Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 116


__ADS_3

Anin menyalami tangan suami keduanya. Seharusnya itulah yang dilakukannya tiga bulan yang lalu. Namun harus gagal karena seseorang menyalahi mobil Guntur yang mengakibatkan kecelakaan hingga koma dan membuat pernikahan mereka batal dan digantikan oleh Zian sang pengawal untuk menjadi mempelai pria demi reputasi keluarga besarnya.


Namun Anin berusaha menerima kalau itulah jalan takdir kehidupannya. Dan hari ini dia tak menyangka akan mempunyai suami kedua pria yang masih merajai hatinya dan itu semua atas izin suami pertamanya. Dan entah apa yang dijadikan alasannya pada penghulu sehingga dia diizinkan menikahkan istrinya dengan pria lain. Anin menghela nafas panjang.


Guntur menatap Anin dengan sorot mata penuh kebahagiaan. Dia tak peduli meski harus menjadi suami kedua gadis yang dicintainya. Toh, suami pertamanya yang memintanya. Melihat tidak adanya kebahagiaan dan tubuh tirus mantan calon istrinya membuat Guntur mempertimbangkan ajakan Zian untuk menikah dengan gadis cintanya meski harus menjadi kedua dia rela.


Dia percaya kalau gadisnya masih mencintainya meski harus rela berbagi dengan suami lainnya. Itu lebih baik daripada dia bagai kehilangan setengah jiwanya selama merelakan gadisnya untuk bersama suaminya. Mungkin jalan takdir yang harus dilaluinya sekarang. Entah nanti.


Raka menghela nafas berat, tidak hanya dia yang datang. Setelah Guntur menemui Zian siang itu. Guntur memikirkan berulang kali ucapan Zian. Hingga hari ketiga dia berniat mengatakan isi hati yang juga keinginannya sejak lama pada ibunya.


Dan ibunya langsung shock mendengar ucapan putranya yang begitu antusias dengan sorot mata kebahagiaan. Ibu Kim terdiam sambil menggenggam erat jemari tangan suaminya yang ikut menyimak percakapan dua orang itu.


"Kau tak menjadi pebinor kan nak?" Tanya ibu Kim meyakinkan pendengarannya.


"Tidak ibu. Suami Anin yang memintaku untuk menikah dengan Anin." Jawab Guntur sambil tersenyum ceria.


"Dan kau langsung mengiyakannya?" Tanya ibu Kim tidak percaya membuat sorot mata percaya diri Guntur pudar berganti muram.


Ibu Kim sontak merasa bersalah. Sudah lama putranya tidak menunjukkan sorot wajah bahagianya. Dan seketika dia merasa bersalah melihat sorot wajah itu menghilang menyisakan wajah muram seperti sebelumnya.


"Lakukanlah jika itu membuatmu bahagia! Ibu hanya bisa merestui apa yang menjadi kebahagiaanmu nak." Ucap ibu Kim lagi memaksakan senyumannya.


"Benarkah ibu? Terima kasih ibu, terima kasih... Aku menyayangimu ibu." Guntur langsung tersenyum bahagia sontak memeluk tubuh ibunya.


Ibu Kim ikut tersenyum paksa sambil mengelus punggung putranya yang bahagia.


Ibu Kim menggenggam erat jemari tangan suaminya yang setia duduk di sisinya menyaksikan ijab qobul putranya.


"Mungkin ini sudah menjadi jalan takdir untuk Guntur." Hibur Arman mengelus punggung tangan istrinya yang merasakan sorot mata sedih dan bahagia di waktu yang bersamaan.

__ADS_1


***


Ketiganya duduk terdiam di sofa ruang tamu apartemen Zian. Guntur duduk bersisian dengan Anin. Zian yang terakhir masuk memilih duduk di sofa depan keduanya.


"Malam ini aku mengawal tuan besar ke luar negeri dalam perjalanan bisnis." Ucap Zian memecah keheningan di dalam apartemennya. Guntur dan Anin sontak mendongak menatap keduanya.


