Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Happy wedding


__ADS_3

Hari-H pernikahan, setelah dua hari satu malam mereka menginap di rumah lama Karina. Mereka kembali ke ibukota. Saat di desa, mereka juga mengunjungi makam kedua orang tua Karina untuk meminta restu. Itulah sebabnya Karina tak mau menjual atau menyewakan rumah sederhana yang penuh kenangan dengan kedua orang tuanya.


Rumah itu juga bisa dijadikan pelarian jika dia merindukan orang tuanya. Semua persiapan sudah siap, Karina menatap dirinya di depan cermin kamarnya. Dia tampak cantik dan anggun dengan gaun kebaya putih modern pilihan ibu mertuanya. Untuk urusan gaun pengantin sampai baju kebaya saat ijab qobul, Karina memang memasrahkan pada ibu mertuanya yang tampak antusias menyiapkannya.


Kebaya putih modern itu begitu pas melekat ditubuh mungilnya. High heels yang menjadi pasangan kebaya itu pun terlihat pas untuk menutupi tubuhnya yang pendek dan mungil itu agar bisa bersanding sempurna di sisi suaminya Jonathan yang tinggi itu.


Meski itu bukan kali pertama pernikahan Karina. Namun kegugupan melandanya, dada Karina terasa berdecak kencang saat waktu menunjukkan kurang dari satu jam lagi ijab qobul di laksanakan.


"Mbak..." panggil Maya sambil mengetuk pintu kamar Karina. Karina tersentak dari lamunannya.


"Ya May..."


"Jemputan sudah datang mbak, ayo berangkat!" ajak Maya saat pintu kamar Karina dibuka.


"Iya, ayo!" Karina menatap sekeliling rumahnya. Sepi.


"Dimana anak-anak?" tanya Karina seperti orang linglung saja.


Maya menepuk jidatnya. Sudah dari semalam Karina menanyakan hal itu. Entah karena gugup dengan pernikahannya atau entah dirinya tak sadar.


"Ya ampun mbak, sudah berapa kali mbak menanyakannya? Anak-anak kan menginap di mansion orang tua mas Jo." jawab Maya tersenyum mulai masuk ke dalam mobil setelah Karina masuk juga.


"Begitukah?" jawab Karina dengan tubuh masih menegang.


"Mbak gugup ya?" tanya Maya memegang kedua tangan Karina yang terasa dingin dan berkeringat.


"Kelihatan banget ya?" jawab Karina malah balik bertanya menatap Maya dengan wajah merona.


"Iya banget mbak."


"Entahlah May, rasanya berbeda dengan saat menikah dengan mas Ken dulu. Di sini, di dada ini berdetak begitu cepat dan kencang sampai aku gemetar May." ucap Karina menyentuh dadanya. Mobil sudah mulai melaju dengan kecepatan rata-rata.


"Itu artinya mbak begitu mencintai mas Jo sampai tak bisa dihitung seberapa besar perasaan mbak. Mbak pasti sangat mencintainya?"


"Iya May, aku sangat mencintainya, lebih dari diriku." Maya hanya tersenyum melihat Karina tersenyum masih sambil menyentuh dadanya yang makin berdetak.


Setelah keakraban yang dijalin keluarga kecil Karina, Jo menyarankan pada Maya untuk memanggilnya mas saja, rasanya aneh dipanggil tuan saat dirinya bukan lagi majikannya. Apalagi Maya juga memanggil Bram dengan sebutan mas juga dan Maya pun menurutinya.


***


Karina kini sudah berada di dalam kamar yang digunakan untuk merias Jo tadi. Acara pernikahan mereka digelar di gedung ballroom hotel milik keluarga Alensio. Karina menunggu di dalam kamar dan hendak bersiap untuk keluar setelah ijab qobul diucapkan.

__ADS_1


Saat terdengar suara sah yang menggema di ballroom hotel itu, dada Karina terasa lega.


Di sisi lain, Jo tampak lega dan mengucapkan syukur berkali-kali karena sekarang dia sudah resmi menjadi sepasang suami istri dengan Karina lagi. Apalagi sekarang pernikahan mereka disaksikan jutaan pasang mata dan media yang memang sengaja diundang oleh Jonathan karena dia ingin memperlihatkan pada dunia bahwa Karina sekarang adalah istrinya, ibu dari anak-anaknya, wanita yang dicintainya sampai maut memisahkan mereka.


Sejak menunggu di meja pengucapan ijab qobul Jo yang berbalut jas putih yang melekat sempurna di tubuh atletisnya itu tampak gagah dan menawan. Dan hal itu yakin dapat menarik para kaum hawa yang iri dengan Karina yang mendapatkan seorang suami tampan, kaya dan sangat dikagumi banyak wanita membuat mereka iri.


Jo terlihat gugup, namun saat pengucapan ijab qobul dengan satu tarikan nafas dia lancar mengucapkannya. Jo menunggu Karina yang sudah menjadi istrinya lagi itu untuk datang di sisinya.


***


Setelah ijab qobul dilaksanakan tanpa suatu halangan apapun. Resepsi pun digelar, resepsi pernikahan yang sangat mewah itu membuat Karina dan Jo terlihat bahagia di pelaminan, tampak senyum bahagia mengembang di wajah mereka.


Bram mendekati mereka untuk memberikan ucapan selamat dan restu untuk keponakannya yang bodoh itu, siapa lagi kalau bukan Jo. Jo yang sudah dianggapnya sebagai adiknya sendiri.


