Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Side story 3


__ADS_3

Karina sibuk menyiapkan sarapan untuk seluruh keluarganya. Kini dia sudah kembali ke rumahnya sendiri yang sudah lama tidak ditempati.


"Mbak, mau kemana?" Maya yang baru dari toilet penasaran melihat Karina mengepak bekal di tempat makan.


"Oh, aku mau mengantar sarapan ke kantor Jo." jawab Karina, sebelum bangun.


Calon suaminya itu menghubunginya kalau dirinya tak bisa mampir karena ada meeting mendadak pagi-pagi sekali. Dan Karina pun menawarkan sarapan untuk diantar ke kantor. Jo dengan senang hati menerimanya.


Sudah seminggu ini pekerjaannya sungguh menyita waktu. Bahkan dia tak sempat mampir melihat anak-anak. Jo ingin menyelesaikan pekerjaannya sebelum pernikahannya.


"Aku ikut ya mbak?" pinta Maya memohon. Karina menatap Maya tak percaya.


Dia yang biasanya enggan keluar dari rumah kini antusias ikut dia ke kantor.


"Untuk?"


"Ada deh. Aku janji gak akan ganggu mbak deh, ada seseorang yang ingin kutemui." Maya mengedip-ngedipkan matanya. Karina hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Maya.


"Kamu segera mandi gih!" ucap Karina, sudah dua hari lalu si kembar di rumah ibu mertuanya.


Dan anehnya si kembar menurut sekali dan tidak rewel. Anin pun juga ikut karena putri kan Jeslin kakak Jo ternyata adalah Jessica teman Anin saat bersekolah di Kanada. Jadi mereka seperti bertemu dengan teman lama.


Membuat Anin pun enggan untuk pulang. Dan tentu saja ayah dan ibu mertuanya tidak keberatan dengan itu semua. Dan Jo belum tahu kalau anak-anak sejak kemarin tak di rumah.


***


"Wah, baru kali ini aku di gedung perusahaan tuan Jo." ucap Maya berdiri di depan pintu masuk gedung perusahaan Alensio. Karina hanya tersenyum simpul.


"Ayo!" ajak Karina. Di tangan masing-masing membawa bekal makanan untuk sarapan. Dan Maya entahlah untuk siapa.


"Permisi mbak, pak Jonathan ada?" sapa Karina ramah.


"Dengan ibu siapa ya?" tanya resepsionis itu, sepertinya dia pegawai baru karena tak mengenali Karina.


Kalau pegawai lama, pasti langsung tahu kalau dia adalah Karina. Mantan pegawai perusahaan tersebut serta calon istri Jonathan. Meski belum semuanya tahu kalau Karina sudah pernah menikah dengan Jonathan.


"Saya..."


"Mbak Karin ya?" suara seseorang dari arah belakangnya membuat Karina tak meneruskan kalimatnya menoleh menatap seorang wanita yang berpakaian sama dengan resepsionis itu.


"Ira." balas Karina menyapa. Keduanya pun berpelukan melepas rindu.


"Baru beberapa minggu lalu mbak kesini. Nyari siapa mbak?" tanya Ira kepo, dia juga salah satu pegawai di perusahaan itu yang belum mengetahui cerita tentang Karina.


Maya yang mau menyela langsung ditahan Karina.


"Nyari pak Jonathan." jawab Karina singkat.


"Oh, bos besar. Sekarang sudah mending mbak. Murah senyum, gak kayak sebelum-sebelumnya." komen Ira berbisik.


"Oh ya? Kenapa?" tanya Karina pura-pura tak tau. Maya yang berdiri di sebelah Karina hanya tersenyum meremehkan meski ditahannya.


"Lo... mbak gak tahu, bos mau nikah?" ucap Ira tak percaya.


"Oh ya?"

__ADS_1


"Iya mbak, katanya dua minggu lagi. Undangan sebagian udah disebar, ada yang belum."


"Tapi ada kan di ruangannya?" Karina langsung to the point, dia tahu Ira pasti akan bicara panjang lebar dan itu sangat lama.


"Ada mbak langsung ke lantai paling atas aja." jawab Ira, Karina dan Maya langsung menuju lift.


"Mbak..mbak..lucu banget sih dia?" komen Maya sambil tertawa di dalam lift.


"Hush."


"Pasti dia akan terkejut jika tahu mbak calon pengantin bosnya." Maya masih melanjutkan ucapannya sambil tertawa terpingkal-pingkal memegangi perutnya. Karina hanya tersenyum tipis.


***


"Bu Karin..." sapa sekretaris Jo ramah berdiri sambil menunduk memberi hormat.


Karina ikut menunduk dan tersenyum. Maya tolah-toleh celingukan menatap ke segala penjuru mencari sesuatu.


