Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 109


__ADS_3

Raka mendesah lelah. Lagi-lagi Guntur melakukan kesalahan saat menanda tangani berkas-berkas laporan perusahaan. Entah tempat yang salah saat menulisnya. Entah salah menulis nama terangnya dengan nama Anindita. Guntur benar-benar kehilangan setengah jiwanya hingga dia berkali-kali salah melakukan pekerjaannya.


"Kuharap untuk kali ini tidak salah lagi!" Raka menyerahkan lagi berkas laporan yang diprintnya kembali karena yang tadi salah.


Untung saja file masih dia simpan melihat berkali-kali Guntur melakukan kesalahan yang sama sejak pagi. Guntur menerimanya tanpa banyak protes. Entah kenapa akal dan pikirannya tidak sejalan dengan gerakannya.


Bayang-bayang kemarin dan pagi tadi saat melihat gadis yang dicintainya memilih meninggalkannya membuatnya kembali terpuruk seperti dulu saat orang tuanya memilih bercerai karena ayahnya yang berselingkuh. Namun sekarang, dia seperti orang yang kehilangan kewarasannya.


"Oh my, Guntur!" Ucap Raka setelah melihat kesalahan lagi yang ditulis Guntur dalam berkas penting itu


"Ya?" Tanya Guntur balik menatap Raka dengan wajah tampak merasa tak bersalah.


"Lebih baik kau pulang dan istirahat! Aku akan menyuruh sopir itu mengantarmu pulang." Ucap Raka membuat Guntur menatap Raka bingung.


"Memang ada apa? Aku baik-baik saja." Jawab Guntur yakin mulai memilah-milah berkas yang entah apa yang dipilah.


Guntur seperti orang bingung yang hendak melakukan apa.


"Guntur, please. Sudah berulang kali kau melakukan kesalahan. Jangan paksakan dirimu untuk bekerja sementara keadaanmu belum baik-baik saja." Nasehat Raka menatap Guntur memelas.


"Sungguh, aku tak apa. Tadi...tadi hanya kesalahan kecil. Kau bisa menulis ulang kembali." Ucap Guntur dengan entengnya.


Raka menghela nafas panjang dan berat.


"Kau memang baik-baik saja secara fisik tapi tidak dengan batinmu." Guman Raka yang membuat Guntur mendongak lagi menatap Raka.


"Kau mengatakan sesuatu?" Tanya Guntur santai.


"Tidak. Aku akan kembali ke ruanganku." Guntur mengangguk mengiyakan, dia memilih menunduk lagi mengerjakan pekerjaannya.


Tapi ternyata air matanya menetes di pipinya. Guntur tak merasa apapun, diusapnya air matanya kasar dan tetap melanjutkan pekerjaannya. Namun air mata yang ditahannya terus menetes membuatnya memilih menyembunyikan wajahnya di meja dengan kedua tangannya diatas meja sebagai bantalan kepalanya.


Bahunya terlihat bergerak perlahan. Tak ada suara, hening, tapi batin Guntur bagai ditusuk-tusuk beribu jarum membuatnya merasa sakit dan sesak di saat bersamaan di dadanya.


***


"Ya Bu?" Jawab Zian saat dirinya dalam perjalanan pulang ke rumah.


"Kau dimana nak?" Tanya Maria terdengar cemas.


"Aku perjalanan pulang bu, sekarang sedang mampir ke pom bensin dulu." Jawab Zian.

__ADS_1


"Baguslah, cepatlah pulang! Ada yang membuat ibu cemas."


"Ada apa Bu?" Tanya Zian penasaran.


"Kita bicara di rumah saja." Zian menatap ponselnya dengan bingung.


Entah kenapa ibunya penuh teka-teki hari ini. Setelah petugas pom bensin mengisi tangki motornya. Dia melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Toh, hampir sampai dalam sepuluh menit lagi mungkin.


**


Zian memarkir motornya di teras rumahnya karena mengingat cuaca panas hari ini. Dia mengusap peluhnya yang menetes di dahinya. Hari ini entah kenapa dia merasa lega dan bahagia. Entah karena apa, mungkin karena dia sudah sah menjadi seorang duda, mungkin. Lagi-lagi bayangan nona majikannya melintas ketika pikirannya berpikir tentang dirinya seorang duda.


Duda atau suami pengganti? Batin Zian tersenyum miris sambil masuk ke dalam langsung disambut ibunya yang berdiri di depan pintu.


"Assalamualaikum Bu .." Salam Zian sambil mencium punggung tangan ibunya yang menatapnya heran.


Zian sendiri entah kenapa ibunya terlihat aneh saat menatapnya.


"Assalamualaikum Bu..." Zian mengulang kembali salamnya, ibunya masih menatap sinis sambil menjawab salam putranya.


"Wa'alaikum salam." Ketus Maria mengikuti langkah putranya yang duduk di sofa ruang tamu sambil melepas sepatunya.


"Ada yang mau kamu katakan ke ibu Ando?" Tanya Maria menatap lekat putranya yang menunjukkan wajah tak bersalah dan seolah memang sedang tak terjadi apapun.


