Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Lega


__ADS_3

Karina langsung tergesa untuk pulang ke rumahnya. Waktu menunjukkan pukul empat sore. Bi Ani yang sudah menunggu di rumah bergerak gelisah karena cemas.


"Bagaimana bi? Apa bi Ani menemukan Anin?" tanya Karina penuh rasa cemas. Bi Ani menatap cemas pada Karina, dia hanya sanggup menggeleng tak mampu


mengucapkan sepatah katapun karena rasa bersalahnya.


Sudah diberi tanggung jawab untuk menjaganya namun baru kali ini dirinya melakukan kesalahan. Sejak tadi pikirannya sudah berkecamuk memikirkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi pada anak yang dititipkan padanya itu. Karina di dalam ruang tamunya juga tak henti-hentinya komat-kamit sambil berpikir tempat-tempat yang mungkin didatangi putrinya.


Namun semua nihil, karena benar-benar merasa menjadi ibu yang buruk, bagaimana dirinya sungguh tak mengenal putrinya. Disaat seperti ini dia bahkan tak tahu dimana putrinya berada. Air matanya tanpa sadar mengalir, cemas dengan keadaan putrinya juga merasa bersalah karena tak tahu keberadaan putrinya.


Mau melaporkan pada pihak berwajib namun belum ada dua puluh empat jam. Diraihnya ponselnya, terdapat beberapa panggilan tak terjawab dari Jonathan.


Suara deru mesin mobil memasuki halaman rumahnya. Karina bergegas keluar rumah melupakan niatnya untuk menghubungi Jonathan.


Jonathan keluar dari mobilnya dan beralih memutari mobilnya menuju pintu tepat kursi penumpang. Karina memperhatikan gerakan Jonathan dalam diam. Kebahagiaannya terpancar sempurna di wajahnya. Melihat putrinya tertidur pulas dalam gendongan Jonathan.


Ya, putrinya ternyata bersama Jonathan, sungguh bodoh dirinya kenapa tak langsung menghubungi Jonathan. Karena setahunya putrinya itu paling anti dengan orang asing. Dia hanya akan mau dibawa oleh seseorang yang benar-benar akrab dengannya dan dengan mamanya. Itulah ajaran yang diberikan Karina pada putrinya jika berada di luar rumah tanpa dirinya.

__ADS_1


Saking cemas dan paniknya membuat Karina tak berpikir jernih tentang putrinya. Kabar dari bi Ani membuatnya sontak langsung merasa bersalah, apalagi dengan panggilan seorang pengacara yang mengurus perceraiannya dari pihak suaminya.


"Anin." seru Karina menerima Anin dari gendongan Jonathan namun segera ditepisnya.


"Dia baru tidur, biarkan aku membawanya ke kamarnya untuk istirahat." tolak Jonathan masih mempertahankan gendongannya.


Bi Ani langsung bernafas lega melihat putri majikannya sudah ada di depan matanya.


"Ah, iya. Ke kamarnya." panik Karina, Jonathan hanya tersenyum lucu melihat kepanikan Karina.


Baru kali ini dia terlihat panik dengan penampilan yang sungguh-sungguh berantakan. Jonathan yang belum tahu apa penyebabnya entah kenapa langsung merasa bersalah.


Kini dirinya beralih menatap Jonathan horor. Jonathan yang belum mengerti apa maksudnya tatapannya itu menatap heran.


Karina langsung menarik tangan Jonathan keluar kamar Anin. Bi Ani setelah terlihat putri yang diurusnya baik-baik saja langsung pamit pulang ke rumah karena banyak hal yang harus segera dilakukan karena sudah dari tadi batas kerjanya dengan Karina.


"Kenapa membawa putriku tanpa izin dariku?" seru Karina marah menatap Jonathan yang berwajah tanpa dosa.

__ADS_1


Ah, jadi karena aku membawa putrinya wajahnya terlihat sembab dan terlihat kecemasan di wajahnya? batin Jonathan saat tahu apa yang membuat istrinya berwajah berantakan meski tetap cantik di matanya.


"Maaf." bisik Jonathan mendekap tubuh Karina yang rapuh.


Bukannya kembali marah, Karina malah semakin menangis berderai air mata tak tahu malu di hadapan pria itu. Jonathan malah semakin mengeratkan pelukannya memberi kenyamanan dan ketenangan agar istrinya sedikit lebih lega. Hingga tanpa sadar Karina ikut terlelap dalam pelukan Jonathan.


Masalah yang menghimpitnya seolah sirna dengan pulangnya putrinya bersama seseorang yang tak dikiranya. Bahkan kesedihan pertemuan dengan pengacara tadi juga perlahan dilupakan dengan kehadiran dan pelukan nyaman Jonathan.


Kini Jonathan sudah membaringkan tubuh istrinya di ranjang kamarnya setelah tertidur di pelukannya. Jonathan duduk di tepi ranjang menatap Karina lekat, dibelainya wajah yang membuatnya berdebar itu.


'Apapun yang terjadi jangan pergi dariku. Percaya hanya padaku. Karena aku mencintaimu dan menginginkanmu tetap berada di sisiku. Seandainya kau adalah satu-satunya milikku?' bisik Jonathan mengecup kening, mata, hidung dan terakhir di bibir merah itu.


Dilumatnya sebentar namun si pemilik bibir malah membalas ciuman itu meski masih dalam keadaan tertidur pulas. Jonathan tersenyum setelah melepas ciumannya.


"Bahkan dalam tidur pun, kau terlihat menggairahkan." bisik Jonathan lagi sambil mengusap bibir istrinya yang sudah mulai membengkak.


Jonathan masuk ke dalam kamar mandi membersihkan tubuhnya setelah seharian ini jalan-jalan dengan putri sambungnya itu. Dan entah kenapa dirinya juga sangat bahagia.

__ADS_1


Setelah berganti baju dengan pakaian rumah, diapun masuk ke dalam selimut yang sama mendekap erat tubuh istrinya yang sudah terlelap. Dia sungguh lelah, namun memeluk istrinya membuat lelahnya lenyap seketika.


TBC


__ADS_2