Yang bersanding dengan Karina, wanita yang masih saja merajai hatinya sampai saat ini. Namun dia harus berlapang dada untuk merelakannya demi melihat orang-orang yang disayanginya bahagia.


"Mas Bram..." ucap Jo menyalami dan memeluk tubuh pria yang sudah dianggapnya sebagai kakak itu.


"Selamat Jo.." ucap Bram tersenyum getir sambil membalas pelukan Jo ala lelaki.


"Makasih mas..." Jo tanpa sadar meneteskan air mata saat memeluk tubuh Bram.


Bagaimana pun juga Bram berperan aktif dalam hubungannya dengan Karina. Jo segera mengusap air matanya sebelum ada yang menyadarinya.


"Kalau Jo menyakitimu, larilah kepadaku! Akan kubawa kau jauh darinya tanpa dapat ditemukan olehnya." bisik Bram lirih di dekat telinga Karina yang dijawab senyuman manis dari Karina.


"Ya! Mas... aku tak akan pernah menyakiti istriku. Aku janji akan hal itu." bisikan Bram masih bisa didengar olehnya.


Namun dia tahu Bram hanya berusaha menggodanya. Bram hanya mengulum senyum melirik kearah Jo yang mulai emosi.


"Kau lihat kan, dia memang bodoh dan kekanakan." bisik Bram lagi membuat Karina tersenyum lembut melihat keakraban kedua pria yang masih saudara sepupu itu.


"Terima kasih mas." Karina memeluk tubuh Bram yang dibalas Bram juga, air matanya sempat menetes dan segera diusapnya.


"Semoga bahagia." Karina melepas pelukannya dan tersenyum sambil mengangguk mengiyakan.


Bram pergi meninggalkan pelaminan, dirasakan dadanya begitu sesak. Dia tak kuat lama-lama di dekat mereka. Bagaimana pun juga, masih tersisa cinta di hatinya untuk Karina. Bram tersenyum getir saat dirinya sudah bisa menyingkir dari kerumunan dan duduk di ruang merokok untuk memang sudah disiapkan.


Erika melihat semua itu, dia menghampiri putranya itu dan mengusap lembut pundak putranya. Bram tersentak melihat siapa gerangan yang memergokinya sedang bersedih itu.


"Mama..." Erika tersenyum lembut.

__ADS_1


"Kau memang putra mama yang tegar nak, kau telah melakukan hal yang benar." Bram terdiam dan langsung memeluk tubuh mamanya, wanita yang telah melahirkannya tiga puluh lima tahun lalu.


"Hiks...hiks... aku rela ma, aku ikhlas, aku hanya ingin mereka bahagia." bisik Bram lirih dalam isakan pelukan sang mama.


"Mungkin kalian belum berjodoh nak." Erika hanya mampu menepuk-nepuk punggung putranya sebagai penghiburan.


***


"Maaf tuan, dimana resepsi pernikahan dilaksanakan?" tanya seorang wanita yang terlihat terburu-buru dengan menggandeng tangan seorang putra mungkin berumur sekitar lima tahunan.


Bram yang sedang duduk di bangku taman depan gedung sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya mendongak, sontak dia langsung berdiri melihat wajah yang dikenalnya namun berbeda.


Bram mengernyit saat wanita itu menggandeng seorang pria kecil bule yang juga menatapnya polos. Bram kembali beralih menatap wanita itu.


"Karina..." ucapnya spontan, dan langsung merutuki kebodohannya dengan ucapan refleksnya.


"Anda mengenal kakak saya?" Bram yang mendapat pertanyaan itu sontak terkejut juga, Kakak? batin Bram bertanya-tanya. Pasalnya dia tidak pernah diberitahu perihal saudara Karina.


"Maksutmu?" tanya Bram.


"Ah, anda pasti sangat terkejut melihat saya jika anda mengenal kakak saya Karina. Perkenalkan saya Katrina, adik kembar Karina." ucap wanita memperkenalkan diri yang wajahnya sangat mirip dengan Karina, tentu saja karena mereka kembar identik.


"Oh ya, saya Bram... sepupu suami Karina." Bram menerima uluran tangan Katrina untuk perkenalan diri.


Bram sempat mengira kalau dia Karina, hanya saja rambutnya pirang dan tidak berhijab. Seharusnya Bram langsung tahu dia bukan Karina karena Karina memakai hijab. Sedangkan Katrina tidak.


Bram sendiri pernah melihat Karina dulu saat belum berhijab saat dia menjadi resepsionis di Kanada, awal pertemuannya dengan Karina dulu. Ah, dia menjadi kembali sentimentil jika mengingat masa lalu mereka.


"Maaf..." ucapan Katrina membuyarkan lamunan Bram.


"Oh, ayo! Biar saya antar!" tawar Bram yang diangguki Katrina.


Mereka pun berjalan beriringan menuju gedung resepsi pernikahan Jo dan Karina sambil berbincang-bincang akrab yang malah semakin membuat Bram galau karena melihat kemiripan wajah mereka namun watak mereka yang berbeda. Karina lembut dan malu-malu. Katrina humble, care dan sangat blak-blakan.


End


Yah, sudah ending deh...


Ditunggu extra part nya ya...


Beri selalu like, rate dan vote nya

__ADS_1


Makasih 🙏🙏


__ADS_2