
Sidang putusan akhir sudah dibacakan oleh hakim. Para pelaku yang melakukan hal buruk pada Anin mendapatkan hukuman yang setimpal sesuai tuntutan pengacara Anin yang tak lain adalah Bram, sepupu dari Jo. Anin datang ke pulau B dengan didampingi Ken.
Jo sudah menawarkan diri untuk menemaninya juga meski Ken pun ikut. Tapi sepertinya Anin merasa tak enak hati mengingat adik bayinya sudah lahir. Dan tentu saja itu membuat Jo akan lebih sibuk. Selain mengurus pekerjaannya di kantor, Jo pasti akan sibuk membantu mengurus adik bayinya.
"Kau yakin Daddy tak perlu ikut princess?" Tanya Jo sekali lagi saat putri sambungnya itu berkunjung ke rumah mereka mengunjungi adik bayinya.
"No Daddy. Thanks. Papa yang akan mengantarku." Tolak Anin memaksakan senyumannya.
Karina menyimak percakapan kedua orang itu dengan tatapan intens. Sungguh berbeda dari perilaku Anin sebelum dan sesudah tinggal di rumah mantan suaminya. Meski Anin tak mengatakan terus terang, namun naluri seorang ibu yang dirasakan Karina tampak berbeda. Namun Karina mencoba berpikir positif.
Orang tua mantan suaminya saja memperlakukan baik padanya yang notabene dirinya adalah orang asing hanya karena mereka bertetangga. Karina percaya putrinya pasti diperlakukan baik oleh istri mantan suaminya itu juga. Atau mungkin Anin yang masih berusaha beradaptasi dengan keluarga barunya tersebut. Toh Anin juga sudah mampu untuk berpikir dewasa.
Karina ganti menatap suaminya yang juga menaruh kecurigaan pada sikap putrinya tersebut.
"Mommy mau mengantar Daddy berangkat kerja dulu ya princess, kau jaga adikmu." Pamit Karina mengikuti langkah suaminya menuju pintu depan.
"Yes, mom." Jawab Anin tersenyum sambil menowel-nowel pipi adik bayinya.
"Apa kau berpikir yang sama baby?" Tanya Jo menatap istrinya yang tak bersemangat.
Karina menatap suaminya yang seolah peka dengan dirinya.
"Mungkin hanya perasaanku mas, tapi aku mencoba percaya bahwa dia baik-baik saja. Mungkin dia mencoba beradaptasi dengan keluarga barunya." Jawab Karina lesu.
"Kita percayakan pada Anin saja, aku tak akan membiarkan jika keluarga barunya memperlakukan buruk padanya." Tegas Jo membuat Karina kembali tersenyum setelah kata-kata penghiburan suaminya.
"Aku pergi dulu!" Pamit Jo sambil melu*mat sebentar bibir istrinya yang sudah menjadi candu untuknya.
Wajah Karina memerah karena tak biasanya suaminya melakukannya di depan pintu.
"Hati-hati!" Jawab Karina dengan semburat merah di pipinya.
Setelah kejadian di ruangan kantor Jo, keduanya pun memutuskan makan siang dengan makanan yang dibawa Karina meski sudah terlambat. Jo memutuskan pulang bersama istrinya setelah menyelesaikan beberapa pekerjaannya. Awalnya Karina ingin segera pulang karena mengkhawatirkan putri kecilnya, namun panggilan ponsel Jo menghubungi Farida menenangkan Karina untuk tidak terburu-buru pulang.
Malah Farida berpesan untuk menghabiskan waktu berduaan yang jarang mereka lakukan setelah putri mereka lahir. Karina menghela nafas menyerah, dia pun akhirnya mengiyakan keinginan suaminya untuk menungguinya menyelesaikan pekerjaannya sebentar hingga tanpa sadar Karina tertidur di sofa ruang kerja suaminya.
***
__ADS_1
Ken dan Anin memutuskan untuk menginap di hotel dekat bandara setelah sidang putusan akhir itu. Tawaran Bram untuk menginap di resort milik keluarga Alensio ditolak secara halus dengan alasan mereka harus pulang pagi-pagi langsung ke bandara karena jadwal penerbangan mereka. Bram meski niatnya basa-basi tak memaksa lagi.
Meski dirinya tak nyaman jika Ken mengiyakan ajakannya nanti. Namun entah lega atau kecewa, Bram terpaksa merelakan mereka menginap di hotel dekat bandara.
"Istirahatlah! Papa akan menjemputmu besok pagi." Titah Ken mengantar putrinya menuju kamar hotel yang dipesan Ken dua kamar untuk mereka masing-masing.
"Ya pa." Jawab Anin singkat, tersenyum menatap papanya.
"Hubungi papa jika kau butuh sesuatu! Papa ada di kamar sebelah." Ucap Ken lagi.
"Ya pa." Jawab Anin lagi masuk ke dalam kamar dan Ken pun berlalu menuju kamarnya sendiri.
***
"Jadi putusan sidang dilakukan?" Tanya Karina saat suaminya pulang sore itu mendapat panggilan dari Bram.
