
Anin muncul di meja makan setelah dirinya selesai membersihkan diri. Terlihat semua orang sudah bersiap di kursi masing-masing untuk makan malam. Anin pun duduk di kursi tempatnya. Terlihat Daddy, mommy dan ketiga adiknya, semua lengkap bahkan juga ada ayah Bram dan istri serta Bobby putranya.
Dan itu membuat Anin merasa ada yang kurang, namun dia ragu untuk bertanya pada orang-orang disitu. Anin menghentikan tatapannya pada Karina, menatap sebentar hingga membuat Karina sadar ditatap oleh putrinya.
"Kenapa sayang?" tanya Karina melihat Anin terdiam menatapnya penuh arti.
"Mommy.." panggil Karina lembut.
Membuat tatapan semua orang di meja makan melempar tatapan pada Anin. Anin yang menyadari tatapan itu menjadi ragu untuk bicara.
"Ada apa princess?" Jo menyela pembicaraan mereka bertanya pada Anin agar putri sambungnya itu jadi terbiasa padanya lagi.
"Ah, bukan apa-apa, tidak jadi." Jo menatap Anin terdiam.
Sepertinya dia bisa menebak apa yang ingin Anin sampaikan.
"Katakan princess, Daddy tak akan tahu jika kau tak mengatakannya." jelas Jo tersenyum selembut mungkin pada Anin.
"A.. aku... Bolehkah aku makan malam dengan papa?" tanya Anin ragu dan sedikit rasa takut menggelayutinya karena wajah Daddy nya sedikit berubah dingin.
Karina melirik suaminya yang belum bereaksi, menyenggol kaki suaminya dan membuat Jo tersentak sontak menoleh pada istrinya. Karina menatap dengan tatapan puppy eyes nya yang membuat Jo pun luluh.
"Tentu princess." jawab Jo tersenyum lembut, entah kenapa hatinya sedikit sakit hanya sedikit. Dia merasa tersinggung, mungkin?
"Benarkah Daddy?" jawab Anin antusias melihat Daddy nya tak marah lagi, bahkan mengizinkannya makan malam bersama papanya.
"Tentu. Apa kau ingin mengajak makan malam papamu bersama kami? Akan ku panggilkan?" tawar Jo ikut antusias melihat wajah bahagia Anin.
"Tidak, sebenarnya tadi kami janjian untuk makan malam berdua saja." jawab Anin.
"Oh, begitu ya. No problem. Baby, minta bibi untuk membawakan makan malam Anin bersama papanya!" titah Jo menatap istrinya.
"Okay honey." jawab Karina tersenyum, meski dia tahu suaminya merasakan sedikit tak rela yang mengganjal di dadanya. Karina tahu itu.
***
"Apa kita perlu mengakhiri perbincangan ini?" tanya Bram melihat Jo melamun saat mereka sedang berbincang di ruang kerja Jo setelah makan malam membahas tentang kasus Anin.
Yang sidang keduanya akan berlangsung besok. Jo masih terdiam, dia menatap kosong ke depan namun tetap tak merespon ucapan Bram.
"Jo..." panggil Bram lagi tetap belum direspon.
__ADS_1
"Jonathan." Jo tersentak, sontak menatap Bram yang menatapnya heran.
"Ah, sampai mana kita tadi?" tanya Jo pura-pura tak terjadi apapun.
"Lebih baik aku pulang dengan istriku." Bram hendak bangkit.
"Apa seperti ini rasanya dicampakkan putri kita?" pertanyaan Jo menghentikan gerakan Bram dan kembali duduk lagi di sofa.
"Apa ini soal Anin?"Jo menatap Bram lekat menuntut jawaban dari pertanyaannya tapi Bram malah bertanya.
Dan Jo yakin selama di meja makan, Bram juga menyimak percakapan mereka meski tidak ikut campur.
"Itu bukan mencampakkan Jo. Itu adalah perasaan bahagia mendapat perhatian dari papa kandungnya." jawab Bram membuat Jo mengernyit.
"Apa perhatian dan kasih sayangku tak cukup?" tanya Jo lagi keheranan dengan jawaban Bram.
"Bukan tak cukup. Itu lebih dari cukup. Tapi bagaimana pun juga Anin bukan putri kandungmu. Sebesar apapun perasaan sayangmu padanya, dia tetaplah seorang anak yang menginginkan perhatian dan kasih sayang dari papa kandungnya. Apalagi sejak kecil dia ditelantarkan olehnya. Kau pasti tahu jelas tentang itu." jelas Bram membuat Jo merenung.
"Lalu, apa yang harus kulakukan?" tanya Jo lirih entah kenapa dadanya sesak mengingat Anin lebih memilih papa kandungnya dari pada berkumpul dengan keluarganya yang sekarang.
