Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Kemurkaan seorang ayah


__ADS_3

Ken memegang pipinya yang terasa panas dan memerah. Ken hanya diam membiarkan orang tuanya melampiaskan kemarahannya. Ken menatap mama Ken yang menangis tersedu di pelukan papanya.


"Apa yang akan kita katakan nanti pada orang tua Karina sayang." lirih mama Ken yang masih bisa didengar Ken.


Ken sendiri merasa tertohok saat mengingat pesan ibu Karina untuk menjaganya apapun yang terjadi. Namun sekarang apa yang terjadi, dia malah menyia-nyiakannya. Dan bahkan dia juga menyia-nyiakan putri mereka satu-satunya.


Ken juga sudah tak menemuinya dan putrinya sejak dia terakhir bertemu menyampaikan tentang perceraiannya kala itu. Setelah itu Ken tak pernah mencari tahu bagaimana kabar mereka. Bahkan Ken lupa pada mereka dan nafkah putrinya, dia juga tak ingat lagi kapan mengirimkan transferannya. Sungguh dia sangat merasa bersalah.


Dia pantas mendapatkan perlakuan buruk dari orang tuanya. Kalau saja orang tua Karina masih hidup. Ayah Karina yang seorang tentara pasti akan menembak mati dirinya. Ken terduduk di sofa menyesali kesalahannya. Kedua tangannya mengusap wajahnya kasar.


Dia terlalu dibutakan rasa cintanya pada Lena hingga melupakan dua nyawa yang masih menjadi tanggung jawabnya. Ken merasa berdosa.


"Semua sudah terlanjur." jawab papa Ken menatap Ken tajam.


"Seharusnya aku mengangkatnya sebagai putriku dari pada sebagai menantuku pa.." ucap mama Ken terisak.


"Sekarang dimana Karina pa, dimana dia?" tanya mama Ken memegang kemeja suaminya.


"Orang papa melihat rumah Karina kosong. Dan sepertinya sudah lama penghuninya meninggalkan rumah itu." jawab papa merasa bersalah.


"Apa maksud papa? Rumah kami kosong? Kalau tidak disana dimana mereka pa?" bukan mama Ken yang bertanya tapi Ken yang malah terkejut mendengar tentang rumah lama mereka kosong tak berpenghuni.


"Kenapa kau baru menanyakan sekarang? Kemana saja kami selama ini hingga tak tahu dimana mereka? Jangan-jangan kau juga tak menafkahi putrimu...?" wajah khawatir papa Ken semakin murka saja saat melihat putranya hanya terdiam tak menjawab yang artinya tebakannya adalah benar.


"Dasar pria breng*sek. Berani sekali kau menyia-nyiakan mereka. Meski kau sudah tak menafkahi Karina seharusnya kau menafkahi putrimu, cucu kami." tamparan berkali-kali mampir kembali di wajah Ken karena kemurkaan sang papa, Ken pun tak melawan dia hanya menerima semua perlakuan papanya karena merasa pantas didapatkannya." Kau benar-benar breng*sek Ken, papa tak pernah mengajarimu menjadi pria breng*sek. Papa sungguh malu punya anak sebreng*sek dirimu." papa Ken mencekal kerah kemeja Ken yang hanya diam menerima.

__ADS_1


Mama Ken menjerit histeris melihat suaminya murka, mama Ken berulang kali memisahkan mereka dan berusaha meredakan kemarahan suaminya, bukan karena Ken tapi karena mama Ken takut penyakit suaminya kambuh lagi.


Mama Ken setuju putranya mendapatkan tamparan itu. Dia begitu bodoh menyia-nyiakan istri sebaik Karina, selembut dia, sepenurut dia, sepatuh dia dan segala-galanya.


"Maafin Ken pa, ma. Maaf..."


"Kau kira dengan kata maaf dapat mengembalikan semua. Hanya karena ego rasa cinta telah membutakan mata hatimu Ken..." teriak papa Ken yang sudah terlihat ngos-ngosan dan nafas memburu.


Dan tiba-tiba papa Ken memegang dadanya kesakitan dan pingsan. Mama Ken kembali menjerit histeris melihat apa yang dicemaskan terjadi.


"PAPA..."


