
"Apa yang papa lakukan padanya?" teriak Jo saat sampai di ruangan kerja sang papa, yang sudah pulang dua hari lalu.
Namun sepertinya Alensio menghindar bertemu dengan putranya itu.
"Apa itu sopan santun yang diajarkan oleh orang tuamu? Sejak kau bergaul dengan wanita murahan itu sikapmu semakin buruk." jawab Alensio mengalihkan pembicaraan.
Dia masih terlihat sibuk mengurus berkas-berkasnya yang sudah menumpuk di meja kerjanya karena ditinggal lebih dari satu minggu. Jo terlihat menghela nafas panjang.
"Aku tak pernah meminta apapun seumur hidupku pa, selama ini keinginan papa selalu kuturuti. Namun untuk pernikahan, aku ingin hidup bahagia dengan orang yang kucintai." ucap Jo menurunkan nada bicaranya tak emosi seperti tadi, malah terlihat memelas dan memohon.
"Meski dengan wanita bersuami? Kau mau jadi pebinor? Huh..." ucap Alensio sarkas.
"Dia sudah bercerai, dia istriku satu-satunya." jawab Jo membuatnya kembali emosi tapi masih mampu menahan untuk tidak menaikkan nada bicaranya.
"Huh... apa karena kau dia jadi bercerai. Mau ditaruh dimana muka keluarga kita saat semua orang tahu kau menikahi seorang janda apalagi saat pernikahanmu terjadi saat dia masih menjadi suami orang lain." jawab Alensio dingin.
Dia pun berdiri beranjak dari duduknya menghadap dinding kaca di ruangannya yang berada di lantai lima belas.
"Aku tak peduli. Biarpun secara siri, sekarang dia tetaplah istriku." ucap Jo dengan wajah sendu.
"Lupakan dia! Pernikahan akan berlangsung tiga hari lagi. Kau harus datang!" final Alensio.
"Maaf pa. Untuk kali ini jangan memaksaku." jawab Jo meninggalkan ruangan Alensio namun saat menutup pintu ruangan sang papa tiba-tiba pukulan di tengkuknya membuatnya kehilangan kesadarannya dan pandangannya pun menggelap.
"Bawa dia pulang ke mansion!" titah Alensio melihat putranya sudah pingsan. Para pengawal yang ditugaskan tadi pun membopong tubuh Jo.
***
"Sayang, apa yang terjadi pada Jo?" tanya Farida cemas melihat putra bungsunya tak sadarkan diri di bopong para pengawal suaminya.
__ADS_1
Farida berlari kecil menghampiri tubuh putranya yang memejamkan mata.
"Bawa ke kamarnya dan kunci pintunya dari luar! Jangan biarkan dia meninggalkan rumah atau keluar dari kamar jika dia sudah sadar!" titah Alensio yang diangguki oleh mereka.
"Kau tega sekali padanya." ucap Farida yang sudah berderai air mata melihat perlakuan suaminya.
"Aku akan melepaskannya sampai hari pernikahan." jawab Alensio.
"Tapi kau tak perlu sekeras itu padanya. Bagaimana pun juga dia putra kita satu-satunya." bujuk Farida memohon pada sang suami.
" Kalau dia menurut, aku tak akan sekeras ini padanya." Alensio meninggalkan mansionnya untuk kembali ke kantor menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda.
"Sayang, kumohon sayang!" permohonan istrinya tak digubris, dirinya tak mau pernikahan dengan putri teman bisnisnya gagal.
***
Jo membuka matanya perlahan menatap sekeliling ruangan, dia hapal betul kamar itu. Kamar miliknya saat tinggal di mansion orang tuanya. Sesaat dia teringat sebelum disini, ada yang memukulnya dari belakang hingga dia pingsan. Jo sontak bangun dari ranjang untuk membuka pintu, namun hendel pintu yang dicoba dibukanya ternyata terkunci dari luar.
