Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 114


__ADS_3

Kini keduanya duduk berhadapan di cafe dekat kampus Anin. Zian sengaja memesan tempat yang privat untuk bicara dengan Guntur. Sebelum Guntur tadi meninggalkannya dari pandangan orang-orang yang ada di kampus saat mereka hendak baku hantam.


Zian sempat mengatakan ingin bertemu saat jam makan siang, itu artinya saat acara di gedung pertemuan kampus usai. Zian sendiri sudah meminta izin pada tuan besarnya sekaligus ayah mertuanya untuk istirahat makan siang sebentar. Dan tuan besar mengizinkannya tanpa banyak bertanya.


"Katakan!" Titah Guntur tidak sabaran saat baru saja duduk belum ada sepuluh menit berlalu.


Zian masih diam, hingga pelayan datang menanyakan pesanan mereka. Karena Zian mengatakan akan memesan setelah tamunya datang. Dan pelayan menepati hal itu.


"Pesanlah dulu makanan! Aku akan mentraktirku." Jawab Zian masih tenang.


"Kalau ..."


"Kami pesan steek dan orange jus." Jawab Zian menyela ucapan Guntur tanpa meminta persetujuannya.


"Menikahlah dengannya!" Ucapan Zian mampu membuat Guntur mengurungkan niatnya untuk protes.


Guntur tampak mengernyit masih tak mengerti apa yang dimaksud Zian.


"Setelah enam bulan pernikahan aku akan menceraikannya. Dan saat itu kau bisa menikah dengannya secara sah baik agama dan negara." Jelas Zian yang masih membuat Guntur bungkam mencerna ucapan Zian yang dengan tenang menatapnya dengan tenang.


"Hahahaha...." Guntur tersenyum seringai mengerikan.


"Aku serius. Dia tak bahagia bersamaku." Ucap Zian lagi tanpa memperdulikan sikap Guntur yang terlihat menakutkan meski sebenarnya hal itu bukan apa-apa untuk Zian.

__ADS_1


Sret...


Bruk...


Guntur menarik kerah kemeja Zian setelah mendorong meja di depannya. Memepetkan tubuh kekar Zian ke tembok di belakang tubuhnya. Guntur sudah tak peduli meski ruangan di cafe itu terlihat kacau dan berantakan. Ucapan Zian benar-benar membuat emosinya meledak.


"Ulangi sekali lagi!" Ucap Guntur dipenuhi amarah di wajahnya.


Guntur merasa Zian sedang mempermainkan perasaan gadis yang dicintainya.


"Menikahlah dengannya! Aku merestui kalian berdua." Jawab Zian yakin tanpa rasa takut ikut menatap tajam ke arah mata Guntur yang dipenuhi emosi kemurkaan.


Meski tubuh keduanya sama-sama kekar, namun Zian lebih terlihat tegas karena sudah terbiasa dengan pekerjaannya sebagai seorang pengawal. Dia sering menghabiskan waktu luangnya untuk berolahraga. Namun beda dengan Guntur yang akhir-akhir ini hanya menghabiskan waktunya dengan duduk diam melamun memikirkan kandasnya cintanya.


"Jangan ucapkan lelucon itu! Kau pikir kau siapanya hingga berani menawarkan istrimu padaku. Huh... Aku memang mencintainya, sangat. Meski kau menawariku untuk menikah dengannya. Aku tidak setega itu menjadikannya wanita murahan dengan mempunyai dua suami." Bisik Guntur menatap Zian tajam masih mempertahankan cengkeraman kerahnya pada kerah Zian.


"Aku belum pernah menyentuhnya. Karena aku tahu cintanya bukan untukku. Hanya milikmu." Jawab Zian lirih meski merasakan getir di setiap kalimat yang diucapkannya.


Guntur terdiam, kemarahannya seolah sirna melihat wajah keputus asaan Zian di depannya. Perlahan cengkeraman Guntur mengendur melihat reaksi yang tidak diinginkan terdapat pada wajah pria di hadapannya ini.


"Aku sudah mengajukan gugatan cerai tapi tak ada kesalahan yang kudapatkan darinya. Setelah aku mempertimbangkan dengan bertanya pada seseorang yang mengetahui hal ini semua. Perceraian tak akan sah jika tak ada kesalahan yang dilakukan dari pihak istri. Dan itu membutuhkan waktu kurang lebih tiga bulan." Jelas Zian dengan tampang putus asa yang terlihat menyedihkan.


Guntur masih terdiam mendengarkan.

__ADS_1


"Kau bisa langsung mentalaknya kan?" Bisik Guntur lirih masih bisa di dengar Zian.


"Tidak bisa. Ayah mertua... maksudku tuan besar diam-diam sudah mendaftarkan pernikahan kami di pengadilan agama tinggal menunggu tanda tangan nona." Jelas Zian frustasi.


Dialah yang diberi tugas tuan besarnya untuk membuat istrinya tanda tangan di buku nikah mereka yang padahal setahunya istrinya tidak mencintainya.


"Apa kau mencintainya?" Zian terdiam dengan pertanyaan Guntur.


"Kurasa sudah cukup pembicaraan kita." Guntur melepas cengkeraman tangannya dan berlalu dari ruang privat cafe.


"Nona hanya mencintaimu. Aku tak bisa janji akan bisa membahagiakan tanpamu." Jawab Zian.


Guntur berhenti tanpa membalikkan tubuhnya.


"Dan aku pun sudah punya istri dan anak. Aku pun tak bisa menjadikan nona prioritasku sementara aku adalah pria beristri." Guntur langsung membalikkan tubuhnya menatap Zian tajam.


Zian terpaksa berbohong dengan pernikahannya dengan Rima meski sebenarnya sekarang hanya Anin lah satu-satunya istrinya. Hanya beberapa orang yang tahu kalau dirinya sudah sah bercerai dengan istri pertamanya.


"Apa?" Guntur terkejut, mengetahui fakta tentang Zian yang sudah beristri dan mempunyai anak. Itu artinya gadisnya dijadikan istri keduanya.


TBC


Selamat membaca

__ADS_1


Jangan diprotes tentang ceritanya


Namanya juga ke-halluan terserah authornya dong...


__ADS_2