Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 73


__ADS_3

Anin membuka matanya perlahan menatap sekeliling kamar yang terasa asing. Dia sontak bangun dan terduduk langsung meringis memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.


"Anda sudah bangun nona?" Suara seorang pemuda membuat Anin menoleh.


"Dimana aku?" Bukan menjawab Anin malah bertanya pada pemuda itu.


"Anda ada di apartemen saya nona." Jawab pemuda itu berdiri tegak di depan ranjang menatap putri majikannya yang seperti orang linglung.


Anin tidak menjawab, dia kembali mengingat-ingat bagaimana bisa dia ada di tempat itu.


Flashback on


Setelah terduduk lama di balik pintu, Anin mulai gugup dan gemetar. Namun segera saja kedua jemari tangannya saling menggenggam erat untuk menghilangkan gemetaran tubuhnya. Dia mensugesti dirinya agar penyakit traumanya tidak muncul kembali karena rasa takutnya.


Aku harus berani, aku kuat, aku tidak takut. Aku sudah sembuh. Guman Anin terus-terusan di dalam toilet itu sendiri. Namun entah bagaimana tiba-tiba pandangan matanya gelap dan dia tergeletak pingsan di dalam toilet kampus.


Pemuda yang mengikuti Anin sejak berangkat tadi, terus-menerus menatap pintu toilet yang tertutup. Dia sempat berpikir mungkin putri majikannya itu sembelit hingga tidak keluar-keluar dari toilet. Namun kemudian dia mulai ada kejanggalan, karena tidak ada seorangpun yang keluar masuk. Dia pun mendekati toilet dengan hati-hati.


Dia terkejut saat di pintu toilet tersampir sebuah kotak persegi yang digantung di hendel pintu yang bertuliskan 'toilet rusak'. Pemuda itu sempat mengernyit heran karena dia yakin putri majikannya tadi masuk ke dalam toilet ini. Dia tidak pergi jauh-jauh atau sesaat.... pemuda itu tampak berpikir, dia tadi sesaat sempat teralihkan oleh seseorang yang bertanya siapa dirinya saat dia hanya berdiri tak jauh sambil menatap pintu toilet.


Bahkan dia sempat dituduh sebagai pria mes*m yang mengawasi toilet perempuan. Hingga perdebatan kecil terjadi. Akhirnya dengan seribu macam alasan diucapkan, pemuda itu bisa lolos dari tuduhan tersebut. Namun toilet itu terlihat sepi.


Pemuda itu segera membuang tulisan itu dan mendobrak pintu toilet.


Bruak


Pintu terbuka, pemuda itu terbelalak terkejut melihat putrinya majikannya pingsan dengan tubuh yang kotor dan berantakan.


"Nona..." Pemuda itu segera melepas jaketnya dan menutupi tubuh putri majikannya dan membopong tubuhnya ala bridal.


Pemuda itu membawa ke mobilnya dan mengendarainya dengan kecepatan sedang meski terburu-buru. Dia bingung akan membawa kemana.


"Ukh...Dingin.." Guman putri majikannya.


Pemuda itu memberhentikan sebentar mobilnya mencoba mendengar apa yang diucapkan putri majikannya.


"Nona, tenanglah! Saya akan membawa anda ke rumah sakit." Pemuda itu hendak tancap gas lagi namun segera ditariknya pergelangan tangannya.


"Jangan! Jangan ke rumah sakit! Please...!" Ucap putri majikannya bergumam kecil yang bisa didengarnya.


"Saya harus membawa anda kemana nona?" Tanya pemuda itu yang sudah tak dijawab lagi.


Hingga akhirnya dia tancap gas menuju apartemennya.


Flashback off


"Ini bubur dan teh hangatnya tuan?" Seorang perempuan paruh baya tiba-tiba masuk ke dalam kamar tersebut dan menyerahkan nampan berisi gelas dan mangkuk.

__ADS_1


"Terima kasih bibi." Jawab pemuda itu menerima nampan.


"Nona, sudah bangun?" Tanya perempuan paruh baya itu menatap ranjang terdapat Anin sudah duduk bersandar sambil mengingat kejadian sebelum dia pingsan.


Anin tak menjawab, dia hanya tersenyum paksa karena merasakan tubuhnya terasa nyeri semua.


