memang hanya untukku baby. I love you so much..." Jo mengecup bibir istrinya sekilas.


"Papi... ayo kita berangkat!" interupsi Anin membuat keduanya pasangan itu tertawa karena sempat melupakan anak-anaknya.


***


Jo memarkirkan mobilnya di halaman parkir mansion keluarga Alensio. Jo menghembuskan nafasnya, memantapkan hatinya. Karina hanya menggelengkan kepalanya melihat Jo yang sangat gugup. Bukankah seharusnya dirinya yang gugup, secara Karina lah sang menantu bukan dia.


"Ayo sayang, kita turun. Kita temui kakek dan nenek!" ajak Karina menggendong salah satu si kembar dengan Jo menggendong salah satunya.


Pasalnya tadi Maya menolak untuk ikut, bukan menolak mungkin memohon lebih tepatnya. Dengan alasan ada janji. Entahlah.


Mereka melangkah memasuki mansion dengan digandeng sang mama, namun Anin menolak, dia mendekati Jo dan menggandeng tangan Jo. Jo menerimanya dengan senang hati dan tersenyum manis. Karina merasa terharu, meski Jo sudah memiliki anak sendiri, dia tetap tidak melupakan putri sambungnya.


***


"Josh, John... kalian mengunjungi nenek lagi?" seru Farida melihat kedatangan keluarga kecil di ruang keluarga. Jo mengernyit heran mendengar ucapan Farida.


"Lagi?" Jo menatap Karina lekat, menuntut jawaban dari pertanyaan yang sedikit aneh.


Tunggu, apa yang dilewatkannya, dan Josh, John..mama... Karina terdiam salah tingkah, dia menggaruk hidungnya yang tidak gatal mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Ma?" Farida hanya diam, dia menggendong cucunya Josh yang ada digendongan Jo.

__ADS_1


Jo kembali menatap istrinya lekat, Karina merasa bersalah menatap suaminya.


"Ah, itu..."


"Kau mengunjungi kakek lagi, boy." suara bariton Papa Jo, Alensio mendekati John yang digendong Karina dan meraihnya dari gendongan menantunya.


Tampak bahagia dirinya saat menggendong cucunya tanpa memandang pada Jo putranya sendiri. Si kembar John tertawa terbahak-bahak di gendongan sang kakek yang mengajaknya bercanda.


Jo melongo melihat papanya yang biasane dingin dan kejam, sekarang seperti seorang kakek pada umumnya. Bercanda, bersenang-senang dengan cucu-cucunya.


"Kakek, aku juga ikut main!" seru Anin mendekati Alensio.


"Tentu princess, kau cucu kakek yang paling cantik." Alensio membawa Anin ke dalam gendongannya, berhadapan dengan cucu kembarnya.


"Papa..." Alensio hanya menoleh sebentar pada Jo, kemudian melanjutkan jalannya menuju ruang tv dan duduk di karpet halus depan tv bermain dengan ketiga cucunya.


"Papa, kau mengabaikan putramu sendiri." Alensio menatap lagi pada Jo, beralih pada Farida yang tersenyum lucu melihat Jo yang keheranan.


Karina juga ikut tersenyum kecil tak berani menatap Jo.


"Aku lebih memilih memiliki tiga putri yang penurut daripada seorang putra yang lambat dan bodoh." kesal Alensio bermain dengan cucu-cucunya apalagi kini si kembar mulai berebutan untuk dipangku sang kakek.


Alensio tertawa lepas menikmati permainannya dengan cucu-cucunya. Jo kembali dibuat melongo melihat papanya tertawa lepas seperti itu. Bahkan Jo lupa kapan papanya terakhir kali tertawa seperti itu.


**


Karina terdiam, belum menjawab apa-apa. Dia sungguh gemas melihat Jo kebingungan.


"Apa?" jawab Karina balik bertanya.


"Ayolah baby, kau tahu maksudku?" Karina menatap Jo lekat. Kemudian membuang pandangannya ke arah lain.


"Wah...ini kamarmu?" Karina berlari ke balkon kamar Jo yang diteralis besi.


"Jangan mengalihkan pembicaraan baby!" ucap Jo mengikuti Karina ke balkon kamarnya.


"Bahkan teralisnya tak dilepas ya, apa mereka menginginkan kita memberi cucu pada mereka lagi?" sindir Karina halus.


Jo tersenyum, entah kenapa dia bahagia melihat perubahan papanya. Beliau terlihat sangat menyayangi Karina dan cucu-cucunya bahkan beliau juga menyayangi Anin yang merupakan bukan cucu kandungnya.


"Terima kasih." bisik Jo mendekap tubuh Karina dari belakang, menyerukkan wajahnya di lehernya yang masih tertutup hijab.


Karina hanya diam, mengusap rambutnya lembut. Jo menghirup aroma tubuh itu yang membuat perasaannya kembali bergejolak dan membuat adik kecilnya menegang.


"Ah, shit..." umpatnya melepas pelukannya.


"Kenapa?" tanya Karina membalikkan tubuhnya menghadap Jo yang sedang memejamkan mata.


Jo membuka matanya perlahan menatap Karina lekat penuh gairah.

__ADS_1


"Kenapa kemarin dengan bodohnya aku menjatuhkan talak padamu." bisiknya. Karina masih belum paham.


"Ah, sial... bisakah kita lakukan besok ijab qobulnya?" pinta Jo memelas.


"Apa maksudmu, tinggal lima hari lagi? Semua sudah dipersiapkan matang-matang. Jangan aneh-aneh ya?" ucap Karina tersenyum.


"Baby, aku menginginkanmu." bisik Jo kembali memeluk tubuh Karina dalam pelukan lagi.


Otak Karina langsung berpikir dan langsung mendorong tubuh Jo.


"A.. aku harus memberi susu pada anak-anak." Karina langsung melarikan diri meninggalkan kamar Jo.


Dia sudah paham arti ucapan Jo, dan dia sempat merasakan sesuatu yang mengeras di bawah tubuhnya.


"Baby..." rintih Jo tak terima ditinggal begitu saja.


"Ah, sial. Main solo lagi." Jo melangkah ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.


TBC


Mendekati ending


Dukung terus karyaku...


Beri like, rate dan vote nya...


Makasih masih setia menunggu update...🙏🙏


Terima kasih yang sudah memberi komentar, saran dan kritiknya juga, saya menghargai kalian yang bersedia mendukung dan memberikan komentarnya, saran-sarannya juga


Meski gak bisa membalas satu persatu tapi saya baca semua kok, kadang saya juga tertawa senang, bangga dengan karya saya yang dihargai... pokoknya senang deh atas ucapan-ucapan kalian...


Maaf sekali lagi jika karya saya sedikit mengganggu kalian... tapi ini hanya sekedar fiksi, murni dari pikiran saya... tak ada kisah nyata siapa saja... murni hasil ke-hallu-an saya pribadi..


Saya pun termasuk kaum rebahan yang menyalurkan hobi menulis hal-hal yang diluar nalar manusia dan hal-hal yang gak mungkin sama sekali terjadi di kehidupan nyata...


Gak salah kan kita menyalurkannya ke hobi kita, asal tak melanggar norma-norma agama di masyarakat...


Untuk nama orang, nama tempat yang sama, semua adalah faktor ketidak sengajaan...


Maaf jika ada kesamaan nama, tempat dan hal lainnya...🙏


Terima kasih untuk yang sudah mendukung 🙏


Maaf untuk kata-kata yang menyinggung 🙏🙏


Beri selalu like, rate dan vote nya


Makasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2