Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 72


__ADS_3

Pemuda seumuran Guntur dengan wajah tak kalah tampan dengan pakaian jas formal berdiri tak jauh dari mansion besar itu. Dia sejak tadi berdiri di tempat parkir sambil mengawasi mobil putri majikannya yang tak berpindah dari tempatnya. Saat acara pesta berlangsung di ikut masuk ke dalam acara pesta dengan berpura-pura sebagai tamu undangan, entah dari mana dia mendapatkan undangan itu.


Pekerjaannya dituntut untuk bisa melakukan segalanya bagaimanapun caranya. Tadi dia sempat melihat putri majikannya itu dittarik seseorang ke arah dapur. Saat dia mencoba mengejarnya, pengawalan ketat mansion itu membuatnya kesulitan mengikuti lagi.


Pemuda itu kembali melirik jam tangannya waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, majikannya belum terlihat keluar dari mansion itu. Dia tak mungkin keliru melihat satu persatu tamu. Buktinya hanya mobil mewah majikannya yang masih tersisa di halaman parkir mansion itu selain mobil milik tuan rumah.


Tak sampai setengah jam, tampaklah majikannya masuk ke dalam mobilnya dengan langkah tak bersemangat. Diurungkan niatnya untuk membobol cctv mansion besar itu. Karena mengikuti langkah majikannya adalah yang paling utama.


Mobilnya melaju di belakang majikannya mengikuti dengan kecepatan sama-sama sedang. Pemuda itu ikut berhenti saat mobil itu masuk ke halaman supermarket dekat basemen apartemen milik sahabat majikannya di kawasan perumahan elite blok YY.


Pemuda itu masih mengawasi putri majikannya yang keluar tidak lama dari masuknya sambil membawa air botol dingin yang ditempelkan di pipi kiri majikannya. Pemuda itu mengernyit merasa sedikit bersalah karena kompresan itu menunjukkan kalau pipinya habis terkena tamparan yang tidak lemah.


Pemuda itu tampak menggenggam erat kemudi mobil merasakan karena kekurangan dirinya melindungi putri majikannya. Setelah menunggu sebentar, gadis yang diikutinya itu masuk lagi ke dalam mobil dan memarkirkan mobilnya di basemen parkir apartemen dan menuju lift ke unit sahabatnya. Dan disitulah pemuda itu segera mengambil laptop alat kerjanya untuk kembali membobol cctv di mansion tempat pesta tadi.


Pemuda itu tampak mengernyitkan dahi kesal melihat tebakannya benar.


"Kurasa gadis itu perlu diberi pelajaran." Bisik pemuda itu kesal.


Tuan besar majikannya pasti akan sangat marah jika mendengar berita ini. Apalagi sekarang beliau tak ada di kota ini. Beliau sedang perjalanan bisnis ke luar negeri. Pemuda itu menghela nafas lega karena tertunda untuknya mendapatkan hukuman karena membuat putri majikannya terluka meski itu hanya sebuah tamparan di pipi.


"Maafkan saya nona." Bisik pemuda itu sekali lagi mengepalkan tangannya erat merasa bersalah.


***


Guntur membuka matanya perlahan, menatap sekeliling kamar yang tidak asing baginya karena itu memang kamarnya di rumah ayahnya. Guntur mulai berpikir seperti ada yang kurang saat matanya terbuka. Dia mengingat-ingat apa yang dilupakannya.


"Anin." Gumamnya menatap pintu kamarnya yang semalam dikunci.


Jegrek, pintu tak terkunci. Itu artinya Anin sudah pergi dari kamarnya entah kapan. Guntur segera membersihkan tubuhnya dan bersiap ke kantor. Hari ini merasakan tubuhnya segar taj seperti biasa.


Asupan semangat dari sang kekasih sungguh membuat hati Guntur membuncah bahagia. Bibirnya tak henti-hentinya tersenyum mengingat kejadian semalam yang terasa seperti mimpi padahal itu adalah kenyataan.


Guntur menuruni tangga mansion itu dengan senyum bahagia masih terlihat di bibirnya. Terlihat ayahnya dan istrinya duduk di kursi meja makan. Senyum di bibir Guntur spontan luntur saat melewati meja makan. Wajahnya kembali dingin dan datar tak menampilkan senyum apapun.


"Guntur!" Seru Wicaksana berdiri dari duduknya saat Guntur tak mendekati meja makan namun malah menuju pintu depan.

__ADS_1


Guntur spontan berhenti.


Plak


Satu tamparan keras langsung dilampiaskan Wicaksana saat tepat berdiri di depan Guntur yang enggan berpaling menhadapnya. Guntur lagi-lagi meringis merasakan pada di pipinya. Apalagi yang orang tua ini pikirkan? Batin Guntur menahan diri, dia kembali menatap wajah pria yang tak lagi muda itu.


