
Anin hanya mengaduk-aduk makanannya saja. Dia sungguh tak berselera untuk makan siang hari. Nara, dia masih ada kelas yang tidak bisa ditinggalkannya. Saat itu dia sedang makan di cafe. Sendiri? Tidak, selalu ada Zian di sisinya. Zian menatap Anin sedikit prihatin. Sudah beberapa hari tuan putrinya seperti itu.
Dan berakhir dengan tidak habis atau bahkan tidak disentuh sama sekali. Zian ingin menasehati, namun siapakah dia, jika tidak sangat terpaksa Zian tidak akan bertanya pada tuan putrinya. Kecuali jika tuan putrinya bertanya, dia akan menjawab seperlunya saja. Dan kini wajah Anin beberapa hari ini murung dan tidak bersemangat. Zian tidak berani menebaknya dan menanyakannya meski Zian tahu apa penyebabnya.
"Kita pulang!" Anin langsung berdiri dari kursinya meninggalkan makanan utuh tak berkurang, hanya diaduk-aduk tak diicipi sama sekali.
"Nona belum menghabiskan makanannya?" Zian akhirnya mengungkapkan isi hatinya.
Anin berbalik menatap Zian datar.
"Aku tak berselera, jika aku menelannya. Aku yakin pasti tidak masuk dengan benar dalam kerongkonganku." Jawab Anin berlalu pergi menuju kasir membayar tagihan dan keluar dari cafe.
Zian menghela nafas berat, isi hati yang dipendamnya akhirnya bisa keluar meski percuma. Zian mengikuti langkah Anin hingga dia mendahului dan membukakan pintu mobil untuk Anin.
"Mampir ke taman dulu!" Titah Anin cuek.
Dia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi mobil begitu mobil melaju. Pandangan matanya menatap keluar jendela dengan malas. Rasa canggung pada Zian masih sedikit dirasakannya tapi rasa rindu pada kekasihnya bukan mantan kekasihnya lebih tepatnya. Padahal dia sudah memutuskan untuk melupakannya karena hubungan mereka yang entahlah.
Meski setiap hari Guntur selalu mengirimkan pesan yang tak dibalasnya. Anin senang sekali sebenarnya. Namun dia tak mau mengusik pasangan tunangan itu. Dia memang seharusnya harus mundur, dia hanya orang ketiga dalam pasangan tersebut meski Guntur juga mencintainya. Baru kali ini dia segalau ini.
Mobil diparkir tak jauh dari taman yang biasa didatanginya. Anin turun lebih dulu tanpa menunggu Zian membukakan pintu. Dia duduk di bangku yang biasanya digunakannya. Dia menatap sekeliling taman terdapat banyak anak-anak yang bermain dengan bahagia.
Seketika dia merasa sedih karena keadaan yang membuat sedih dan tak tahu harus curhat pada siapa. Pada mommynya? Tidak, dia tak mau membebani sang mommy. Daddynya? Daddynya sangat sibuk untuk saat ini. Jika dia curhat, daddynya tak akan hanya sekedar curhat sebentar saja. Pasti akan berbuntut panjang, dia sudah hafal daddynya yang terlalu menyayanginya itu. Pada Nara? Nara akhir-akhir juga sangat sibuk, meski tak sesibuk dirinya.
Bahkan jam tidurnya terlihat berkurang karena tugas kuliahnya yang berkali-kali salah. Terlihat dari lingkaran hitam di sekitar matanya. Anin sudah berusaha membantu namun Nara memilih untuk melakukannya sendiri. Pada Zian? Seketika Anin menatap Zian.
Yang berdiri di sisinya, berdiri tegak lurus. Pandangan matanya menatap ke sembarang arah guna melindungi sesuatu yang mungkin membahayakan tuan putrinya. Meski itu mustahil sih.
"Zian." Zian sontak membungkukkan kepalanya menatap Anin yang duduk di sebelahnya berdiri.
"Iya nona." Jawab Zian tegas.
Puk.. puk..
"Duduklah!" Titah Anin menepuk bangku di sebelahnya.
