
Ting tong ting tong
Suara bel pintu apartemen berbunyi, Maya membuka pintu membukanya perlahan setelah mengintip sebentar pada lubang pintu.
Cklek
Maya mengintip sedikit.
"Maya." seru Jo saat melihat siapa yang muncul dari balik pintu apartemen Bram. Jo langsung mendorong pintu hingga terbuka lebar.
"Tuan Jonathan?" Maya balas menyapa.
"Rupanya kamu ya, yang membawa kabur istriku." tuduh Jo meski niatnya hanya bercanda.
"Bukan tuan...bukan seperti itu..." Maya langsung menggeleng-gelengkan kepalanya menolak tuduhan itu.
"Lalu?" tanya Jo menatap Maya penuh intimidasi.
"Bukannya tuan besar yang mengusir mbak Karin?" seru Maya menjawab dengan lantang. Jo terdiam, niatnya hanya ingin menggoda Maya namun sepertinya Maya mengetahui semua hal yang tidak dia ketahui.
"Kau tahu?" tanya Jo dengan nada rendah tak seperti tadi. Maya menundukkan kepalanya dan mengangguk.
"Terima kasih sudah menjaganya selama ini." Maya mengangguk lagi masih dengan menundukkan kepalanya.
"Mbak Karin gak ada, tuan." sela Maya mencoba memecah kecanggungan.
Jo memicingkan mata menatap Maya tak percaya. Jo masuk ke dalam apartemen, membuka satu persatu ruangan disana.
"Sungguh tuan, mbak Karin sudah pergi dengan mas Bram." ucap Maya mengikuti langkah Jo menggeledah semua ruangan di apartemen itu.
"Aku baru saja menghubunginya. Apa yang coba disembunyikan dariku?" Jo kembali menatap Maya memicing.
"Semalam mereka sudah janjian akan bertemu." jawab Maya tak berani menatap mata Jo.
"Kemana?"
"Dia tak mengatakan apapun. Hanya bilang kalau mereka pergi sebentar." jawab Maya.
"Papi." panggilan Anin dari arah dapur membuat keduanya menoleh.
"Hai, princess..." Jo menyapa Anin dan mengambilnya ke gendongannya.
"Papi, turunkan Anin, Anin sudah besar. Malu digendong." ucap Anin dengan wajah imut tersenyum malu-malu.
"Oh ya..." Jo malah tersenyum manis.
__ADS_1
Jo menurunkan Anin di sofa ruang tamu dan dia duduk bersebelahan dengan Anin. Melirik sebentar pada Maya yang terlihat gelisah.
"Mama mana Anin?" tanya Jo seperti polisi yang mengintrogasi seorang tersangka.
"Mama tadi keluar dengan adik-adik." Oh my, Maya menepuk jidatnya mendengar Anin menyebut kata adik.
"Adik?" Jo terlihat memicing penasaran. Melirik lagi pada Maya yang semakin gelisah.
"Adik-adik Anin Pi. Mereka juga akan menjadi anak-anak ayah Bram." ucap Anin membuat Jo semakin emosi saat mendengar istrinya bahkan sudah punya anak dari Bram.
*A*dik-adik? Bukannya berarti mereka tidak hanya satu. batin Jo mengepalkan kedua tangannya menahan amarahnya sambil melirik Maya yang membuang pandangannya ke arah lain. Takut melihat tatapan Jo yang tajam dan dingin.
"Ayah Bram?"
"Iya papi. Katanya mama mau nikah sama ayah Bram. Dan akan jadi ayah Anin." jawab Anin polos.
"Anin suka ayah Bram? Anin gak suka papi?" tanya Jo yang masih berusaha mengendalikan emosinya.
"Anin lebih suka papi, sering ngajak main Anin. Tapi kalau ayah Bram sukanya main sama adik-adik ketimbang sama Anin." mendengar jawaban polos Anin membuat Jo sedikit terobati rasa marahnya.
Bukannya itu sudah jelas, jadi Bram dan Karina sudah mempunyai dua anak dan itukah sebabnya Karina sulit melepaskan dari Bram? Apakah dia harus menyerah? batin Jo menghela nafas berat. Jo pun berdiri.
"Papi mau kemana?" tanya Anin polos menarik pergelangan tangan Jo. Jo menatap Anin.