"Beraninya kau memasukkan seorang gadis di dalam kamar. Kau tahu kalau punya seorang tunangan? Apa kata orang-orang jika tahu hal itu?" Bentak Wicaksana menunjuk-nunjuk wajah Guntur yang seolah tak memperdulikan Wicaksana meski Guntur sudah mendapatkan satu tamparan.


"Tinggal putus hubungan." Jawab Guntur enteng.


"Guntur!" Teriak Wicaksana dengan lengkingan tajam memenuhi mansion besar itu.


Guntur langsung pergi meninggalkan ayahnya yang masih berteriak kesal sambil memaki-maki padanya.


Raka yang sudah menunggu di luar pintu dan melihat semua kejadian itu langsung mengikuti langkah Guntur tanpa banyak bicara.


"Arman." Panggil Wicaksana pada asisten pribadinya.


"Iya tuan." Arman langsung mendekati tuannya saat namanya disebut.


"Selidiki siapa gadis itu!" Titah Wicaksana dengan nada geram menahan amarahnya.


***


Guntur merengut kesal saat menatap ponselnya yang ada di tangannya. Semalam dia sudah menyimpan nomer ponsel kekasihnya itu. Namun sudah lebih dari lima kali dia menghubunginya namun tak diangkat. Ponsel aktif tapi tak dijawab. Hingga Guntur menemukan ide mengirimkan pesan chat.


'Kenapa mengabaikan panggilanku?' Isi pesan Guntur.


'Aku sedang ada kelas.' Jawab balasan Anin. Guntur kembali tersenyum senang melihat balasan pesan hanya beberapa kata itu.


Dulu tak sesenang ini dirinya mendapat pesan chat dari seorang gadis. Sekarang hanya karena balasan beberapa kata membuatnya tersenyum bahagia.


'Hubungi aku setelah selesai kelas!' Isi pesan yang bernada titah itu membuat Anin tersenyum saat membacanya.


Nara yang duduk sebangku dengan Anin mengernyit heran saat melihat sahabatnya tersenyum-senyum sendiri dengan melihat ponselnya.

__ADS_1


***


Saat jam istirahat untuk makan siang, Anin memutuskan untuk makan siang di kantin kampus sendiri. Karena sahabatnya itu sedang ada kelas.


"Nindi." Panggil seseorang yang tak dikenali.


"Ya?" Jawab Anin menatap lekat gadis yang tak dikenalnya itu.


"Kau ditunggu Nara di toilet!" Ucap gadis itu membuat Anin mengernyit.


Bukannya sahabatnya itu masih ada kelas? Batin Anin. Ah, mungkin dia izin ke toilet sebentar. Batin Anin tanpa curiga. Saat hendak bertanya lagi pada gadis asing itu telah meninggalkan Anin. Anin pun segera menuju ke toilet perempuan yang biasanya mereka datangi jika ada perlu di toilet.


Seseorang yang setiap hari mengikuti Anin dengan pakaian mirip pemuda kampus itu berdiri agak jauh, sangat jauh. Karena dia tak mungkin mendekat ke toilet perempuan.


Byur...


Entah air dari mana, tiba-tiba ada ember di atas pintu toilet dan mengguyur tubuh Anin saat dia membuka pintu salah satu toilet. Dia sudah berusaha memanggil-manggil nama sahabatnya itu. Namun tak ada jawaban. Dan dia membuka satu-persatu pintu, hingga pintu terakhir dia terguyur air kotor bekas pel.


Anin menatap seluruh tubuhnya yang sudah basah terkena kotoran air pel. Dan entah siapa ada yang mendorongnya hingga dia terjerembab ke depan hingga membentur lantai toilet tanpa sengaja dahinya memerah meski tak sampai berdarah. Anin yakin nanti pasti akan benjol.


"Aduh." Anin menatap ke belakang melihat siapa pelakunya.


Namun sudah tak ada orang disana dan naas pintu toilet dikunci.


"Hei, ada orang di luar!" Seru Anin menggendor-gendor pintu toilet dari dalam.


Namun tak ada tanda-tanda ada orang yang yang mendengarnya dan menolongnya.


"Hei, tolong bukakan pintunya!" Seru Anin lagi mulai ketakutan karena dia terkurung sendiri di dalam toilet.


Dor... dor...dor...


Suara pintu toilet digedor. Anin mencari-cari ponselnya di dalam tasnya namun benda itu tiba-tiba raib dari dalam tasnya.


"Aku yakin tadi memasukkannya ke dalam tas. Tak mungkin ketinggalan di kelas kan?" Ucap Anin mulai ketakutan.

__ADS_1


Sekarang dia hanya terdiam duduk di balik pintu dalam toilet menunggu seseorang yang mungkin akan lewat dalam toilet.


TBC


__ADS_2