Zian menatap tangan Anin yang menepuk bangku sebelahnya.
"Saya disini saja nona." Tolak Zian dengan wajah datar mempertahankan diri untuk tetap tegak berdiri sambil mengawasi sekeliling.
"Ini perintah Zian!" Seketika Zian langsung duduk di tempat yang ditunjuk Anin.
"Bagus. Ternyata kau masih mendengarkanku." Jawab Anin tersenyum lembut.
Zian tampak menghela nafas panjang, dia merasa canggung karena duduk bersebelahan di muka umum seperti ini. Meski dia menutupi kecanggungannya dengan baik.
__ADS_1
"Zian."
"Ya, nona."
"Boleh aku pinjam bahumu?" Zian sontak menoleh menatap Anin gugup yang segera dikendalikannya.
"Tak boleh ya?" Anin tersenyum miris. Sungguh mustahil memang curhat pada pria kaku ini.
"Gunakan punggung saya nona!" Ucap Zian sambil membelakangi Anin.
Anin menyandarkan kepalanya di punggung Zian, entah kenapa tiba-tiba dirinya menangis terisak di belakang punggung kekar dan lebar itu. Isakan sesenggukan terus terdengar hingga menjadi tangis yang menyayat hatinya siapa pun yang mendengarnya. Zian terdiam masih menunjukkan wajah datar dan dinginnya. Ingin sekali dia mendekap tubuh mungil di belakangnya itu sebagai penghiburannya.
Namun dia masih bisa menahan diri dan sadar siapa dirinya. Dia hanya diam membiarkan hal itu dilakukan olehnya. Semua orang yang ada di situ yang tak sengaja mendengar tangisan Anin menatap horor pada Zian yang menghakiminya dengan tatapan tajam dan sikap dinginnya.
Zian menghela nafas berat, dia berada di posisi yang serba salah. Ingin menghibur itu bukan wewenangnya dan dia juga sadar diri siapa dia. Tak menghibur dia mendapatkan tatapan tajam dan salah persepsi dari orang-orang yang menatapnya.
Setelah satu jam lebih, Anin masih setia bersandar di punggung Zian. Zian pun masih setia pula mempertahankan duduknya. Dia tak lagi menghiraukan pandangan orang-orang terhadapnya. Suara tangisan juga sudah tak terdengar lagi. Pertanda Anin sudah cukup puas menumpahkan air matanya kesedihannya. Anin mengusap air matanya yang membuat matanya sembab.
Ditempelkannya pipinya di punggung kokoh tersebut. Membuat wajah Zian yang membelakanginya memerah. Dia masih belum memulai percakapan, apalagi hari sudah mulai gelap. Namun agaknya Anin tak berniat untuk mengajaknya pulang.
"Zian." Dirasakan sesaat punggung Zian menegang karena panggilan Anin.
"Ya, nona." Jawab Zian masih pada posisi yang sama.
"Kita pulang ke apartemenmu ya?" Pinta Anin membuat Zian sontak berdiri, tak peduli jika Anin masih bersandar di punggungnya.
"Kalau begitu, antar aku ke sebuah hotel!" Zian lagi-lagi tersentak langsung menoleh menatap tuan putrinya yang terlihat putus asa meski masih menatapnya dengan senyum terpaksanya.
"Saya akan minta izin pada tuan besar."
Bruk
Anin menyambar ponsel Zian hingga terpental jatuh di tanah. Anin memberikan tatapan tajam pada Zian.
"Kalau kau tak mau mengantar aku bisa sendiri." Anin berlari ke jalan raya, dadanya masih terasa sesak. Apalagi orang yang satu-satunya baru saja menjadi sandaran kegalauan hatinya membuatnya kecewa.
Dia masih ingin melampiaskan tangisannya lagi. Dan dia tak mau pulang karena tak mau membuat orang tuanya cemas.
"Nona... nona..." Seru Zian berlari mengejar Anin sambil meraih ponselnya yang jatuh ke tanah tadi.
