Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Rencana melarikan diri


__ADS_3

H-1 Jo masih dikurung di kamarnya tanpa mampu melarikan diri. Makanan yang diantar mamanya ke kamar tak disentuh sama sekali oleh Jo. Mamanya menatap kasihan pada putra semata wayangnya. Bahkan dirinya sudah ikut memohon pada suaminya namun seolah suami menulikan telinganya mendengar rengekan permintaan istrinya.


Jo tetap tutup mulut tak mau makan maupun bicara walaupun dengan sang mama. Farida pun ikut mogok makan demi putranya. Wajah Jo yang semakin tirus tak bersemangat. Dan lingkaran mata panda yang menghitam terlihat Jo dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.


Farida semakin merasakan sesak di dadanya mendapati keadaan putra semata wayangnya yang sungguh sangat memprihatinkan.


"Sayang, Makanlah!" bujuk Alensio melihat istrinya semakin lemah karena tak mau makan sama sekali.


Farida tak menjawab, dia hanya memalingkan wajahnya tak mau menerima suapan suaminya. Farida sebenarnya tak tega melihat suaminya yang memohon. Namun dirinya lebih tak tega lagi melihat putranya yang terlihat seperti mayat hidup tak bersemangat sama sekali.


"Sebenarnya apa maumu? Aku akan turuti tapi tidak membebaskan Jo dari kamar sebelum hari H besok." bujuk Alensio yang diberi tatapan tajam oleh sang istri. Farida hanya diam menatap suaminya.


"Aku mau pergi ke kantor." pamit Alensio tak tetap tak dihiraukan istrinya.


**


"Selamat siang pak, dimana Tante." sapa Bram yang hari itu berkunjung di mansion pamannya.

__ADS_1


"Nyonya besar ada di kamarnya tuan." jawab kepala pelayan mansion pamannya.


Bram mengangguk, dia pun menuju kamar bibinya.


Hati Bram mencelos melihat pemandangan yang tidak diinginkannya itu. Dia mendapat kabar dari Rian, asisten Jo kalau nyonya besar sakit karena putra semata wayangnya dikurung di dalam kamar. Bahkan permohonan bibinya tak dihiraukan oleh pamannya.


"Bibi sudah makan?" tanya Bram duduk di tepi ranjang menatap bibinya yang memalingkan muka.


Bram tahu bibinya pasti mengira dirinya adalah paman sehingga bibi langsung memalingkan muka melihat pintu kamarnya terbuka. Terbukti saat mendengar suaranya, bibinya langsung menatapnya.


"Apa yang bibi katakan? Bibi sudah kuanggap seperti ibuku sendiri. Jika Bram bisa, aku akan membantumu bi." jawab Bram tersenyum lembut sambil memegang kedua tangan Farida.


"Benarkah? Kau akan bantu bibi?" tanya Farida antusias.


"Akan Bram usahakan."


"Bantu Jo melarikan diri!" ucapan Farida membuat Bram terkejut, sontak Bram terdiam mempertimbangkan keinginan Farida.

__ADS_1


Sebenarnya Bram tak setuju dengan pernikahan Jo dengan Jane. Bram tahu betul siapa Jane si ja*lang yang suka menjajakan tubuhnya pada siapapun. Bahkan dirinya pernah digoda oleh Jane, tapi rasa cintanya pada sang istri menolak mentah-mentah Jane.


Namun sang paman tak percaya dengan ucapannya. Bram akhirnya hanya bisa diam. Asal Jane tak mengganggunya lagi, itu sudah lebih dari cukup.


"Aku tak bisa melakukan sekarang bi. Aku... akan mencobanya." jawaban Bram cukup melegakan Farida.


"Terima kasih nak, terima kasih." Farida menangis terharu.


Farida tahu betul siapa Bram, dia adalah pengacara terkenal dengan banyak kasus. Dan Farida yakin, Bram bisa membantu Jo keluar dari rumahnya. Farida sudah tak peduli dengan rencana perjodohan mereka.


"Sekarang bibi mau makan kan? Aku akan membutuhkan tenaga bibi juga untuk membantu Jo keluar dari rumah ini." Farida mengangguk setuju dan langsung berteriak pada kepala pelayan untuk mengambilkan makanan.


TBC


Makasih dukungannya semua


Beri like, rate dan vote nya makasih 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2