Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 100


__ADS_3

Anin duduk termenung di dekat jendela apartemen Zian, menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong. Sudah lebih dari satu minggu pasca pernikahannya dengan suaminya itu. Dan setiap hari hanya itu saja yang dilakukannya. Zian menatap punggung Anin dengan tatapan datar tanpa ekspresi. Ingin sekali dia merengkuh punggung yang terlihat lemah itu.


Namun dia mengurungkan niatnya untuk tidak melakukannya. Setelah pernikahan tersebut, Anin tinggal di apartemen Zian. Bagaimana pun mereka adalah pasangan suami istri yang baru sah seminggu yang lalu. Bahkan keduanya memakai kamar terpisah tidak seperti kebanyakan pasangan pengantin, bahkan malam pertama belum terjadi pula pada keduanya.


"Makan malam sudah siap nona?" Tegur Zian membuat tubuh Anin menegang.


Selalu seperti itu jika Zian membuyarkan lamunannya. Anin menoleh menatap Zian yang berdiri tegak di depan pintu kamarnya. Sudah berulang kali dia mengetuk pintunya namun tak ada sahutan dari dalam, Zian terpaksa membuka pintu tanpa izin dari pemilik kamar demi memanggilnya untuk makan malam.


"Kemana dia pergi Zian? Apa dia baik-baik saja? Mungkin terjadi hal buruk padanya hingga dia tak bisa datang ke pernikahan kami." Selalu pertanyaan yang sama yang meluncur dari bibir Anin setiap kali Zian memintanya untuk makan malam.


Seperti kaset rusak yang terus berputar membuat Zian diam tak berani menjawab apapun. Setelah pernikahan mereka tuan besarnya Jonathan memintanya untuk bekerja di perusahaan. Bagaimana pun juga Zian sudah menjadi menantunya. Jo berinisiatif memberinya pekerjaan untuk masa depan mereka.


Awalnya Zian menolak karena dia tidak paham betul tentang pekerjaan perusahaan. Sejak kecil dia hanya tahu bagaimana menjadi kuat, bagaimana menjadi hebat untuk menjaga seseorang dengan keahlian bela dirinya. Bukan karena nilai-nilainya saat sekolah buruk dalam bidang akademis. Namun sangat bagus hingga tak ada niatan sama sekali dirinya untuk belajar menggunakan komputer di balik meja.

__ADS_1


Keluarganya adalah keluarga besar purnawirawan tentara jadi dia dididik hal yang sama pula. Untuk keahliannya menggunakan laptop dalam hal melacak dan mendeteksi memang sudah didapatnya pula dari sejak pendidikan di ketentaraan.


Akhirnya Zian melakukan apa yang diminta sang tuan besar untuk menjabat salah satu pegawai di perusahaan besar milik ayah mertuanya itu. Bagaimana pun juga meski suatu saat mereka akan berpisah, sekarang mau tak mau Zian harus memikirkan nafkah istri dan istri keduanya walaupun keduanya segera diceraikan nantinya.


Zian menghela nafas lelah mendengar pertanyaan itu, namun apalah daya tak ada yang bisa dilakukan ataupun dikatakan. Kalau mental sang nona akan jadi seperti ini, dia akan lebih memilih menolak saja.


"Saya akan menyuapi nona." Keputusan yang selalu diambil untuk menghindari pertanyaan dari sang nona.


Untung saja tadi dia sudah membawa sekalian nampan berisi makanan untuk sang nona. Bahkan sang nona masih menganggapnya sebagai pengawalnya. Seolah dia melupakan ijab qobul mereka yang dilakukan dengan sungguh-sungguh di mata Tuhan dan para tamu undangan. Zian duduk di sisi sang nona bersiap untuk menyuapinya.


***


Jo terlihat frustasi di meja kerjanya. Baru kali ini dia terlihat sangat frustasi lagi. Sebelumnya dia juga pernah mengalaminya saat Karina menghilang tanpa kabar saat dulu. Dan sekarang dia pun sama. Bukan karena pekerjaan, bukan karena hal buruk namun karena melihat istrinya terpuruk dengan kesedihan yang dialami putrinya.

__ADS_1


Kegagalan pernikahan dengan orang yang dicintainya membuat Anin putri sambungnya seperti kehilangan jiwanya. Karina istrinya setiap malam terlihat menangis di dalam walk-in closet kamar mereka. Tangisan menyayat hati yang menyalahkan dirinya membuat Jo bagai dihantam batu berat. Karena tak mau membuatnya ikut merasa bersalah, istrinya memilih untuk menyembunyikan tangisannya agar tak membuatnya cemas.


Hal itu malah semakin membuatnya merasa bersalah karena tak becus melakukan hal yang membuat istrinya tertekan.


"Bagaimana?" Tanya Jo melihat Rian masuk ke dalam ruangannya bahkan belum menutup pintu ruangannya karena saking tidak sabarannya.


"Belum ada info penting yang harus dilaporkan tuan. Ada info yang didapatkan tapi mereka masih memastikan apa dia benar-benar orang yang kita cari." Jelas Rian membuat Jo menghela nafas kesal.


Namun dia tak bisa memaksa. Seolah ada hal-hal yang janggal yang terjadi.


"Lakukan secepatnya, aku tak sanggup lagi mendengar kesedihan di mata istriku!" Bisik Jo lirih merasa sudah habis dengan kesabarannya.


"Baik tuan." Rian memberikan hormat untuk pergi dari ruang kerja tuan besarnya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2