"Ya, dan pelaku mendapatkan hukuman yang setimpal sesuai tuntutan Bram." Jawab Jo sambil mengecupi tengkuk istrinya yang sedang menyisir rambutnya setelah selesai mandi.
Karina tertawa geli melihat kelakuan suaminya.
"Mas, cukup." Ucap Karina geli.
"Mas...ahh..." ******* istrinya membuat Jo semakin gencar menyerang leher istrinya.
Karina hanya pasrah, toh sudah selesai nifasnya dua hari yang lalu. Dia memang tak mengatakan pada suaminya karena ingin membuat kejutan untuknya.
"Kau sungguh menggairahkan baby." Bisik Jo sambil menyibak bath rope pada bahu istrinya dan langsung dikecupinya mesra.
"Mas, ini masih ... aahh...sore.." Lenguhan Karina membuat Jo semakin kalap.
"Sebentar saja baby, jangan buat aku harus bersolo lagi. Aku tahu kau sudah selesai." Bisik Jo parau, penuh akan hasrat birahinya. Tubuh Karina menegang.
"Ka.. kau... tau dari mana mas?" Jawab Karina gugup hingga gagap dan gelagapan.
Jo mendekap tubuh istrinya erat, membalikan tubuhnya menghadap padanya. Karina menatap suaminya merasa bersalah. Jo pun juga menatap istrinya dengan tatapan bergairah.
"Sekarang sekali saja, nanti malam kita lanjutkan lagi." Ucap Jo menarik tali bath rope istrinya yang sudah tidak mengenakan apapun di balik bath rope itu.
__ADS_1
"Aku baru mandi mas.. aahh.." Karina semakin mendesah karena suaminya sudah mulai menjilati pu*tingnya bergantian.
"Nanti mandi lagi." Jawab Jo santai sambil mengangkat tubuh istrinya menuju ranjang.
Karina sudah tak mampu menolaknya. Dia juga merindukan sentuhan suaminya yang sudah membuat puasa empat puluh hari penuh karena nifasnya setelah melahirkan.
Suara decapan bibir keduanya memenuhi kamar mereka. Sudah lebih dari sebulan Jo berpuasa juga. Juga terpaksa bermain solo dengan adik kecilnya beberapa kali dalam sebulan itu. Dan itu sungguh sangat tak enak sama sekali. Tidak cukup puas dengan itu semua meski terpaksa.
Namun kali ini dia tak akan melepaskan istrinya. Saat istrinya mandi tadi, Jo sudah berpesan pada asisten rumah tangganya, dan pengasuh bayi dan anak-anaknya untuk tidak mengganggunya kalau tidak darurat saja. Para asisten rumah tangga dan pengasuh itu mengangguk mengiyakan. Mereka tahu seperti apa pasangan majikannya itu.
Tak jarang tuannya itu menunjukkan kemesraan intens mereka di tempat terbuka. Bukannya majikannya itu malu malah para asisten rumah tangga dan pengasuh itu yang malu saat tak sengaja memergoki mereka. Mereka merasa bahagia karena kedua majikannya terlihat akur dan mesra kembali.
Jo membaringkan tubuhnya di samping tubuh istrinya. Setelah pelepasannya, Jo mengambil jeda untuk mengambil nafas sebanyak-banyaknya. Begitu juga dengan Karina, terlalu lama tak berhubungan intim membuat Karina langsung ambruk kualahan.
Apalagi suaminya memiliki stamina di luar batas dirinya. Namun hal itu tak menyurutkan Karina untuk melayani suaminya sebanyak apapun, selelah apapun dirinya. Karena dia juga menyukai dan menikmatinya.
"Aku harus menyusuinya." Karina hendak bangun, namun dekapan erat suaminya tak membiarkan hal itu terjadi.
"Nanti saja. Tak bisakah untuk sekarang kau menjadi milikku sendiri?" Pinta Jo menatap istrinya memelas.
Karina yang ditatap seperti itu malah memerah pipinya. Dia bimbang diantara harus mengurus bayinya atau mengiyakan keinginan suaminya.
"Tapi... bayi kita..."
"Sudah ada babysitter yang mengurusnya. Percayakan pada mereka. Manjakan aku untuk saat ini, please baby." Bisik Jo mulai mengendus di cerukan leher Karina.
"Geli mas." Bisik Karina.
Jo yang tak mendapat penolakan dari istrinya langsung mengukung kembali istrinya di bawahnya.
"Again baby." Bisik Jo tersenyum menggoda. Karina hanya tertawa tertahan hingga ******* kembali keluar dari bibirnya.
Meski suaminya melakukannya dengan lembut, hal itu membuat Karina tak henti-hentinya mendesahkan nama suaminya berulang kali.
Hingga pelepasan yang sudah entah ke berapa kali membuat Jo ambruk kembali di sisi istrinya. Karina melirik jam dinding menunjukkan pukul enam sore. Melirik ke arah suaminya yang sudah terlelap.
Karina ingin tidur juga, badannya terasa remuk karena suaminya. Dia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan melakukan kewajibannya sebagai muslim.
__ADS_1
TBC