"PAPA..."


teriak Ken dan mamanya bersamaan segera menghampiri papanya.


***


Kini nada suara terasa datar tanpa ekspresi. Ken hanya mengangguk dan meninggalkan kamar perawatan VVIP papanya.


Setelah pingsan, mang Saleh langsung menyiapkan mobil dan membantu Ken mengangkat tubuh majikannya yang pingsan. Semua orang termasuk pelayan yang ada di rumah itu bingung, panik dan cemas melihat majikannya pingsan. Dan tak sampai setengah jam, mereka sudah tiba di rumah sakit disambut para perawat yang sudah dihubungi Ken untuk bersiap.


Dokter dan perawat yang sudah siap siaga langsung mendorongnya ke ruang UGD untuk diperiksa. Tak sampai satu jam, dokter keluar dari ruang UGD memberikan kabar baik kalau papa Ken sudah baik-baik saja. Dan untungnya segera ditangani hingga tidak terlambat.


Dan disinilah mereka sekarang, di ruang perawatan VVIP dengan mama Ken terus menggenggam erat jemari tangan suaminya yang terbaring lemas dan mengoceh memberi semangat pada suaminya agar segera bangun.

__ADS_1


***


Pagi hari sebelum berangkat ke proyek, Ken mampir ke rumah sakit dengan bi Atun ikut untuk membawakan apa saja yang diminta majikannya. Begitu pintu dibuka, papa Ken langsung melengos tak mau menatap Ken.


Papa Ken sudah terlanjur sakit hati. Mama Ken meski masih menjawab ucapan Ken namun tak pernah memandang putranya itu secara langsung, dia selalu menghindar bertemu mata dengan putranya itu.


"Maaf pa, ma... Maafkan Ken... Ken salah..." Ken bahkan berlutut di sisi ranjang papa Ken, matanya menitikkan air mata penyesalan.


Namun kedua orang tuanya tetap membisu tak menggubris ucapan putranya.


"Pa, ma... tolong maafkan Ken. Ken tahu Ken salah, semua sudah terlanjur pa, ma. Ken tak pernah mencintai Karina sebagai perempuan pa, ma. Ken hanya menyayangi Karina sebagai adik. Tidak lebih. Ken mencintai Lena pa, ma." papa dan mama Ken memejamkan mata kecewa mendengar ungkapan hati putranya.


Mereka sungguh semakin merasa bersalah atas paksaan mereka dulu pada Karina untuk bersedia dijodohkan dengan Ken. Karena mereka tahu Karina sangat mencintai Ken. Meski mereka tahu Ken masih belum mencintai Karina sebagai seorang wanita, mereka yakin kalau lambat laun keduanya pasti akan saling mencintai karena hidup bersama.


Namun perkiraan mereka salah, Ken meninggalkan Karina dan putrinya hanya karena bertemu dengan cintanya. Kalau tahu hal ini akan terjadi, lebih baik mereka dulu mengadopsi Karina sebagai putrinya saja daripada dijadikan menantu namun harus disakiti oleh putra mereka.


Dan kini mereka akhirnya sadar, terakhir kali Karina mengunjungi mereka bersama putrinya adalah untuk berpamitan dengan mereka secara langsung meski tak mengatakan apapun. Saat itu mama Ken seharusnya menyadari ada yang salah pada pasangan itu.


Namun senyum Karina yang terlihat dibuat-buat membuat mama Ken menepis pendapat yang dianggapnya tak beralasan. Hingga mama Ken menutup mata untuk tidak terlalu mencampuri urusan rumah tangga mereka. Dan kini, mereka tak tahu kemana kepergian keduanya. Apa mereka baik-baik saja, apa mereka hidup nyaman dan aman, apa mereka bisa bertahan bahkan Ken lupa menafkahi putrinya.


Mereka sungguh sangat-sangat merasa bersalah pada kedua orang tua Karina yang sudah meninggal juga pada Karina dan cucunya.


"Kami tak akan pernah memaafkanmu sebelum membawa kembali putri kami." ucap papa Ken masih membelakangi Ken tak mau menatapnya.


TBC

__ADS_1


Makasih sudah membaca 🙏🙏


Makasih juga yang sudah memberi dukungan 🙏


__ADS_2