"Silahkan dimakan nona, anda harus makan dan minum obat. Dokter bilang anda nyaris kambuh.. jadi... jangan terlalu banyak pikiran!" Jelas pemuda itu.


"Kau..." Anin menatap pemuda itu tajam.


Pemuda itu hanya terdiam menatap putri majikannya yang terlihat akan melampiaskan kemarahannya. Bibi yang paham situasi segera meninggalkan kamar dan menutup kembali pintu kamar.


"Iya nona." Jawab pemuda itu masih berdiri tegak di sisi ranjang layaknya seorang pengawal, sekarang dia tak berpakaian jas resmi.


Karena harus selalu berada di sisi majikannya. Dia terpaksa berpura-pura sebagai mahasiswa juga. Karena jaketnya sudah kotor yang tadi sudah digunakan untuk menutupi tubuh putri majikannya, dia pun kini hanya memakai celana jins robek-robek bagian lututnya dan kaos oblong ketat putih yang tampak pas di tubuh kekarnya. Dengan rambut potongan cepak semakin menampilkan kesan garangnya.


"Sudah berapa lama mengikutiku?" Tanya Anin menatap lekat, tajam dan dingin pada pemuda yang dikenalinya sebagai pengawalnya saat dulu dia selalu diikuti.


Pemuda itu terdiam tak berani menjawab. Dia seharusnya tidak boleh muncul di hadapan putri majikannya sesuai perintah tuan besar majikannya. Karena gadis yang dilindunginya diam-diam itu tak suka jika ada pengawasan di sekitarnya, kecuali di saat darurat. Dan sekarang dia terpaksa harus muncul karena terjadi hal hampir fatal pada gadis yang diawasinya.


Pekerjaannya yang selalu sempurna merasa ternodai karena putri majikannya sampai terbaring sekarang mesti tidak apa-apa. Dia sekali lagi pasti akan mendapat hukuman dari tuan besarnya.


Pemuda itu masih terdiam tak menjawab.


"Makanlah makanan anda nona!" Pemuda itu hendak keluar dari kamar.


Padahal dia hanya sekali memperkenalkan diri pada putri majikannya itu saat awal bekerja bersama tim keamanan yang ikut mengawal Anin. Dia kira putri majikannya itu tak akan mengenalinya karena terlalu banyaknya pengawal di sampingnya.


"Aku tak akan bertanya jika kau tak mau menjawab. Kau sudah melaporkan kejadian hari ini pada Daddy?" Pemuda yang dipanggil Zian itu berbalik menatap Anin yang masih menatapnya lekat.


"Tuan besar sedang perjalanan dinas selama satu minggu. Mungkin baru dua hari ke depan tuan akan kembali pulang. Saya terpaksa harus menundanya untuk melaporkan pada tuan besar." Sesal Zian menundukkan kepalanya merasa bersalah karena merasa gagal melindungi Anin.


Dia sudah siap akan menerima resikonya. Bahkan dipecat sekalipun.


"Jangan katakan!" Zian yang sudah menunduk merasa bersalah dan putus asa dengan kegagalannya sontak mendongak menatap wajah Anin yang menatapnya penuh harap. Zian menatapnya dengan tatapan penuh rasa bersalah.


Gajinya tinggi, pekerjaannya juga tidak sepele. Namun dia tak mau ada kesalahan. Dia juga sudah menegaskan pada dirinya sendiri. Apapun konsekuensinya akan ditanggungnya. Paling parah dia akan kehilangan nyawa, lebih ringannya kehilangan pekerjaannya alias dipecat.


"Maaf nona, saya tidak bisa." Sesal Zian menundukkan kepalanya lagi.


Anin beranjak dari ranjang mendekati Zian, lagi-lagi Zian dibuat terkejut oleh tindakan Anin dan segera membantunya karena hampir sempoyongan saat berdiri.


"Tidurlah nona, anda harus banyak istirahat!" Titah Zian penuh intimidasi dengan tatapan penuh permohonan.


Dia akan merasa bersalah lagi jika Anin pingsan lagi.


"Turuti dulu apa kataku!" Pinta Anin penuh permohonan.

__ADS_1


"Tapi saya harus menceritakan kejadian yang anda alami secara detail saat melapor pada tuan besar." Jelas Zian menyesal karena tak bisa menuruti keinginan putri majikannya.


