
"Antarkan makan siang suamimu nak!" Saran Farida saat Karina membereskan meja makan dibantu asisten rumah tangganya.
Karina melirik jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah dua siang, waktu jam makan siang kantor berakhir.
"Sepertinya sudah terlambat untuk mengantar makan siang ma." Jawab Karina terlihat putus asa.
"Jo, bukan pria seperti itu. Mama tak membelanya karena dia putra mama. Mama hanya sedikit mengenalnya. Saat dirinya tidak nyaman karena sesuatu, dia tak akan konsentrasi untuk pekerjaannya. Apalagi bisa makan tenang, mama yakin, dia tidak makan dengan benar akhir-akhir ini. Antar makanan untuknya. Dan mama rasa dia akan langsung memakan habis makanan yang kau bawa." Saran Farida panjang lebar.
Karina tampak berpikir, dia bingung antara harus ke kantor suaminya atau tidak.
"Mama akan menjaga si kecil. Kalau butuh waktu berdua saja untuk bicara dari hati ke hati. Aku yakin, Jo sangat merindukanmu." Hibur Farida membuat wajah Karina tersipu malu-malu.
***
Hampir satu jam perjalanan menuju kantor suaminya bekerja. Sopir membukakan pintu mobil penumpang untuknya. Setelah berpikir jernih, Karina memutuskan untuk mengantar makan siang untuk suaminya yang sudah lama tidak diperhatikannya. Sungguh dia sangat merasa bersalah karena beberapa hari lalu tak pernah memperhatikan keadaan suaminya yang mengurus dirinya sendiri.
Terlihat pada penampilannya yang sedikit kacau. Dagunya banyak bulu-bulu halus yang mulai sedikit memanjang menandakan dia tidak benar-benar mengurus dirinya dengan benar. Pipinya sedikit tirus meski masih kelihatan bugar. Rambutnya yang selalu berpotongan cepak, kini sudah mulai memanjang.
Dirinya merasa sangat bersalah karena semuanya itu biasanya selalu dia yang mengurusnya. Mulai dari memotong rambut, mencukur bulu halus di dagunya sampai memotong kuku tangan dan kakinya, suaminya selalu diingatkan olehnya. Meski Karina baru dua minggu melahirkan, serasa berbulan-bulan dirinya tak memperhatikan keadaannya.
Setelah mandi air hangat dan membersihkan tubuhnya agar terlihat lebih pantas untuk berkunjung ke kantor suaminya. Karina segera berangkat.
Karina melangkah memasuki gedung perkantoran yang dulu juga tempatnya bekerja itu sebelum menikah dengan suaminya sekarang. Tampak semua karyawan yang berpapasan dengannya menunduk memberi hormat padanya karena mereka tahu siapa Karina. Dia adalah istri tercinta CEO kantor mereka.
Jo selalu memamerkan istrinya jika dia mengajak istrinya ke kantornya. Tentu saja hal itu membuat Karina malu setengah mati, apalagi banyak karyawan yang mengenalnya saat dia sama-sama menjadi karyawan di perusahaan tersebut.
Itulah sebabnya Karina jarang sekali ikut karena jengah dengan kelebaiannya dalam menunjukkan perasaannya padanya. Karina tak menyangkal bahwa dirinya juga bahagia, tapi tak perlu diumbar-umbar di depan umum kan?
"Mbak Karin!" Panggil seseorang menghampiri Karina yang hendak masuk lift.
"Ira." Sapa Karina balik, wanita yang dipanggil Ira itu ikut masuk ke dalam lift karena ada keperluan di lantai atas.
"Mbak mau ... ah, mengantar makan siang ya?" Tanya Ira yang tahu maksud kedatangan Karina saat melihat Karina menenteng paper bag kas bekal makanan.
"Iya, tapi mungkin sedikit terlambat." Jawab Karina tersenyum.
"Oh ya, selamat ya mbak atas kelahiran putri mbak." Mereka saling cipika-cipiki memberi selamat.
"Makasih."
"Maaf mbak, kantor sibuk. Belum sempat berkunjung." Ucap Ira.
"Gak apa-apa." Jawab Karina.
Ting
Pintu lift terbuka, sepertinya lantai tujuan Ira sudah tiba.
"Aku duluan ya mbak?" Pamit Ira.
"Iya." Mereka pun berpamitan.
Karina melanjutkan untuk menuju lantai paling atas tempat ruangan suaminya berada.
***
Karina melirik meja sekretaris suaminya kosong, namun buku-buku berserakan terbuka di meja tersebut.
'Sepertinya ada keperluan penting sampai meninggalkan pekerjaan terbuka seperti itu.' batin Karina langsung masuk ke dalam ruangan suaminya tanpa mengetuk pintu.
Dia ingin memberi kejutan pada suaminya. Dia juga ingin meminta maaf atas kesalahannya kemarin dan hari ini juga. Karina menghela nafas sejenak sebelum membuka pintu ruangan suaminya. Dia memasang senyum manisnya. Dia tak merasakan kecurigaan apapun. Bahkan dadanya berdebar karena ingin bertemu suaminya itu. Huff...
