Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 8


__ADS_3

21+ adult


Anak-anak... minggir!!


Jo sudah bersiap di pagi hari untuk sarapan bersama kliennya kemarin. Jo mematut dirinya di depan cermin kamar hotelnya. Meneliti penampilan yang sungguh sangat sempurna. Jo menghela nafasnya lelah, biasanya istrinya yang mendandaninya setiap pagi saat hendak berangkat kerja.


Namun hari ini dia harus rela berdandan sendiri sembari mengingat apa yang diucapkan istrinya jika sedang membantunya mengenakan pakaiannya. Omelannya yang lebih ke nasehat untuknya dalam berpakaian jika sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar kota atau ke luar negeri.


"Mas kalau dandan harus rapi, harus sesuai atasan dengan bawahan. Kan mau ketemu banyak orang, mas harus tampan dari mereka. Eh, jangan tampan-tampan, kalau ada yang menggoda..." nasehat Karina suatu pagi sebelum mereka berangkat honeymoon di pulau B.


Jo diam tersenyum simpul menikmati setiap sentuhan istrinya membenahi pakaiannya. Meski momen tersebut sederhana, tapi itulah saat-saat romantis keduanya setelah memiliki anak tiga atau lebih tepatnya empat dengan Anin sebagai putri sambungnya. Karena jika sudah di luar kamar pribadi mereka, anak-anaknya pasti akan menggangu momen berduaan romantisnya dengan sang istri.


Meski sudah mencari ruangan yang sepi di rumahnya, ada saja salah satu anaknya yang ikutan nimbrung di antara mereka. Maka dari itu Jo pasti akan memilih berlama-lama jika berduaan setiap pagi dengan istrinya. Untuk malam hari, itu beda lagi.


Itu saat istrinya memanjakan adik kecilnya yang selalu bangun jika di dekat istrinya, dan itu tidak cukup sekali dua kali bahkan Jo mampu melakukannya sampai pagi membuat Karina bangun kesiangan setelah sekalian salat subuhnya. Istrinya sering menggerutu jika dirinya baru dilepaskan saat masuk waktu subuh.


"Aku akan mengajakmu jika aku melakukan perjalanan bisnis." jawab Jo menarik pinggang istrinya masuk ke dalam dekapannya.


Karina sontak mendongak menatap suaminya yang lumayan tinggi darinya itu. Mereka saling menatap bertemu mata mereka. Karina selalu saja berdebar jika mata mereka bertemu pandang. Dan itu membuat wajahnya bersemu kemerahan.


"Kau masih saja berdebar? Apa kau begitu sangat mencintaiku?" ucap Jo lagi melihat istrinya terdiam tak menjawab namun wajahnya bersemu kemerahan.


Jo sangat menyukai saat seperti itu, seperti seorang remaja yang baru merasakan cinta saja. Padahal pernikahannya sudah memasuki hampir sepuluh tahun pernikahan dengan tiga anak yang manis dan baby kecil dalam perut istrinya yang masih berumur tiga bulanan. Jo memang berjanji akan membuat anak sebanyak mungkin selama istrinya mampu.

__ADS_1


Dan sejauh ini Jo sudah berhasil membuat istrinya hamil keempat kalinya. Dan dia sangat bahagia, istrinya terlihat montok dan seksi saat hamil begini. Membuatnya ingin selalu memasukinya setiap saat setiap waktu. Tak jarang Jo selalu meminta istrinya datang ke kantor saat jam makan siang dengan alasan ingin makan masakan istrinya. Selain itu benar, namun modusnya hanya menginginkan istrinya diajaknya bercinta di kantor.


Awalnya istrinya menolak, namun lama-kelamaan keduanya menjadi terbiasa dan beda. Keduanya pun menikmati semua itu. Bahkan mereka jarang bertengkar namun kadang-kadang istrinya tiba-tiba merajuk atau sebaliknya. Jo yang sering merajuk dan ngambek, karena selalu tak mendapat jatah jika istrinya marah padanya.


