
Bagh bugh bagh bugh
Bogeman mentah mendarat pada wajah Jo bertubi-tubi dari Bram. Jo hanya diam tak menjawab ataupun membalas balik bogeman mentah Bram. Dia siap menerimanya bahkan apapun akan diterimanya jika itu bisa mengembalikan istrinya padanya.
"Kau tahu... saat pertama kali aku tahu Karina hamil aku ingin memukul pria yang berani-beraninya meninggalkannya saat sedang hamil. Dan kau tahu.... saat sampai aku melihat karena sampai akhir pun, tak ada pria yang datang untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Saat itu juga aku berjanji, jika aku melihat pria breng*sek itu. Aku akan memukulnya sampai babak belur, aku tak peduli siapapun itu. Ah, shit... tanganku sakit. ucap Bram dengan umpatan dan nafas yang memburu, sedangkan Jo sudah terkapar tak berdaya di lantai ruang kerjanya hanya telentang di lantai sambil meringis menahan sakit pada wajah dan perut yang dijadikan samsak Bram.
"Dan kau tahu... saat aku melihat wajah si kembar begitu mirip denganmu, aku sempat ragu untuk percaya, bukan ragu tapi aku menolak percaya kalau mereka anakmu. Namun begitu aku enggan mencari tahu siapa pria yang benar-benar tega meninggalkan seorang wanita hamil tanpa didampingi suaminya." lanjut Bram lagi masih didiamkan Jo, dia merasa bersalah dengan cerita Bram. Dia benar-benar pria breng*sek dan ayah yang buruk untuk anak-anaknya.
"Semuanya sudah dipersiapkan, seminggu bersiaplah! Kau sungguh bodoh dan terlalu lambat. Seharusnya kau berjuang sampai akhir, bukan putus asa seperti orang bodoh." Bram melempar contoh undangan yang diambilnya tadi di tempat pemesanan undangan tanpa sepengetahuan Karina.
Bram masih berusaha mengatur nafasnya. Jo melihat undangan itu dan melihatnya dengan seksama. Undangan itu ada nama Karina dan... namanya...
Oh bodohnya aku, seharusnya aku tahu Bram sangat menyayangiku seperti adiknya sendiri. batin Jo berusaha duduk menatap Bram yang sudah mulai bernafas normal.
"Jangan lengah, atau aku benar-benar melakukannya!" ucap Bram meninggalkan ruang kerja.
"Terima kasih brother..." seru Jo tersenyum bahagia meski wajahnya terlihat babak belur.
***
Cklek
Pintu ruang kerja terbuka, wajah Karina menyembul mengintip ruangan itu. Dia tak tahu apa yang terjadi pada kedua pria yang masih sepupu itu. Bram hanya mengatakan kalau dirinya disuruh masuk dan juga membawakan kotak P3K. Karina tak bicara apapun hanya mengangguk mengiyakan.
"Astaga... Jo..." seru Karina saat melihat wajah Jo sudah babak belur penuh luka namun anehnya Jo tersenyum.
__ADS_1
Bagaimana mungkin orang yang sudah dipukuli tersenyum senang. Karina mendekati Jo dan mengelus luka-luka memar itu. Pipinya merah, rahangnya biru, darah keluar dari sudut bibir dan bibirnya robek.
"Kau tak apa? Pasti sakit sekali ya?" cemas Karina menatap Jo penuh kecemasan dan ketakutan.
"Demi bisa bersamamu aku rela." Jo mengecup tangan Karina yang menyentuh pipinya lembut.
"Maaf... maafkan aku..."
"Ssstt..." Jo menutup bibirnya dengan jarinya.
"Aku pantas mendapatkannya karena menelantarkanmu dan anak-anak." ucap Jo. Karina menangis meski tak mengeluarkan suara, namun terlihat dari air matanya yang menetes.
"Kau mau menerimaku kembalikan? Kau masih mau menjadi istriku kan? Ibu dari anak-anakku?" bisik Jo lembut terdengar mesra di telinga Karina yang memerah. Karina hanya mengangguk malu-malu.
"Terima kasih, baby... I love you..." belum sempat Karina menjawab, bibir Jo sudah menempel di bibirnya.
"Sakitkah?" Jo hanya mengangguk mengecup lagi telapak tangan, punggung tangan dan jari-jemarinya satu persatu dengan sayang.
***
Bram terduduk di mini bar panjang yang ada di kamar pribadinya di mansion itu sambil meneguk soda. Ya, setelah mengenal Karina, Bram mengurangi kebiasaannya minum alkohol. Dia lebih sering minum soda. Kamar yang sudah lama tak ditempati karena dia sering pulang ke apartemennya.
Dia tak pernah pulang ke mansion orang tuanya jika tak ada acara khusus atau untuk memenuhi undangan sang mama. Bram meneguk lagi soda nya sudah habis dua botol. Bram lagi-lagi mengusap air matanya yang turun dengan sendirinya.
"Hahaha..." Bram tertawa getir mengingat dirinya yang terlalu bodoh.
__ADS_1
Saat dirinya memutuskan untuk mengikat Karina, dia benar-benar tak sanggup melihat saudaranya kesakitan lagi karena terpisah dari istri yang dicintainya. Dan sekarang Bram merasakan sakitnya Jo saat terpaksa ditinggalkan oleh istrinya karena perjodohan orang tuanya.
Bagaimana pun juga dia sudah sangat mencintai Karina. Setelah kematian istrinya, hanya Karina yang mampu membuka hati terdalamnya. Bahkan perasaannya pada Karina lebih dalam dan lebih besar daripada istrinya yang sudah meninggal namun Bram tak menyesali hal itu.
Seharusnya dia dulu mendekati gadis cupu itu sejak masih kuliah dulu. Tapi dia terlalu terobsesi pada Lena yang malah mencintai pria bodoh itu, Ken, Keanu.
Bram meneguk lagi minuman sodanya. Dia ingin menyendiri dulu menata hatinya yang sudah morat-marit setelah mencoba merelakan Karina pada pria breng*sek itu. Kenapa Bram menyebutnya begitu, karena dia begitu bodoh dan tak mencoba berontak pada pamannya yang juga ayah Jo untuk menolak perjodohannya saat itu.
Jika saja saat itu Jo lebih tegas, tentu hatinya tak akan terpaut pada Karina saat ini, dan keduanya tak akan melalui drama yang berkepanjangan ini.
TBC
udah ya udah 2 episode
Besok lagi..
Dan lihat dulu, siapa tahu ntar malem ada bonus update....
Oh ya beberapa episode lagi menuju end season ya..
Happy reading
Jangan lupa tinggalkan jejak
Beri like, rate dan vote nya
__ADS_1
Makasih yang masih setia membaca dan mendukung 🙏🙏