
Dua tahun kemudian, kini Anin sudah memasuki bangku kuliah. Dia bersekolah di kampus terkenal di kotanya. Padahal sang Daddy menawarinya untuk kuliah di luar negeri namun Anin menolak. Dia tak mau jauh-jauh dari mommynya.
Saat itu Jo benar-benar terharu dengan putri sambungnya itu. Dia memang terlihat lebih bahagia dan terbuka saat berada dekat dengan istrinya. Seharusnya dia tak melupakan rasa trauma yang dialami oleh putri sambungnya itu.
"Kau yakin tak perlu diantar princess?" Tanya Jo sekali lagi meyakinkan Anin.
Namun Anin sungguh menolaknya. Di semester baru ini dia ingin belajar mandiri dengan berangkat sendiri dengan menggunakan mobilnya sendiri. Daddy nya sudah mengusahakan SIM untuknya agar dia bisa menyetir dengan aman. Meski ada raut wajah kecemasan yang ditampilkan pada wajah Karina.
"Kau benar-benar yakin akan menyetir sendiri sayang?" Ganti Karina yang bertanya dengan penuh rasa cemas.
"Sungguh mommy, dad. Aku yakin sudah sembuh." Jawab Anin yakin menatap Karina dan Jo bergantian yang menatapnya penuh rasa cemas.
"Aku akan suruh seorang pengawal untukmu." Tegas Jo.
"Dad, please. Kalau aku selalu seperti itu kapan aku akan tahu sembuh? Kapan aku akan tahu bahwa diriku sudah baik-baik saja bersama orang asing?" Tolak Anin cepat sebelum daddynya lebih posesif lagi.
Jo dan Karina masih diam belum menjawabnya.
"Mom, please. Aku janji akan baik-baik saja. Aku akan katakan jika aku memang tidak nyaman. Sudah setahun lebih aku selalu diikuti pengawal meski dari jauh. Dan itu sangat tidak nyaman sekali." Keluh Anin mengatakan keberatannya.
Anin menangkupkan kedua tangannya di dada memohon pada kedua orang tuanya dengan tatapan puppy eyes nya. Dan Karina pun menghela nafas sejenak mengiyakan keinginan putrinya untuk bisa melakukannya sendiri.
"Baiklah."
"Ye...." Seru Anin antusias.
"Tapi ingat dengan janjimu. Langsung bilang pada mommy jika ada apa-apa." Peringat Karina.
"Yes mom, thanks mommy, Daddy." Ucap Anin tersenyum lebar membuat Jo dan Karina menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya, semudah itu membuat putrinya bahagia.
"Apa aku bisa ikut mobil kakak? Kita kan searah?" Sela John yang sibuk dengan sarapannya.
"Aku juga." Hana ikut menyela.
"A.. ku...a..ku..." Si bungsu Joana pun yang belum mengerti apa yang diucapkan sang kakak mengikuti kakak-kakaknya yang lain. Hingga tawa keluarga itu terdengar di meja makan.
***
"Kenapa masih cemberut? Aku hendak berangkat kerja baby?" Ucap Jo saat hendak berangkat kerja melihat wajah istrinya masih saja muram.
"Aku masih mencemaskan Anin." Jawab Karina sendu.
Jo tersenyum, dia tahu betul apa yang dicemaskan istrinya itu, sudah hampir lima belas tahun pernikahan itu membuat Jo sangat mengenal istrinya.
"Kau kira aku mengizinkan begitu saja?" Ucap Jo menatap istrinya dengan senyum seringai.
"Apa maksudmu mas?" Tanya Karina tak mengerti.
__ADS_1
"Aku tetap menyuruh seseorang untuk mengawasinya dari jauh. Sehingga Anin tak tahu jika dia nanti diikuti seseorang." Jelas Jo tersenyum lebar.
Karina yang langsung mengerti apa maksud suaminya tersenyum, dia sungguh sangat bahagia memiliki suami seperti Jo.
"Terima kasih mas." Ucap Karina tersenyum terharu, tanpa sadar air matanya menetes.
