Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Terbongkar


__ADS_3

Setelah kepergian Jo menyusul Karina berdasarkan informasi mamanya. Alensio seminggu kemudian pulang karena besok adalah hari pernikahan putranya.


Alensio membawa oleh-oleh yang sengaja diberikan pada calon menantunya Jane. Dia pun mampir untuk memberikannya pada calon menantunya itu.


"Tuan besar." hormat para pelayan di rumah Jane.


Tapi Alensio berbisik jangan berisik, karena dia ingin memberikan kejutan pada calon menantunya. Karena setahunya orang tua Jane tidak sedang di rumah karena mengurus pernikahan putri semata wayangnya.


"Dimana calon menantuku?" tanya Alensio lirih.


"Nona ada di kamarnya tuan besar, tapi..."


"Aku akan langsung kesana." potong Alensio tanpa mendengar ucapan pelayan lebih lanjut.


Alensio menaiki tangga menuju lantai dua sebelah ujung tangga yang diyakini kamar Jane karena pintunya berwarna biru muda. Warna kesukaan seorang gadis. Alensio hendak mengetuk pintu namun...


"Ahh...fas..ter boy...aahh..." suara desahan Jane terdengar dari luar pintu kamarnya. Awalnya Alensio ragu.


"Boy... come on i'm cumming..."


"Yes baby... Together..." desahan keduanya bersamaan karena pelepasan.


"Kau selalu membuatku puas." ucap Jane.


"Mungkin ini terakhir kali kita berhubungan intim. Besok kau akan menikah." ucap pria muda simpanan Jane getir.


"Menikah hanyalah formalitas karena perjodohan, pria tua itu yang memaksa perjodohan ini." ucap Jane membuat Alensio yang berada di luar pintu mengepalkan tangannya erat, karena dugaannya tentang Jane selama ini salah.


Jane selalu menampilkan wajah polos dan lugunya jika berada di depannya. Kini Alensio sudah mendengar semua dan sungguh sangat tidak bisa dimaafkan. Alensio ingin mendobrak pintu kamar itu dan memergoki keduanya namun diurungkan demi mendengar ucapan keduanya berikutnya.


"Apa kau tetap berusaha memanfaatkan harta mereka?" tanya pria muda itu.


"Tentu saja. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Aku akan memanfaatkan juga kebodohan pria tua itu agar anaknya yang dibanggakannya itu bertekuk lutut di hadapanku. Apalagi perusahaan orang tuaku sudah tak mungkin di selamatkan lagi. Aku akan mengambil alih harta pria tua itu. Hahaha..." Alensio mengetatkan rahangnya, tangannya terkepal menahan emosi, betapa bodohnya dirinya selama ini.

__ADS_1


Wanita busuk itu ingin menusuknya dari belakang. Jangan harap kau mendapatkan apa yang kau inginkan. batin Alensio mendobrak pintu kamar itu dengan tendangan kakinya.


Bruak...


Jane dan pria muda itu terkejut tiba-tiba pintunya dibuka paksa. Dan lebih terkejut lagi saat tahu siapa yang berani mendobraknya. Dan dia adalah calon mertuanya.


"Papa..." seru Jane terkejut.


"JANGAN BIARKAN MULUT KOTORMU MENYEBUTKU, JA*LANG. KAU TAK PANTAS MENJADI MENANTUKU. TAK AKAN ADA PERNIKAHAN BESOK. AKU MEMUTUSKAN UNTUK MEMBATALKANNYA DAN AKAN SEGERA MENARIK SAHAMKU DI PERUSAHAAN MILIK KELUARGAMU. DAN AKAN KUPASTIKAN KAU DAN ORANG TUAMU AKAN BERAKHIR DI JALANAN. CAMKAN ITU WANITA MURAHAN!" teriak Alensio melempar buket bunga yang memang hadiah untuk Jane.


"Papa tunggu!" seru Jane berlari mengejar Alensio dengan berbalut selembar selimut.