Dan sialnya taksi yang kebetulan lewat langsung membawa Anin entah kemana. Zian segera berlari ke mobil untuk mengejar taksi tadi. Dan sialnya lagi mobilnya terparkir di tengah-tengah parkiran mobil yang entah bagaimana bisa keluarnya karena banyak mobil pula yang menutupi mobilnya.
"Sial." Zian memilih meninggalkan mobilnya dan mencegat taksi yang lewat lebih lama dari dugaan.
Dan sesaat setelah menunggu sepuluh menit, taksi datang dan langsung menitihkan untuk mengejar sebuah taksi juga yang entah menuju ke mana.
__ADS_1
Zian kehilangan jejak, dia menyuruh taksi berhenti di sebuah hotel terdekat. Zian langsung menuju resepsionis untuk bertanya setelah membayar biaya taksi.
"Maaf nona, apakah barusan anda yang check ini?" Tanya Zian panik.
"Maaf tuan, banyak yang baru saja check in, siapa maksud anda?" Jawab petugas resepsionis tersebut balik bertanya.
"Ah, sial." Zian menatap ponselnya yang masih menyala.
"Sebentar." Zian mencoba menghubungi ponsel Anin dan tersambung.
Namun hingga panggilan kesekian kalinya tak diangkat, padahal aktif. Zian menatap ponselnya dengan pandangan nanar. Dia sungguh menyesal tak menuruti keinginan tuan putrinya. Padahal dia bisa saja pura-pura menuruti dan bisa membujuknya nanti saat dalam perjalanan.
"Ah, sial. Bodoh kau Zian." Umpat Zian cemas dan panik.
'Nona dimana?' Zian mengirim pesan chat pada Anin.
'Tolong jawab pesan saya nona!' Zian mengirim lagi namun belum dibaca.
'Saya akan melaporkan pada tuan besar jika nona tak membalasnya.' Entah itu diartikan mengancam atau tidak, Zian tak peduli.
Jika tuan besarnya tahu, dia pun tak akan selamat. Tapi jika terjadi sesuatu yang tidak diketahuinya pada Anin dia lebih tidak selamat lagi. Harusnya dia lebih berpikir jernih tadi. Bagaimana pun juga Anin tadi dalam keadaan tidak baik-baik saja. Seharusnya... seharusnya...
Zian menyesal, menyesali perbuatannya tadi. Dia terlalu terbawa perasaan galau dan prihatin saat melihat tuan putrinya terlihat putus asa. Dia hanya ingin sendiri saja tadi. Dia juga tak mau semua orang tahu tentang keadaannya.
'Nona, please!' Berhasil, pesan Zian dibaca oleh Anin.
Namun sudah menunggu lebih dari setengah jam tak ada balasan. Zian kembali menghubungi ponsel Anin dan tersambung tapi tak diangkat.
"Please nona." Guman Zian cemas.
Baru kali ini dia secemas ini selama dia bekerja. Dulu meski keadaan panik, dia tak secemas ini. Entah kenapa dia terlalu terbawa perasaan saat bersama tuan putrinya ini. Zian menghela nafas panjang.
'Kau tak usah cemas, aku ditempat yang aman. Kau kembalilah!' Balasan pesan dari Anin membuat Zian bernafas lega namun... kembali dia menghubungi ponsel Anin namun tetap tak diangkat.
'Nona, kumohon! Dimana anda saat ini?' Tanya Zian penuh kecemasan berharap mendapat balasan kembali.
'Kembalilah!' Jawaban singkat Anin membuat Zian semakin putus asa.
Jika dia kembali tanpa mengantar tuan putrinya, apa yang akan terjadi nanti pada tuan besarnya. Tuan besarnya pasti akan bertanya-tanya kemana dan mengapa.
Zian menghela nafas putus asa. Dia tak tahu apa harus mengatakan yang sebenarnya pada tuan besarnya nanti alasan nonanya memilih menginap di hotel ketimbang pulang.
TBC
Maafkan typo
__ADS_1
Beri rate, like dan vote nya makasih 🙏🙏