
"*Hei, sampai kapan kau akan tidur?" Tegur Karina melihat suaminya berbaring di ranjang. Jo sontak membuka matanya menatap istrinya yang sedang menggendong bayi kecilnya yang baru lahir.
"Baby."
"Hmmm." Karina menoleh menatap suaminya yang menatapnya dengan raut wajah kebingungan.
Karina saat itu sedang menyusui bayi kecilnya sambil menyiapkan susu formula dalam botol. Karena ASInya tidak akan cukup untuk menyusui bayi kecilnya itu.
"Kau sehat, kau tak apa-apa?" Tanya Jo antusias menghampiri istrinya yang hanya menoleh dan kembali sibuk dengan aktivitasnya.
Jo mendekap tubuh istrinya dari belakang. Tersenyum puas bahagia karena melihat istrinya baik-baik saja tidak seperti yang dikatakan dokter tadi.
"Ada apa? Hmm..." Tanya Karina membalikkan tubuhnya menghadap pada suaminya sambil mengocok botol dot bayinya.
"Aku bermimpi, mimpi buruk sekali." Jo mendekap tubuh istrinya yang membuat istrinya terharu.
Dia meletakkan botol dot itu lalu menepuk-nepuk punggung suaminya.
"Makanya cepatlah bangun, buka matamu segera. Apa kau setega itu membiarkan aku yang habis melahirkan ini merawat bayi kita? Tak bisakah kau biarkan aku istirahat sebentar. Kenapa kau tidur lelap sekali." Ucapan istrinya sekali lagi membuat Jo tersentak dan kembali membuka matanya*.
"Mimpi." Bisik Jo langsung terduduk di ranjang rumah sakit.
"Tuan sudah sadar?" Tanya seorang perawat yang sedang mengecek infus Jo.
"Ini di rumah sakit, apa tadi mimpi?" Bisiknya lagi tanpa menggubris ucapan perawat itu.
Jo langsung menarik paksa infus itu meski infusnya masih belum saatnya dibuka.
"Tuan, anda harus istirahat dulu! Tuan.. tuan..!" Seruan perawat tak membuat Jo menghiraukannya.
Dia tetap melaju menuju ruang operasi untuk mencari istrinya.
"Jo..." Panggilan seseorang dari arah berlawanan membuat Jo mau tak mau berbalik karena merasa kenal dengan suara itu.
"Kak Jeslin?" Tanya Jo keheranan melihat kakaknya ada disini.
"Bagaimana keadaan Karina? Dirawat dimana dia?" Tanya Jeslin memberondongi banyak pertanyaan pada Jo yang terlihat ling lung.
"Kenapa kakak kesini? Siapa yang memberi tahu mbak?" Bukan menjawab Jo malah balik bertanya.
Jeslin terlihat berdecak kesal karena ucapan adiknya itu.
"Apa maksudmu? Apa kau tak berniat memberi kabar pada kakak tentang kelahiran anakmu? Kau sudah tak mengabariku saat istrimu melahirkan Hana, apa kau berniat tak mengabari lagi?" Omel Jeslin sambil menunjuk-nunjuk wajah adiknya itu gemas.
__ADS_1
Dan bersamaan dengan itu ponselnya berdering.
"Ya ma." Jawab Jeslin tak menghiraukan adiknya yang masih bengong hendak bertanya bagaimana mamanya juga menghubungi kakaknya itu.
"..."
"Aku sudah bertemu dengannya." Jawab Jeslin sambil menatap adiknya sebal.
"..."
"Kami di lorong UGD."
"..."
"Ok baiklah." Jawab Jeslin sambil menutup ponselnya mengakhiri panggilannya.
"Ayo!" Jeslin menarik pergelangan tangan adiknya yang berteriak tak suka.
"Kemana kak? Aku mau menemui istriku." Seru Jo mencoba melepaskan cekalan kakaknya.
"Ayolah ikut! Dasar pria bodoh." Umpat Jeslin tak menghiraukan tolakan adiknya.
Cklek
"Kak, kita sedang apa disini, aku mau menemui istriku. Aku mau mencari istriku. Siapa yang mau kakak temui?" Tolak Jo sambil melepas cekalan tangan kakaknya dan berhasil.
Jeslin tak menghiraukan adiknya langsung masuk ke dalam ruangan itu dan membuka pintu ruangan itu lebar-lebar.
"Kak..." Wajah Farida yang juga berada dalam ruangan itu membuat Jo urung hendak meninggalkan ruangan itu.
Tubuh Jo bergerak melangkah masuk ke dalam.
"Mama." Panggil Jo membuat Farida tersenyum lembut pada putranya itu.
"Jo.. kemana saja kau? Kau sudah baik-baik saja?" Tanya Farida cemas, Jo tersenyum.