Dan itu membuat Jo frustasi, apalagi istrinya menyuruhnya untuk tidur di kamar tamu meski malamnya istrinya tak tega dan tiba-tiba istrinya sudah menyusulnya tidur di sebelahnya, di kamar tamu. Jo ingin tertawa saja saat mendengar alasan istrinya. Katanya dia bermimpi bahwa suaminya bercinta dengan wanita lain saat tak mendapati suaminya tidur di sisinya.


Tapi anehnya istrinya itu tetap marah tak mau diajak bercinta, akhirnya keduanya pun hanya tidur berpelukan. Dan Jo harus merasakan sesak yang menyiksanya di bawah sana.


"Kau selalu saja membuatku jatuh cinta. Dan itu membuat dadaku bergemuruh hingga wajahku memerah." jawab Karina malu-malu namun tak memalingkan wajahnya menatap suaminya lekat, senyum Jo terbit.


Hingga dia menyerang bibir istrinya untuk dicium dengan kasar dan liar. Nafsu mulai merasuki tubuh Jo dalam ciuman itu, apalagi istrinya membalas dengan tak kalah ganasnya dengan Jo. Dan entah sejak kapan tubuh istrinya ada dalam gendongannya dengan kedua kakinya melilit di pinggangnya.


"Hentikan honey, kau sudah rapi. Kau harus..." belum selesai Karina menyelesaikan kalimatnya Jo sudah menyerang bibirnya membabi buta dan melepas blouse panjang serta hijab instan istrinya hingga menampakkan dada kembarnya yang semakin besar saja karena kehamilannya.


Desahan Karina memenuhi kamar tidur mereka yang kedap suara. Hingga keduanya pun sama-sama polos tanpa sehelai benangpun.


Pakaian kerja Jo yang sudah rapi berceceran di lantai kamar mereka, sudah tak memperdulikan segalanya. Jo mulai menghentak di bawah sana yang sudah basah.


Desahan dan lenguhan Karina membuat Jo semakin buas dan ganas menghentak tubuh bawahnya. Karina hanya menikmati pergulatan ranjang panas itu dengan tubuh yang menggeliat bagai cacing kepanasan. Nama suaminya muncul disela-sela desahannya begitu juga dengan Jo.


Nama istrinya disebutnya kala merasakan adik kecilnya berdenyut hendak memuntahkan laha panas di dalam rahim istrinya. Jo terus menghentak juara semakin cepat dibawah sana membuat keduanya keenakan.


"Aku...aku...mau..." bisiknya Karina di sela-sela desahan dan lenguhannya.

__ADS_1


"Bersama-sama baby..." Jo balas berbisik. Hingga lengkingan panjang keduanya membuat Jo ambruk di sebelah istrinya setelah merasakan puas di bawah sana.


"Kau selalu nikmat dan membuatku puas baby." bisik Jo di telinga istrinya sambil menggigit cuping telinganya.


***


"Ah, shit. Kenapa hal itu terlintas di benakku. Ah, aku malah akan semakin merindukan istriku. Dan aku menginginkannya. Shit." umpat Jo saat kembali mengingat bagaimana nikmatnya bercinta dengan istriku setiap saat dan setiap waktu.


Dan sekarang... oh tidak, dia harus menahannya karena pertemuannya dengan kliennya tinggal sebentar lagi. Lima belas menit lagi.


"Tuan."


"Ya, aku segera turun!" jawab Jo langsung saat melihat pada layar ponselnya tertera nama Rian asisten pribadinya yang pasti mengabarkan kalau pertemuannya akan segera dimulai.


Jo mencoba menenangkan adik kecilnya sebentar. Jo tak mau wanita itu melihat apa yang terjadi pada adik kecilnya. Karena wanita itu tak akan tinggal diam, dia pasti akan menggodanya lebih lagi. Jo hafal betul pada wanita itu. Jo hanya mencintai Karina, istrinya, ibu dari anak-anaknya selamanya. Itulah janjinya.


TBC


Panas-panas meski hanya dalam flashback


Beri like, rate dan vote nya makasih 🙏


Selalu dukung ya...

__ADS_1


__ADS_2