"Jangan menyebut dengan mulut kotormu!" seru Alensio meninggalkan rumah itu.


Para pelayan menatap kebingungan. Dan lebih melihat majikannya hanya berbalut selimut. Hal itu sudah menjadi pemandangan yang biasa di rumah itu jika Jane berada di rumah saat orang tuanya tidak ada.


"Ah, sial...breng*sek." umpat Jane tak bisa mengejar Alensio lagi karena keadaannya yang hanya berbalut handuk.


Jane menatap para pelayan di dekatnya yang pura-pura bekerja padahal menguping.


***


Alensio tiba di rumahnya setelah setengah jam perjalanan. Dia masuk ke dalam rumah dengan tak bersemangat. Rasa bersalah menyelimutinya karena sudah membela wanita ja*lang itu. Hanya demi mempertahankan perjodohan putranya dia dengan tega mengurung putranya di dalam kamar.


Dan memisahkannya dengan istrinya. Istri yang sebenarnya idaman untuk mertua sepertinya. Hanya statusnya yang tidak sepadan dengannya membuatnya buta akan cinta yang begitu besar putranya dan ketulusan menantunya. Alensio mengusap wajahnya kasar.


Farida menghampiri suaminya yang terlihat kusut dan penampilan yang acak-acakan merasa kasihan, namun dirinya juga sedang tegang, bagaimana jika suaminya mengetahui kalau dirinya sudah membebaskan Jo untuk mengejar cintanya.


"Sayang, kau capek?" tanya Farida lembut meski masih terdengar gemetar.


Alensio menatap istrinya lekat, dia ingin menumpahkan segala kegelisahan yang dirasakan saat itu. Namun Farida malah gugup ditatap suaminya seperti itu, seolah-olah dia sudah ketahuan berbuat kesalahan.


"Maaf. Maafkan aku sayang." bisik Alensio menangkupkan kedua tangannya di dada.

__ADS_1


"Ada apa sebenarnya?" tanya Farida curiga melihat rasa penyesalan yang ditampakkan pada wajah suaminya.


Alensio malah menangis sesenggukan meski tak mengeluarkan suara tapi air matanya terus saja mengalir. Entah kenapa penyesalan selalu datang terlambat.


"Ceritakan sayang, ada apa?" tanya Farida.


Kemudian mengalirlah cerita tentang kegundahan hati Alensio tentang Jane yang sebenarnya dan perasaan bersalah pada putranya.


Dia sungguh sangat menyesali keegoisannya. Sedang wajah Farida yang terdiam berubah-ubah ekspresinya, kadang marah, kadang sedih juga kecewa. Namun perasaan marah lebih mendominasi. Farida pun memeluk suaminya memberi kekuatan.


"Wanita itu benar-benar wanita yang...ah, untungnya ketahuan sebelum pernikahan." ujar Farida.


"Kau benar sayang, Tuhan menunjukkan pada kita mana yang benar dan mana yang salah." jawab Alensio setelah melepaskan pelukannya.


"Sudahlah! Bersihkan tubuhmu, kau pasti capek!" ucap Farida lembut.


"Tunggu! Aku akan menemui putraku dulu. Mengatakan kalau aku sudah merestui mereka." ujar Alensio tersenyum senang. Wajah Farida tiba-tiba pias.


"Ah sayang, Farida pun menceritakan semuanya kejadian saat dirinya dan Bram bersekutu untuk melepaskan Jo dengan takut-takut kalau suaminya marah.


"Begitukah? Syukurlah sayang. Terima kasih karena pasti putra kita sudah bertemu dengan istrinya." Alensio kembali memeluk istrinya.


"Kau.. tak marah?" Di luar dugaan Farida, suaminya tidak marah.


"Tidak.. Aku malah berterima kasih padamu sayang. Terima kasih." Farida tersenyum haru.


TBC


Jangan lupa dukungannya...


Tinggalkan jejak


Beri like, rate dan vote nya

__ADS_1


Makasih 🙏🙏


__ADS_2