Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 41


__ADS_3

Anin membereskan barang-barangnya yang sekiranya diperlukan saja nantinya. Dia sudah sibuk sedari pagi untuk membereskannya. Tak ada siapapun di rumah kecuali bibi asisten rumah tangga. Mama tirinya masih menginap di rumah kakek dan neneknya karena tak bisa mengurus bayinya tanpa bantuan orang lain. Vanya, entahlah. Semalam Anin mendengarnya pulang dalam keadaan mabuk lagi.


Papanya masih di luar kota mengurus pekerjaannya. Dia sudah menghubungi papanya beberapa hari lalu sampai hari ini masih belum dijawab meski tersambung. Mungkin terlalu sibuk, Anin mencoba masa bodoh dan tak mau memikirkannya. Kini dia akan lebih fokus pada sekolah dan tugas-tugasnya. Dia tak butuh kebersamaan keluarga yang yang bahkan tak menginginkannya juga.


Ingin dia pulang ke rumah mommy nya tapi dia masih menghormati dan menghargai papanya. Anin akan tunggu sampai papanya pulang dan tidak terlalu sibuk nanti. Mungkin dia lebih memilih menyewa sebuah flat sederhana saja untuk tinggalnya nanti selama PKL di kota Daddy nya.


Itu lebih baik membuat dia bisa sedikit mandiri. Dia pun juga harus belajar mandiri mulai sekarang. Belajar hidup tanpa bergantung pada siapapun.


"Non, sarapan sudah siap." Seru bibi setelah mengetuk pintu kamar Anin yang terdengar berisik dari luar.


Cklek


"Iya bi." Jawab Anin tersenyum ramah dengan peluh keringat membasahi dahinya dan nafas yang ngos-ngosan.


"Non sedang apa kok keringatan begitu?" Tanya bibi basa-basi.


"Lagi beresin barang-barang bi." Jawab Anin singkat, dia mengikuti bibi ke meja makan untuk sarapan.


Saat hendak kembali ke kamar, suara bel pintu depan berbunyi.


"Biar aku saja bi!" Seru Anin sambil berjalan ke pintu depan.


Cklek


"Ya?" Tanya Anin pada seorang pria paruh baya dengan pakaian seorang pekerja.


"Maaf nona, benar ini rumahnya Anindita..."


"Ya pak, saya. Jasa pengangkutan pindahan ya?" Tebak Anin langsung.

__ADS_1


"Iya non." Jawab bapak itu.


"Iya pak, semua sudah beres. Ayo ikut ke kamar saya ambil barang-barangnya!" Ajak Anin ramah, dan tiga pria paruh baya mengikuti Anin menuju lantai dua.


Bibi hanya mengernyit keheranan melihat seorang pria paruh baya pekerja serabutan mengikuti nona mudanya. Dia pun sedikit cemas dan ikut membuntuti mereka ke atas.


"Ini pak, yang sudah dipacking di kardus ya?" Jelas Anin membuat bapak-bapak itu mengiyakan ucapan Anin dan mulai mengangkatnya.


"Ada apa non?" Tanya bibi yang masih bingung apalagi melihat barang-barang yang sudah dipacking nonanya dibawa bapak-bapak itu.


"Aku mau pindah bi." Jawab Anin tanpa menatap bibi sambil melanjutkan mengemasi barang-barangnya yang lain.


"Pindah kemana non? Memangnya ada apa? Kok ...." Tanya bibi cemas dan panik.


"Nggak gitu bi, aku kan mulai besok udah PKL di kota sebelah jadi aku mau menyewa flat sederhana saja bi agar tidak jauh pulang perginya. Dan flat nya dekat banget sama tempat PKL aku, tinggal jalan kaki lima menit nyampai kok." Jelas Anin masih sibuk, apalagi bapak-bapak paruh baya tadi ikut mondar-mandir mengangkat barang yang lain.