Namun hening tak ada suara, Jo menempelkan telinganya di pintu mendengar suara yang mungkin ada di balik pintu namun nihil tak ada suara.
"Buka pintunya! Mama... mama... papa...papa..." teriak Jo penuh kemarahan. Jo menatap sekeliling kamar, mencari-cari di mana ponselnya, namun tak ada dimanapun.
Para pengawal yang berjaga di luar tampak saling menatap meminta pendapat dan temannya pun hanya mengedikkan kedua bahunya.
Jo lemas terduduk di ranjang menatap ke luar jendela. Seketika timbul niatnya untuk melarikan diri dari jendela. Jo keluar ke balkon kamarnya, namun entah dari kapan, balkonnya sudah dipasang teralis besi.
"Ah, sial. Papa sudah mempersiapkan semuanya." umpat Jo kesal memukul teralis besi balkon kamarnya.
Jo mencari-cari di sekitar kamarnya, mungkin saja ada jalan lain yang bisa digunakan untuk dirinya melarikan diri keluar. Namun semua kamarnya tertutup rapat. Jalan keluar satu-satunya hanya pintu dan balkon kamar namun sekarang hal itu tidak mungkin. Jo lemas, terduduk di samping ranjang di lantai kamarnya.
__ADS_1
Mengusap wajahnya dengan putus asa. Menjambak rambutnya merasa tak mampu melakukan apapun seperti orang bodoh. Kekuasaan papanya kalah jauh dengan dirinya. Maafkan aku baby, aku ... apa yang harus kulakukan? batin Jo putus asa.
Di luar pintu.
"Nyonya.." sapa para pengawal pada Farida yang berada di depan pintu kamar Jo membawa nampan untuk makan siang putranya.
"Buka pintunya! Meski dikurung putraku butuh makan." ucap Farida tegas.
Kedua pengawal yang berdiri di kedua sisi pintu saling melirik meminta pendapat. Tak ada perintah apapun dari tuan besarnya tadi, namun mereka juga tak bisa membantah nyonya besarnya, akhirnya mereka membukakan pintu untuk Farida.
"Silahkan nyonya!"
"Terima kasih." Farida masuk ke dalam kamar setelah pintu dibuka.
"Mama..." panggil Jo dari dalam kamar melihat pintu kamarnya terbuka namun langsung dikunci kembali setelah mamanya masuk.
"Jo..." lirih Farida sedih menatap wajah putranya yang kusut tak bersemangat. Dan tubuhnya terlihat agak kurus.
"Ma, tolong keluarkan aku dari sini! Kumohon!" pinta Jo memelas penuh permohonan, sambil mengatupkan kedua tangannya di dada.
"Maafkan mama sayang, maaf. Papamu terlalu keras padamu. Seharusnya kau tak melawan papamu." Farida membelai pipi putranya lembut sambil berderai air mata.
"Aku tak menginginkan pernikahan ini ma, aku tak mau menikah dengannya. Aku hanya mencintai istriku." suara parau karena menahan sesak di dadanya membuat Jo tak mampu menahan air matanya.
"Maaf nak. Maaf..." bisik Farida memeluk putranya yang sedang bersedih.
"Aku harus segera mencarinya ma, dia... dia pergi meninggalkanku. Aku tahu dia mencintaiku. Kami saling mencintai. Kumohon ma, bantu aku ma!" pinta Jo memelas memohon pada sang mama.
Farida terdiam tampak berpikir. Dia sendiri pun sebenarnya tak menyukai Jane, gadis yang dijodohkan dengan putranya. Jane terlalu sombong dan angkuh. Bahkan sopan santunnya kurang pada orang yang lebih tua. Tidak seperti Karina yang pernah ditemuinya.
__ADS_1
Namun bagaimana dia harus menolong putranya untuk keluar dari kamar ini. Banyak pengawal yang ditugaskan menjaga di setiap sudut mansion besarnya sampai hari H pernikahan.
TBC