"Kau tak pernah mengatakannya." Jawab Guntur.


"Aku baru mendapat kabar. Salah seorang rekanku berhalangan jadi aku diminta untuk menggantikannya." Jelas Zian masih dengan nada tegas.


"Kau tak berpikir untuk melarikan diri kan?" Pertanyaan Anin sontak membuat Zian sesaat terdiam, namun dia segera mengendalikan dirinya.


"Aku mau bersiap dulu." Zian berdiri dari duduknya masuk ke dalam kamarnya.


"Aku akan membantunya." Anin ikut berdiri mengikuti langkah Zian masuk ke dalam kamar.


Guntur tak mengiyakan atau bilang tidak. Dia terdiam di tempatnya. Entah kenapa dia merasa bersalah pada pasangan itu. Guntur menghela nafas panjang, dia menatap punggung keduanya yang sudah menghilang dari balik pintu kamar Zian. Guntur harus siap untuk berbagi mulai sekarang.


***


"Aku bisa melakukannya sendiri." Ucap Zian menolak bantuan dari Anin.


Namun Anin tetap nekat memasukkan beberapa pakaian Zian ke dalam koper yang sudah disiapkan Zian.


"Kau istirahatlah, kau pasti capek!" Ucap Zian lagi yang tetap tak digubris Anin yang masih tetap sibuk dengan baju-bajunya.


"Cukup hentikan!" Teriak Zian tanpa sadar membentak Anin.


Sepanjang dia bekerja menjadi pengawal Anin dia tak pernah berteriak seperti hari itu. Zian langsung menyesalinya melihat gerakan Anin terhenti.

__ADS_1


"Talak aku sekarang!" Ucap Anin menatap Zian dingin.


Zian terdiam balas menatap Anin yang menatapnya dengan sorot mata terluka dan kecewa.


"Aku tahu Daddy tak akan kemanapun. Kau hanya akan melarikan diri dari kami. Sekarang aku akan melepaskanmu. Talak aku sekarang mas.... Sebelum itu, biarkan aku berbakti sebagai seorang istri padamu untuk terakhir kalinya." Ucap Anin dengan bibirnya yang gemetar menahan air mata yang hendak meluncur.


Anin mulai melucuti satu persatu kancing kebaya gaunnya. Zian tersentak mendengar kebenaran yang diucapkan Anin. Bagaimana dia... tahu? Batin Zian mulai kehilangan kewarasannya.


"Keluarlah!" Ucap Zian sambil membalikkan tubuhnya hingga membelakangi tubuh Anin yang sudah membuka semua kancing gaunnya.


"Apa aku... sekotor itu sampai kau menolakku?" Bisik Anin terisak sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya dengan sesenggukan.


Tubuh Anin merosot jatuh ke bawah. Tangisan isakan terdengar di kamar itu. Zian masih mempertahankan posisinya untuk tidak berbalik mendekap tubuh ringkih istrinya. Dia tak mau menjadi goyah, melihat kesedihan terpancar jelas di mata istrinya.


"Aku Ziando... memberikan talak tiga pada istriku Anindita... mulai hari ini kau bukan lagi.... istriku..." Zian mengambil kopernya keluar dari kamar dengan deraian air mata Anin.


Guntur menatap koper yang dibawa saat dia berdiri dari duduknya beralih kembali menatap Zian dengan penuh tanda tanya.


"Jaga dia! Bahagiakan dia!" Guntur tak berkata apapun hanya mengangguk mengiyakan ucapan Zian yang terdengar ambigu.


TBC


Terima kasih pro dan kontra nya...


Saya tidak mempermainkan pernikahan, tapi niat saya meng-hallu... menceritakan sesuatu yang memang tidak mungkin terjadi di dunia nyata...


Misal pun ada kisahnya di dunia nyata kita tidak tahu...


Terima kasih yang masih tetap mendukung karya saya...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak


__ADS_2