"Sudah bi, Anin sudah telpon papa dan papa ngijinin. Meski gak semudah itu sih.. hehehe..." Jawab Anin nyengir.


"Bener non?" Bibi bertanya lagi untuk memastikan, dia tahu apa yang terjadi di rumah ini.


Bibi mengira kalau Anin tidak betah tinggal disini karena masalah yang terjadi di rumah itu. Sehingga dengan alasan mau tugas sekolah membuat Anin memutuskan pindah.


"Bener bi, ya ampun masa Anin bohong sih bi." Ya, gak semuanya salah sih, salah satu alasan juga ingin meninggalkan rumah sepi ini. batin Anin tanpa mengatakannya langsung.


"Semua sudah non." Ucap bapak paruh baya yang mengetuk pintu pertama kali tadi.


"Iya pak, kita berangkat!" Jawab Anin.


"Gak nunggu tuan pulang saja non pindahnya?" Cegah bibi membujuk Anin.

__ADS_1


"Kelamaan bi nunggu papa pulang. Lagian aku udah gak bawa mobil. Jadi nanti ribet pas PKL pagi-pagi sekali." Jawab Anin beralasan.


"Ya udah deh, hati-hati ya non tinggal sendiri. Jaga diri! Jaga kesehatan! Jangan telat makan!" Peringat bibi seperti pada putrinya sendiri saja.


Anin malah tertawa mendengar penuturan yang sudah seperti nasihat itu. Tapi Anin suka masih ada yang mau memberi sedikit perhatiannya pada dirinya itu.


"Iya iya bi... makasih ya bi. Toh aku gak pergi jauh, ntar juga pulang sesekali." Jawab Anin masih tertawa.


"Nanti bibi pasti akan kangen sama non." Rengek bibi.


"Anin pasti juga kangen deh nanti sama bibi." Anin memeluk bibi dengan sayang, kini dia hendak bersiap naik mobil box tersebut.


"Hati-hati ya pak. Hati-hati non!" Peringat bibi pada bapak paruh baya tadi yang ternyata sopirnya yang dijawab anggukan kepala sambil tersenyum ramah. Dan ganti menatap Anin dengan tatapan memohon.


"Pak, nanti mampir ke toko perabotan dekat tempat tujuan saya ya? Sekalian ngangkut perabotan yang sudah saya beli kemarin?" Pinta Anin.


"Iya non."


***


Anin mulai membereskan barang-barangnya sekaligus perabotan yang dibelinya dadakan kemarin untuk mengisi flat sederhana yang dibelinya beberapa waktu lalu. Ya, Anin membelinya dengan uang tabungannya yang dikumpulkan dari uang jajan yang diberikan berlebihan oleh Daddy Jo. Dia mengatakan pada semua orang kalau dia menyewanya.


Dia tak mau membuat tersinggung papanya jika nanti dia tahu. Ya, dia bahkan belum pamit maupun menghubungi Daddy nya untuk ijin tinggal sendiri di flat pribadi. Karena kalau Anin meminta ijin pasti tidak diijinkan. Itulah sebabnya Anin diam-diam dengan memanfaatkan orang-orang di rumah sedang tidak di rumahnya. Anin ingin hidup mandiri.


Mungkin dengan membeli flat sederhana dengan uang yang terjangkau. Bahkan sampai kini pun tiap bulan Daddy Jo selalu memberikan uang jajan yang berlebihan untuknya meski dia mengatakan uang jajan itu sama besarnya dengan uang jajan adik-adiknya yang lain. Anin sudah menolaknya karena papanya juga memberikan uang jajan rutin meski tidak sebesar yang diberikan Daddy Jo.


Tapi itu sudah cukup untuk uang sakunya sebulan dan untuk kebutuhan sekolahnya. Dan uang sekolah sudah dibayarkan lunas sampai lulus oleh Daddy Jo sebelum dia pindah dari mansion mereka.


TBC

__ADS_1


__ADS_2