
Farida menoleh ke sekeliling tempatnya duduk tadi, mencari keberadaan Karina yang menolongnya tadi. Dia baru ingat kalau wanita itu adalah istri siri putranya. Yang sempat dibicarakan dengan suaminya semalam.
Sungguh wanita itu sangat lembut dan baik hati, itulah penilaian Farida saat kedua kalinya mereka bertemu setelah sekian tahun lamanya. Namun sayangnya dia sudah bersuami dan seorang putri. Dan sekarang juga menjalin hubungan siri dengan putranya. Entah apa yang terjadi pada keduanya hingga wanita cantik bernama Karina itu mau menikah lagi saat dirinya masih bersuamikan.
Apa hanya menginginkan harta putraku? pikiran Farida berkecamuk memikirkan hal itu, suara kecemasan para bawahannya yang mengawalnya tak didengarnya. Pertemuannya dengan Karina membuatnya entah kenapa menemukan sosok seorang menantu yang diidamkan oleh orang tua sepertinya.
Bahkan dia memperlakukan orang tua ini lebih baik dari putri-putri kandungnya tanpa tahu siapa dirinya. Tak peduli dia orang kaya atau miskin. Dia hanya memandang seorang wanita paruh baya seperti melihat pada ibu kandungnya, siapapun itu.
Mungkin itu wujud kerinduannya pada ibunya yang telah meninggal. batin Farida.
**
Dalam percakapan ponsel :
Jo :" Kau akan pergi?" tanya Jo di seberang telepon malam itu saat Karina sedang beristirahat karena terlalu capek jalan-jalan dengan putrinya tadi.
Karina : "Hanya beberapa hari. Aku ingin mengunjungi nenek Anin, mumpung masih cuti. Sudah lama kami tidak mengunjunginya." jawab Karina tersenyum dengan nada lembut meski suaminya itu tak dapat melihatnya.
__ADS_1
Jo berdecak di seberang.
Jo : "Entah Kenapa aku tidak rela." keluhnya dan langsung mengubah panggilannya dengan video call.
Karina langsung menerimanya. Kini wajah mereka tampak di layar ponsel masing-masing. Karina tertawa melihat wajah cemberut suaminya yang merajuk seperti anak-anak saja.
Karina : "Mereka merindukan cucunya." ucap Karina tersenyum manis, membuat Jo meleleh dan tak mampu menolak keinginan istrinya itu.
Jo : "Kalau saja sekarang aku bersamamu. Aku pasti akan mendekap eratmu tak akan kulepaskan." ucapnya balas tersenyum.
Karina : "Terima kasih, sayang."
Karina :" Kau adalah suami terbaikku. Aku yakin kau pasti akan mengizinkanku." yakin Karina tersenyum senang.
Jo : "Aku memang tak mampu menolakmu baby, kau juga yang terbaik untukku." ucap Jo tersenyum.
Karina : "Aku mencintaimu." ucap Karina tersenyum getir, meski sesak di dadanya harus ditahannya karena mengingat dia akan meninggalkan pria itu.
__ADS_1
Jo :" Oh, seandainya kau ada di sisiku. Ciumanku pasti akan panas malam ini." ucap Jo vulgar, Karina malah terbahak-bahak di balik ponselnya.
Jo :" Seandainya kau hanya milikku." lirih Jo yang mampu didengar Karina, namun tampaknya Karina pura-pura tak mendengarnya.
Hatinya semakin sesak harus meninggalkan pria yang sudah mulai merajai hatinya ini.
Karina :" Sudah larut malam, istirahatlah!" ucap Karina lembut menahan sesak dadanya.
Jo :" Aku mencintaimu, baby. Only you. Forever." Karina tersenyum.
Karina :" Terima kasih sayang." Air mata Karina tak dapat dibendung lagi.
Dia langsung mematikan ponselnya tepat setelah ucapan terakhirnya. Dia tak akan mampu menatap pria yang sudah beberapa bulan ini menjadi suami sirinya. Dia akan jatuh, luluh lagi jika terlalu lama menatap matanya. Setelah ke rumah mantan mertuanya. Ya, perceraian Karina akhirnya ketuk palu, dan Jo sekarang adalah satu-satunya pria suaminya.
Sekarang dia sudah tak bersuami dua lagi. Karena sekarang dia adalah satu-satunya istri Jo. Namun saat dirinya sudah menyandang status sebagai satu-satunya istri Jo, takdir membuatnya harus rela meninggalkan pria yang masih menjadi suaminya kini. Karena ada orang lain yang memiliki prianya itu lebih dulu. Dan dirinya adalah orang ketiga yang hadir diantara hubungan mereka.
Karina rela jika itu demi kebaikan semua orang. Bahkan jika harus merelakan kebahagiaannya. Hidup berdua dengan putri kecilnya, hanya berdua saja.
__ADS_1
Keheningan malam itu menjadi saksi bagi Karina yang menangis pilu di dalam kamarnya, seorang diri. Dengan menyembunyikan wajahnya ke dalam bantal berharap segera reda tangisnya. Namun bukannya reda malah semakin kencang saja tangisnya. Namun mampu teredam dalam bantal di ranjangnya.
TBC