Seketika dirinya terbelalak melihat bayangan seseorang yang dikenalnya di belakang tubuh mama nya. Wanita yang sedang terduduk di ranjang kamar perawatan itu. Wanita yang dicarinya sejak tadi. Wanita yang dicintainya.
Jo malah menangis melihat seseorang yang membuat cemas dan gelisah sejak tadi terduduk santai sambil menyusui bayi kecilnya yang baru lahir.
"Baby..." Panggilan Jo membuat wanita yang terduduk di ranjang perawatan itu mendongak.
Dia sejak tadi sibuk memperhatikan wajah bayinya yang sedang menyusu dengan begitu kuatnya.
__ADS_1
"Siapa kau?" Jawaban Karina sontak membuat kedua wanita yang ada disitu terkejut menoleh menatap Karina heran.
Begitu juga Jo, wajahnya berubah pias melihat istrinya tak mengenalinya.
"Baby, aku... aku suamimu." Jo langsung mendekati istrinya yang menatapnya asing.
"Ah, begitukah?" Pertanyaan Karina sekali lagi membuat wajah Jo bersedih merasa dilupakan istrinya.
Tunggu, ini bukan mimpi lagi kan? Ini nyatakan? Tunggu! Tunggu! batin Jo sambil memukuli pipinya membuktikan rasa sakit saat dipukul dan meyakinkan diri kalau semua itu tidak nyata
"Apa yang kau lakukan Jo?" Teriak Jeslin dan Farida menatap pasangan suami istri itu cemas.
"Aku .. aku ingin membuktikan kalau semua ini hanya mimpi. Tapi kenapa sakit sekali saat dipukul. Tapi lebih sakit saat istriku tidak mengenaliku kak." Rengek Jo menatap Jeslin sedih bergantian menatap istriku cemas.
Karina juga menatap suaminya yang semakin lama semakin cemas dan gelisah.
"Lihatlah putramu ma! Dia sudah tak mengenali istrinya. Dia bahkan lupa padaku. Dia tak tahu kalau istrinya sedang berbohong." Rengekan Karina menatap Farida yang awalnya cemas kini berganti tersenyum.
Dan Jeslin tak bisa mengendalikan tawa bahaknya melihat adiknya kena prank. Dan Karina tersenyum senang bisa mengerjai suaminya. Wajah Jo, bukannya bahagia melihat candaan istrinya namun dirinya malah menunjukkan raut wajah tak sukanya.
"Kau bilang bercanda? Kau anggap itu candaan? Terus saja bercanda disaat ada orang yang sungguh-sungguh merasa bersalah." Jo meninggalkan ruangan itu.
Semua orang terdiam tak ada yang berani tertawa lagi. Jeslin pun juga. Farida mengambil cucunya seolah memberikan waktu pada pasangan suami istri itu bicara. Karina menyesal, sungguh sangat menyesal dengan candaannya. Dia marah saat membuka mata tak melihat suaminya yang ada disisinya.
Hanya ada mama mertuanya yang katanya menungguinya sejak tadi. Dia ingin saat membuka matanya dapat melihat wajah bahagia suaminya namun harapannya langsung sirna. Untuk itulah dia mendadak ingin mengerjai suaminya itu. Namun bukan sambutan hangat malah suaminya berteriak marah. Karina merasa bersalah, dia ingin bicara dengan suaminya.
Namun tak ada siapapun lagi di ruang perawatannya. Mamanya dan kakak iparnya sudah pergi mengantar bayinya ke ruang bayi. Karina hendak bangkit dari duduknya di ranjang namun sedikit kesulitan karena rasa sakit yang dirasakan di perutnya. Dia baru kali ini melahirkan secara Caesar, sebelumnya anak-anaknya dilahirkan normal.
Karina hendak beranjak dari ranjang sambil meringis menahan sakit memegangi perutnya. Namun tangannya tiba-tiba berdarah. Karina langsung melihat ke arah perutnya yang pakaian rumah sakitnya sudah ada noda darah.
"Aww..." Ringis Karina yang entah kenapa tubuhnya langsung melayang.
"Dokter... dokter ..." Teriak Jo sambil menekan tombol di samping ranjang tanda panggilan dari ruang perawatannya.
"Baby, maafkan aku. Aku minta maaf. Buka matamu baby. Kumohon jangan tinggalkan aku!" Bisik Jo sambil menggenggam erat jemari tangan istrinya yang terkena noda darah.
Karina hanya tersenyum sambil menutup matanya, entah kenapa dia merasakan berat di matanya.
"Tetaplah disini!" Bisikan yang didengar telinga Jo membuat Jo sedikit tenang.
Hingga dokter yang bertanggung jawab atas penanganan istrinya datang memeriksa keadaan istrinya.
TBC
__ADS_1