"Tuan Jo ada?" tanya Karina ramah.


"Tuan sedang breefing pagi, mungkin sebentar lagi selesai.


Tuan pesan, Bu Karin disuruh menunggu di dalam kalau beliau belum selesai breefing." jawab sekretaris itu ramah.


"Baiklah." Karina masuk ke dalam tapi Maya masih tak mengikuti celingukan di depan meja sekretaris itu.


"May, ayo!" Ajak Karina membuat Maya menoleh.


"Aku tunggu di sini aja mbak."


"Lho, kenapa?"


"Seseorang? Siapa?"


"Baby..." seru Jo antusias di kejauhan melihat Karina hendak masuk ke ruangannya diikuti Rian asisten pribadinya.


Jo berlari kecil menghampiri Karina langsung memeluknya erat di hadapan orang-orang itu.


"Aku merindukanmu baby..." bisiknya.


"Ehm.. kita masuk ke dalam dulu ya?" bisik Karina dengan wajah memerah karena dilihat mereka bertiga yang langsung menundukkan kepalanya tak berani melihat, meski Maya sedikit mengintip dan tersenyum simpul.


"Ok." Jo menarik Karina masuk kedalam ruangannya sebelum Jo kembali menoleh menatap Rian dan Maya bergantian.


"Rian..."


"Ya tuan."


"Kau bisa sarapan dengan Maya dulu!" titah Jo, dia paham dengan perasaan keduanya. Maya pernah memberi tahukan perasaannya saat berkunjung ke rumah Karina.


"Saya bisa sendiri tuan.."


"Rian..."


"Ya tuan."

__ADS_1


"Ini perintah!" Rian tak menjawab hanya menundukkan kepalanya mengiyakan.


Jo dan Karina sudah masuk ke dalam ruangannya. Rian menatap Maya tak percaya yang tersenyum padanya penuh kemenangan. Rian menggelengkan kepalanya menuju ruangannya yang tak jauh dari ruangan Jo dan tentu saja diikuti Maya dengan tak tahu malunya.


Cklek


Rian masuk ke dalam ruangannya yang terlihat cukup rapi untuk ukuran seorang pria. Sepertinya Rian bukan tipe orang yang berantakan, terlihat juga dengan cara berpakaiannya yang terlihat rapi.


"Duduklah!" pinta Rian sambil menggeserkan kursi untuk duduk Maya.


"Makasih." jawab Maya tersenyum.


Rian lagi sibuk duduk di kursinya dan sibuk dengan laptopnya. Dia harus menyalin hasil breefing tadi.


"Ayo sarapan dulu!" ajak Maya sambil membuka bekal makanan yang dibawanya tadi.


Rian diam tak bergeming, Maya menghela nafas, dia pun mengangkat kursinya agar lebih mendekat pada Rian.


"Apa yang anda lakukan?" seru Rian tak suka.


"Aku akan menyuapimu jika mau sibuk."


"Tidak. Aku sudah sara... kruyuk..." Maya tertawa mendengar perut Rian berbunyi.


"Jangan munafik deh. Bahkan kau sudah mengizinkanku untuk menggangu mu kan? Apa kau lupa?" seketika wajah Rian memerah karena malu, dan dia teringat percakapannya di depan pintu apartemen Bram kala itu.


"Ah sial." guman Rian duduk kembali.


"Saya akan makan sendiri." Rian mengambil makanan yang dipegang Maya dan mulai memakannya. Maya hanya menatap Rian sambil bertopang dagu menatap Rian makan.


"Anda tidak makan?" tanya Rian yang merasa risih diperhatikan Maya saat makan.


"Aku udah sarapan kok, ini spesial hanya untukmu." jawab Maya sumringah.


Rian menghela nafas, kalau saja bukan karena titah bosnya, dia pasti akan langsung menolak mentah-mentah semua itu.


"Terima kasih. Kalau sudah..."


"Oh ya, kapan kita kencan?" sela Maya dengan tidak tahu malunya.


"Tunggu! Sepertinya anda..."


"Bagaimana kalau hari minggu besok?" sela Maya lagi.


"Nona.."


"Aku akan memohon pada tuan Jo agar mengizinkanmu libur hari minggu nanti."


"Saya akan menjemput anda jam delapan pagi." sela Rian karena jika sudah menyebut nama tuannya, Rian mau tak mau mengiyakan. Dan perintah tuannya itu mutlak.


"Terima kasih." Maya tersenyum berbinar sambil menatap Rian yang menatapnya jengah.


***


Setelah ini season 2 tentang kehidupan rumah tangga Karina dan Jonathan...

__ADS_1


Tetap baca ya?


Dan selalu beri like, rate dan vote nya makasih 🙏🙏


__ADS_2