"Papi akan balik kesini lagi kan?" pinta Anin dengan tatapan memohon.
"Anin ingin papi balik kesini?" Anin mengangguk.
"Bilang mama ya? Minta papi balik kesini."
"Tentu." mereka tersenyum manis.
Maya terdiam melihat interaksi kedua orang itu. Dia yang sejak tadi menyimak percakapan keduanya tak bisa berkata apa-apa.
"Maya..." Maya tersentak dari lamunannya.
"Ya tuan."
"Tolong jaga Karin!" belum sempat menjawab Jo meninggalkan apartemen itu dengan dada yang sesak.
Air matanya hendak jatuh, namun Jo segera menghapusnya. Hatinya kembali terluka, sesakit inikah mencintai seseorang tetapi tak harus memiliki. batin Jo berkecamuk dalam dadanya.
Dalam perjalanan ke kantor, air mata Jo tak bisa dibendung. Setelah lama berpikir, dia pun memutar balik mobilnya kembali ke rumah lama Karina.
***
__ADS_1
"Mbak, kenapa baru pulang?" seru Maya tak sabaran melihat Karina muncul dengan si kembar dan bi Ijah.
"Maaf, tadi Josh tiba-tiba rewel." jawab Karina menunjuk si kembar. Karina menyerahkan si kembar Josh untuk digendong Maya.
"Aku ganti baju dulu sebelum mas Bram datang." ucap Karina masuk ke dalam kamarnya. Bi Ijah dan Maya membawa si kembar untuk diberi susu.
"Mbak.." panggil Maya setelah menidurkan si kembar.
"Ya May." Karina sibuk merias diri di depan cermin.
"Mbak belum memutuskannya?" tanya Maya mendekati Karina. Karina menatap Maya dari bayangan di cermin.
"Aku akan membatalkan pernikahan kami saat kami keluar nanti." Maya tersenyum melihat keputusan Karina.
"Bicara pelan-pelan mbak, biar gak menyakitinya." saran Maya.
"Iya. Aku sudah memutuskan untuk kembali pada suamiku May, urusan Bram. Aku akan menebus segala kebaikannya dengan cara lain." ucap Karina tersenyum.
Maya segera membuka pintu saat bel pintu berbunyi.
"Masuk mas. Mbak Karin sudah siap." Bram hanya terdiam menatap datar dan dingin.
Karina muncul dari dalam kamar menatap Bram yang masih sama, menunjukkan wajah datar dan dinginnya. Entah kenapa suasana menjadi canggung sesaat.
"Titip anak-anak ya May." pamit Karina mengikuti langkah Bram menuju lift.
Keduanya masuk ke dalam lift tanpa ada yang bicara. Keheningan tercipta membuat Karina merasa bersalah dan ikut terdiam. Dia juga bingung akan mengatakan apa.
***
Jo mengemasi barang-barangnya yang ada di rumah Karina, menatap sekeliling kamar yang sudah seperti rumahnya sendiri. Mungkin lebih baik aku menyerah demi anak-anaknya. batin Jo tersenyum getir. Cintanya harus kembali kandas.
Dia tak mungkin memisahkan ayah dan anak-anak itu. Jo mengunci pintu depan rumah dan juga pintu gerbang sambil menarik koper besarnya. Kuncinya, dia akan mengirimkan lewat jasa kurir mungkin. Jo meletakkan kopernya di bagasi mobilnya. Menyetir mobilnya menuju apartemennya.
Dia tak mau pulang, dia ingin menyendiri dulu. Tapi dia tak mau jatuh lagi. Namun hatinya terlalu terpaut pada Karina. Dia sangat mencintainya. Seandainya bukan Bram ayah mereka, mungkin dia bisa menerima anak-anak itu seperti Anin karena anak-anak itu dicampakkan oleh ayah kandungnya.
Tapi Jo tahu Bram tak akan seperti itu. Demi anak-anaknya pasti dia akan mempertahankan Karina. Dan dia, meski mereka saling mencintai, dia bukan setega itu memisahkan anak dengan ayahnya. Tapi kenapa harus Bram Karin. Air matanya lagi-lagi menetes. Dia menelungkupkan tubuhnya di ranjang apartemennya.
TBC
udah 2 episode
Besok lagi ya...
Makasih masih setia membaca karyaku 🙏
__ADS_1