"Berdamailah dengan masa lalu. Maafkan Ken!" saran Bram yang langsung dipelototi Jo.
"Kenapa? Itukan dulu, toh sekarang kau sudah membahagiakan istri dan anaknya sekarang..." Jo melotot pada Bram, "Maaf, mantan istrinya maksudku." Bram meralat kata-katanya.
"Bagaimana kalau mereka tetap bersatu dan tetap digantung statusnya atau bahkan dijadikan istri keduanya?" ucap Jo memberondongi pertanyaan.
"Ayolah Jo, itu masa lalu. Toh sekarang kau menjadi suaminya. Membahagiakannya, kau tidak menyesal kan menikahi istrimu?" goda Bram.
"Tentu saja. Aku malah bahagia pria itu dengan bodohnya akhirnya melepaskan istrinya. Jadi, aku bersyukur dia melepasnya." Jawab Jo emosi.
"Binggo. Itu dia, kau malah bersyukur dia bercerai dari suaminya dan menjadikannya sebagai istrimu. Harusnya kau ingat itu saja! Dia telah berjasa melepas istrinya untukmu. Itu mungkin bahasa kasarnya."
"Apa maksudmu aku seorang pebinor?" tanya Jo tak terima.
"Kau yang mengatakannya, aku tidak."
"Hei, bukan seperti itu. Dia yang lebih dulu menggantung statusnya dan menikahi wanita lain. Dan beruntung aku menemukannya dan menjadikannya istri siriku, yah... walaupun aku menjadi suami keduanya." ucap Jo membuat Bram tersenyum lucu.
"Lalu, sekarang apa masalahmu dengan mantan suaminya, yaitu papa Anin?" tanya Bram lagi membuat Jo terdiam.
"Tatapan matanya!"
__ADS_1
"Tatapan matanya? Ada apa dengan tatapan matanya?" tanya Bram tak mengerti.
"Tatapan matanya menyiratkan begitu besar rasa cintanya pada istriku." jawab Jo arogan menatap Bram tajam.
Deg
Dada Bram tiba-tiba berdesir, dia merasa salah tingkah yang bisa dikendalikannya.
"Ingin sekali aku mencongkel matanya yang menatap istriku seperti itu. Tapi... istriku pasti tak akan terima." ucap Jo lemas, dia kembali mendudukkan dirinya di sofa depan Bram.
"Bagaimana tanggapan istrimu sendiri?" tanya Bram mengalihkan desiran dadanya.
"Dia hanya bilang kalau cintanya sekarang hanya untukku, selamanya. Sampai maut memisahkan kami." jawab Jo melow membayangkan kemesraan mereka.
"Kalau sudah begitu, kenapa kau mempermasalahkan papa Anin. Kau kan sepercaya itu kan pada istrimu. Ya sudah, kalau kau tak macam-macam, istrimu pasti akan tetap setia padamu." jawab Bram mengedikkan kedua bahunya.
Mendengar jawaban Bram membuat Bram mengingat kembali kejadian di ibukota bersama wanita murahan, sekretaris kliennya itu.
Huh, kenapa aku malah mengingat wanita ja*lang murahan itu. Kalau kejadian dengan Annie waktu itu berlanjut, apa aku berarti mengkhianati istriku? Tidak... tidak... aku sudah berusaha menghindarinya, bahkan aku rela merugi jika pihak mereka tak terima dan membatalkan kerja sama kami. batin Jo sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kenapa? Kau merasa pernah mengkhianatinya?" jleb, pertanyaan Bram terasa menohoknya Jo.
Jo terdiam tak menjawab, membuat Bram mengernyit melihat diamnya Jo.
"Jadi aku benar? Kau mengkhianati istrimu yang bahkan sekarang sedang hamil anak keempatmu?" teriak Bram mendekati Jo sambil menarik kerah baju Jo.
"Bukan seperti yang kau pikirkan. Hanya saja saat kemarin aku di ibukota, aku melihat teman kampusku saat di London." jelas Jo menatap Bram.
"Lalu?" Jo menceritakan semua kejadian di ibukota perihal keja*langan Annie padanya.
"Seharusnya kau hajar wanita seperti itu." Bram malah berteriak kencang saat Jo mengakhiri ceritanya.
"Kenapa kau yang marah?" tanya Jo heran menatap Bram yang murka.
"Huh, aku juga paling benci dengan wanita seperti itu. Aku juga pernah mengalami saat di kampus dulu. Dan itu juga dengan Ken, brengsek itu." amarah Bram juga memuncak mengingat kejadian beberapa tahun lalu saat di kampus dan itu lagi-lagi ada kaitannya dengan Ken, mantan suami Karina juga papa Anin.
"Benarkan? Pria itu brengsek kan? Dia selalu ada dimana-mana." kompor Jo.
"Kau benar." keduanya sama-sama terbakar emosi.
TBC
__ADS_1