__ADS_1
Cklek...
Saat Karina membuka pintu ruangan itu, bukannya membuat suaminya terkejut tapi dirinya yang terkejut. Melihat suaminya berpelukan dengan seorang wanita seksi dengan pakaian kekurangan bahan.
Melihat wajah dan rambutnya sepertinya wanita itu kliennya dari luar negeri. Jo langsung menghentakkan kedua tangan Annie yang enggan untuk melepaskannya.
Bruk..
Suara paper bag jatuh dari tangan Karina karena saking shocknya. Karina berdiri terpaku, dia berusaha mengendalikan dirinya agar tidak emosi dan berteriak di situ.
"Baby, A ... aku bisa jelaskan!" Jo mendorong tubuh Annie hingga dia tersungkur ke lantai.
"Aduh..." Jerit Annie kesakitan karena boko*ngnya mendarat seksi di lantai kesakitan.
"Kau tak apa nona." Ucap Karina spontan menolong wanita yang telah berani memeluk suaminya tadi.
"Tak apa. Terima kasih." Karina tersenyum lembut, Jo melongo melihat interaksi keduanya.
"Aku Karina. Istri tuan Jonathan." Ucap Karina memperkenalkan diri pada Annie sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
Annie menatap heran pada uluran tangan dan wajah Karina.
"Annie, saya rekan bisnis tuan Jonathan." Jawab Annie, keduanya pun saling berjabat tangan.
"Bisa tinggalkan kami berdua?" Pinta Karina menatap wajah Annie dengan tetap menunjukkan sikap elegannya yang tidak terpengaruh sedikitpun dengan keintiman suaminya dengan Annie.
"Tentu. Kami bisa melanjutkan perbincangan kami nanti." Annie pun pamit undur diri.
Paper bag yang dijatuhkan Karina tadi segera diraih Jo meletakkan ke meja kerjanya setelah mengintip isinya adalah makanan, mungkin untuknya? Harap Jo.
"Baby." Bisik Jo lirih setelah Annie benar-benar pergi dari ruangannya.
Karina masih membelakanginya, belum berbalik menatap suaminya. Karina mengendalikan perasaannya, dia tak mau terlihat bodoh langsung marah-marah dengan sesuatu yang belum jelas. Dia hanya berharap apa yang ada di pikirannya bukan sesuatu yang sebenarnya.
Karina pun membalikkan tubuhnya menatap suaminya yang terlihat memelas. Karin menunjukkan senyuman manisnya seolah tak terjadi apapun sebelumnya.
"Mama memintaku untuk mengantar makan siang untuk mas, walaupun sudah kuyakinkan kalau sudah terlambat untuk makan siang. Tapi mama yakin kalau mas belum makan siang. Dan aku sudah mengantarkannya. Aku pamit dulu." Karina hendak melangkah menuju pintu ruangan, namun dengan secepat kilat Jo menahan kakinya.
Ya, Jo berlutut di hadapan istrinya sambil memegang kaki istrinya. Karina yang tersentak tak mengira dengan perlakuan suaminya menoleh dan melihat suaminya menatapnya penuh penyesalan.
"Maaf baby, maafkan aku... Aku salah padamu. Maafkan aku. Dan tadi... itu tidak seperti yang kau pikirkan. Sungguh. Aku hanya mencintaimu. Maafkan aku. Tolong maafkan aku." Pinta Jo memelas mendongak menatap istrinya lekat sambil air matanya tanpa sadar telah membasahi pipinya.
Karina tertegun menatap wajah suaminya penuh dengan penyesalan. Bahkan dengan sukarela berlutut memohon padanya. Padahal dirinya juga bersalah. Dia memang mengharapkan suaminya minta maaf, tapi bukan cara seperti ini hingga sampai berlutut merendahkan diri padanya.
Sebesar apapun kesalahan suaminya, Karina selalu bisa memaafkannya selama itu bukan tentang perselingkuhan karena baginya cukup diselingkuhi dua kali oleh mantan suaminya. Sekarang suaminya memohon-mohon untuk dimaafkan atas segala teriakan, kemarahan dan emosi beberapa hari terakhir ini membuat Karina trenyuh dan terharu.
"Mas, apa yang mas lakukan?" Karina yang sudah tersadar dari lamunannya ikut berlutut menyamakan tingginya dengan tubuh suaminya yang sedang berlutut.
"Maafkan aku baby, aku tahu aku salah. Aku tahu kau marah padaku dengan kekasaranku beberapa hari ini. Aku sungguh menyesal, maafkan aku baby. Aku mencintaimu. Jangan diamkan aku seperti ini." Rengek Jo menangkupkan kedua tangannya memohon pada Karina.
Belum ada dua puluh empat jam istrinya menelantarkannya, membuat Jo tidak baik-baik saja. Bahkan jiwa dan raganya ikut merasakannya. Dia sungguh tersiksa melihat istrinya tak memberikan perhatiannya seperti dulu. Dia bukannya menjelaskan keinginannya malah ikut-ikutan marah dan emosi pada istrinya hingga berakhir bentakan.