"Baby, please. Don't cry anymore. Okay?" Ucap Jo mengusap air mata istrinya dengan lembut. Jo mengecup bibir istrinya lembut.
***
"Nindi.." Seru seorang gadis yang muncul dari belakang tubuh Anin, dia langsung menoleh menatap sahabatnya yang sudah seperti saudara untuknya itu kala di sekolah.
"Nara." Sapa balik Anin.
Ya, Anin memperkenalkan dirinya di kampus dengan nama Nindi, dia mengambil nama tengahnya. Cukup keluarganya saja yang tetap memanggilnya seperti. Itu membuatnya lebih nyaman karena nama lain yang dipanggil orang lain padanya. Kalau ada orang lain yang memanggilnya Anin, entah kenapa membuatnya kembali merinding dengan kejadian dulu.
"Kau baru datang?" Anin hanya mengangguk.
"Hei, babe." Seorang pria senior mereka menyela percakapan Anin dan Nara.
"Dimas." Sapa Nara penuh semangat, pasalnya Dimas adalah kekasih Nara sejak mereka menjadi Maba di kampus itu.
"Ada yang ingin kukatakan?" Ucap Dimas menatap Anin dan Nara bergantian.
"Aku ke kelas duluan Nara." Pamit Anin yang tahu maksud tatapan Dimas seolah ingin menelannya hidup-hidup membuat Anin sedikit tidak nyaman jika kekasih sahabatnya itu mendekatinya. Anin langsung ngacir masuk ke dalam kelas.
Flashback on
Karena Anin sangat membutuhkannya dia pun berinisiatif untuk pinjam di perpustakaan kota. Anin bisa saja membeli dengan meminta pada daddynya namun Anin rasa itu masih belum cukup untuk dibeli selama di perpustakaan masih ada. Karena semakin lama buku itu akan teronggok jika tidak dibutuhkan lagi. Jadi menurut Anin pinjam lebih bermanfaat daripada beli.
Saat mencari-cari buku yang diinginkannya, Anin sedikit kesulitan karena buku tersebut terletak di tempat tersembunyi yang jauh dari tempat buku lainnya. Anin mulai mencari satu persatu buku yang judulnya hampir sama itu namun beda penerbitnya.
Namun saat dirinya sedang konsentrasi meneliti buku-buku tersebut, Anin mendengar suara-suara aneh di pojok dekat rak buku itu. Anin menajamkan pendengarannya mendengar sekali lagi suara-suara itu. Saat mengalihkan pandangannya ke arah lain, Anin hanya menemukan beberapa orang di perpustakaan itu.
Itupun sangat jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Anin mencoba mendekati suara-suara aneh yang terus saja mengganggu pendengarannya yang juga membuatnya penasaran itu.
"Honey.. faster... please...ahh.." Bisik suara seorang perempuan.
"Kau sungguh nikmat baby...ahh..." Jawab pria yang lain yang membuat Anin seketika tubuhnya merinding.
Dia seperti mengenali suara itu, tapi siapa? Batin Anin menerka-nerka siapa gerangan dua orang itu yang sedang berbuat mes*um di pojokan perpustakaan kota. Anin bukan bodoh, dia tahu betul suara dua orang itu sedang apa, apalagi kalau tidak sedang menuntaskan hasrat mereka. Anin mulai mengintip di antara rak buku, urung melanjutkan niatnya untuk mencari buku.
Bukan ingin mengintip perbuatan maksiat itu namun ingin memastikan kalau yang didengarnya tadi bukan orang yang di dalam pikirannya. Namun...
Brukk...
Buku yang terbawa Anin tadi jatuh saat dia ingin berbelok ke arah sebaliknya dan naas itu terdengar keduanya yang sontak menoleh ke arah suara dan Anin sontak menutup mata karena tak sengaja melihat penyatuan mereka dan sang pria yang seperti mengenali gadis itu membelalakkan matanya tak percaya.
__ADS_1
Dia sontak melepas penyatuannya dan memakai kembali celananya dengan cepat. Saat Anin hendak lari tangannya berhasil dicekal oleh pria itu.