"Cari cerita lain atau alasan lain, aku tak mau masa-masa kuliahku diikuti terus oleh kalian. Traumaku pun sudah sembuh. Aku pingsan hanya karena aku lapar memang saatnya jam makan siang kan? Tidak.. tidak.. aku tidak pingsan, hanya tertidur karena mengantuk." Jelas Anin menatap Zian penuh harap.


Zian hampir saja tersenyum saat putri majikannya itu bicara.


"Tapi laporan pemeriksaan dokter mengatakan kalau nona mengalami shock mesti tidak parah." Jawab Zian yang membuat dirinya memang tak bisa berbohong.


Anin menghela nafas kesal, dia harus mencari cara agar kebebasannya tidak terenggut lagi.


Grep...


Zian terkejut lagi saat Anin menarik jemari tangannya dan digenggam dengan kedua jemari tangan Anin. Sesaat wajah Zian memerah namun segera ditariknya namun Anin malah menggenggamnya terlalu erat dan menangkupkannya diantara dada Anin yang menatapnya penuh permohonan.


"Aku .. aku yang akan mengatakannya pada Daddy .. Okay?" Ucap Anin penuh permohonan.


"Nona... itu... tolong lepaskan dulu tangan saya." Zian bisa saja menarik jemari tangannya dengankl kuat, namun dia tak ingin menyakiti dan membuatnya tersinggung karena berbuat kasar.


"Jawab dulu pertanyaanku!" Titah Anin penuh intimidasi menatap Zian tajam.


"Saya akan usahakan, tapi saya tidak bisa berjanji. Maaf nona! Itupun karena keteledoran saya dalam menjaga nona. Saya pantas disalahkan." Sesal Zian menundukkan kepalanya merasa bersalah dan menyesal.


Anin melepas jemari tangan Zian perlahan merasa sia-sia bujukannya pada pengawal sedisiplin Zian. Zian memang sulit dibujuk dan diprovokasi sejak dulu. Bahkan dia sangat kesal pada Zian karena terlalu jujur dan mendetail saat laporan pada Daddy Jo. Itulah sebabnya yang membuat Anin mengingat dan mengenal nama Zian.


Dia pengawal yang terkenal dengan kedisiplinan, kejujuran dan kesempurnaannya dalam bekerja. Anin memberengut kesal memalingkan pandangannya ke sembarang arah di kamar utama apartemen itu.


"Makanlah nona dan minum obat anda. Saya akan menunggu nona di luar!" Pinta Zian.


"Suapi aku!" Titah Anin tegas. Zian tercengang mendengar permintaan sang nonanya.


"Tapi nona..."


"Ini perintah, kau mau membantahku!" Ucap Anin tajam dan tegas menatap Zian yang kehilangan kata-kata.


Perintah, ini perintah itu adalah kata-kata yang terpatri diotaknya selama pekerjaannya sebagai pengawal. Apapun yang diperintahkan oleh majikannya baik itu hal buruk atau baik dia akan melakukannya dengan sempurna. Namun sekarang, tubuhnya seolah refleks otomatis langsung mengangguk dan mengiyakan keinginan tuan putrinya.


Zain tampak menghela nafas berat, baginya ini... adalah permintaan sulit untuknya, lebih baik dia diperintahkan untuk melakukan pekerjaan berat yang menggunakan tenaga. Tapi untuk hal seperti ini dia ... sedikit ragu.


"Kau tak mengikuti perintahku!" Tegas Anin menatap Zain tajam dan dingin.


Sebenarnya dia hanya pura-pura marah padanya. Dia sungguh kesal karena permintaannya ditolak dengan alasan tak ingin menodai kembali kesempurnaan pekerjaannya. Anin tak sepenuhnya menyalahkannya namun dia juga kesal karena permintaannya tidak dituruti.


Zain pun mulai menyuapi tuan putrinya dengan telaten meski dadanya bergemuruh kencang menahan kegugupannya. Dia baru sedekat ini dengan seorang wanita atau gadis manapun selain ibunya. Didikan sebagai seorang tentara di masa lalu membuatnya lupa bagaimana sikapnya saat berdekatan dengan seorang wanita yang kenapa membuat jantungnya berdetak lebih cepat.


Padahal saat berdekatan dengan istri tuan besarnya dia tak seperti itu. Atau pada gadis-gadis kampus yang mendekatinya dan merayunya saat dia diam-diam mengawasi tuan putrinya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2