
Tok tok tok
Suara pintu kamar diketuk, Karina yang sudah bersiap untuk makan malam keluar menghampiri pintu kamar yang ternyata ada Maya.
"Nyonya, makan malam sudah ditunggu non Anin." jelas Maya, Karina hanya menatap wajah Maya yang menunduk menunjukkan kesopanan.
"Ya." jawab Karina dingin, ikut keluar dari kamar menuju meja makan mendekati putrinya yang sudah bersiap untuk makan.
"Duduklah Maya!" titah Karina yang melihat Maya hanya berdiri diam setelah menyiapkan makanan di meja makan.
"Terima kasih nyonya... saya..."
"Jangan membantah, duduklah! Kalau kau menolak, pergilah!" ucapan sarkas Karina membuat Maya mau tak mau menuruti perintah majikannya.
Dia duduk di depan kedua majikannya yang terhalang meja makan.
Mereka makan malam dengan hikmat tanpa ada suara di meja makan itu.
***
Karina melangkahkan kakinya menuju gedung kantor perusahaan tempatnya bekerja setelah memarkir mobilnya di basemen gedung. Setelah sehari kemarin izin tidak masuk, membuat Karina merasa bersalah.
Pasalnya dirinya sudah terlalu sering izin untuk urusan pribadinya. Meski atasannya Indra tak mempermasalahkan hal itu, namun dirinya tetap tau diri bahwa dirinya hanya seorang karyawan rendahan yang sudah bekerja lebih dari tiga tahun.
"Mbak Karin!" seru Bella yang muncul bersamaan di basemen gedung.
"Bella." sapa Karina menoleh menatap Bella yang juga muncul dari basemen gedung. Mereka pun berjalan beriringan menuju gedung kantor.
"Mbak kemarin kemana? Apa ada masalah sampai gak masuk?" tanya Bella cemas.
"Tak terlalu penting sih." jawab Karina cuek.
"Setelah kita menghadiri pertunangan bos besar, mbak Karin menghilang begitu saja, sampai besoknya gak masuk kantor." cemas Bella menggandeng lengan Karina manja.
"Maaf, terlalu sibuk aku lupa memberi kabar padamu." jawab Karina merasa bersalah.
__ADS_1
"Aku kan cemas, aku sudah menghubungi ponsel mbak Karina tapi gak aktif."
"Maaf... "
"Oh iya mbak, pak Indra dipindahkan sejak kemarin." Karina spontan menoleh menatap Bella tak percaya.
"Serius?"
"Hu um... penggantinya baru hari ini masuk. Pak Indra dipindahkan ke perusahaan pusat, katanya ada masalah gawat disana yang butuh ditangani pak Indra yang juga sebagai sepupu jauh bos kita." Karina melongo tak percaya, ucapan Jonathan benar-benar terbukti tentang akan memindah tugaskan Indra agar tak semakin mendekatinya.
Pria itu sungguh membuktikan ucapannya. batin Karina tersenyum simpul.
"Kenapa mbak senyum-senyum, seneng banget ya, pak Indra dipindahkan. Biar gak digodain lagi." goda Bella, membuat Karina gelagapan.
"Ih, apaan sih..." ucap Karina tersenyum senang.
"Iyakan... iyakan..." goda Bella, hingga lift yang mereka naiki sudah sampai di ruangan mereka.
"Karina..." panggil Indra mendekati meja kerja Karina yang hendak duduk namun diurungkan.
"Ah, boleh kita bicara sebentar?" pinta Indra memelas menatap Karina penuh harap. Bella langsung menuju ke mejanya tanpa menggangu kedua orang itu.
"Tapi..."
"Hanya sebentar." sela Indra cepat. Karina mengangguk dan mengikuti langkah Indra menuju tempat istirahat karyawan yang saat ini masih sepi karena memang waktu bekerja tinggal lima belas menit lagi.
"Ada apa pak?" tanya Karina setelah duduk berhadapan di meja. Indra segera meraih tangan Karina yang berada di atas meja.
"Pak..." sentak Karina terkejut dengan aksi Indra yang memegang tangannya.
Karina hendak menarik tangannya namun tak bisa karena terlalu erat Indra menggenggamnya.
"Pak..." Karina menatap sekeliling ruangan itu takut ada siapapun yang memergoki mereka.
"Karin, pernyataan saya tempo hari serius. Maukah kau menikah denganku?" tanya Indra sambil sebelah tangannya mengulurkan kotak beludru warna merah hati yang terbuka berisikan cincin berlian yang tidak murah.
__ADS_1
"Ma... maksud anda apa pak?" tanya Karina gugup, masih tak bisa menarik tangannya dari genggaman erat tangan Indra.
"Aku benar-benar serius ingin menjadikanmu istriku. Maukah kau menikah denganku? Aku janji akan memberikan kebahagiaan padamu." ucap Indra lagi.
"Pak... bapak tahu sendiri saya wanita bersuami, bagaimana bapak berniat menikahi saya. Bapak ingin menjadi pebinor?" ucap Karina tak suka.
"Kalau itu yang harus saya lakukan untuk mendapatkanmu saya rela dan tak peduli hal itu." ucap Indra yakin. Karina tersenyum mengejek.
"Maaf pak, saya mencintai suami saya." jawab Karina dingin menarik tangannya paksa dan terlepas dari genggaman tangan Indra.
"Saya tahu hubunganmu dengan suamimu tidak baik, bahkan suamimu sudah menikah lagi, makanya saya berani mengatakan hal ini." jawab Indra.
"Apapun yang terjadi dengan rumah tangga saya bukan urusan bapak. Dan terlepas dari masalah apa yang terjadi pada rumah tangga saya, maaf saya menolak bapak."
"Aku tetap tak akan menyerah Karina."
"Terserah bapak, itu perasaan-perasaan bapak. Saya tak punya kuasa untuk melarang perasaan bapak. Namun saya sungguh tak memiliki perasaan apapun pada bapak, selain hubungan sebagai atasan dan bawahan." bantah Karina lagi hendak berdiri dari duduknya.
"Suamimu sudah merebut istriku." ucapan Indra mampu membuat Karina mengurungkan niatnya untuk pergi.
Sungguh fakta itu sedikit mengejutkan dirinya. Namun dia segera mengendalikan rasa terkejutnya.
"Lalu?" Indra mengernyitkan dahi melihat reaksi Karina yang biasa-biasa saja.
"Apa kau tak berniat melakukan hal apapun?" tanya Indra lagi menatap Karina lekat.
"Jadi maksud bapak mengatakan ini semua untuk balas dendam pada mereka?" Indra langsung gelagapan.
"Tidak, bukan itu maksud saya, saya..."
"Maaf pak, saya tak bisa. Mungkin saya terlalu mencintai suami saya, sampai merelakan suami saya menikah lagi. Maaf, saya permisi." ucap Karina menundukkan kepalanya memberi hormat.
Dan berlalu meninggalkan Indra yang memanggil-manggilnya namun hati Karina sudah terlalu sakit menerima kenyataan itu. Sesakit inikah mencintaimu mas, batin Karina meremas dadanya yang sakit.
TBC
__ADS_1