Bukannya dia minta maaf tapi dia malah semakin memperburuk keadaan dan tadi, istrinya melihat dirinya saat wanita yang bernama Annie tadi memaksa memeluknya hingga dipergoki istrinya. Mungkin Jo akan lebih baik jika istrinya marah-marah dan membentaknya karena kejadian tadi.
Namun istrinya terkesan cuek dan acuh bahkan sikapnya begitu dingin. Jo kalang kabut, dadanya ketar ketir melihat kecuekan istrinya. Tak mungkinkan istrinya tidak mencintainya lagi? batin Jo sebelumnya.
Hingga dirinya pun nekat berlutut untuk minta maaf pada istrinya. Dia tak peduli harus merendahkan dirinya di hadapan istrinya. Dia tak mau kehilangan istrinya, dia tak mau istrinya semakin dingin dan acuh padanya.
Karina terdiam, menatap lekat suaminya. Terlihat kesungguhan di mata suaminya. Karina tak tega menyiksa suaminya lebih lama lagi.
"Aku yang salah mas, maaf. Sudah menelantarkanmu beberapa hari ini. Maaf... aku...aku... terlalu sibuk mengurus putri kita. A..aku..."
__ADS_1
"Ssstt..." Jo menutup bibir istrinya dengan jari telunjuknya.
"Tidak baby, aku lah yang seharusnya tahu, sesibuk apa dirimu. Seharusnya aku yang sabar menunggumu. Maaf." Bisik Jo lirih.
Karina mendekap tubuh suaminya, yang dibalas pelukan erat Jo meresapi kenyamanan yang sempat hilang beberapa hari ini.
"Aku pun juga mencintaimu mas. Maaf..." Bisik Karina dalam pelukan suaminya.
"Aku juga mencintaimu baby. Maaf... maafkan aku juga." Karina mengangguk dengan derai air mata di wajahnya.
Jo langsung mengusap air mata itu. Jo mengecup bibir istrinya yang sudah dirindukannya itu. Karina pun membalas ciuman itu intens.
Hingga tanpa sadar Jo membopong tubuh istrinya ke ruang pribadi di dalam ruang kerjanya yang lebih mirip seperti kamar pribadi dengan ranjang yang lumayan besar cukup untuk keduanya. Perlahan Jo membaringkan tubuh istrinya di ranjang yang berada dalam gendongannya tanpa melepaskan ciumannya dan jemari tangan Jo sudah merayap ke seluruh tubuh istrinya.
"Mas...ahh..." Lenguh Karina menikmati cumbuan suaminya yang sudah lama pula tidak dirasakan.
"Yes, baby..." Bisik Jo masih terus saja bibirnya menelusuri lekuk tubuh istrinya.
"Aku masih halangan." Ucapan istrinya membuat Jo seketika membeku, cumbuannya terpaksa dihentikan meski dengan sedikit rasa kesal yang tak ditunjukkannya.
Padahal adik kecilnya sudah berdenyut-denyut di bawah sana meminta untuk dibebaskan. Namun mau tak mau Jo harus menghentikannya daripada semakin besar hasratnya. Jo langsung berdiri dari ranjang. Sedang pakaian Karina sudah berantakan tak pada tempatnya.
"Aku akan ke kamar mandi sebentar." Tangan Jo ditarik Karina yang sudah duduk di tepi ranjang hingga Jo berbalik menatap istrinya dengan wajah yang penuh hasrat.
"Boleh aku bantu!" Pinta Karina menatap suaminya lekat.
"Tidak usah baby, kau baru sembuh. Aku tak mau merasa bersalah lagi." Jo menangkup kedua pipi istrinya lembut, dikecupnya bibir istrinya itu sekilas.
"Maaf." Bisik Karina merasa bersalah.
"No baby. No problem." Jo menggeleng-gelengkan kepalanya meredam rasa bersalah istrinya.
TBC
Maaf lama gak up
Moodnya buyar...😁😁
Dan akhirnya bisa up lagi
Terima kasih komentarnya, meski tak bisa balas satu persatu tapi saya baca semuanya.
Terima kasih atas dukungannya
Terima kasih juga atas saran dan kritiknya
Cerita ini murni dari hasil ke-halluan saya, tidak menyinggung ras, agama atau suku tertentu.
Intinya semuanya hanya imajinasi saya sang author.
Kalau ada kesalahan kata, kesalahan adat istiadat, kesalahan di cerita saya ini tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat, maaf...🙏
Karena sekali lagi, saya buat cerita ini, murni dari imajinasi saya.
Murni hasil fiksi dan fantasi seorang author. Tidak berharap menyinggung, menjelekkan, membuat buruk adat di masyarakat.
Intinya baca apa adanya cerita saya sebagai penghiburan semata, ambil yang menurut para pembaca itu baik, dan buang yang menurut para pembaca buruk.
Makasih atas dukungannya
Beri like, rate dan vote nya
__ADS_1
Makasih 🙏🙏