"Nindi.." Panggil pria itu membuat Anin menurunkan tangannya yang menutupi matanya.
"Kak Dimas..." Panggil Anin balik.
"Kau... A...apa .. yang kau lakukan disini?" Tanya Dimas gelagapan, salah tingkah.
"Ten... tentu saja meminjam buku... apalagi... " Anin mencoba menetralkan detak jantungnya, meski dia sudah sembuh dari trauma psikisnya dia tetap saja gugup karena memergoki sesuatu yang menjijikkan.
"Tolong dengarkan aku! Ini.. tidak seperti yang kau pikirkan..." Ucap Dimas membela diri.
"Memang apa yang aku pikirkan?" Jawab Anin balik bertanya, dia bukan orang yang ember, dia lebih memilih menunjukkan bukti daripada menuduh tanpa bukti.
Dimas kelabakan dengan ucapan Anin.
"Kak Dimas..." Seorang gadis yang sempat dimes*umi tadi pun juga sudah membenahi pakaiannya yang terlihat lebih rapi ketimbang tadi, dengan dada kembarnya yang terlihat dan... ukh... Anin bergidik ngeri membayangkan yang dilihatnya tadi.
"Aku pergi." Anin segera menghentak tangan Dimas yang mencekalnya tadi karena dia terlihat lengah saat didatangi Dimas tadi.
"Nindi tunggu!" Teriakkan Dimas langsung mendapat pelototan beberapa pengunjung perpustakaan itu dan sontak Dimas langsung menutup mulutnya dan meninggalkan gadis tadi kesal.
"Kak Dimas..." Seru gadis itu yang juga mendapat pelototan mata dari pengunjung perpustakaan.
Pasalnya aturan di perpustakaan tidak boleh berisik atau berteriak dan jika kau melakukannya di dalam perpustakaan kau akan langsung diusir dari perpustakaan. Namun tampaknya kedua manusia yang sudah bermes*um ria di dalam perpustakaan itu tak menggubrisnya.
"Nindi!" Teriakkan panggilan Dimas pada Anin terlambat karena Anin sudah masuk ke dalam mobilnya yang diikuti pengawal dan sopirnya.
Tentu saja Dimas tahu dan kenal siapa Anin, Dimas adalah kekasih sahabat Anin, Kinara yang akrab disapa Nara. Sedang Anin adalah putri donatur pertama di kampusnya. Dan Anin selalu diikuti kemanapun pergi oleh pengawal yang diminta orang tuanya mungkin. Namun tak ada yang tahu alasan Anin disertai pengawal.
Itulah sebabnya tak ada yang berani macam-macam pada Anin. Anin sendiri awalnya keberatan dengan keberadaan pengawal muda yang lebih mirip teman sekampusnya itu. Namun Anin tak bisa menolak keposesifan daddynya demi keselamatannya. Anin mau tak mau menjadi gadis terkenal, putri dari orang kaya sang donatur pertama di kampusnya.
Untuk saja dia pintar, jadi sesuai dengan dirinya yang seperti seorang putri yang diberi seorang pengawal. Siapa yang tak mengenal Jonathan Alensio.
Sejak papanya meninggal dunia setahun yang lalu, Jonathan pria satu-satunya pewaris kerajaan bisnis Alensio yang bisnisnya sudah mulai merajai di negara serta merambah ke luar negeri dan mulai go internasional.
Flashback off
TBC
Ini sudah mulai episode Anin ya, putri Karina dan putri sambung Daddy Jo...
Untuk Jo dan Karina sudah tidak ada yang perlu dibahas karena memang pertikaian mereka tak mungkin terjadi karena perasaan percaya dan cinta lebih kuat dari apapun di antara keduanya. Mungkin sedikit banyak saya munculkan..
Namun Anin yang lebih banyak dibahas...
Setuju gak? Tetap dukung karya saya ini?
__ADS_1
Beri like, rate dan vote nya makasih 🙏
Maafkan typo