"Kau sedang tak menyembunyikan sesuatu dari ibu kan?" Tanya Maria menatap Zian penuh selidik.


"Memang ada apa Bu? Ibu bilang yang jelas biar aku mengerti Bu." Jawab Zian benar-benar tak tahu apa-apa.


"Benar kamu gak merahasiakan sesuatu pada ibu?" Tanya Maria sekali lagi menatap putranya meminta penjelasan.


"Sungguh aku gak ngerti apa yang ibu bicarakan." Jawab Zian yakin.


Dia kembali berpikir, mencerna kembali pertanyaan ibunya.


"Benar enggak?" Zian lagi-lagi menggeleng yakin.


"Kalau katanya kamu menikah lagi, benar itu tidak terjadi."


"Uhuk ..uhuk..." Zian tersedak ludahnya sendiri saat mendengar ucapan ibunya.


"Apa sih maksud ibu?" Jawab Zian mulai gugup namun dia mampu mengendalikannya dirinya karena terlalu lama menjadi seorang pengawal, Zian mampu menyembunyikan ekspresi wajahnya.

__ADS_1


Namun terlambat, ibunya keburu mencium sesuatu yang janggal dan Zian tahu arti tatapan mata ibunya yang tidak bisa dibohonginya.


"Bu, pakaian mas Zian itu..." Anin yang tiba-tiba muncul di ruang tamu tak meneruskan ucapannya begitu melihat Zian juga ada di sana.


Tadi ibunya memutuskan untuk membawanya istirahat ke dalam kamar Zian karena dia mengaku sebagai istri Zian. Dan Rima tidak keberatan meski sempat terpaksa mengizinkan. Dan saat memasuki kamar Zian, Anin melihat kamar Zian berantakan karena habis bermain dengan Abel dan belum sempat dibereskan karena dia keburu mengurus urusannya di pengadilan.


Jadi Zian berpikir akan membereskannya setelah pulang dari pengadilan. Dan baju kotornya juga banyak berserakan di lantai dan ranjang. Sehingga Anin berinisiatif membereskan untuk suaminya sambil mendengar arahan sang ibu mertua. Anin sempat terkejut melihat kamar Zian yang berantakan, setahunya pria itu sangat rapi saat di apartemen.


Zian tersentak bangun dari duduknya yang kaget melihat kemunculan nona majikannya muncul di rumah kecilnya.


"Non Anin." Seru Zian bergantian menatap ibunya yang menatapnya sinis dengan raut wajah meminta penjelasan.


"Mas, sudah pulang." Anin mendekati Zian dan menyalami tangan Zian dengan gugup sambil mengecup punggung tangan suaminya yang selama ini telah diacuhkannya.


Zian yang tak terbiasa diperlakukan seperti itu oleh Anin sontak menarik jemari tangannya sebelum Anin berhasil mengecup punggung tangannya. Anin menatap kosong pada jemari tangannya yang merasa ditolak oleh suaminya. Dia pun menghela nafas berat dan tetap menunjukkan senyumannya meski dadanya sedikit sesak.


"Apa yang non Anin lakukan disini?" Tanya Zian merasa bersalah melihat raut wajah kekecewaan pada wajah Anin karena gerakan spontan saat dia menarik jemari tangannya.


"Dia bilang dia adalah istrimu? Benar kalian sudah menikah secara siri?" Tanya Maria menatap Zian lekat menuntut penjelasan.


Zian menatap ibunya merasa bersalah dan beralih menatap Anin yang menunduk juga merasa bersalah.


"Se... sepertinya ada kesalahpahaman." Jawab Zian tersenyum manis mencoba mengelak karena dia belum mengatakan kebenaran tentang dirinya yang menjadi pengantin pengganti.


"Oh ya, nak Anin bilang dia tak bisa menikah secara resmi karena kau masih punya istri?" Ucap Maria lagi telak menohok Zian.


Anin menatap keduanya merasa bersalah, tidak seharusnya dia datang mendadak seperti ini. Seharusnya dia memberi kabar pada Zian terlebih dulu. Namun sudah sejak kemarin Anin menghubunginya namun ponsel Zian sudah tidak aktif. Sepertinya Zian memakai ponsel lamanya saat pulang kampung.


"Bu, boleh aku bicara berdua dengan non Anin?"


"Tidak. Disini saja, ibu juga ingin mendengar penjelasanmu." Jawab Maria sarkas membuat Zian salah tingkah.


"Bu..." Anin mendongak melihat pria yang biasanya tegas itu merengek lucu di hadapan ibunya yang terlihat marah.


"Bu, kami bicara berdua sebentar!" Pinta Anin membuat Maria tak mampu menolak permintaan menantunya itu.


Maria melirik Zian yang tampak putus asa memohon padanya.


"Baiklah. Kalian bicara, dan setelah itu ceritakan semuanya pada ibu. Semuanya!" Tegas Maria menekankan kata terakhirnya.


Zian mendesah lega dan masuk ke dalam kamar diikuti oleh Anin setelah menunduk sopan pamit pada ibu mertuanya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2